jump to navigation

Haruskah Kita Malu? March 31, 2008

Posted by merenung in Serba-serbi.
Tags: , , ,
add a comment

“Nguping” orang lain bicara mungkin ada juga baiknya. Suatu kali, sambil nonton TV, Fulan dan Fulana saling bersahutan membicarakan acara yang ditayangkan. Seperti biasa, umumnya menjelang Lebaran stasiun TV berlomba-lomba mencari berita sekitar persiapan menyambut hari yang disambut meriah oleh masyarakat muslim negeri ini. Salah satunya adalah berita orang kaya membagi-bagikan zakat bagi masyarakat miskin. Sulit diceritakan bagaimana perasaanku melihat masyarakat miskin mengantri dan berebutan mengambil “jatah tahunan” mereka. Baiknya aku ceritakan percakapan Fulan dan Fulana saja;

Dengan nada terlihat kurang senang, Fulana berkata: “Kenapa sih orang kaya banyak yang pamer seperti ini. Kasihan orang-orang miskin dieksploitasi sama stasiun TV gara-gara orang kaya seperti punya tradisi tahunan bagi-bagi duit. Harusnya mereka malu”.

Fulan jadi gatel: “Siapa yang harus malu? Orang kayanya?”

Fulana menyahut: “Ya, orang kayanya yang harus malu. Punya kebiasaan buruk seperti ini”.

Fulan mencoba bijak: “Jangan buruk sangka dong. Apalagi sesama muslim. Belum tentu dia riya’. Mungkin saja niatnya untuk mengajak yang lain berbuat serupa untuk orang miskin”.

Fulana menyahut: “Tidak bisa dong. Tetap saja dia harus malu. Zakat itu kan bagi orang kaya semacam kotoran yang harus dia keluarkan. Harus dibuang. Macam membuang kotoran. Kalau tidak dibuang bisa jadi penyakit. Masak orang buang kotoran bilang-bilang dan pamer. Bukannya harusnya dia malu? Lagi pula, biarin aja orang lain gak usah diajak-ajak. Kalo nggak mau keluarin zakat kan sakit sendiri”.

Mendengar Fulana agak nyolot, si Fulan jadi ingin membalas: “Memangnya dia bagi-bagi zakat? Wong dia bagi-bagi sedekah kok. Jadi bukan buang kotoran dong. Bagi-bagi sedekah dan mengajak orang lain untuk ikut bagi-bagi sedekah seperti dia. Dia banyak rejeki dan pengen diberi rejeki lebih banyak lagi. Bukan riya’. Jangan buruk sangka dulu dong”. Sambil nyengir merasa menang.

Ternyata Fulana belum menyerah: “Apalagi bagi-bagi sedekah, harusnya dia lebih malu lagi”.

Fulan terperangah; “Lho, kok lebih malu? Kenapa?”

Dengan tenang Fulana menjawab; “Memangnya berapa banyak rejeki yang ALLAH telah berikan kepada dia? Berapa banyak nikmat yang ALLAH telah limpahkan kepada dia? Berapa yang sudah dihabiskannya untuk menuruti hawa nafsunya? Barapa banyak yang mubazir tanpa bisa dinikmati oleh dia sendiri, bahkan tidak juga bisa dinikmati oleh orang lain? Koleksi rumahnya, mobilnya, depositonya apa bisa dinikmati oleh dia atau orang lain? Lalu, berapa banyak yang dia sedekahkan sekarang ini, sampai-sampai harus membuat sengsara orang miskin. Diliput TV lagi. Apakah seluruh hartanya? Setengah hartanya? Atau seperempat dari hartanya? Bukankah seharusnya dia malu?”

Fulan terdiam. Haruskah kita malu?

Mengumpulkan Bekal – Bermodal Niat Baik March 29, 2008

Posted by merenung in Simple.
Tags:
add a comment

Bermula dari “niat”, hal yang paling simple dan hanya diketahui oleh kita dan ALLAH Yang Maha Mengetahui.

Niat baik dan dilaksanakan dengan baik dan benar, dapat ganjaran pahala berlipat; (+1) x(+1) = (+∞)

Niat baik tapi belum sempat dilaksanakan, dapat ganjaran pahala niat; (+1) x (0) = (+1)

Niat buruk tapi tidak dilaksanakan, dima’afkan dan tidak dicatat; (-1) x (0) = (0)

Niat buruk dan dilaksanakan, diganjar balasan setimpal; (-1) x (1) = (-1)

Simple dan menunjukkan betapa ALLAH mempermudah kita untuk mengumpulkan “bekal akhirat”.

Hanya ALLAH jualah Yang Maha Mengetahui.

Belajar Dari Genset March 26, 2008

Posted by merenung in Serba-serbi.
Tags:
1 comment so far

Ada cerita lucu pagi tadi yang lumayan juga untuk aku tulis disini.

Kebetulan kantor beli genset brand new 150 KVA. Rencananya untuk supply kantor yang agak susah menyesuaikan dengan jadwal mati lampunya PLN. Kalau cuma setengah jam, mungkin UPS masih kuat. Tapi lebih dari itu, genset menjadi pilihan terbaik.

Dari sejak genset diantar tiga minggu lalu, aku dipertemukan dengan para teknisi genset yang sudah 20 tahun malang-melintang di dunia genset dengan daerah operasi seluruh negeri ini. Terutama, tentunya di daerah-daerah tanpa listrik. Tentu pembicaraanku dengan para pakar sangat tidak seimbang. Dengan pengalaman terbatas, pelajaran di bangku kuliah fakultas teknik tidak ada artinya dibanding mereka.

Bayangkan salah satu dari perbincangan, saat aku dan kawan-kawan agak kurang siap menerima kiriman genset, karena landasan belum dibuat. Membayangkan genset sebesar ukuran microbus, membuat aku sangat berhati-hati dengan pembuatan landasan. Tapi kekhawatiranku dengan landasan beton ini musnah dengan kalimat sang pakar, “Ah, saya udah biasa pak. Saya udah pasang di hutan, diganjel balok kayu, udah tiga taon gak apa-apa”. Banyak percakapan lain yang aku simpulkan dengan sederhana, “pengalaman panjang”.

Pagi tadi aku ketemu dengan mereka kembali. Karena tujuannya mau load test dengan enteng aku tanya;

“Gimana kita ngetesnya?”. Jawabnya lebih enteng, “Terserah bapak. Tergantung kebutuhan bapak”.

“Maksudnya, step-stepnya, apa yang di cek, berapa lama”, aku sedikit menjelaskan pertanyaanku.

“Kita tinggal nyalakan, change over saja per lantai, nanti kita monitor. Mungkin setengah atau satu jam cukup”, jawabnya.

Agak kesal, aku tinggalkan dan kembali ke ruanganku. Aku minta dua rekanku untuk membuat check list step by step sebelum mereka boleh load test. Maksudku, semacam user acceptance test sederhana atau apalah namanya. Wong beli mobil aja kita biasanya di brief dan diterangkan oleh teknisinya. Ini genset segede gajah untuk backup listrik kantor.

Beberapa saat kemudian aku menyusul keluar, ke tempat genset, untuk lihat progressnya. Ada selembar kertas dengan deretan check list berdasarkan pengumpulan informasi dari para pakar. Rekan-rekanku masih terlihat kebingungan. Agak tidak sabar aku langsung tanya; “Gini deh, kalau mau menyalakan genset ini, apa yang harus kita cek terlebih dahulu?”. “Solar, air radiator dan oli”, jawab pakar kita. Malas memastikan dengan masuk kedalam box genset untuk memeriksa air radiator dan oli, aku lanjutkan; “Kalau udah di cek semua, ya udah nyalain aja”. Dengan sigap para pakar kita memeriksa sana-sini dan salah seorangnya mulai memutar kunci starter. “Brrrooooommmm……!”, mesin menderu macam mobil diesel biasa. Cakep……., wong mesin baru.

Belum dua menit menyala, saat para pakar sudah mengalihkan perhatiannya ke panel listrik untuk change over, tiba-tiba “brub….brub……”, mesin mati. Genset baru dengan merek yang terkenal itu mati sendiri. Solar penuh, oli penuh dan airpun penuh. Lalu apa yang salah?

Satu jam aku tinggal, rekan kerja datang minta uang untuk beli oli. Dengan bingung aku bertanya; “Memangnya olinya dibuang?”. “Tidak pak. Kata mereka kurang sedikit”. Malas bertanya, aku sodorkan uang untuk beli oli. Dua jam aku tinggal, dia kembali dan lapor kalau ada part yang rusak. Wong baru kok rusak.

Memang pengalaman pun tidak ada artinya jika kita terlalu congkak dan bergantung kepadanya. Bahkan pengalaman mereka memeriksa oli saja tidak membuat mereka “memeriksa oli”. Punya mata tidak otomatis bisa melihat. Punya telinga bukan otomatis bisa mendengar. Punya  mulut bukan otomatis bisa bicara. Punya otak tidak otomatis bisa berfikir. Dan tentu punya pengalaman seberapapun tidak otomatis “bisa”. Yang berpengalamanpun bahkan tidak menjalankan step pertama, periksa oli. Karena apa?

Apa Fungsinya? March 24, 2008

Posted by merenung in Kehidupan.
Tags: , , ,
add a comment

Kawan baikku yang rajin mengaji, sore tadi melongokkan kepala ke ruang kerja sambil tanya; “Apa fungsi pengelihatan, pendengaran, ucapan dan qolbu?”. Agak sedikit terkaget, karena memang minggu lalu dia cerita, bahwa Ustadz-nya membekali long week end (libur 4 hari) -nya dengan pertanyaan itu tadi.  Maksudnya tentu bukan menanyakan fungsi mata, telinga dan mulut atau jantung semata. Ternyata, long week end-nya memang tidak memberikan kesempatan untuk memikirkannya. Sore ini, dengan sedikit terburu-buru, dia harus mengumpulkan tugasnya.

“Kalau pengelihatan, pendengaran dan ucapan, akhirnya gue menyimpulkan fungsinya untuk berzikir. Zikrullah. Gimana kalau menurut elu?”. Ah, mantab, pikirku. Sebenarnya aku ingin menjawab berurutan, tapi dia sudah menyimpulkan, dan kesimpulan itu mirip-mirip dengan isi kepalaku. Akupun mengangguk-angguk tanda setuju. “Ya, memang itu fungsinya”.

Apakah pengelihatan, pendengaran dan ucapan kita sudah meng-hantar-kan dan membawa kita ke zikrullah. Karena untuk itulah sesungguhnya pengelihatan, pendengaran dan ucapan kita. Itu menurut aku. Juga kawan baikku ini. Cakep!

“Kalau qolbu, apa dong?”, lanjutnya. Aku jawab; “Qolbu itu sensornya. Indikatornya. Tolok ukurnya. Meterannya”. Dia mengangguk tanda setuju.

Kalau di dashboard mobil ada speedometer, lain halnya di cockpit pesawat. Banyak sekali instrumen yang fungsinya sebagai sensor atau indikator. Mengukur ketinggian, kecepatan, posisi dan seterusnya. Ada tuas-tuas yang berdungsi untuk mengendalikan pesawat. GPS yang selalu menerima sinyal dari satelit menunjukkan koordinat keberadaan pesawat. Sudah rumit seperti itu -pun belum bisa dibandingkan dengan qolbu, yang lebih rigit dan halus. Kalau GPS menerima sinyal dari satelit, maka qolbu menerima sinyal dari sumber segala sumber, Yang Maha Kuasa, ALLAH SWT.

Semua monitor di qolbu berfungsi melaporkan semua ukuran yang berasal dari sinyal-sinyal yang diterimanya. Bak tuas kemudi, akal akan memerintahkan kita untuk mempercepat, memperlambat, belok kiri, belok kanan, mundur atau berhenti. Semua tergantung dari laporan yang terbaca oleh qolbu. Rasanya itu semua otomatis.

Maka sering kita berbuat sedemikian nyata kesalahannya, tapi kita sendiri tidak sadar bahwa apa yang dilakukan adalah kesalahan. Itu artinya sensor dan indikator kita buram atau tertutup kotoran. Bukan rusak dan tidak berfungsi. Ibarat GPS menerima sinyal dari satelit tetapi kacanya buram atau tertutup kotoran dan tidak dibersihkan, mana bisa kita melihat posisi kita saat itu. ALLAH SWT Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang tidak pernah menghentikan sinyal petunjuknya kepada kita semua. Qolbu (insyaALLAH), pasti menangkapnya. Bukan karena rusak dan tidak berfungsi, melainkan kita yang membiarkan qolbu kita buram tidak terawat dan tertutup kotoran. Lalu dari mana lagi kita mengambil referensi dalam kehidupkan kita ini?

Sering kali kita mendengar pilot mengandalkan ketrampilan yang bertumpu pada kemampuan visualnya untuk menerbangkan dan mendaratkan pesawatnya dengan selamat. Tapi, apakah kita bisa mengarungi dan menutup hidup kita dengan selamat tanpa mengindahkan qolbu kita?

Lalu apa fungsi penglihatan, pendengaran, ucapan dan qolbu? Supaya mendarat dengan selamat !

ALLAH jualah yang Maha Mengetahui.

Alif Lâm Mîm March 16, 2008

Posted by merenung in Umum.
add a comment

Sabtu siang, saat istriku diberi tahu kalau ibuku ingin nonton film Ayat-ayat Cinta, dia jadi ingin nonton lagi. Sore harinya, sepulang dari resepsi pernikahan putra kawanku, istriku mulai buka pembicaraan dengan pertanyaan. “Film Ayat-ayat Cinta -nya masih di putar di bioskop ya? Ibu sama bapak pengen nonton tuh”. Dia juga ingin mengajak anakku paling kecil ikut nonton. Didorong rasa ingin menyenangkan orang tua, istri dan anak, aku langsung inisiatif untuk minta tolong dibelikan tiket nonton Ayat-ayat Cinta.

Nonton yang kedua membuat aku jadi banyak memperhatikan hal detail dan membandingkannya dengan pengertian dan pengetahuanku atau membandingkannya dengan novelnya. Beberapa hal menjadi catatan yang mungkin aku akan coba tulis satu persatu. Untuk kali ini, judul diatas yang sedikit terlintas di dalam film Ayat-ayat Cinta, saat kilas balik Fahri dalam usahanya menyadarkan Maria, mengenang percakapan mereka di dalam metro (trem / kereta listrik).  Cerita ini justru ditulis di paling awal novel, pada bab 1,  Gadis Mesir Itu Bernama Maria, di halaman 25 – 26 (cetakan XXVI, September 2007). Berikut petikan yang ditulis di halaman 26;

Maria berkata kepadaku, “Fahri, aku geli sekali mendengar perkataan doktor dari Sorbonne itu. Dia itu orang Arab, juga muslim, tapi bagaimana bisa mengatakan hal yang stupid begitu. Aku saja yang Koptik bisa merasakan betapa indahnya Al-Qur’an dengan alif laam miim-nya. Kurasa rangkaian huruf-huruf seperti alif laam miim, alif laam ra, haa miim, yaa siin, nuun, kaf ha ya ‘ain shaad adalah rumus-rumus Tuhan yang dahsyat maknanya. Susah diungkapkan maknanya, tetapi keagungannya bisa ditangkap oleh mereka yang memiliki cita rasa bahasa Arab yang tinggi. Jika susunan itu dianggap sebagai suatu yang ketidak beresan, orang-orang kafir Quraisy yang sangat tidak suka pada Al-Qur’an dan memusuhinya sejak dahulu tentu akan mengambil kesempatan adanya ketidak beresan itu untuk menghancurkan Al-Qur’an. Dan tentu mereka sudah mencela bahasa Al-Qur’an habis-habisan sepanjang sejarah. Namun kenyataannya justru sebaliknya. Mereka mengakui keindahan bahasanya yang luar biasa. Mereka menganggap bahasa Al-Qur’an bukan  manusia biasa tapi bahasa yang datang dari langit. Jadi kukira doktor itu benar-benar stupid. Tidak semestinya seorang doktor sekelas dia mengatakan hal seperti itu.”

Banyak pendapat tentang makna Huruf-huruf di awal Surat itu, tetapi salah satu pendapat (pendapat ke enam) yang ditulis pada buku Lautan Al-Fatihah, karangan Khalid al-Jundi, Bab III halaman 73; menerangkan bahwa apabila semua huruf-huruf yang berulang dihilangkan, sehingga setelah dikumpulkan hanya terdapat 14 (empat belas) huruf saja, maka apabila dirangkai menjadi satu kalimat berbunyi, “Nashshun hakîmun qâti’un lahu sirrun”. Rangkaian kalimat itu mengandung arti; “Ayat-ayat Al-Qur’an mengandung hikmah dan hukum yang jelas, serta memiliki rahasia”. Pada susunan kalimat itu sudah tidak terdapat lagi huruf-huruf yang berulang.

Tidak ada yang sia-sia dari ciptaan ALLAH SWT. Tidak satu huruf pun sia-sia.

Hanya ALLAH Yang Maha Mengetahui.

As-Sajdah (Sujud) March 14, 2008

Posted by merenung in Jum'at.
add a comment

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdo’a kepada Rabb-nya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari Rezeki yang Kami Berikan kepada mereka.” (Q.S. as-Sajdah: 16)

Dalam suatu riwayat dikemukakan, ketika Bilal dan para sahabat Rasulullah duduk-duduk di masjid, ada sahabat-shahabat lainnya yang shalat sunat sesudah Magrib sampai Isya. Maka turunlah ayat ini (Q.S. 32 as-Sajdah: 16) yang melukiskan perbuatan orang-orang yang terpuji.

Diriwayatkan oleh al-Bazzar yang bersumber dari Bilal. Dalam sanad Hadits ini terdapat seorang rawi yang daif, yaitu ‘Abdullah bin Syabib.

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa ayat ini (Q.S. 32 as-Sajdah: 16) turun berkenaan dengan para sahabat yang menunggu shalat al-’atamah (shalat Isya yang dilakukan pada akhir malam).

Diriwayatkan dan disahihkan oleh at-Tirmidzi, yang bersumber dari Anas.

(disalin dari buku Asbaabun Nuzuul, K.H.Q Shaleh, H.A.A. Dahlan, dkk, edisi ke-2, hal 419)

Busway March 12, 2008

Posted by merenung in Serba-serbi.
1 comment so far

Sejak minggu lalu pemerintah daerah bertekad men-steril-kan jalur khusus Busway. Konsekuensinya para aparat harus berjaga-jaga di tiap-tiap persimpangan, mulut jalur khusus Busway.

Berniat pulang ke rumah, sekitar jam 19:30 tadi, aku mengendarai mobilku di Jalan Warung Buncit Raya. Jalan yang konon jalur khusus Busway -nya sering dilanggar oleh kendaraan pribadi, termasuk beberapa kali aku ikut menikmatinya. Pemda waktu itu memang membolehkan jalur khusus Busway dipakai jika jalan arteri macet. Bermacet-macet ria sambil sedikit kecewa karena ternyata beberapa kendaraan pribadi, terutama motor (entah kenapa) melaju dengan leluasa di jalur khusus Busway. Aku pikir tentu aparat lelah menjaga terus menerus jalur ini, sambil tetap mengendarai mobilku mepet kanan menempel jalur khusus Busway.

Setelah sekian lama bermacet-macet ria dan berdesak-desakan dengan kendaraan umum dan pribadi di jalur arteri, sampai juga akhirnya di depan Pom Bensin Pertamina sebelum lampu merah perempatan Republika. Tampak dari kejauhan beberapa orang Polisi berjaga-jaga di U-turn dan mengeluarkan kendaraan pribadi yang ngebut di jalur khusus Busway ke jalur arteri. Enak banget, pikirku. Ternyata sedari tadi macet itu karena terpotong kendaraan pribadi yang dikeluarkan oleh Polisi dari jalur khusus Busway.

Sedikit demi sedikit akhirnya sampai juga di lampu merah perempatan Republika. Saat lampu hijau semua kendaraan bergerak maju dengan liar, terutama motor-motor yang beberapa diantaranya masuk legi ke jalur khusus Busway. Perlahan-lahan kendaraan berhenti lagi, karena jalan didepan sudah penuh tak bisa menampung. Masih di perempatan, pak Polisi (yang baik hati) mengayunkan senter merahnya memanggil kendaraan untuk masuk ke jalur khusus Busway. Tanpa pikir panjang. ikut-ikutan mobil pribadi dan taksi di depan, aku tergiur untuk masuk. Lancar dengan kecepatan 50 km/jam melaju di jalur khusus Busway sambil menengok ke kiri, semua kendaraan berhenti. Sambil melaju aku berguman (bersuara) “Not fair….., not fair……..”. Aku merasa sangat bersalah dan sangat tidak pantas melaju di jalur khusus Busway, sementara yang lain berhenti di jalur arteri. Ah……, kenapa tadi ikut masuk. Kalau tidak, masih di perempatan mungkin.

Tidak begitu lama melaju, berhentilah di lampu merah perempatan “mangga” (karena ada patung buah mangga). Polisi menghampiri mobil pribadi paling depan dan memerintahkan untuk berbalik arah. Lampu masih merah dan mobil itu bergerak maju memutar balik ke arah Warung Buncit lagi. Taksi sedikit demi sedikit maju. Mungkin menunggu kesempatan lampu hijau. Polisi akhirnya menghampiri taksi dan bersitegang dengan sopir taksi. Aku menunggu dan menjaga jarak sambil berfikir, apa yang akan aku katakan ke Polisi itu kalau disuruh memutar balik. Lampu berubah hijau, pak Polisi itu berdiri di depan taksi sambil mengayunkan senter merahnya memerintahkan berbalik arah. Taksi tetap diam tidak bergerak (pinter juga ini supir), jalur khusus Busway berhenti tidak bergerak, sementara arteri maju dengan lancar. Akhirnya Polisi mengalah, berjalan ke samping supir taksi, berkata-kata sejenak dan memerintahkan untuk maju lurus ke depan. Taksi bergerak maju lurus, aku maju sambil membuka kaca. Polisi itu berteriak kearahku “Lain kali jangan diulangi lagi ya pak!”. Aku tidak senang dan berhenti, sambil berteriak balik “Saya sudah berjalan di jalur kiri disuruh masuk ke jalur ini sama Polisi yang di perempatan!”. Gara-gara aku berhenti, berhenti lagi jalur khusus Busway. “Ya sudah pak, jalan….jalan….!”, teriak pak Polisi membalas. Dia khawatir akan bertambah macet jika perdebatan diteruskan.

Memang sangat tidak pantas kalau kita melaju di jalur khusus Busway, sementara kendaraan lain bermacet-macet ria di jalur arteri. Anehnya, ada juga Polisi yang “baik hati” memerintahkan untuk melanggar aturan dan menyuruh masuk ke jalur khusus Busway (iseng kali…). Lebih aneh, teman sesama Polisi lainnya justru marah-marah melarang dan memerintahkan kendaraan untuk memutar balik (kurang koordinasi…..). Mudah-mudahan carut marut jalur khusus Busway ini tidak berlangsung lama. Kasihan pak Polisi.

We still be Mosleem March 11, 2008

Posted by merenung in Simple.
add a comment
Ingat banjir, ingat peristiwa banjir di Mina yang sempat aku alami, jadi ingat percakapan singkat bule American Mosleem dengan orang Jawa Indonesia. Saat itu mereka berdua duduk di teras Masjidil Haram menghadap Ka’bah. Bincang sana-sini akhirnya obrolan sampai pada cerita tentang Ka’bah kebanjiran dan terendam air setinggi leher orang dewasa. Peristiwa terendamnya Ka’bah memang tidak hanya sekali saja. Karenanya si bule bertanya kepada si Jawa, “My brother, what happen to us if the water raise so high to the top of Ka’bah?”. Si Jawa berfikir kompleks, karena pas di depan Ka’bah dan pas musim haji, yang ada di kepalanya hanya pertanyaan, “Bagaimana tawaf-nya ya, kalau Ka’bah terendam seluruhnya?”. Melihat si Jawa tercenung cukup lama sambil menerawang kesana-kemari, si bule pun menjawab dengan ringan; “Don’t worry my brother, we still be Mosleem”.
He…he…..he…………., “so what gitu loh………”

Lagi-lagi Rokok March 10, 2008

Posted by merenung in Kesehatan.
Tags: , ,
2 comments

Gara-gara teman bicara tentang rokok di milis, aku jadi ingin menulis hal tentang rokok ini.

Aku mulai merokok sejak SMP. Bertambah semakin parah dan berhenti sejak tahun 1996.

Tahun-tahun terakhir sebelum aku berhenti merokok, di kantong selalu sedia salah satu dari 2 jenis rokok filter (Marlboro atau 555) dan 1 jenis rokok keretek (234).
Marlboro dan 555, walau sama-sama rokok putih (?) tapi dihisap dalam waktu yang beda. Rokok putih Marlboro terus menerus menemani bibir, sementara 234 lebih cocok sebagai pencuci mulut dan pengantar angan-angan.

Teringat sewaktu masih bekerja sebagai Marketing Manager sebuah perusahaan Komunikasi Data, pernah mampir ke kantor PLN, salah satu pemilik jaringan FO (fibre optic) di Pulau Jawa. Waktu itu jarang yang punya jaringan FO, kecuali Telkom tentunya.
Maksud mampir adalah ingin memanfaatkan (sewa) jaringan FO PLN untuk kepentingan backbone perusahaan tempatku bekerja. Seperti biasa, (kalau tidak salah ingat) aku ketemu dengan Kepala Bagian Sistem Informasi.
Setelah dipersilahkan masuk dan duduk di ruang kerjanya, aku memulai kalimat pembuka dengan mengucapkan terima kasih atas penerimaan dan basa basi lainnya. Waktu sudah ada indikasi mau ke pokok masalah, mendadak dia memotong, “Ma’af, sebentar ya pak”, sambil berdiri, berjalan dan membuka pintu ruangannya. Sambil melongokkan kepalanya keluar ruangan, mencari seseorang “Eh…..(dia sebut nama seorang staf-nya), tolong dong nyawa gue!”, sedikit kencang. Nyawa gue? Agak aneh juga istilahnya di telingaku. Sambil duduk kembali, dia mempersilahkan “Silahkan pak, diteruskan”.
Beberapa saat kemudian, pintu ruang diketuk dari luar, masuklah seorang OB membawa rokok dan korek gas. Nyawa kawan kita itu. O…….., ini rupanya nyawa-nya. Sambil aku juga mengeluarkan teman baikku dari kantong, lalu menghisapnya dalam-dalam. Biar seimbang (saling meracuni maksudnya). Kala itu, umum di jumpai di ruang-ruang rapat instansi atau perusahaan (umumnya milik negara, misalnya seperti Bank Indonesia), kalau mau rapat kita sibuk mencari alat pembersih udara portable, yang memang selalu disediakan di dalam ruang rapat tersebut. Sambil rapat, merokok dan asap akan langsung terhisap oleh alat pembersih udara portable tersebut. Tidak mengganggu yang tidak merokok (pikirku waktu itu…he..he…..he…..).

Sepulang dari tempat itu aku termenung dan bertanya ke dalam diriku.
Bukankah aku juga memperlakukan rokok bak nyawaku.
Bukankah makanku tak nikmat jika tak ditutup dengan rokok.
Bukankah di sela-sela main tennis aku istirahat dan mengambil nafas dari rokok.
Bukankah aku hanya bisa berkontribusi dalam rapat jika dikawal dengan rokok.
Bukankan ide-ide hanya muncul bersamaan dengan hirupan rokok.
Bukankah ke toilet pun aku harus ditemani oleh rokok.

Bukankah rokok selalu menjadi permulaan, mengawal atau mengakhiri seluruh aktifitas hidupku.

Bukankah itu tanda-tanda aku menduakan ALLAH SWT?
Bukankah itu tanda-tanda aku me-nuhankan rokok?

Bukankah itu tanda-tanda aku meminta pertolongan dan menggantungkan diri pada rokok?

Hukumnya?

Terperangah, akupun bertekad sebaliknya. Membuktikan bahwa rokok tidak penting artinya didalam segala aktifitas hidupku. Caranya? Membeli rokok sebulan hanya satu kali dan satu bungkus. Sisa hari-hari lainnya, minta sama teman. Ternyata rokok sangat mengganggu sekali. Terutama mengganggu teman.
Sekarang, karena takut tergelincir menduakan Tuhan, aku berhenti merokok sama sekali.
Hal lain yang juga mengganggu pikiranku adalah hubungan antar manusia. Kita mengetahui bahwa agama mengatur hanya satu saja hubungan antar manusia.

Merugikan – merugikan, hukumnya dilarang (haram).
Merugikan – menguntungan, hukumnya haram.
Menguntungkan – merugikan, hukumnya haram.
Menguntungkan – menguntungkan, hal inilah yang diatur.

Jika dua orang berhubungan saling menguntungkan, untung-untung, win-win, suka-suka, ikhlas-ikhlas, nikmat-nikmat, tidak otomatis diperbolehkan agama. Contohnya, pelacuran. Membeli kenikmatan dengan juga memberi kenikmatan kepada orang lain hukumnya tetap haram.
Apalagi jika kita membeli kenikmatan dengan meracuni orang lain (perokok pasif), lalu apa hukumnya jika tidak haram (dilarang)?
Alasan lucu-lucuan, seperti membantu petani tembakau, selama ini tidak membuat petani tembakau menjadi makmur. Membantu pemerintah melalui cukai rokokpun tidak sebanding jika dihitung berapa jumlah kerugian pengobatan akibat sakit karena rokok, dari batuk, radang tenggorokan, sakit jantung sampai kanker paru-paru. Coba hitung Askes tanggungan pemerintah atas penyakit-penyakit itu. Pemerintah tetap rugi dan yang diuntungkan mungkin hanya segelintir pengusaha rokok saja.
Entah mengapa orang masih memilih rokok dibandingkan menabung untuk membeli kebutuhan hidup lainnya. Atau beli reksadana syariah. Obligasi syariah. Jangan ditanya orang kecil yang penghasilannya hanya pas untuk makan sehari, tetap saja setengah penghasilannya dihabiskan untuk rokok.

Bacalah ! Ayat-ayat Cinta March 7, 2008

Posted by merenung in Serba-serbi.
1 comment so far

Barusan aku nonton film Ayat-ayat Cinta. Walaupun awalnya segan untuk nonton, tapi karena yang ngajak istri tercinta, agak terpaksa pergi juga.

Sejak sekolah dulu, kalau pernah baca buku Sin Tiaw Hiap Lu (bener gak ya tulisannya?) cerita tentang Kwee Tjeng setelah di film-kan dengan judul Memanah Burung Rajawali, walaupun nyewa video betamax berseri-seri, tidak juga sebagus bukunya. Apalagi film layar lebarnya. Sama halnya dengan Cintaku Di Kampus Biru-nya Ashadi Siregar (?), filmnya juga sulit menyaingi bukunya.

Ini novel Ayat-ayat Cinta yang kebetulan (entah kenapa) aku sudah baca juga (setua ini baca novel…he…he…he….., gak apa-apa toh? yang penting beli novel-nya, jangan softcopy dari internet), di film kan. Karena sudah banyak referensi (bahkan Harry Potter sekalipun) film layar lebar tidak sebagus bukunya, maka aku sudah set dahulu di kepala untuk tidak berharap banyak agar tidak kecewa. Bener juga………, jauh dari yang kita baca di novel-nya. Walau tidak terlalu kecewa. Paling tidak sudah membahagiakan istriku.

Bagi yang belum baca novel-nya (seperti istriku), silahkan nonton filmnya. Lumayan bagus kok ceritanya. Para suami, ajak istrinya nonton film Ayat-ayat Cinta. Habis itu, ke toko buku untuk beli novel-nya. Lebih bagus dan lengkap ceritanya.

Jadi teringat mengapa Al Qur’an memerintahkan “Bacalah !”. Bukan perhatikanlah, saksikanlah, lihatlah, amatilah, atau kata perintah lainnya. Ternyata melihat dan mendengar itu sudah didapat dengan cara membaca saja. Dengan membaca, akal menjadi terlibat dan akan menghasilkan pengelihatan dan pendengaran yang jauh lebih sempurna dari melihat dan mendengar itu sendiri.

Mengutip Ramaditya di acara K!ck Andy, kalau tidak salah ingat seperti ini

“Orang yang dapat melihat (awas) memikirkan apa yang mereka lihat, sementara kami yang tidak melihat (tuna netra) melihat apa yang kami pikirkan”.

Maka “Bacalah !”