Bukan Standar Ganda February 24, 2008
Posted by merenung in Serba-serbi.add a comment
Judul berita koran Republika halaman B3, Ahad, 24 Februari 2008, menarik perhatian. “HTI Kutuk Standar Ganda Kartun Nabi”. Didalamnya diberitakan adanya ratusan massa HTI dari Surabaya, Gresik dan Sidoarjo yang menggelar demo pada hari Sabtu (23/2) ke Konsulat Denmark-Swedia dan Belanda di Surabaya. Salah satu wawancara berbunyi;
“Mereka menganggap kartun Nabi sebagai doktrin demokrasi, hak asasi manusia (HAM), dan kebebasan berpendapat. Tapi, mereka melakukan standar ganda, karena kebebasan menggunakan jilbab di Prancis justru dilarang,” ujar Ketua HTI Surabaya, Fikri A Zuhdiar, di sela-sela aksi demo itu.
Apresiasi dan salut atas dilakukannya demo protes tersebut dan semoga niat amalnya diganjar pahala berlipat oleh ALLAH SWT. Amin.
Ada yang salah dari pendapat Ketua HTI Surabaya yang kemudian (mungkin) menjadi inspirasi judul berita itu. Mudah-mudahan judul tersebut tidak dibuat untuk menjebak, karena ada suatu pendapat yang riskan salah, disalahkan atau dipelesetkan.
Pertama;
Sejak semula, menggambarkan gambaran fisik Nabi Muhammad SAW, Rasullullah, tidak dibenarkan atau dilarang. Artinya, tidak boleh dalam bentuk apapun, baik lukisan, skets, patung, maupun kartun, yang semuanya hanya merupakan imajinasi manusia. Ini sangat berbeda dengan penganut keyakinan lain yang membolehkan penggambaran segala imajinasi keyakinannya dalam bentuk nyata, berupa lukisan, skets, patung, kartun dan bahkan dalam bentuk manusia yang dianggap mewakili imajinasi mereka (dalam film, theater dsb). Jadi tidak ada standar untuk melukis Nabi Muhammad SAW dan larangan itu sendiri bukan merupakan standar.
Ke-dua;
Memakai jilbab (menutup aurat), bagi wanita muslimah merupakan kewajiban. Terserah, apakah para wanita muslimah mau memakainya atau tidak, tidak akan menjadikan menutup aurat menjadi sunnah. Dan juga tidak menjadikan aurat wanita itu berbeda-beda atau tergantung lokasi, musim, acara dst. Melarang wanita muslimah memakai jilbab, jelas sama dengan melarang untuk melakukan kewajiban. Misalnya, melarang shalat, melarang berdo’a dan larangan lain yang terkait dengan keyakinan. Sayangnya mereka yang melarang itu tidak mengerti apa itu aurat. Sebagaimana mungkin sulit membedakan antara pusar (perut) dan wajah. Buktinya, banyak diantara mereka yang berpakaian dengan memperlihatkan pusar (perut) sebagaimana mereka mempertontonkan wajah mereka. Mungkin, kalau mereka mengetahui apa yang dinamakan aurat, maka mereka akan membuat larangan berpakaian (menutup aurat), sebagaimana mereka melarang berjilbab. Nudis, lebih konsisten.
Yang pertama, larangan melukis dan yang lain larangan menutup aurat, tidak bisa disandingkan. Apa yang terjadi kemudian jika mereka membolehkan wanita muslimah menutup auratnya? Atau bahkan, mewajibkan wanita muslimah menutup auratnya? Diperjelas, wajib menggunakan jilbab? Apakah kemudian mereka serta merta boleh melukis wajah Rasulullah SAW? Agar tidak ada standar ganda?
Mereka tidak punya standar. Mendefinisikan sesuatu tanpa standar. Mereka hanya merasa-rasa dan menetapkan berdasarkan perasaan (sentimen) belaka. Hingga membuat kartun itupun mereka anggap lelucon biasa. Kita yang mudah tertipu.
Jangan terjebak dengan musik yang mereka mainkan. Niscaya mereka akan menarik kita, sedikit demi sedikit, hingga kita lupa apa warna musik kita.
ALLAH SWT jualah yang Maha Mengetahui.
Menipu Diri Sendiri? February 21, 2008
Posted by merenung in Kehidupan.1 comment so far
Aneh nian judul tulisan ini. Tapi ini benar-benar sering terjadi. Bahkan pada diri kita sendiri. Cobalah merenungkannya.
Ada cerita lucu yang bisa menggambarkan judul itu:
Beberapa waktu lalu, seorang apoteker bingung bertanya kepadaku sambil menunjukkan dua lembar kertas. Yang satu Faktur pembelian obat, seharga dua ratus tujuh puluh ribu. Lembar yang satu lagi, Nota Debet sebesar seratus tiga puluh ribu. Apa artinya dua lembar Faktur dan Nota Debet ini. Apakah harus membayar empat ratus ribu (270.000 + 130.000) atau hanya membayar dua ratus tujuh puluh ribu, setelah mendapat diskon seratus tiga puluh ribu. Tak mungkin mendapat jawaban memuaskan dariku, apoteker pun menelpon teman-temannya di apotek lain.
Jawaban teman-temannya sama, mereka juga mendapat model tagihan yang sama dari semua “perusahaan negara”. Dan harus membayar jumlah keduanya (Faktur _ Nota Debet). Aneh. Kenapa tidak ditulis langsung totalnya, seperti perusahaan swasta lainnya, dalam satu Faktur.
Belum puas, apotekerpun menelpon si “perusahaan negara” yang menerbitkan Faktur dan Nota Debet itu untuk menanyakan, kenapa tidak ditulis dalam satu Faktur. Jawaban yang lucu dari si “perusahaan negara” adalah; “Kita tidak boleh menuliskan empat ratus ribu, oleh pemerintah. Tapi kalau kita jual dua ratus tujuh puluh ribu, kita rugi. Jadi kita terbitkan Nota Debet untuk menagihkan kekurangannya. Sehingga total yang kita terima empat ratus ribu”. Seolah ingin mengeluh kalau pemerintah tidak mau mendengar “obat mahal”.
Jadi pemerintah selalu dilapori bahwa harga obat murah, sementara para “perusahaan negara” itu tetap saja tidak dapat menjualnya dengan murah. Yang akhirnya, sasaran harga murah hanyalah ilusi semata. Bukankah model menerbitkan Nota Debet kepada apotek itu adalah bentuk penipuan kepada diri sendiri.
Atau, ………… siapa sebenarnya yang tertipu?
Sayup terdengar nyanyian Chrisye:
……………….
Berkata tangan kita, Tentang apa yang dilakukannya,
Berkata kaki kita, Kemana saja dia melangkahnya
Tidak tahu kita, Bila harinya, Tanggung jawab, tiba…
Rabbana
Tangan kami
Kaki kami ……………………………………
Aku Punya Apa? February 17, 2008
Posted by merenung in Kehidupan.add a comment
Merenung, mengingat peristiwa beberapa tahun lalu, ada pelajaran yang sangat berharga.
Malam itu (aku lupa hari dan tanggal tepatnya) sekitar jam sembilan malam. Aku duduk di tepi tempat tidur sambil menonton acara TV. Tiba-tiba, lampu kamar meredup beberapa saat, lalu mati. Gelap. Karena memang sudah terbiasa kelebihan beban, saat pompa air menyala otomatis, kontan MCB meteran PLN langsung off. Memang agak aneh, kali ini melalui phase meredup beberapa detik. Istriku perlahan-lahan langsung keluar kamar, berjalan perlahan menuju pintu depan, sambil memberikan waktu MCB agar dingin.
Sambil membuka pintu depan, karena sepi, terdengar istriku berguman “Kok bau kabel terbakar ya?”. Aku menyusul keluar, karena sudah satu menit masih juga belum dinyalakan. Tiba-tiba, istriku berteriak, “Terbakar pa……, meteran-nya terbakar…..!”. Spontan aku lari keluar sambil berfikir mencari barang untuk memadamkan api tersebut. Anehnya, (memang sedang panik), aku sadar bahwa yang kuambil saat itu adalah tutup drum plastik yang ada di tepi kolam ikan samping rumah. Bulat besar ceper agak cembung, mirip “tampah” pengayak beras.
Sambil tetap berfikir, “Kenapa aku bawa benda ini?”, aku meraup air dari kolam ikan, membawa dan menyiramkannya ke meteran yang sedang terbakar itu. Apinya mulai menjulang ke plafon luar yang terbuat dari triplex dan sudah mulai hitam karena asap kabel. “Wah…., bisa nyetrum nih….!”, pikirku sambil terus meraup air dari kolam dan menyiramkannya ke meteran tersebut, berulang tiga empat kalim mungkin juga lebih. Karena bolak-balik dengan tampah plastik penuh air, tentu seluruh teras menjadi basah dan beberapa kali hampir saja membuat aku terpeleset. Beberapa saat kemudian istriku keluar sambil membawa tabung pemadam warna merah. Seakan tersadar, aku langsung meraihnya, mencabut pin dan menyemprotkannya . Dalam hitungan detik apipun padam, tapi semprotan tidak bisa dihentikan. Jadilah car-port menjadi sasaran bubuk putih pemadam api, menyebar kemana-mana.
Aku duduk termenung di atas bak pompa air di halaman, sambil memandang meteran dan kabel yang terbakar. Ada perasaan lucu di dalam hati. Beberapa saat kemudian aku masuk kedalam rumah dan menelpon PLN dan salah seorang kawan main, adik kelas ku semasa SMA. Pernah kuliah bareng aku dan sempat lama kuliah di Jerman. Memang kerjanya saat ini di bidang listrik-listrik ini (mechanical & electrical).
Karena rumahnya tidak terlalu jauh, kawanku datang terlebih dahulu sebelum petugas PLN tiba. Sambil terbengong-bengong, setelah lihat sana-sini dia bertanya; “Ini air apa ya?”. Aku menjawab; “Tadi waktu panik, gue siram dengan air. Jadi tumpah-tumpah”. Dia spontan tanya; “Dulu elu sekolah dimana ya?”. Pertanyaan ngeledek yang sangat lucu, karena sebelum berangkat ke Jerman dia sempat kuliah bareng aku, walau beda fakultas. Jadi dia persis mengetahui kalau aku lulus elektro. “Udah jangan ngeledek. Namanya juga gue panik”, sahutku. “Panik tapi kira-kira dong. Kalau kesetrum kan elu mati”, dia menjawab sekenanya sambil terus senyam-senyum. Beberapa saat petugas PLN datang dan semuapun menjadi beres.
Pelajaran yang sangat berharga. Mengingat, beberapa hari sebelum kejadian itu, aku sempat berbincang dengan beberapa kawan mengenai kantornya yang mulai meresahkan. Saat itu memang banyak sekali kantor yang rasionalisasi dan menghentikan kegiatannya. Beberapa kawan yang mengelola kantor sendiripun banyak yang berhenti beroperasi atau beralih bidang. Semrawut dan stress. Lucunya, sekumpulan kawan yang sedang mengalami goncangan dan stress itu malah jadi sering sekali kongkow di Citos sambil berpindah-pindah cafe sekedar melihat orang lalu-lalang, sampai malam. Beberapa kali ikut kongkow, walau enak juga tapi lucu rasanya. Sementara sulit uang, tapi tetap kongkow di tempat yang harga kopi saja lebih dari 50 ribu perak.
Dalam cakap-cakap santai, saya selalu saja yakinkan kawan-kawan, bahwa kalau kita punya skill dan pengalaman sepertinya kita tidak perlu takut tidak punya kerja. Uang bisa habis, jabatan bisa hilang, tapi ilmu, skill dan pengalaman pasti melekat dan bisa digunakan untuk mencari pekerjaan di tempat lain. Malam saat kebakaran itulah aku baru sadar bahwa ternyata tidak juga ilmu atau skill, bahkan pengalaman sekalipun tidak ada yang dapat kita kuasai.
Anak, istri, harta, jabatan, tubuh bahkan otak kita bukanlah milik kita. Bukan juga pengetahuan kita, skill dan pengalaman kita, bukan juga milik kita. Nyatanya, pada saat panik menyiram meteran listrik yang terbakar, sebenarnya aku terus berkomunikasi dengan otakku. Artinya aku berfikir dengan segala latar belakang ilmu dan pengalamanku (tentu sudah dari sejak kecil aku beberapa kali kesetrum). Ternyata itu semua tidak cukup mengendalikan tindakan yang aku lakukan. Sangat bodoh dan awam pada situasi seperti itu.
Jika aku renungi, ternyata memang aku tidak mempunyai apa-apa. Hidup di dunia ini aku memang 100% tergantung pada ALLAH SWT, Yang Maha Mengatur dan Mengendalikan segala sesuatunya. Kondisi yang ALLAH tetapkan itulah sebenarnya yang memberikan aku kesempatan, sehingga apa-apa yang dititipkan ALLAH kepadaku dapat aku manfaatkan untuk berusaha mengisi pundi-pundi amalku. Hanya amal itulah milikku yang akan menemani aku kelak. Bukan tubuhku, bukan pengetahuanku, bukan jabatanku, bukan pengalamanku dan pasti bukan hartaku. Aku memang tidak punya apa-apa.
Ternyata Anakku Tetap Pengen Masuk PL February 15, 2008
Posted by merenung in Umum.add a comment
Menyambung cerita hampir sebulan yang lalu, yang aku tulis di blog :
http://merenung.wordpress.com/2008/01/23/sekedar-tanda-tangan/ ,
ternyata anakku belum menyerah. Mungkin ada sedikit pengaruh teman kanan kirinya. Beberapa kali dia berusaha menjelaskan keinginan dan perasaannya kepada aku. Aku menekankan bahwa aku sangat mengerti suasana hatinya, semangat pantang menyerah dan kekecewaannya. Dan dengan terus menerus pula, setiap dia berusaha berargumentasi, aku tetap menjelaskan kembali titik pijakku.
Aku memang tidak berhenti berusaha untuk membahas masalah anakku ini dengan beberapa orang teman-teman dan tentu keluarga sendiri. Ada momen secara khusus sebelum rapat alumni dua minggu lalu, aku dan teman-teman membahas masalah ini. Dari belasan orang yang hadir, hanya satu orang yang berpendapat tidak masalah kalau aku tanda tangani formulir itu dan anakku masuk PL (padahal belum tentu juga lulus test dan diterima, emang gampang masuk PL……..). Wajar juga kalau teman-teman lamaku itu menentang keinginan anakku. Mungkin juga salah satu sebabnya karena mereka semua muslim. Itu pikirku.
Yang agak menyentak dan lebih menguatkan posisiku justru terjadi Kamis siang ini. Aku pergi makan siang dengan teman-teman kantor di food-court hypermarket dekat kantor. Kami pergi ber-lima. Empat muslim dan teman yang satu orang seberang, non muslim. Saking alim-nya untuk ukuran ku (aku dahulu seorang Protestan dan orang tuaku sampai sekarang ada yang masih Protestan), kita biasa panggil pak pendeta. Mungkin kalo muslim biasa kita panggil pak ustadz, gitu lah. Aku samarkan panggilan temanku non-muslim ini dengan nama Lothar (karena dia senang sama Lothar Matheus).
Aku ingin sedikit mengingatkan bahwa waktu makan siang tidak lama dan cerita ku ini berjalan sangat singkat. Aku menceritakan bahwa anakku ingin masuk SMA PL dan aku tidak mengijinkan. Hal ini baru bagi teman-teman kantorku, terutama temanku Lothar. Sedikit penasaran, sambil makan Lothar tanya, “Kenapa kau larang?” (bukan karena dia tidak tau PL). Aku hanya menjelaskan satu dari banyak sebab aku melarang, yaitu perkara harus menanda tangani persetujuan diatas materai itu. Sontak setelah selesai aku membaca poin yang ke tiga, Lothar memotong dengan nada tinggi “Ach…., kalau aku gak mau tanda tangani formulir itu. Gak suka aku cara seperti itu. Nanti, nggak ada deh anakku yang masuk ke sekolah itu“. Kaget kan? Jangankan muslim macam aku, kawanku yang Protestan saja tidak mengijinkan anaknya masuk ke situ (tentu kalau sudah besar nanti, karena anaknya masih kecil-kecil).
Ajaibnya, pulang kantor Kamis malam itu, di meja makan, anakku mengungkit kembali keinginannya.
Anakku bertanya, “Papa mau gak bicara dengan mama-nya si…….(dia sebut nama temannya, anak kelas 2 SMA PL, dan seorang muslim)”.
Sedikit menawar aku menyahut, “Kenapa bukan papa-nya?”.
Anakku menjawab; “Mama-nya yang pengen ngomong”.
Enteng saja aku jawab: “Boleh. Dan sebaiknya mama-nya itu diminta baca blog-nya papa, biar dia punya gambaran posisinya papa”.
Saat di kamar, anakku masuk membawa wireless telepon dan bilang, “Ini pa, tante …… mau bicara”. Aku tanya, “Udah disuruh baca blog-nya papa?”. Dia jawab, “Belum, gak apa-apa kok, dia mau bicara”. Aku sambar wireless telepon itu dengan semangat dan mendengar dari ujung suara wanita mengucap salam “Assalamu ‘alaikum”. Aku menjawab “Wa alaikum salam, wa rahmah wa barakah”. Dan seterusnya basa basi memperkenalkan diri. Ternyata ibu ini anggota POMG SMA PL dan menawarkan diri untuk menjelaskan apabila ada hal yang membuat aku tidak mengijinkan anakku masuk ke PL.
Aku mencoba menjelaskan latar belakang dan titik berdiriku agar ibu ini tidak terlalu berharap. Bahwa, aku sangat apresiasi terhadap kesediaan ibu ini membantu menjelaskan, berterima kasih atas perhatian dan mau direpotkan oleh anakku dan latar belakang bahwa aku dahulu seorang Protestan dst. Juga aku tekankan bahwa “Saya tidak akan pernah mengijinkan anak saya masuk ke PL dan saya sudah katakan kepada anak saya sejak awal“. Anakku ikut mendengarkan perkataanku ini, karena dia duduk di tepi tempat tidurku.
Didalam satu jam lebih percakapan, ternyata, tidak satupun pertanyaanku yang bisa dijawab. Aku tidak mengharapkan jawaban yang memuaskanku, melainkan jawaban yang berdasar. Bukan jawaban asal-asalan.
1. Aku tanya soal “materai”, sama seperti anakku, katanya ini formalitas. Waktu aku tanya apakah materai itu bisa diabaikan, dia menjawab seolah-olah untuk kasus ini bisa diabaikan. Karena pada kenyataannya sekolah memang mengabaikan pernyataan diatas materai itu. Waktu aku tanya, seandainya sekolah itu meminta kita menanda tangani kesediaan kita untuk membayar uang masuk sekolah diatas materai, kemudian kita tidak memenuhi-nya, apakah sekolah itu tidak menuntut kita untuk memenuhinya? “Untuk kasus ini, maksud materai itu lain, itu warisan jaman Belanda“, katanya tanpa dasar yang jelas. Aku tidak bisa menerim, karena menurutku semua materai sama dimanapun didepan hukum (Indonesia).
2. Aku tanya soal bagaimana kita membukakan jalan yang dapat menggelincirkan kita ke luar akidah. Ibu itu menjawab, bahwa anaknya justru bertambah tekun beribadah setelah di sekolah itu. Anehnya, kenapa dia tidak berfikir, seandainya anaknya saat ini tidak bersekolah di PL tetapi di sekolah Islam, jangan-jangan ketetapan ALLAH justru mentakdirkan anaknya menjadi jauh lebih tekun, jauh lebih alim dan jauh lebih berprestasi, dst. Dan yang pasti, barokah. Dengan niat yang insya ALLAH diganjar pahala yang berlipat ganda. Apa yang diharapkan kalau bukan barokah. Sukses tanpa barokah? Pintar tanpa barokah? Kaya tanpa barokah?
3. Waktu aku berikan contoh kerabat (sepupu) ibuku yang keluarga muslim (suami istri dan anak-anaknya), kemudian berpindah ke agama lain, kebetulan Katolik, (seluruh keluarganya) justru pada saat kepala keluarga menjadi perwira tinggi (jendral), mapan, stabil dst. Ibu itu menjawab, “Bukankan itu menjadi tanggung jawab bapak itu sendiri pak, bukankan mereka sudah dewasa? Bagaimana orang tuanya dapat ikut bertanggung jawab”. Saya menjawab, walau lupa ayatnya apa, “Kalau tidak keliru di Al Qur’an justru menekankan, bahwa orang tua lah yang menjadikan anaknya seorang Yahudi, Majusi atau Nasrani”. “Mungkin tafsir kita berbeda, bu“, seraya menutup topik bahasan itu.
Banyak sekali percakapanku yang hampir satu jam itu dan anehnya tidak ada satupun pertanyaanku yang dijawab dengan dasar pijakan yang kuat. Satu contoh pertanyaan dan jawabanku mudah-mudahan menggambarkan bagaimana tidak bersambutnya pertanyaanku.
Ibu itu bertanya: “Saya ingin tanya pak. Seandainya anak bapak nantinya bersekolah di sekolah yang bukan pilihannya dan hanya karena terpaksa (sedikit menekankan nadanya), apakah bapak yakin anak bapak akan berprestasi?“. Pertanyaan sedikit konyol dan lucu ini, aku jawab dengan santai dan sangat spontan. “Sama dengan tidak yakinnya saya apabila anak saya masuk PL. Apakah ibu bisa menjamin masa depan anak ibu? Menurut saya, tidak ada satupun mahluk di dunia yang dapat menjamin masa depan kita dan anak kita. Bagaimana kita bisa yakin?“. Oleh karenanya kita selalu tidak putus berdo’a agar kita selalu diberi petunjuk dan dikuatkan. Seraya saya mendo’akan “Semoga anak-anak ibu dapat istiqomah sampai akhir hanyatnya sebagai muslim dan muslimat”. Amin. Siapa yang bisa menjamin? Kalau tergelincir, bagaiman cara tobatnya? Tidak ada jawaban.
Panjang sekali diskusi malam itu.
Malam itu badan anakku panas. Mungkin stress juga, tidak bisa mempengaruhi orang tuanya. Aku bersyukur, karena anakku gigih dan tidak cepat putus asa. Hanya saja, aku perlu mengarahkan kepada keinginan-keinginan yang baik dan barokah. Bukan asal-asalan dan judi yang berbahaya seperti ini.
Semoga ALLAH SWT memberikan hidayah dari kejadian yang dapat diambil pelajaran oleh anakku ini. Aku yakin, kejadian ini akan menjadi bekal bagi anakku pada saat dia beranjak dewasa kelak.
Sesungguhnya aku dan kita semua orang yang lemah. ALLAH sajalah yang menguatkan dan melemahkan hati kita. Semoga kejadian ini juga menjadi pelajaran bagi yang lain. (mungkin bersambung……)
Surga Dunia di New York February 12, 2008
Posted by merenung in Kehidupan.Tags: dunia, new york, surga
2 comments
Dunia sudah pasti bukan surga. Bahkan nikmat dunia tidak seberapa jika dibandingkan dengan nikmat surga. Mungkin itu sebabnya orang sering mengutamakan nikmat dunia dan lupa dengan nikmat surga. Sebagian lain tidak percaya dengan adanya surga hingga menganggap nikmat hanya ada di dunia selama masih hidup. Mati adalah kehilangan dan musnah begitu saja. Bagaimanapun surga tidak tergantung dengan anggapan mahluk hidup yang namanya manusia. Entah seperti apa nikmat surga itu, sulit membayangkannya saat kita ada di dunia seperti ini.
Aku diberi kesempatan ALLAH untuk berkunjung di beberapa tempat di muka bumi ini. Banyak sekali tempat yang indah menawan menyejukkan hati, sebanyak tempat lainnya yang sudah dirusak oleh manusia dengan segala tingkah polahnya. Dari pemandangan alami berwarna warni, struktur dan arsitektur Sang Maha Pencipta, bangunan megah kuno maupun modern sampai hutan gundul dan pemukiman kumuh karya manusia. Tetapi tidak ada tempat yang indah menawan dan menyejukkan, seindah dan seajaib lingkungan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.
Mencoba merenungi suasana kedua tempat itu selalu tidak habis-habisnya rasa rindu. Aku bahkan sempat berfikir, di tempat inilah aku rasakan surga di dunia. Bagaimana tidak. Hanya di kedua tempat inilah rasanya seluruh kehidupan menjadi sangat ideal. Belum pernah rasanya saat aku bercermin, lalu dalam pandangan semua yang aku lihat di cermin itu sudah sempurna. Biasanya kalau bercermin di rumah, entah rambut yang sudah botak ini kurang rapi, muka banyak minyak dan seterusnya, yang memerlukan perhatian dan kadang cenderung mengusik mata hingga kurang bersyukur. Anehnya, setiap kali bercermin sebelum berangkat ke Masjidil Haram maupun Masjid Nabawi, pantulan cermin selalu mengatakan sudah tidak ada yang kurang.
Umumnya, saat berjalan-jalan dengan maksud belanja atau cicip-cicip makanan di restoran, perhatian kita terpusat pada kepuasan mata dan lidah kita. Di kedua tempat yang dikelilingi dengan pusat perbelanjaan itu, anehnya hati ini, perhatian selalu ke penunjuk waktu mengukur waktu panggilan sholat. Buru-buru ingin pulang ke hotel merapikan diri untuk menunggu azan. Rasanya, hidup selalu terikat dan diingatkan untuk ibadah, baik hati maupun ritual kita. Nikmatnya surga dunia.
Di Jakarta yang hiruk pikuk ini, rasanya sulit sekali mengalami situasi bak surga dunia seperti di sana. Walau katanya “rumahku surgaku” atau “istriku bidadariku” dan kata-kata indah lainnya, belumlah dapat membawaku ke suasana surgawi seperti itu. Belum lagi kesibukan pekerjaan yang seolah-olah tidak pernah selesai dan berhenti mengejar. Tuntutan biaya hidup yang tidak pernah turun, kebutuhan hidup yang seakan tak bisa ditunda, belum lagi keinginan-keinginan hawa nafsu yang selalu merengek meminta diikuti. Rasanya waktu berlalu begitu cepat dan hidup menjadi lelah. Telah panjang merenungi, rasanya tidak akan ditemukan surga dunia kecuali di kedua tempat yang indah itu.
Film Discovery Channel dengan judul Islam in America membuat renungan yang begitu lama buyar begitu saja. Seperti biasa, VCD aku beli untuk koleksi yang sewaktu-waktu bisa ditonton dan mungkin berguna itu, ternyata sangat menggugah. Adegan wawancara seorang warga negara Mesir yang berkelana merantau mencari kehidupan di Amerika. Tidak tanggung-tanggung, dia memilih New York sebagai tempat tinggalnya. Bukan kota kecil dan tidak juga bisa dibandingkan dengan Jabotabek, tempat dimana aku tinggal sekarang ini.
Cuplikan script yang penting aku tulis dibawah ini (mudah-mudahan kupingku benar menangkap kata-katanya):
(where Nabil’s came from, everything stops for prayer)
Di tempat asal Nabil, bila tiba saatnya, semua harus berhenti untuk sholat.
Sangatlah jarang aku menunggu waktu sholat, bahkan sering kali aku enggan menghentikan kegiatan saat mendengar panggilan azan.
(pitch in work around prayer is a top priority)
Bekerja di antara sholat merupakan prioritas utama.
Bukankah selama ini aku hanya sibuk bekerja mengejar dunia dan menjalankan sholat yang memakan waktu sedikit itu hanya menjadi istirahat di sela-sela waktu luang bekerja.
(If you can’t deliver your job, looking for another job)
Jika pekerjaanmu tak sesuai, carilah pekerjaan lain.
Belum pernah rasanya aku mendapatkan pekerjaan yang tidak sesuai dengan waktu sholat. Hanya saja aku belum pernah sengaja menghentikan rapat (misalnya) saat azan terdengar, untuk melaksanakan sholat.
(But you have to go to pray)
Tapi kau harus sholat.
Kalau harus sholat sih, aku agak lumayan lah…….
dan seterusnya, sampai dengan:
(Driving a taxi was the perfect solution)
Membawa taxi adalah solusi yang sempurna.
Bagiku, imigran ini amat mengagumkan. Sampai menganggap membawa taksi menjadi solusi sempurna kehidupannya.
Ternyata supir taksi di New York pun dapat mengalami situasi dimana kehidupannya begitu terikat, dekat dan selalu ingat akan maksud kehidupannya di dunia ini. Begitu mudah dia menyampaikan secara tersirat bahwa hanya ibadah-lah tujuan kita saat mampir hidup di dunia fana ini. Bekerja hanyalah untuk memenuhi dan menyambung kebutuhan hidup yang utama yaitu agar dapat beribadah. Hidup dunianya adalah ibadah dalam arti sebenarnya. Itulah surga dunia. Dan supir taksi itu menemukan surga dunia di kota New York. Untuk menyongsong surga yang sebenarnya, insya ALLAH.
Sementara aku masih mencari surga duniaku di sini, dimana kehidupanku aku jalani.
Ar Rum (30): 30 – 32 February 8, 2008
Posted by merenung in Jum'at.add a comment
Manusia menurut fithraah beragama tauhid.
30. Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,
31. dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah,
32. yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.
(copied/pasted from original cd Quran Player Lite Edition)
Az Zumar (39): 27 – 31 February 1, 2008
Posted by merenung in Jum'at.add a comment
Aku berlindung dari godaan syaitan yang terkutuk,
Dengan Nama ALLAH yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
27. Dan sungguh telah Kami buat bagi manusia di dalam Al Qur’an ini beberapa perumpamaan supaya mereka mendapat pelajaran.
28. (Yaitu) Al Qur’an dalam bahasa Arab yang tidak bengkok agar mereka bertaqwa.
29. ALLAH membuat perumpamaan, seorang laki-laki yang menjadi milik beberapa orang yang berserikat, yang mereka berselisih padanya; dan seorang laki-laki yang dimiliki oleh seorang (saja). Adakah kedua perumpamaan itu sama? Segala puji bagi ALLAH; bahkan kebanyakan mereka tidak mengetahui.
30. Sesungguhnya engkau (Muhammad) akan mati, dan sesungguhnya mereka (juga) akan mati.
31. Kemudian, sesungguhnya kamu (semuanya) pada hari kiamat akan berbantahan di hadapan Tuhanmu.
Maha Benar ALLAH dengan segala Firman-Nya.

