jump to navigation

Mengapa Indonesia Tidak Menjadi Negara Maju ? January 26, 2008

Posted by merenung in Umum.
trackback

Jum’at kemarim, salah seorang mantan Dirut BUMN Telekomunikasi dengan jenaka melemparkan email dengan judul diatas ke salah satu milis yang secara rutin dibaca banyak tokoh telekomunikasi di Indonesia. Dengan sedikit pengantar “barangkali ada baik kita relax sejenak, . . . .” terbersit maksud agar tulisan ini dapat dijadikan bahan pengantar akhir pekan, yang walaupun “relax” tetapi tetap tidak boleh berhenti memikirkan bangsa dan negara ini. Mungkin ini khas mantan pejabat yang tidak tenang melihat kisruhnya bangsa yang dicintainya.

Berikut sedikit cuplikan tulisannya:

“Balonku ada 5… rupa-rupa warnanya… merah, kuning, kelabu.. merah muda dan biru…meletus balon hijau , dorrrr!!!”. Perhatikan warna-warna kelima balon tsb, kenapa tiba2 muncul warna hijau?Jadi jumlah balon sebenarnya ada 6, bukan 5 ! -:)

Membacanya saja bisa tertawa kecut, apalagi membaca lanjutan tulisan lainnya yang memang sudah tersebar cukup lama di dunia maya ini.

Sudah diduga, tentu tanggapan atas milis tersebut bersahut-sahutan. Bukan hanya tulisannya memang menggelitik, dilempar oleh seorang yang pernah di puncak industri bergengsi, tetapi memang cocok dengan situasi bangsa saat ini dan tetap selalu menjadi pertanyaan setiap manusia yang masih belum berputus asa dengan bangsa besar ini.

Kalau dibaca-baca tanggapan yang muncul, dapat disimpulkan masalah utama bangsa ini sepertinya terletak pada moral bangsa. Moral bangsa yang artinya seluruh bangsa Indonesia ini. Bukan hanya moral rakyat jelatanya yang sudah amburadul, strata tengah yang cenderung rapuh dan lemah, apalagi para tokoh dan strata puncak yang ………….. (tidak ada kata halus yang bisa mewakili kondisi mereka).

Merenung sejenak mengingat satu penggalan waktu saat dalam perjalanan ke kota Bandung beberapa tahun yang lalu, seorang bapak tengah baya yang duduk disebelah bertanya dengan kata yang sedikit mirip dengan judul diatas. Kenapa ya………..?

Dari seribu jawaban yang ada di dalam kepala, saat itu sedang marak demo para guru di negara ini. Lalu meluncurlah kalimat demi kalimat yang sedikit menyinggung profesi yang dimuliakan ini.

Mungkin profesi sebagai guru dan dokter adalah dua profesi yang lebih dekat dengan barakah ALLAH SWT jika dibandingkan dengan profesi lainnya (tentu bukan dengan maksud merendahkan profesi lainnya). Dibandingkan pedagang, kontraktor atau yang lainnya, profesi guru dan dokter lebih dekat dan dijadikan laluan Rahmah ALLAH SWT. Guru menjadi laluan ilmu sedangkan dokter menjadi laluan kesembuhan, dimana keduanya bersumber dari ALLAH Yang Maha Kaya. Guru didasari niat untuk mendidik orang lain, sedangkan dokter didasari niat untuk menolong orang lain. Konon profesi lainnya seperti hakim, jaksa dan seterusnya di bidang hukum, walaupun sepertinya menjadi laluan keadilan, tetapi sangat dekat dengan murka ALLAH SWT (tentu kalau dalam memutuskan, menuntut dan seterusnya dikotori dengan maksud-masud selain keadilan).

Tetapi apa benar guru dan dokter yang tersebar melayani bangsa ini memang mempunyai niat mulia mendidik dan menolong? Apakah para guru dan dokter dapat mempertahankan niatnya, sementara kebutuhan hidup berkecukupan atau bahkan bergelimang materi terus membayangi, lalu lalang didepan mata.

Saat demo berlangsung di salah satu kota di negeri ini, seorang guru didepan kamera teve berucap dengan lantang “Perhatikan nasib kami yang pulang pergi ke sekolah naik kendaraan umum kepanasan, sementara murid-murid kami pulang pergi sekolah naik mobil pribadi ber AC”. Tertangkap bersitan nada iri dengan fasilitas dunia murid (tentu saja yang kaya dan bisa beli mobil ber AC adalah orang tua si murid). Harusnya si guru iri dengan orang tuanya, bukan dengan si murid. Atau jangan jadi guru, ingin kaya jadi pedagang saja.

Cerita lain menimpa teman sekaligus saudara belum sebulan yang lalu. Bapak dua anak yang punya pekerjaan sambilan berdagangan makanan khas Jawa Timuran pada hari Sabtu dan Minggu di parkiran satu pertokoan ini sudah menekuninya lebih dari 10 tahun. Seperti biasa, hari Jum’at pagi buta matahari belumlah tampak, sementara gerimis masih mengguyur bumi, bapak yang masih belum berumur setengah abad ini menaiki motornya berbelanja ke pasar untuk persiapan masak istrinya nanti malam. Bekal berjualan esok Sabtu tentunya. Entah bagaimana kecelakaan tunggal itu terjadi, motor terjatuh sementara dia tergeletak di jalan yang gelap dan sepi. Beberapa pengendara lalu lalang tanpa peduli sampai seorang pengendara motor menghentikan lajunya dan berusaha menolong.

Singkat cerita, sampailah si penolong mengantar korban ke satu unit gawat darurat rumah sakit. Cerita yang sampai, konon korban tidak segera ditangani semestinya, karena si penolong diminta untuk mencari keluarga korban. Memang sudah digariskan, akhirnya keluarga agak lambat ditemukan alamatnya dan baru sampai ke ruang gawat darurat itu sekitar pukul delapan pagi. Semua sudah terlambat, tanpa penanganan yang cukup korban tidak dapat bertahan dan meninggalkan semua urusannya di dunia. Meninggalkan hiruk pikuk kehidupan, anak istri, keluarga dan handai taulan lainnya. Entah apa yang melatar belakangi rumah sakit itu untuk memilih mencari keluarganya terlebih dahulu sebelum mengusahakan pertolongan yang layak. Sangka buruk yang muncul tentu sangat sederhana, takut tidak ada yang bertanggung jawab membayar biaya rumah sakit. Atau, mungkin takut dituntut oleh keluarganya karena melakukan tindakan pertolongan tanpa persetujuan keluarga. Entahlah……….

Dari kedua cerita diatas (masih banyak cerita lain di kepala ini), sangat biasa jika kemudian disimpulkan niat mendidik dan menolong telah kalah oleh materi atau alasan dunia lainnya. Dimana untuk kedua profesi guru dan dokter justru niat mulia itulah yang menjadi penentunya. Diyakini bahwa bukanlah guru yang menjadi sumber ilmu, dimana murid menjadi ber-ilmu. Sebagaimana bukanlah dokter yang menjadi sumber kesembuhan, dimana pasien menjadi sembuh dari derita sakitnya. Mereka menjadi istimewa karena menjadi laluan kasih sayang ALLAH SWT kepada manusia. Apalagi kalau melihat profesi lain di negeri ini, yang seolah-olah karena kepandaian, kehebatan dan kebisaannyalah mereka bisa seperti saat ini. Lupa kalau sesungguhnya mereka tidaklah mampu berbuat apa-apa, kecuali hanya berniat dan berusaha.

Mungkin tinggal sedikit tersisa di bumi Indonesia ini profesi mulia yang masih mengemban niat mulia. Bagaimana kita bisa berharap Indonesia bisa menjadi negara maju jika profesi se-mulia guru-pun sudah terkotori dengan niatan dunia, sementara apa yang dilakukannya justru membawa misi meninggikan derajat dengan pahala yang akan terus mengalir walau mereka telah tiada. Apa jadinya anak didik mereka?

Melayangkan ingatan kembali ke belakang, tahun 70 – 80 an, saat bersekolah dahulu, masih banyak guru yang masih menjaga niat mulianya. Terima kasih bapak dan ibu guru. Semoga amal dunia kami selalu mengalirkan curahan pahala atas pendidikan yang telah diberikan hingga kami dapat bermanfaat bagi orang lain.

About these ads

Comments»

1. progoharbowo - January 27, 2008

sebenarnya masih banyak orang-orang indonesia yang bekerja dengan tulus dan sungguh-sungguh, tapi sayang mereka memang tenggelam dalam hiruk pikuk bisnis, pemimpin, birokrat dan kroninya serta politikus yang tak bermoral, tidak kompeten, tapi banyak bicara ….

Ya mulailah dari hal yang kecil mulailah dari diri sendiri dan mulailah hari ini….

2. merenung - January 27, 2008

Setuju !

Semoga dikuatkan untuk dapat jauh dari hiruk pikuk yang menjerumuskan.
Semoga bertambah orang-orang yang tulus ikhlas berlakon amal shaleh.
Semoga semua bersabar meniti kisruhnya dunia yang fana ini.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: