Tidak Lebih Baik Dari Anjing July 3, 2008
Posted by merenung in Jum'at.Tags: anjing, mengabdi, setia
add a comment
Semasa aku kecil dan ikut tinggal bersama kakek-nenek di Yogya, aku punya sahabat yang selalu mendampingi yaitu seekor anjing delmatian. Tinggi, gagah dengan postur anjing greyhound. Saat SMA dan tinggal di rumah orang tua, kami selalu memiliki anjing peliharaan dari berbagai jenis. Itu membuat aku sedikit banyak mengenal sifat binatang yang satu ini.
Sifat utama yang paling menonjol adalah “pengabdian dan kesetiaan”. Anjing memang ada yang cerdas dan bodo. Atau lucu / kocak dan serius. Kemaruk makan atau yang diet makan. Tetapi kepada manusia yang selalu memberinya makan dan di-”identifikasi” sebagai majikan, sikap “pengabdian dan kesetiaan” menjadi sangat menonjol. Sebagai ilustrasi, keponakanku memelihara anjing yang dirawatnya sejak dari sangat kecil (bayi). Ponakanku tentu sering memberinya makan, bahkan makan pun berdua (habis dia gigit gantian anjingnya menggigit lalu dia kembali menggigit - jorok banget). Tetapi lucunya, setelah anjing ini tumbuh menjadi besar, dia berani marah dan menggigit ponakanku ini. Aku menganggap anjing ini tidak “mengidentifikasi” ponakanku sebagai majikannya.
Dari banyak anjing peliharaan, ada tiga anjing yang dekat dengan aku. Melko (si delmatian), Samino dan Blanki (dua-duanya seluruh bulunya berwarna hitam tapi aku gak jelas ras-nya). Masa memelihara Melko, aku masih kecil dan kurang menghayati perilakunya. Yang aku rasakan adalah aku sayang kepada dia. Melko punya cara membangunkan aku pagi hari, yaitu dengan menjilati mukaku (he…he…he…., najis). Aku mulai mengamati perilaku anjing adalah saat memelihara Samino (semasa aku SMP) dan Blanki (semasa aku SMA).
Walau Samino dan Blanki adalah anjing dari ras yang berbeda, tetapi perilakunya mirip-mirip. Samino agak periang dan suka bercanda, sementara Blanki agak lebih serius (mungkin juga karena agak gemuk). Mendengar suaraku dari jauh saja mereka sudah akan segera menyaut dengan gonggongan ringan dan kibasan ekor, sambil mendekat dengan pandangan menyelidik apakah aku sedang senang atau sedang marah. Kalaupun suatu saat aku marah dan memukul (cenderung menyakiti), mereka (dengan sangat mengherankan) menunjukan sikap takut, minta dikasihani (terlihat dari matanya) dan justru merunduk-runduk terus mendekat (sambil melipat buntutnya). Kadang juga terlihat matanya ber-air, menangis sambil mengerang-erang dengan khas anjing. Sikap itu juga yang aku trenyuh dan menghentikan pukulan. Bayangkan erangan “kaing..!” setiap kali aku pukul dan dia tetap merunduk menghampiri aku lagi. Menurut seorang kawan, cerita tentang anjingku tidaklah seberapa dibandingkan dengan anjing pincangnya. Anjing pincangnya tetap patuh dan setia, walau kawan ini sendirilah yang memukulkan balok ke kaki anjingnya hingga retak (patah) dan pincang. Mungkin masih banyak cerita dan sulit untuk dilukiskan dalam kata-kata, bagaimana “pengabdian dan kesetiaan” binatang yang satu ini.
Sementara aku yang sudah jelas lebih cerdas dari anjing. Paham dan mengerti (bukan hanya mengidentifikasi dengan naluri) serta mengakui bahwa majikanku adalah ALLAH Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Dan dengan segala ke-Agung-an NYA tidak pernah putus memberikan anugerah segala keistimewaan kepadaku. Memberikan petunjuk, peringatan dan pelajaran kepadaku. Sementara, aku membayangkan saat ALLAH memanggilku untuk bersujud (sholat), apakah aku bisa seperti anjing-anjingku yang langsung berlari menghampiri? Apakah aku bisa seperti anjing-anjingku yang setia tetap menghampiri manakala dipukul dan disakiti, sementara aku yakin bahwa ALLAH tidak pernah “memukul dan menyakiti” aku? Apakah aku bisa lebih baik dari pada anjing-anjingku yang hanya mendengar suaraku dari jauhpun mereka sudah menunjukkan sikap kegembiraan?
Bukankan sikapku selama ini tidak lebih baik dari anjing?
“Apakah engkau mengetahui orang yang menjadikan hawa-nafsunya sebagai tuhannya? Maka apakah engkau sebagai pemelihara atasnya, atau apakah engkau mengira bahwa kebanyakan mereka mendengar atau memahami(apa-apa yang engkau sampaikan)? Mereka tidak lain adalah seperti hewan bahkan lebih tersesat jalannya”. Surah ke-25 Al Furqaan (Pembeda): 43-44.
Tawaf Para “Binatang” (ada anjing) July 2, 2008
Posted by merenung in Kehidupan.Tags: anjing, babi, tikus, keledai, othman shihab, tawaf, ka'bah, Amirul Mukminin, Umar ibn Khaththab r.a.
add a comment
Mengingat-ingat beberapa tahun lalu, saat mengikuti tausiah yang disampaikan ustadz Othman Shihab, kisah yang disampaikan masih melekat di ingatanku. Saat itu pak ustadz dengan sangat indah mengisahkan peristiwa yang terjadi di Masjidil Haram di masa al khulafa al rasyidin Umar ibn Khaththab r.a.
Dikisahkan, saat itu Amirul Mukminin bersama rombongan ziarah ke Masjidil Haram. Berada di depan Ka’bah, Amirul Mukminin melakukan sholat dua raka’at. Sementara itu, disekitar Ka’bah orang-orang berkeliling melaksanakan tawaf. Selesai melaksanakan sholat, sang Amir mengangkat tangan seraya berdo’a sambil menangis. Dengan suara yang terdengar lirih oleh rombongannya, sang Amir memohon: “Ya ALLAH, ampunilah mereka. Sungguh mereka tidak mengetahui apa yang telah mereka lakukan”.
Tentu saja rombongan yang duduk paling dekat dengan Amirul Mukminin pun terheran-heran. Salah seorang diantaranya bertanya dengan penuh rasa penasaran: “Wahai Amirul Mukminin. Mengapa engkau memohonkan ampun atas mereka, seakan mereka melakukan perbuatan dosa? Bukankah mereka adalah tamu-tamu ALLAH yang sedang beribadah kepada ALLAH?”.
Amirul Mukminin, Umar ibn Khaththab r.a. pun menjawab: “Sholatlah engkau dua raka’at lalu mintalah ALLAH membukakan penglihatanmu”.
Maka sholatlah dia yang bertanya itu sebanyak dua raka’at lalu mengangkat tangannya memohon kepada ALLAH untuk dibukakan pengelihatannya. Sontak setelah membuka matanya, iapun tersungkur dan berucap istighfar berulang-ulang sambil menangis.
Rombonganpun lalu berkumpul sambil terus bertanya kebingungan: “Apa yang engkau lihat, hingga engkau menangis tersungkur dan meminta ampun? “.
“Wahai Amirul Mukminin, aku melihat diantara orang-orang yang sedang bertawaf itu kebanyakan adalah anjing, babi, tikus dan keledai. Apa gerangan yang hendak ALLAH perlihatkan kepadaku?”, tanyanya kepada Umar ibn Khaththab r.a.
Amirul Mukminin menjawab: “Sesungguhnya, kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang penurut terhadap perintah atasannya, menjilat-jilat untuk menyenangkan majikannya, tetapi berkata kasar dan menghardik kepada orang lain dan yang lemah (seperti anjing). Diantara mereka kebanyakan memakan kotoran / haram, tidak menjaga pasangannya dan bertingkah tidak senonoh (seperti babi). Yang lain sibuk mencuri-curi harta dan mengumpulkan materi dan kekayaan (seperti tikus). Dan terakhir, adalah kebanyakan orang yang dungu dan tidak berpendirian / berprinsip seperti keledai yang diam saja ditempatkan di tempat yang panas maupun dingin”.
Demikian kalau tidak salah mengingat, inti cerita pak ustadz Othman Shihab yang masih melekat.
Semoga ALLAH selalu menjaga dan memberi petunjuk kepada kita, agar kita tidak merendahkan diri kita seperti perilaku binatang atau lebih rendah lagi dari binatang.
Pilih Kawin atau PHK (Republika 15-06-2008) June 22, 2008
Posted by merenung in Umum.Tags: kawin, phk
add a comment
Salah satu kolom koran Republika tanggal 15 Juni 2008 menulis berita yang cukup menggugah moral. Salah satu perusahaan besar di Iran mensyaratkan karyawannya yang masih bujang untuk segera kawin. Tidak tanggung-tanggung, persyaratan itupun diberi tenggat waktu 21 September 2008.
Sebenarnya kebijakan yang berbobot moral religius ini patut dicontoh oleh perusahaan yang ada di Indonesia. Terutama bagi karyawan yang sudah berusia lebih dari 30 tahun (laki-laki) dan 25 tahun (perempuan). Pada nungguin apa sih kok nggak kawin-kawin. Apa mereka pikir semakin hati-hati memilih pasangan yang cocok akan semakin baik hasilnya. Pada bangun deh….., jangan pada ngimpi…………..
Masih Soal Ahmadiyah June 22, 2008
Posted by merenung in Jum'at.Tags: adian husaini, ahmadiyah, Islam, Jum'at, republika
1 comment so far
Baca halaman Opini Republika, Jum’at 10 Juni 2008 / 16 Jumadil Akhir 1429H, yang ditulis oleh Adian Husaini, Dosen Pemikiran Islam di Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor.
Kalau gak punya koran-nya, baca di Republika Online http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=338282&kat_id=16
Bingung…. June 18, 2008
Posted by merenung in Umum.Tags: ahmadiyah, bingung, jaksa, inovator, moral
add a comment
Entah apa yang sedang terjadi? Semua pemberitaan media penuh dengan carut marut moral dan kepura-puraan. Dari berita penyuapan jaksa oleh Artalyta yang berkembang sedemikian rupa, perdebatan tentang Ahmadiyah sampai foto syur salah seorang yang konon disebut wakil rakyat.
Di sisi lain, konon telah ditemukan pemanfaatan energi dari pemrosesan air (murni / suling) yang dapat menghemat pemakaian BBM sampai 50 km per liter. Bukankah ini sama artinya dengan harga BBM (paling tidak) khusus untuk transportasi dapat dihemat 1/2, 1/3 bahkan mungkin 1/5 dari konsumsi saat ini. Mobil yang tadinya mengkonsumsi 1:10 menjadi 1:50. Yang tadinya beli bensin bersubsidi Rp. 4.000,- untuk 10 km, sekarang jarak 10 km yang sama memerlukan bensin “tanpa subsidi” seharga sekitar Rp. 2.000,- saja. Bukankah pemerintah dan rakyat tidak lagi perlu pusing dengan BBM?
Di satu sisi kita bersyukur karena ALLAH memberikan harapan bahwa orang-orang Indonesia-pun dapat menjadi inovator tangguh, tetapi di sisi yang lain kita dihadapkan pada kenyataan bahwa moral sudah bukan menjadi barang yang berharga dan perlu dijaga.
Entah apa gunanya semua kebaikan dunia ini tanpa adanya keindahan moral para penghuninya.
Aku berhenti merenung sejenak untuk menghilangkan kebingungan.
Mau Seperti Anjing (?) June 16, 2008
Posted by merenung in Kehidupan, Umum.Tags: anjing, dunia
add a comment
Lagi-lagi ini soal anjing. Gara-gara ingat tulisanku, kawan ruang sebelah memberi oleh-oleh cerita, perolehannya malam mingguan di mushola kecil sekitar Pancoran (dekat kompleks BI). Masih juga tentang binatang yang tergolong paling setia pada majikannya. Kawan ini berpesan agar aku menulisnya dan berharap semoga berguna bagi yang membacanya. Ceritanya kira-kira seperti ini.
Dikisahkan pada masa itu hidup seorang Raja yang bijaksana. Sang Raja mempunyai seorang Perdana Menteri yang sehari-hari menjalankan pemerintaan sesuai perintah Sang Raja. Suatu hari, Raja memanggil Perdana Menteri dengan maksud hendak menguji. Sesaat setelah Perdana Menteri menghadap dan mengucapkan salam, Sang Raja mengutarakan maksudnya:
“Wahai Perdana Menteriku. Aku hendak mengujimu agar aku mengetahui apakah selama ini kamu bertindak bijaksana. Apabila engkau tidak bisa melewatinya, maka aku memutuskan untuk memecatmu dari jabatanmu sebagai Perdana Menteri”.
“Ada tiga pertanyaan yang harus engkau cari jawabannya. Pertama, apakah gerangan yang paling berharga bagimu? Kedua, apakah yang pasti benar bagimu? Dan yang ketiga, apakah yang selalu membohongimu?”
Setelah diberikan batas waktu Perdana Menteripun beranjak pergi. Diuji dengan tiga pertanyaan aneh membuat Perdana Menteri memutar otak dan berusaha mencari jawaban dari para pemikir di negeri itu. Lelah bertanya berhari-hari tanpa mendapat jawaban yang meyakinkan, akhirnya Perdana Menteri itu menjadi putus asa. Hari terakhir dari tengat waktu yang diberikan Sang Raja, Perdana Menteri justru lebih banyak berbaring memikirkan masa depannya. Selepas senja, saat itu Pendana Menteri berbaring di padang rumput luas dengan pandangan kosong menatap indahnya perjalanan menuju malam. Malam yang cerah dengan benda-benda langit bertaburan tidak dapat menghibur kegelisahan Perdana Menteri.
“Kalau memang harus berhenti menjadi seorang petinggi negeri, entah apa yang harus aku kerjakan sehari-hari”, begitu pikir Perdana Menteri sambil menerawang mencari jawaban dari langit.
Tidak beberapa lama, lewat seorang anak gembala dengan menggiring beberapa ekor kambing dan ditemani oleh sahabatnya, seekor anjing. Sambil mengamati dari kejauhan, anak gembala inipun berhenti dan menambatkan tali induk-induk kambingnya di bebatuan agak dekat dengan tempat Perdana Menteri itu berbaring. Anak gembala itupun bertanya kepada Perdana Menteri yang sedang gelisah itu.
“Saya melihat bapak sedari tadi berbaring tetapi tidak tidur. Menatap langit sambil berbicara sendiri. Sedangkan saya tidak melihat apa-apa di lagit yang bapak tatap itu. Bolehkah saya mengetahui apa yang bapak lihat di langit sana?”, anak gembala itu mencoba membuka percakapan.
“Ah…, anak kecil. Aku sedang kesusahan. Sudah sana. Kamu bawa kambing-kambingmu pulang agar tidak kemalaman”, ucap Perdana Menteri itu dengan nada datar.
“Kalau bapak sedang kesusahan, apakah boleh saya membantu bapak?”, lanjut anak gembala itu.
“Seluruh orang pintar di negeri ini sudah tidak bisa menolongku. Lalu bagaimana kamu yang seorang anak gembala ingin menolongku? Baru kali ini aku sebagai Perdana Menteri mengalami persoalan yang sedemikian pelik tanpa bisa aku pecahkan. Sudah sana….., jangan ganggu aku lagi”, sahut Perdana Menteri.
Anak gembala inipun menjadi mengerti, bahwa dia berhadapan dengan seorang Perdana Menteri. “Apakah saya boleh mencoba membantu memecahkan persoalan yang bapak hadapi?”, tanya anak gambala itu sedikit mendesak.
Perdana Menteri menjadi agak kesal dan mulai membentak, “Sudah aku katakan kalau semua orang di negeri ini tidak bisa memecahkan persoalanku. Mengapa kamu masih terus menggangguku?”.
“Pergi kamu…., dan jangan ganggu aku lagi !”. lanjut Perdana Menteri dengan sedikit menghardik.
“Kalau memang semua orang di negeri ini sudah bapak tanya dan tidak bisa menjawab, apa ruginya kalau bapak menceritakan kepada saya. Jika saya tidak bisa menjawab, maka bapak tidak kehilangan apa-apa, tetapi jika saya bisa menjawab, mungkin akan dapat menolong bapak”, anak gembala itu menutup pembicaraan dan beranjak pergi menghampiri ternaknya.
Sambil duduk di samping anjing kesayangannya, anak gembala ini membuka bekal rotinya untuk diberikannya kepada anjingnya. Tiba-tiba Perdana Menteri itu berteriak memanggil; “Hei anak gembala, coba kesini kamu. Aku ingin berbicara kepadamu”. Perdana Menteri itu berubah pikiran, “Tinggal sisa satu orang ini saja, lalu biarlah esok aku berhenti menjadi Perdana Menteri”.
Sambil meninggalkan bungkusan bekal rotinya untuk dimakan oleh anjing kesayangannya, anak gembala itu menghampiri Perdana Menteri. Dan setelah mendengarkan cerita dari Perdana Menteri itu dengan seksama, anak gembala itu berkata dengan sedikit jenaka “Saya bisa menjawab ketiga pertanyaan itu”.
“Coba beritahu aku”, sergah Perdana Menteri tidak sabar.
“Tapi ada satu syaratnya”, sahut anak gembala itu.
“Kurang ajar ! Kamu berbicara dengan siapa ?”, Perdana Menteri itu sedikit berteriak.
“Terserah bapak. Saya tidak memaksa, jika bapak keberatan”, jawab anak gembala itu santai sambil beranjak pergi.
“Sebentar…., baiklah. Katakan persyaratanmu. Aku akan penuhi”, Perdana Menteri itu sedikit putus asa.
“Kalau demikian, sekarang bapak merangkak dari tempat ini ke arah anjing saya disana itu. Sesampainya disana, bapak makanlah roti bersama dengan anjing itu”, dengan tenang anak gembala itu menerangkan persyaratannya.
“Kamu gila……!”, Perdana Menteri itu sudah hampir melayangkan tamparannya ke arah muka anak gembala itu. Sesaat Perdana Menteri itu mulai melayangkan pandangannya kekanan dan kekiri. Merasa tidak ada yang mengawasi, Perdana Menteri itupun menyerah dan mulai mengambil posisi merangkak. Sambil melangkahkan tangan dan kaki merangkak ke arah anjing kesayangan gembala itu makan, Perdana Menteri itu berucap geram, “Kamu akan merasakan akibatnya, jika kamu membohongi aku”.
Anak gembala itu berjalan mengiringi disamping Perdana Menteri yang merangkak sampai ditempat anjing itu makan. Sesaat Perdana Menteri menjulurkan wajahnya mendekati bungkus roti yang sudah mulai kosong sisa makan anjing, anak gembala itu mencegahnya dan berkata “Sudahlah pak. Bapak tidak perlu makan sisa-sisa makanan anjing saya”.
Perdana Menteri itu sontak berdiri dan berkata, “Sekarang katakan kepadaku jawabannya !”.
“Jawaban yang pertama, bapak sudah mengetahuinya. Jabatan Perdana Menteri adalah yang paling berharga sehingga bapak mau merendahkan diri bapak seperti anjing”, jawab anak gembala itu dengan tenang. Perdana Menteri itu tertunduk dalam tidak menyangka akhirnya dia menemukan jawabannya.
“Yang kedua adalah kematian. Hanya kematian yang pasti benar terjadi bagi semua mahluk hidup”, lanjut anak gembala itu. Perdana Menteri mulai terduduk lemas memperoleh jawaban pertanyaan yang kedua.
“Dan yang selalu membohongi bapak dan semua manusia adalah dunia. Kita selalu saja tertipu dengan bujuk rayu dunia tanpa kita sadari”. Perdana Menteri itupun mulai menitikkan air mata. Larut didalam malam yang sangat panjang dan melelahkan.
Keesokan harinya, Perdana Menteri datang menghadap Sang Raja dengan pakaian yang dipakainya sejak kemarin. Raja terkejut melihat mata kuyu Perdana Menteri, lalu bertanya; “Wahai Perdana Menteriku yang bijaksana. Mengapa engkau seperti orang yang tidak tidur? Apakah engkau sudah menemukan jawaban tiga pertanyaanku?”
Perdana Menteri itupun menceritakan apa yang telah dialaminya semalam. Setelah selesai menceritakan seluruh kejadian, Perdana Menteri itupun mengutarakan permintaannya untuk berhenti menjadi Perdana Menteri. Jabatan yang membuat dia tidak pernah bisa menemukan jawaban atas pertanyaan bijak dari Sang Raja.
Akhirnya, pesan untuk diriku sendiri; “Apakah aku pantas merendahkan diriku seperti anjing?” (yang artinya gila jabatan, lupa mati dan memburu dunia). Semoga cerita ini dapat mengingatkan.
(Tidak) Seperti Anjing (lanjutan) June 5, 2008
Posted by merenung in Umum.Tags: ikhlas, bersyukur, sabar
add a comment
Tulisanku terdahulu dengan judul “Seperti Anjing” mendapat tanggapan dari kawan yang kerap mampir dan berkomentar di blog ini. Agar lebih jelas, aku sedikit ingin menambahkan sebagai lanjutan.
Sebenarnya dari banyak percakapan dengan orang-orang di sekelilingku, aku memang selalu memberikan penutup, bahwa cerita tentang percakapan kedua pemimpin umat itu kurang tepat. Karena sesungguhnya agamaku tidak mengajari aku membedakan sikap dasar dalam menghadapi suatu kondisi. Sikap dasar selalu saja harus sama dalam setiap kondisi apapun. Yang berbeda adalah amal perbuatan yang mengikuti sikap dan akan sangat tergantung kepada kondisi yang berbeda-beda.
Sikap dasar itu ada tiga dan tidak bisa dipisah-pisahkan satu dengan yang lainnya, yaitu ikhlas, sabar dan bersyukur.
Dalam keadaan longgar dan berkecukupan, kita harus ikhlas (melawan kerakusan), sabar (tidak mengumbar dan mengikuti hawa nafsu / keinginan) dan bersyukur (dengan peduli dan berbagi). Adalah sangat penting mewujudkan rasa syukur dengan melakukan perbuatan, karena belumlah dapat dikatakan bersyukur apabila sikap itu hanya ada di dalam hati tanpa diamalkan. Peduli dan berbagi adalah merupakan bentuk amal rasa syukur itu.
Dalam keadaan sempit dan kekurangan, kita harus ikhlas (menerima ketetapan yang merupakan bagian dari iman), sabar (menjalani dengan penuh rasa harap kepada Yang Maha Pemurah ALLAH SWT) serta tentu saja harus tetap bersyukur (dengan tetap terus berikhtiar / berusaha keras untuk merubah keadaan). Ikhtiar untuk merubah keadaan menjadi lebih baik adalah suatu wujud syukur karena masih diberikan kesempatan untuk dapat memiliki “amal shaleh” dengan ganjaran pahala yang berlipat. Bukankan banyak juga manusia lain yang tidak lagi (mau) memiliki kesempatan itu?
Menjalankan sholat harus ikhlas, sabar dan bersyukur. Berusaha untuk khusuk dengan menjaga amal sholat didalam kehidupan di luar sholatnya. Bukankah secara ilmiah sudah dibuktikan, bahwa air dan nasi pun ber-reaksi terhadap kalimat-kalimat baik dan indah yang diucapkan kepada mereka, sementara kalimat-kalimat buruk akan membuat mereka bereaksi menjadi buruk pula. Bukankan tubuh kita juga mengandung air dan unsur-unsur lain yang juga ada pada nasi? Tidakkan semua itu juga akan bereaksi apabila digunakan untuk melaksanakan sholat (fisik) maupun mendengarkan bacaan-bacaan sholat yang kita ucapkan paling sedikit lima kali dalam sehari tanpa hari libur. Bukankan air dan nasi mengerti dan bereaksi walau tidak pernah belajar bahasa Jepang, Inggris ataupun Arab.
Membaca Al Qur’an juga harus ikhlas, sabar dan bersyukur (dengan membacanya perlahan-lahan / tidak buru-buru dan benar). Bukankan setiap huruf mendatangkan ganjaran 7 (tujuh) pahala jika kita membacanya. Menghadapi musibah kehilangan juga kita harus ikhlas, sabar dan bersyukur. Bukankan itu semua hanya titipan dan bukan milik kita? Bukankan mengembalikan kepada yang memiliki akan meringankan beban kita? Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun.
Cerita percakapan kedua pemimpin umat itu memang bukan kisah, melainkan rekayasa yang (sedikit) melucu (joke). Sesungguhnya, ikhlas, sabar dan bersyukur selalu tetap harus menjadi satu kesatuan sikap tanpa bisa dipisah-pisahkan. Dalam kondisi dan situasi apapun.
ALLAH SWT sajalah Yang Maha Mengetahui.
Dunia Simbol-simbol June 4, 2008
Posted by merenung in Serba-serbi.Tags: ahmadiyah, FPI, kekerasan, nilai, penodaan, simbol
add a comment
Entah apa yang sedang terjadi di “dunia penuh simbol” seperti Indonesia ini. Semua nilai-nilai hanya diperhitungkan atas dasar apa yang dilihat semata. Kalau beberapa waktu lalu “penodaan agama” dilakukan oleh kelompok Ahmadiyah, dimana masyarakat menunggu keputusan (ragu-ragu) pemerintah untuk membubarkannya, bagai telah di skenariokan tiba-tiba angin berbalik arah. Masyarakat seolah lebih deras menuntut pembubaran FPI.
Anarki untuk alasan apapun memang tidak pernah boleh dilakukan. Itu jelas.
Tetapi yang terjadi ini sungguh sangat lucu. Bagaimana mungkin kita hanya memandang “kekerasan fisik” (dalam hal ini pemukulan / penganiayaan) dan mengabaikan kekerasan non-fisik (seperti penodaan agama). Bagaimana mungkin kita menerima satu label yang sama (yaitu Islam) untuk sesuatu yang saling bertentangan. Adalah tidak masuk dalam logikaku (yang bodoh ini) membenarkan dua hal yang berbeda (bertolak belakang) dan memandangnya sebagai suatu kesatuan kebenaran yang harus dihormati. Kebebasan berfikir macam apa yang memperbolehkan pembenaran hal yang bertolak belakang?
Jika “a = 1″ dan “a = -1″ maka tentu saja “1 = -1″, dan itu harus dihormati sebagai keaneka ragaman?
Jika direnung-renungkan, mengapa muncul kata “pembunuhan karakter / character assassination”. Padahal menyentuh fisik kulitpun tidak, apalagi melukai dan bahkan membunuh. Kata “pembunuhan / assassination” tentu tidak dipilih oleh seorang yang buta pengetahuan bahasa atau orang yang bodoh, melainkan dipilih dari sekian banyak kata untuk dapat menggambarkan seberapa buruk aktifitas itu. Tidak “pemburukkan karakter”, bukan “pelukaan karakter” dan juga bukan “pemukulan karakter”. Jadi, dapat digambarkan aktifitas non-fisik pun memang dapat termasuk didalam golongan “kekerasan”. Kekerasan fisik bisa pulih (fisiknya), tetapi kekerasan non-fisik akan bertahan lebih lama. Bayangkan kalau kita diteriaki bang**t atau baji**an atau f**k you, sepertinya kok akan lebih susah sembuh dibandingkan kena tonjok.
Kalau sekarang ini FPI yang dituntut untuk dibubarkan karena alasan “tindak kekerasan” dan Ahmadiyah “justru” hendak dilestarikan walau melakukan tindak “penodaan”, mudah-mudahan bukan karena ada skenario pengalihan persoalan riuh rendahnya demo anti kenaikan harga BBM.
Hidup di dunia simbol-simbol memang mempunyai nilai-nilai yang berbeda dan berubah-ubah. Tergantung dari sudut kepentingan mana perkara itu dilihat. Malang nian bangsa ini.
Honda Jazz VTEC May 29, 2008
Posted by merenung in Serba-serbi, Umum.Tags: grand prize, Honda Jazz, ILP, kupon, undian
1 comment so far
Selepas azan magrib ada peristiwa yang lucu di rumah. Pulang kantor aku menengok vas bunga diatas piano, dimana biasanya surat-surat yang datang diletakkan. Sepucuk amplop coklat panjang ada disana. Aku ambil dan baca sampul muka tertulis nama anak bungsuku yang baru duduk di kelas 4 SD. Si pengirim tertulis Bpk. Yusuf Efendi, d/a: Jln. Berlian Raya II No. 54 Jakarta Pusat. Penasaran aku duduk di meja makan sambil mulai merobek sampul coklat itu.
Didalam sampul terdapat 4 (empat) lembar kertas. Dua lembar dengan letter head ILP (International Language Programs), satu lembar dengan letter head Departemen Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jendral Pajak dan satu lainnya dengan letter head Kepolisian Negara Republik Indonesia Daerah Metro Jakarta Raya. Surat itu ditujukan kepada Pemenang Undian “Grand Prize Kupon Undian ILP Periode 2008. Hadiannya berupa 1 (satu) unit Mobil Honda Jazz VTEC.
Anak bungsuku yang memperhatikan dan duduk disampingku langsung berteriak, “Aku dapat mobil Honda Jazz….!!!”. Anak istriku langsung berlari menghapiri sambil tertawa-tawa. Tidak perlu diceritakan bagaimana ucapan syukur itu berkali-kali diucapkan sambil mulai berebut, “Nanti buat aku”, cetus anakku yang tengah. “Aku yang punya”, sahut si bungsu. “Buat mas aja”, lerai istriku. Dan seterusnya. Sementara aku terus membaca dan mulai curiga.
Surat itu baru diterima sore ini, kenapa terdapat tulisan “Pengiriman hadiah ditutup pada tanggal 26 Mei 2008″. Contact person Bapak Drs. Yusuf Efendi justru mencantumkan nomor HP, 0816 187 6667. Potongan kupon undian yang dilampirkan memang asli tulisan anak bungsuku di lembaran ke 2. Jika diperhatikan masing-masing tanda tangan yang tercantum, walaupun berbeda, sepertinya dibuat oleh satu orang karena gaya goresannya mirip-mirip. “Coba telpon ILP Cinere”, aku meminta istriku untuk mulai cross check.
Sambil naik ke lantai atas, istriku tertawa-tawa dan disambut tiga orang temannya yang kebetulan sedang ada di rumahku. Mereka berpelukan sambil menangis. Menangis bahagia. Lucu sekali. Sementara anak-anakku berbantah-bantahan soal siapa yang boleh pake mobil itu dan seterusnya. Sesaat rumahku ramai sekali, penuh dengan tawa riang. Aku masuk kamar, sambil tersenyum-senyum, ambil air wudhu dan sholat Magrib. Jujur, aku bahagia, senang melihat mereka tertawa-tawa. Walaupun aku sudah mulai ragu dengan kebenaran surat itu.
Saat tersambung ke ILP Cinere, si penerima telepon langsung meminta ma’af saat mendengar pertanyaan istriku. “Ma’af bu, itu penipuan. Pihak kami mungkin teledor sewaktu memusnahkan kupon-kupon itu masih ada yang tersisa. Beberapa orang sudah menghubungi kami dan menanyakan hal yang sama. Saat ini sedang dalam penyidikan Polisi”.
Istriku mencoba menelpon no HP yang tercantum di lembar depan. Terdengar suara laki-laki yang saat dimintai informasi tentang surat ini langsung menjawab; “Ma’af bu, bisa menelpon kembali lima menit lagi?” He…he….he……., sudah mulai yakin penipuan. Istriku mencoba menelpon nomor kantor ILP Pusat yang dicantumkan oleh penipu itu di letter head, 62 21 3089 2299. Sewaktu diterima secara agak sedikit kampungan oleh seorang laki-laki, istriku mencoba berpura-pura menanyakan “Apakah ini tempat kursus bahasa Inggris”. Sedikit ragu, laki-laki itu menjawab singkat “Ya…”. Istriku meneruskan, “Saya mau minta informasi tentang kursus bahasa Inggris”. Terdengan suara agak ribut dan teriakan tangisan bayi di latar belakangnya, laki-laki diseberang telepon menjawa, “Bisa telpon kembali besok?”. Istriku langsung menutup telepon mengakhiri percakapan itu.
Gelak tawa semakin ramai di rumahku. Kali ini karena mentertawakan tingkah polah kita serumah saat pertama mengetahui anakku menang hadiah mobil. Pasalnya, anak sulungku memang pernah mendapat DVD Player merek Philips dari ILP karena menang undian serupa beberapa tahun lalu. Jadi sangat wajar kalau seisi rumah seakan percaya bahwa anakku memang menang undian berupa mobil.
Beberapa saat berlalu, semua orang sudah melupakan peristiwa itu. Saat kawan-kawan istriku pamitan, mereka mengejek sambil tertawa-tawa, “Ntar kalo Honda Jazz nya dateng, kita diajak jalan-jalan ya mbak”. Semuapun tertawa lepas. Ternyata mudah sekali kita merasakan bahagia, hanya dengan triger bayangan hadiah mobil. Tidak ada sedikitpun rasa kecewa dihati, karena masing-masing kita memang tidak berharap. Walaupun anak bungsuku sempat berkata, “Sebenarnya aku pengen sih hadiah mobil, pa”. Aku mendengarkan sambil tertawa.
Seperti Anjing May 22, 2008
Posted by merenung in Kehidupan.Tags: anjing, bersabar, bersyukur, ikhtiar
1 comment so far
Judulnya sengaja agak mencolok karena kawanku menyimpulkan cerita ini dengan lucu.
Siang menjelang waktu sholat Dhuhr, dimulai dengan basa-basi tanya kabar dan seterusnya, kawanku bertanya dengan nada perlahan dan serius.
“Bagaimana kita harus menyikapi situasi ini?”
Pertanyaan ini menyangkut situasi yang semakin sulit, harga-harga yang melambung tinggi, rencana pemerintah untuk (mbudeg) menaikkan harga BBM dan seterusnya. Sementara sumber pendapatan untuk menanggung segala kebutuhan juga semakin berkurang dan bertambah sulit menambahnya. Ini asal muasal pertanyaan kawanku tadi.
Aku menjawab dengan perumpamaan: “Bayangkan jika saat ini kita berada di Palestina atau Afghanistan, bagaimana dengan sikap kita?”.
“Ikut perang !”, jawabnya mantap tidak perlu berfikir panjang.
Dengan seperti itu (maksudku dengan tidak perlu berfikir panjang) kita harus mensikapinya dengan; “Bersyukur !”.
Banyak saudara-saudara kita yang lebih sengsara dibandingkan dengan keadaan kita saat ini dan mereka juga tetap bersyukur. Aku melanjutkan dengan cerita yang pernah aku baca di satu media (aku lupa) yang isinya sangat menyentuh, kira-kira seperti ini:
Suatu saat dua orang pemimpin kaum bertemu dan saling bertanya tentang keadaan masing-masing.
Pemimpin yang satu bertanya: “Bagaimana kaum-mu menghadapi kondisi yang kadang berkecukupan dan kadang kala kekurangan?”
Pemimpin yang lain menjawab: “Kaum-ku bersyukur saat berkecukupan dan bersabar saat kekurangan”
Pemimpin pertama berkata: “Kaum-mu seperti anjing kaum-ku”
Pempimpin yang merasa terhina dengan muka merah padam bertanya: “Lalu bagaimana kaum-mu menyikapi kondisi itu?”, dengan nada tinggi setengah berteriak.
“Kaum-ku bersabar dan berbagi saat berkecukupan sementara mereka bersyukur saat kekurangan”, dengan perlahan dan tetap tenang.
Pemimpin yang tadinya sangat marahpun menjadi tertunduk malu: “Seharusnya seperti itulah kami”.
Kawanku yang lain menaggapi cerita itu dengan tertawa.
“Kalau ada kaum yang saat kekurangan mereka bersabar sementara kalau sedang berkecukupan barulah mereka bersyukur, seperti anjing dong….he…he…he…”, katanya sambil tertawa lepas.
Kalau direnungkan, memang demikian seharusnya sikap kita. Saat kekurangan, bagaimana kita bisa bersabar? Karena faktanya memang sedang kurang atau bahkan tidak punya. Justru saat kita berkecukupan dan punya atau mampu, saat itulah kita dapat (atau tidak dapat) bersabar dan menahan diri dari pemenuhan keinginan-keinginan. Bak orang berpuasa, ada makanan didepan mata, halal sementara perut lapar. Bersabar menunggu waktu berbuka atau melampiaskan keinginan perut adalah pilihannya. Tetapi kalau perut lapar, tidak sedang berpuasa tetapi tidak ada uang untuk membeli makanan, maka bersyukur sambil berikhtiar adalah pilihannya.










