jump to navigation

Kupas Tuntas – Ahmadiyah April 25, 2008

Posted by merenung in Umum.
Tags: , , , , , , ,
4 comments

Sedikit bengong menyaksikan acara Kupas Tuntas di stasiun Trans7 tadi malam. Bukan karena topik yang dibicarakan memang sedang hangat atau seringnya acara Kupas Tuntas ini tidak berhasil menggiring pemirsa (minimal aku pribadi) menarik suatu kesimpulan selain karena waktu yang sangat sempit atau pembawa acara yang kurang bisa memancing malah banyak ngomong atau hal-hal lainnya. Tapi karena salah seorang yang diundang sebagai pembicara adalah seorang professor yang juga seorang rektor salah satu Universitas Islam. Yang lain adalah Ketua MUI dan yang satu lagi Juru Bicara JAI.

Mendengarkan argumentasi Juru Bicara JAI yang menunjuk fatwa MUI tentang Ahmadiyah sebagai biang keladi semua kekisruhan ini memang sangat tidak bermutu. Sementara jawaban-jawaban yang disampaikan oleh Ketua MUI ini seperti biasa dengan cukup tenang dan straight to the point. Mungkin acara ini memang kurang berbobot untuk didengarkan, mengingat waktu juga sangat sempit.

Tetapi, seperti biasa si pembawa acara beberapa kali melemparkan kepada si professor yang mungkin diharapkannya akan bisa berperan sebagai penengah. Apa yang terjadi bagiku sangat mengherankan. Semua lontaran pertanyaan, permintaan tanggapan dari pembawa acara dijawab dengan; (kira-kira seperti ini) Saya ini kan seorang akademisi, jadi saya inginnya semua perbedaan ini dituliskan dalam buku. Agar semua orang bisa membaca dan mengetahui. Sekarang ini kebanyakan orang hanya ikut-ikutan. Di kesempatan lain, kembali si professor menjawab dengan sebaiknya ini ditulis didalam buku, saya juga tertarik untuk menulis ini. Begitu terus menerus si professor menjawab pertanyaan si pembawa acara dengan “tulislah semua itu di dalam buku”. Sebenarnya aku pengen punya rekaman acara itu, untuk mengambil pelajaran, bagaimana seorang professor yang rektor dan sering muncul di TV, bahkan punya acara TV sendiri hanya bisa menjawab persoalan / pertanyaan (dari sudut pandang akademisi), dengan jawaban “tulis didalam buku”.

Rasanya buku-buku tentang Ahmadiyah begitu banyak, referensi dan catatan-catatan dialog dan sebagainya sepertinya sangat mudah didapatkan oleh seorang akademisi yang professor itu. Rasanya masa kuliahku dua puluh tahun yang lalupun sudah ada tulisan-tulisan tentang Ahmadiyah ini. Bagaimana mungkin seorang cendekiawan yang professor dan rektor bisa kekurangan bacaan tentang Ahmadiyah dan menjawab dengan permintaan untuk menulis buku?

Entah apa yang ada di dalam pikiran si professor saat itu. Tetapi jawaban-jawaban lucu itu membuat Juru Bicara JAI tersenyum-senyum (bisa dikatakan tertawa-tawa), sementara Ketua MUI dengan wajah yang datar mungkin heran dengan jawaban si professor itu. Akademis ???????

Membandingkan jawaban professor itu dengan artikel yang ditulis di halaman Opini Republika Jum’at 25 April 2008, dengan Judul Kriminalitas Aliran Ahmadiyah oleh Arif Munandar Riswanto, Alumnus Universitas Al-Azhar Mesir dan Aktivis Muda PERSIS. Menganalogikan Ahmadiyah sebagai warga negara yang bertindak makar. Membuat negara didalam negara.

Atau dengan cuplikan berita di koran yang sama, di halaman muka, dengan judul Gencarkan Dakwah kepada Warga Ahmadiyah, dimana “Pengamat sosial politik Fachry Ali, mengatakan Ahmadiyah adalah plagiator. Ahmadiyah menjiplak Islam-seperti mengambil ritualnya, kitab sucinya dan rukun-rukunnya- tapi kemudian mengganti Nabi Muhammad dengan Mirza Ghulam Ahmad. “Di dunia akademis saja, yang namanya plagiator itu masuk neraka. Coba saja disertasinya Adnan Buyung Nasution (anggota Dewan Pertimbangan Presiden yang membela Ahmadiyah-Red) diambil lalu namanya diganti dengan nama lain, pasti Bang Buyung mencak-mencak” sindirnya.

Jawaban dan pendapat yang sangat sederhana, menjiplak tulisan (plagiator), menjiplak design logo celana, menjiplak aransemen lagu, menjiplak uang kertas, semuanya salah dan dihukum oleh negara. Bagaimana bisa penjiplak agama dan pengklaim agama yang sama oleh professor tidak bisa dilihat secara sederhana, bahkan harus ditulis (lagi) dalam buku? Buku apa lagi, professor?

Apa yang terjadi, sehingga seorang professor pun buntu pikirannya?

Kaya atau Miskin ? April 24, 2008

Posted by merenung in Kehidupan.
Tags: , ,
add a comment

Suatu kali aku bersama dengan istri dan anak-anakku duduk mengelilingi meja, baru saja menyelesaikan santap malam bersama. Alhamdulillahi robbil alamin.Seperti biasa, sambil menghabiskan minum dan “menurunkan” nasi, kamipun bercakap-cakap. Malam itu, entah kenapa, topik sampai memperbincangkan si kaya dan si miskin.

“Seandainya kita jadi orang miskin dan punya uang di tangan ada seribu rupiah, waktu sholat di masjid, biasanya ada kotak amal, berapa yang akan kita masukkan kedalam kotak tersebut jika kita ingin beramal?”, kataku memancing pendapat.

“Seribu”, jawab anak sulungku cepat. Anak bungsuku mengangguk tanda setuju. Aku menengok ke arah anak keduaku dan diapun menjawab; “Ya…., seribu lah…., kan uangnya cuma seribu”.

“Kalau kita punya uang sepuluh milyar, kemudian datang rombongan pengurus masjid lingkungan kita dan menyodorkan proposal pembangunan atau perbaikan masjid. Seandainya kita ingin beramal, berapa yang akan kita sumbangkan kepada mereka?”, lanjutku bertanya.

Agak lama mereka berfikir dan akhirnya anak sulungku menjawab, “Ya…., lima puluh juta lah”. Anak bungsuku agak terperanjat, “Wah …., banyak banget”, ujarnya spontan. Aku kembali menengok ke arah anak ke duaku. Tidak ada jawaban. “Paling kita nyumbang dua ratus atau tiga ratus juta. Itu rasanya sudah banyak banget kan?”, sambungku menekankan.

“Coba perhatikan. Tidak sampai sepuluh persen yang terlintas dalam pikiran untuk kita berikan sebagai tabungan amal jariah, seandainya kita jadi orang kaya. Sementara, seandainya kita jadi orang miskin yang punya seribu rupiah, sepertinya kita bahkan akan dengan ikhlas memberikan 100% uang kita sebagai tabungan amal jariah, infaq kita. Ini kecenderungan yang hampir pasti, bahwa semakin kaya seseorang maka dia akan semakin pelit dan semakin sulit beramal shaleh. Kalaupun ada orang-orang kaya yang dermawan, sepertinya dia tidak akan semudah orang miskin menyerahkan semua atau sebagian besar hartanya untuk tabungan amalnya”, aku menyampaikan pendapatku.

“Jadi sebaiknya kita jadi orang kaya atau jadi orang miskin?”, tanya anakku yang nomor dua.

“Jadilah orang kaya yang dermawan, yang memperlakukan hartanya sebagaimana orang miskin dalam beramal shaleh. Jangan kamu nikmati hartamu di dunia ini, tapi belanjakan sebagai tabungan amal shaleh untuk kamu nikmati di hari nanti. Konon pada hari perhitungan nanti, orang miskin yang rajin beribadah dan beramal shaleh akan dihisab terlebih dahulu dibanding orang kaya yang dermawan, rajin beribadan dan beramal shaleh. Kalau si miskin dihisab pagi hari, maka si kaya dihisab pada sore hari. Ukuran pagi ke sore di sana nanti, ibarat berapa puluh tahun lama di dunia”, sahutku menjelaskan.

“Jadilah orang kaya yang dermawan yang memperlakukan hartanya sebagaimana orang miskin memperlakukan hartanya dalam beramal shaleh. Tetaplah menjadi seperti orang miskin, walaupun sebenarnya kamu kaya”, aku menekankan dan menutup acara di meja makan itu.

Da’wah dan Syiar April 23, 2008

Posted by merenung in Kehidupan.
Tags: , ,
add a comment

Tadi siang di ruang kerjaku, sambil menunggu waktu Dhuhur, kami bertiga saling mengingatkan dan menasehati.

Kawan yang satu mengingatkan kalau pada diri kita masing-masing individu melekat kewajiban untuk berda’wah. Sementara dalam pandangannya, umum mengenal da’wah dilakukan layaknya para da’i kondang berceramah diatas panggung. Tentu ini pandangan umum yang kurang sesuai. Jadi kawan yang satu ini menekankan pentingnya da’wah dengan tertib (adab yang benar) sebagaimana dicontohkan oleh Baginda Rasulullah SAW.

Kawan yang lain menanggapi, bahwa sebaiknya kita juga memanfaatkan teknologi yang tersedia saat ini, contohnya dengan membuat dan menulis didalam blog. Tentu kawan yang satu menyanggah, bahwa itu bukan cara da’wah yang dimaksud, sambil menengok ke arahku. Segera terlintas bahwa yang diperbincangkan tidaklah sama, sambil aku melontarkan pertanyaan; “Apa bedanya da’wah dan syiar?”. Tentu kedua kawan ini segera tersadar, bahwa yang satu berbicara tentang da’wah sementara yang lain menyahuti dengan anjuran syiar.

Sedikit menyimpulkan bincang siang itu,

da’wah yang artinya (kira-kira) mengajak dalam berbuat kebajikan amal shaleh wajib kita lakukan dari lingkungan yang paling kecil, yaitu kepada istri dan anak-anak kita, sampai yang paling luas kepada khalayak umum di muka bumi ini.

sementara syiar yang artinya (kira-kira) menyebarkan Islam (dalam segala aspek) dari sekedar memberikan contoh teladan sampai membangun simbol-simbol harus juga dapat memanfaatkan kemajuan teknologi. Contoh sederhananya seperti membuat dan menulis blog.

Aku langsung menyahut; “Aku sudah punya !”, he…he….he……, untung sudah punya. Kawan yang satu belum mencoba, tapi sepertinya dia akan segera menulisnya.

Lalu, apa alasan kita tidak menjalankan da’wah dan syiar, kalau semuanya serba mudah, tersedia dan gratis. Bukan hanya da’wah saja dan bukan syiar saja. Da’wah dan syiar sekaligus, mulai dari sekarang.

Menghitung Pahala April 13, 2008

Posted by merenung in Kehidupan.
Tags: , , , ,
2 comments

Banyak contoh yang diberikan oleh ALLAH SWT dan Baginda Rasulullah SAW dalam urusan hitung menghitung. Dari bilangan hitungan penciptaan alam semesta, sampai bilangan hitungan pahala suatu amal manusia. Memang kita disuruh mencermati dan menghitung-hitung sendiri sebelum nanti diperhitungkan pada hari pembalasan. Tapi cerita yang aku dengar dari almarhum kakak sepupuku ini agak sedikit membuat kita harus memilih dalam menghitung.

Kala almarhum masih hidup, saat menjalankan ibadah Haji, seperti biasa ada saja penyelenggara mengkoordinir tour di seputaran kota Makkah. Banyak tempat bersejarah yang pasti menarik bagi kaum Muslim untuk dikunjungi. Di suatu  perjalanan dengan mempergunakan bis melewati padang pasir yang terbentang menuju ke penginapan di Makkah, diperkirakan saat itu sholat Asr sudah tiba. Pemimpin rombongan mengumumkan bahwa mereka akan berhenti di masjid terdekat yang akan dilewati untuk melaksanakan shalat Asr berjamaah.

Tidak sampai setengah jam kemudian bus berhenti di depan satu masjid yang konon tidak terlalu jauh dari penginapan. Dan para penumpangpun segera berdiri bersiap-siap turun. Entah apa yang ada dalam pikiran almarhum saat itu, tapi dia tenang-tenang saja dan tidak bergegas. Seorang bapak tua asal Madura satu rombongan mengamati lalu bertanya dalam bahasa Jawa dengan halus;

“Mboten sholat tho pak?”, dengan nada sedikit penasaran. (tidak sholat tho pak?)

“Mangke mawon dateng Masjidil Haram, kersanipun luwih katah pahalanipun”, jawab almarhum lebih halus. (nanti saja, di Masjidil Haram, biar lebih banyak pahalanya)

“Wong Gusti Alloh maringi rezeki sampeyan mboten etang-etang kok sampeyan ibadah etang-etang”, sergah orang tua asal Madura itu sambil ngeloyor turun dari bis. (ALLAH memberi rejeki kepada kamu tidak dihitung-hitung kenapa kamu beribadah dihitung-hitung?)

Almarhum terperangah lalu ikut turun dan shalat Asr berjamaah bersama-sama rombongan lainnya. Menurut penuturannya, saat itu hati malu sekali karena salah dalam menghitung.

Ibadah Haji Hanya Satu Kali April 12, 2008

Posted by merenung in Kehidupan, Umum.
Tags: , , , , , , ,
add a comment

Membaca koran Republika terbitan Jum’at kemarin, judul tulisan Thobib Al Asyhar di halaman Opini menjadi perhatian pertamaku untuk membaca setelah menyapu semua judul berita. Judul “Haji Sekali Seumur Hidup dan Resolusi Sosial”, menarik perhatian dan membuat sedikit penasaran, karena ibadah yang satu ini banyak menyimpan nikmat di dalam kepalaku.

Tulisan ini meresponse revisi Undang-undangNo. 17 tahun 1999, tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji yang disahkan oleh DPR pada 1 April 2008 lalu (tentu bukan dalam rangka April Mob). Salah satu ketentuan terobosannya adalah ketentuan pembatasan haji sekali seumur hidup. (semoga amal shaleh para anggota DPR dalam menggodok revisi ini mendapat balasan berlipat ganda). Aku kutip satu paragraf tulisan di koran itu, sebagai berikut:

Prinsip kemaslahatan inilah yang oleh Ibrahim al-Nakha’i dijadikan sebagai asas untuk istimbath al-ahkam (pengambilan hukum) sehingga ia berkesimpulan, haji berulang itu hukumnya makruh, Bahkan penulis menilai dalam kondisi tertentu, seperti kondisi lingkungan sosial yang miskin dan serba kekurangan, pada titik tertentu, haji berulang justru pada posisi haram.

Ibadah yang satu ini bagiku memang paling menarik. Saat belum melaksanakannya, rasa rindu untuk pergi tak dapat terlukiskan. Saat stasiun TV swasta menyiarkan Shalat Tarawih di Masjidil Haram, tak terasa badan panas dingin dan air mata tak terbendung menetes di pipi. “Berikan aku kesempatan untuk merasakan semua kenikmatan ini di sana ya ALLAH. Di tempat semua saudara Muslimku selalu ingin berkumpul”. Ah…., bahkan saat kita meminta kepada ALLAH pun kita sudah merasakan nikmatnya. Nikmatnya suatu kerinduan.

Tentu lebih sulit lagi menceritakan saat aku diberikan kesempatan untuk datang ke tempat yang aku rindukan itu. Diberi nikmat oleh ALLAH, bersama istri ditraktir orang lain untuk pergi Umrah Plus Cairo tanpa bayar (aneh ya ?). Lebih aneh lagi, karena terbang dengan Garuda Boing 747 Big Top, duduk di level atas di kursi kulit yang lebar itu. Tinggal di hotel bintang 4 berdua dengan istri di Madinah, Makkah, Jeddah dan Cairo. Jalan-jalan di tempat-tempat bersejarah dari Masjid Dua Kiblat, Bukit Uhud dan seterusnya, masjid-masjid Mesir dimana ada makam para Imam didalamnya, pyramid sampai musium dimana para Firaun dan ratu-ratu-nya diawetkan atau makan di atas sungai Nil. Kalau bayar saja sudah nikmat, bagaimana pula rasanya kalau gratis? Semoga ALLAH memberikan balasan kenikmatan yang berlipat ganda bagi orang yang men-traktir-ku itu. Saudara bukan teman juga bukan, sebelumnya pernah berhubungan juga tidak, sekarang malah sudah mukim di Mesir dan tidak pernah ketemu lagi.

Selepas Umroh dan Haji, ternyata bukan hilang rindu itu, bahkan semakin menjadi-jadi. Tempat yang seumur hidup suasana itu hanya dialami sekali yaitu Mina dan Arafah menjadi tempat yang luar biasa. Bermalam-malam tidur di tenda berdesak-desakan dengan alas busa tipis yang lebih pendek dari tinggi badanku ternyata lebih nikmat dari tempat manapun yang aku rasakan selama ini. Tempat merenung mana yang lebih indah dari suasana ba’da Asr di Arafah dengan awan yang bergerak perlahan sangat rendah. Bagaimana pula orang tak mau rindu untuk kembali pergi Haji?

Tapi memang ibadah Haji memang hanya untuk satu kali. Manusia yang paling mulia, Baginda Rasulullah SAW, yang kupercayai tidak ada sedetikpun dari kehadiran dan kepergiannya di dunia ini lepas dari rencana ALLAH SWT yang sempurna, hanya beribadah Haji satu kali. Ucapan beliau untuk datang lagi ber-Haji, bagiku tidak lebih dari isyarat beliau agar kita selalu memelihara kerinduan dan perilaku kita sebagai syukur atas nikmat yang ALLAH berikan saat kita menjalankan ibadah Haji. Bukan untuk berkali-kali Haji untuk alasan sunnah. Karena Rasulullah-pun telah ditetapka ALLAH untuk tidak menjalankan ibadah itu dua kali.

Aku bertanya-tanya, ibadah wajib apa yang jika telah ditunaikan maka melakukan berikutnya berubah hukumnya menjadi sunnah? Terus terang aku tidak mengerti mengapa orang mau pergi haji lebih dari satu kali. Lebih dari panutan kita Rasulullah SAW.

Sakit Mahal, Sehat Tak Ternilai April 10, 2008

Posted by merenung in Kesehatan.
Tags: , ,
1 comment so far

Kali ini tetangga depan rumah dirawat di rumah sakit tidak jauh dari rumah karena kena demam berdarah. Ceritanya aku menyempatkan jenguk ke rumah sakit, sekalian lewat waktu mau pulang dari jalan-jalan dengan anakku.

Menuju lantai tempat tetanggaku dirawat, sampai mengetuk pintu masih belum terbayang ruang rawat yang akan aku masuki, walau sudah sempat dua kali aku dirawat di rumah sakit ini, kedua-duanya karena demam berdarah. Waktu pintu aku buka, ternyata ruang itu besar sekali. Tetanggaku tergolek di tempat tidur dekat dengan jendela, ruangan itu terasa lapang dengan adanya penyekat terpisah sofa tamu dan meja makan. Mewah amat, dalam hatiku.

Cerita sana-sini tentang penyakit, akhirnya dia bercerita bagaimana bingungnya mencari kamar. Waktu pertama mengetahui bahwa trombosit sudah 90 ribu, tidak ada jalan lain kecuali mencari kamar rumah sakit untuk dirawah. Dalam kondisi yang telah diketahui harus dirawat itulah rumah sakit menjawab permintaan kamar tetanggaku dengan kalimat yang konon sudah standar untuk orang-orang tertentu yang meminta kamar kelas satu (satu kamar bisa untuk dua orang).

“Kamar sudah penuh semua. Yang tersisa hanya satu kamar kelas satu, tapi yang pasien yang satu sakit diabetes dan sedang observasi. Yang lainnya Super VIP tinggal sisa satu”.

Tetanggaku masih berupaya mencari kamar rumah sakit lain yang sekelas dan mendapat jawaban sama; “Sisa satu Super VIP, tiga juta setengah satu malam”.

Mau tak mau tetanggaku tidak ingin mengambil resiko dengan tidur di rumah, maka dirawatlah dia di kamar yang luas itu. Kalau malam ditinggal sendirian, karena istri bekerja dan mengurus ketiga anaknya di rumah.

Menutup cerita standar pelayanan rumah sakit itu, ternyata di tempat yang setiap pengukuran temperatur tubuh dikenakan charge untuk pengecekan itu, dia sempat guyon :”Gue gak tau nih, tadi minta dua wash lap untuk ngompres, di charge juga kali….he….he…..he…….”, sambil tertawa kecut.

Jaga kesehatan. Kalau sakit sudah semahal itu, kesehatan itu bagai harta tak ternilai.

Boikot Produk Belanda April 5, 2008

Posted by merenung in Jum'at, Serba-serbi.
Tags: , , ,
add a comment
Walaupun belum dan tidak ada keinginan melihat karya amalan jahat Geert Wilder Fitna, tetapi mendengarkan response dan perbicangan di seluruh media sudah cukup menggambarkan bahwa Umat Islam secara bersama-sama mupun sendiri-sendiri harus bereaksi sepadan (setimpal) dengan apa yang dilakukan oleh anggota parlemen Belanda ini. Membiarkan penghinaan ini terus menerus terjadi seperti pendapat seorang Romo Magnis yang aku sempat lihat di TV swasta dan sepertinya tidak dibantah oleh pembicara lainnya yang seorang Rektor UIN Syarif Hidayatullah, dinilai akan membuat para penghina agama akan suka rela berhenti menghina. Konon mungkin karena bosan tidak mendapat tanggapan. Dicontohkannya penghinaan kepada agama Katholik yang konon menyurut sendiri.

Himbauan paling cocok menurutku adalah dengan memboikot semua yang berhubungan dengan Belanda. Sebagaimana disuarakan oleh mantan Perdana Mentri Malaysia beberapa waktu lalu. Sikap ini sepadan (setimpal) karena terbukti mereka memperlakukan seluruh Umat Islam persis seperti pelaku bom Bali atau penabrak Twin Tower. Bahkan hanya karena namanya berbau Islam saja, seorang seniman Indonesia tidak bisa masuk ke Amerika. Kalau mereka bisa berhati-hati dan melihat semua orang Islam patut dicurigai sama dengan pelaku bom Bali atau penabarak Twin Tower, kenapa kita tidak bisa berhati-hati dan melihat semua orang Belanda patut dicurigai sama dengan anggota parlemen Belanda yang sudah pasti ada pendukungnya? Kalau seseorang yang bukan siapa-siapa bisa dianggap mewakili dan didukung oleh suatu umat, mengapa seorang anggota parlemen tidak bisa mewakili dan didukung suatu bangsa?

Bersama-sama atau sendiri-sendiri umat Islam harus meresponse amal jahat mereka dengan amal shaleh yang beradab. Boikot seluruh yang berhubungan dengan negara-negara penghina agama. Tunjukkan bahwa mereka keliru menilai kita. Biarlah ALLAH yang membuka atau menutup mata hati mereka. Caci-maki dan sikap anarkis tidak akan membukakan mata dan telinga mereka.
Mulailah dengan memboikot semua yang berhubungan dengan produk Belanda.

Sekarang !

Niat Pergi Haji April 2, 2008

Posted by merenung in Serba-serbi.
Tags: , ,
add a comment

Suatu kali, Fulana bertanya kepada Fulan; “Fulan, apakah kamu tidak ada niat pergi haji?”

Fulan menjawab, “Ya ada lah. Semua muslim pasti ada niat pergi haji”.

“Udah daftar?”, tanya Fulana lagi. “Belum”, jawab Fulan.

“Udah nabung?”, lanjut Fulana. “Belum”, jawab Fulan.

“Itu namanya pengen. Niat sama pengen beda, Fulan”, potong Fulana.

“Misalnya, sekarang nih, jam satu siang, kita gak bisa niat sholat Asr. Kalo, misalnya kamu ntar mau sholat Asr di Masjid Raya, itu namanya pengen. Bukan niat. Ntar kalo udah jalan ke Masjid Raya, udah ambil air wudhu, udah masuk waktu Asr, udah bediri diatas sajadah, baru deh niat sholat Asr. Sekarang kamu cuma bisa niat pergi ke Masjid Raya, kalo ada alokasi waktunya, ada kendaraannya dan seterusnya”, jelas Fulana panjang lebar.

“Nah, kalo mau niat pergi haji gimana dong. Belum mampu. Uang belum ada”, tanya Fulan.

“Belum mampu kan belum wajib ibadah haji. Walau ibadah hajinya belum wajib, tapi niat pergi haji kan boleh. Sisihin aja tiap hari lima ribu rupiah, ditabung, sambil di-do’a-in, minta sama ALLAH supaya diberi kemudahan untuk pergi haji. Kan yang mengundang ALLAH. Walaupun mampu, kalau budeg, dipanggil-panggil yang gak berangkat-berangkat. Yang penting kita mengusahakan niat kita itu. Jangan cuma pengen aja. ALLAH Maha Kaya. NantiALLAH juga yang mencukupi. Mampu atau belum mampu, berangkat atau tidak berangkat bukan kita yang menentukan”, Fulana jadi menasehati.

“Ya udah, nanti aku mulai nabung sedikit-sedikit”, sahut Fulan agak sedikit melemah.

“Yang penting ikhlas”, sambung Fulana. “Iya….., iya……., yang penting ikhlas….”, si Fulan menjauh.