Honda Jazz VTEC May 29, 2008
Posted by merenung in Serba-serbi, Umum.Tags: grand prize, Honda Jazz, ILP, kupon, undian
14 comments
Selepas azan magrib ada peristiwa yang lucu di rumah. Pulang kantor aku menengok vas bunga diatas piano, dimana biasanya surat-surat yang datang diletakkan. Sepucuk amplop coklat panjang ada disana. Aku ambil dan baca sampul muka tertulis nama anak bungsuku yang baru duduk di kelas 4 SD. Si pengirim tertulis Bpk. Yusuf Efendi, d/a: Jln. Berlian Raya II No. 54 Jakarta Pusat. Penasaran aku duduk di meja makan sambil mulai merobek sampul coklat itu.
Didalam sampul terdapat 4 (empat) lembar kertas. Dua lembar dengan letter head ILP (International Language Programs), satu lembar dengan letter head Departemen Keuangan Republik Indonesia, Direktorat Jendral Pajak dan satu lainnya dengan letter head Kepolisian Negara Republik Indonesia Daerah Metro Jakarta Raya. Surat itu ditujukan kepada Pemenang Undian “Grand Prize Kupon Undian ILP Periode 2008. Hadiannya berupa 1 (satu) unit Mobil Honda Jazz VTEC.
Anak bungsuku yang memperhatikan dan duduk disampingku langsung berteriak, “Aku dapat mobil Honda Jazz….!!!”. Anak istriku langsung berlari menghapiri sambil tertawa-tawa. Tidak perlu diceritakan bagaimana ucapan syukur itu berkali-kali diucapkan sambil mulai berebut, “Nanti buat aku”, cetus anakku yang tengah. “Aku yang punya”, sahut si bungsu. “Buat mas aja”, lerai istriku. Dan seterusnya. Sementara aku terus membaca dan mulai curiga.
Surat itu baru diterima sore ini, kenapa terdapat tulisan “Pengiriman hadiah ditutup pada tanggal 26 Mei 2008″. Contact person Bapak Drs. Yusuf Efendi justru mencantumkan nomor HP, 0816 187 6667. Potongan kupon undian yang dilampirkan memang asli tulisan anak bungsuku di lembaran ke 2. Jika diperhatikan masing-masing tanda tangan yang tercantum, walaupun berbeda, sepertinya dibuat oleh satu orang karena gaya goresannya mirip-mirip. “Coba telpon ILP Cinere”, aku meminta istriku untuk mulai cross check.
Sambil naik ke lantai atas, istriku tertawa-tawa dan disambut tiga orang temannya yang kebetulan sedang ada di rumahku. Mereka berpelukan sambil menangis. Menangis bahagia. Lucu sekali. Sementara anak-anakku berbantah-bantahan soal siapa yang boleh pake mobil itu dan seterusnya. Sesaat rumahku ramai sekali, penuh dengan tawa riang. Aku masuk kamar, sambil tersenyum-senyum, ambil air wudhu dan sholat Magrib. Jujur, aku bahagia, senang melihat mereka tertawa-tawa. Walaupun aku sudah mulai ragu dengan kebenaran surat itu.
Saat tersambung ke ILP Cinere, si penerima telepon langsung meminta ma’af saat mendengar pertanyaan istriku. “Ma’af bu, itu penipuan. Pihak kami mungkin teledor sewaktu memusnahkan kupon-kupon itu masih ada yang tersisa. Beberapa orang sudah menghubungi kami dan menanyakan hal yang sama. Saat ini sedang dalam penyidikan Polisi”.
Istriku mencoba menelpon no HP yang tercantum di lembar depan. Terdengar suara laki-laki yang saat dimintai informasi tentang surat ini langsung menjawab; “Ma’af bu, bisa menelpon kembali lima menit lagi?” He…he….he……., sudah mulai yakin penipuan. Istriku mencoba menelpon nomor kantor ILP Pusat yang dicantumkan oleh penipu itu di letter head, 62 21 3089 2299. Sewaktu diterima secara agak sedikit kampungan oleh seorang laki-laki, istriku mencoba berpura-pura menanyakan “Apakah ini tempat kursus bahasa Inggris”. Sedikit ragu, laki-laki itu menjawab singkat “Ya…”. Istriku meneruskan, “Saya mau minta informasi tentang kursus bahasa Inggris”. Terdengan suara agak ribut dan teriakan tangisan bayi di latar belakangnya, laki-laki diseberang telepon menjawa, “Bisa telpon kembali besok?”. Istriku langsung menutup telepon mengakhiri percakapan itu.
Gelak tawa semakin ramai di rumahku. Kali ini karena mentertawakan tingkah polah kita serumah saat pertama mengetahui anakku menang hadiah mobil. Pasalnya, anak sulungku memang pernah mendapat DVD Player merek Philips dari ILP karena menang undian serupa beberapa tahun lalu. Jadi sangat wajar kalau seisi rumah seakan percaya bahwa anakku memang menang undian berupa mobil.
Beberapa saat berlalu, semua orang sudah melupakan peristiwa itu. Saat kawan-kawan istriku pamitan, mereka mengejek sambil tertawa-tawa, “Ntar kalo Honda Jazz nya dateng, kita diajak jalan-jalan ya mbak”. Semuapun tertawa lepas. Ternyata mudah sekali kita merasakan bahagia, hanya dengan triger bayangan hadiah mobil. Tidak ada sedikitpun rasa kecewa dihati, karena masing-masing kita memang tidak berharap. Walaupun anak bungsuku sempat berkata, “Sebenarnya aku pengen sih hadiah mobil, pa”. Aku mendengarkan sambil tertawa.
Cuplikan Email Pak Ustadz May 22, 2008
Posted by merenung in Umum.Tags: Adiwarman Karim, syariah
add a comment
Pak ustadz Adiwarman Karim menanggapi tulisanku tentang Bank dan Asuransi Syariah dan menanggapi dengan bijak. Sebenarnya aku sudah sedikit bisa menebak jawaban yang akan pak ustadz berikan. Dengan latar belakang ilmu dan pengalaman yang begitu lengkap ditambah ketekunan beliau menjalani dunia bisnis syariah sampai sekarang, sudut yang diambil dalam memandang kerisauan hati tidaklah sama.
Kalau tulisanku cenderung mancari jawaban atas pertanyaan “apa?”, “kenapa?” dan sejenis, maka pak ustadz yang konsultan itu lebih memilih “solusi”. Menurut aku, karena fase mencari jawaban sudah beliau lewati di masa-masa yang sudah lalu. Ini sedikit cuplikan email pak ustadz itu:
Kita harusnya bersyukur kalau non muslim berbisnis dg cara syariah. Kan lebih baik daripada mereka berbisnis dg cara yg tidak syariah. Ini adalah faktor eksternal yg harus disyukuri.
Tentu akan lebih bersyukur bila kita yg muslim juga menekuni bisnis dg cara syariah. Ini adalah faktor internal yg harus dibenahi sbg salah satu wujud syukur.
Walaupun aku belum sependapat dengan pak ustadz dan masih tetap terus merenunginya, tapi do’a pak ustadz dibagian akhir email aku amini.
Semoga Allah memasukkan kita kedalam golongan yg beruntung di dunia dan akhirat.
Semoga ya pak ustadz.
Bank dan Asuransi Syariah May 19, 2008
Posted by merenung in Umum.Tags: Add new tag, asuransi, bank, hukum, Islam, muslim, non-muslim, syariah
1 comment so far
Minggu lalu kawan lamaku mampir ke kantor. Sudah lama tidak berkesempatan ngobrol agak serius, kawanku mampir karena kebetulan ingin ke kantor iparnya yang lokasinya ada di daerah kantorku.
Dia cerita kalau sekarang sedang menekuni profesi sebagai agen asuransi. Sambil membawa iklan di sebuah koran oplah besar, dua halaman penuh dengan foto-foto para pelaku asuransi yang sedang mendapat bonus jalan-jalan ke Moscow. Kawanku bercerita tentang uang yang diterima oleh para agent berprestasi di setiap bulannya. Puluhan, ratusan juta, bahkan milyar rupiah jumlahnya. Terasa sekali nuansa ngiler bak bercerita tentang nikmatnya wisata kulinernya “mak nyus”, seperti umumnya para agen, para penjual mempergunakan caranya untuk memikat. Kawanku ini (mungkin) sama sekali tidak dalam rangka merayu agar aku membeli produknya, melainkan sekedar menjelaskan apa dan mengapa dia bersemangat menekuni bidang barunya. Ada kalimat yang membuat aku memikirkannya berhari-hari tanpa jawaban;
“Lu liat aja iklannya di iklan koran. Mereka jalan-jalan nih. Masa’ mereka yang menjual produk syariah dan menikmati hasilnya. Mending kita-kita dong yang jualan”
Maksudnya, foto-foto yang terpampang memang langsung dapat ditebak bahwa kebanyakan mereka bukanlah muslim-muslimah. Kawan ini mungkin tidak rela atau iri (secara positif) untuk dapat menyaingi prestasi mereka-mereka dalam mendapatkan keuntungan dari penjualan produk asuransi syariah. Sesuatu yang mungkin wajar-wajar saja, walaupun aku tidak terlalu tertarik menanggapinya.
Beberapa hari kemudian di acara TVRI, Adiwarman Karim juga menjelaskan, bahwa banyak praktisi perbankan dan asuransi syariah dari kalangan non-muslim.Pernyataan ini yang membuat aku jadi tertarik untuk sedikit merenungi masalah ini.
Kalau tidak keliru, syariah ini maksudnya hukum (mungkin beda-beda dikit dengan fiqih). Jadi mengikuti syariah Islam itu menurut pengertianku adalah mengikuti hukum yang ditetapkan di dalam Islam. Jual beli dibenarkan secara syariah selama sesuai dengan hukum Islam. Jual beli barang haram walaupun sama-sama ikhlas tidak bisa dibilang sesuai syariah. Transaksi perbankan dan asuransi sepertinya bukan transaksi jual beli, bagaimana akad dilakukan oleh pelaku-pelaku non-muslim yang tidak mempercayai syariah (hukum) Islam dapat dikatakan sesuai syariah? Saya terbayang pernikahan yang dikatakan sesuai syariah (hukum) Islam dilakukan oleh seorang penghulu yang non-muslim. Atau wali nikah yang non-muslim atau pengantin yang non-muslim. Bagaimana dapat disebut sesuai syariah Islam?
Jadi pengen tanya sama yang lebih mengerti soal syariah, pasalnya sudah seminggu lebih nggak ketemu jawaban yang logis untuk bisa menerangkan pertanyaan itu.
Apartemen Bersubsidi May 3, 2008
Posted by merenung in Serba-serbi.Tags: apartment, subsidi
1 comment so far
Ngobrol di dalam mobil selesai sholat Jum’a, saat mau makan siang (menu sop ikan hiu), dua teman yang duduk di kursi belakang sibuk membahas apartemen bersubsidi. Memang agak aneh di telinga jika mendengar kedua teman yang sama-sama punya penghasilan tetap lebih besar dari 4 juta sebulan dan sudah memiliki rumah (tempat tinggal) dan tentu aset lainnya, ingin memanfaatkan subsidi pemerintah ini untuk lebih mensejahterakan kehidupannya.
Sedianya pemerintah memberikan subsidi kepada kelompok masyarakat yang belum mempunyai rumah (tempat tinggal) agar terbantu memilikinya. Betapa saat ini kelompok yang berpendapatan dibawah 4 juta sebulan hanya dapat menyisihkan penghasilannya untuk membayar kontrakan rumah tanpa dapat memilikinya. Entah sampai kapan kelompok ini dapat tenang dalam urusah tempat tinggal (papan) apabila pemerintah tidak turut serta dalam mencari pemecahannya.
Walaupun dapat mengerti apa yang dicari oleh para investor (spekulan subsidi pemerintah) yaitu keuntungan materi, tetapi tetap saja sulit dimengerti apabila sikap itu lebih mencerminkan keserakahan. Bukankah selama ini kita masih tetap mendapatkan subsidi dari pemerintah, saat kita membeli bensin premium? Bukankah masih banyak kelompok masyarakat yang masih memerlukan subsidi? Bukankah kita seharusnya justru membantu masyarakat yang masih memerlukan subsidi? Bukankan apartemen bersubsidi ini bukan ditujukan untuk kita?
Lucu juga membayangkan sikap mereka jika digambarkan dalam bentuk fisik yang lebih mudah dimengerti. Aku membayangkan mereka yang sudah tua-tua itu mengenakan celana monyet (baju anak kecil) yang sesak kekecilan dan sobek sana-sini karena sangat dipaksakan. Entah pelawak, orang yang kurang kecerdasan atau orang aneh sajalah yang mau mengenakan pakaian yang dibuat bukan untuk ukurannya itu. Tapi memang nilai-nilai sudah berubah. “Biar gila tapi kaya”, mungkin itu semboyannya.
Keciaaan deh lo….
Sebuah Tamparan May 3, 2008
Posted by merenung in Simple.Tags: iblis, kyai, santri, takdir
2 comments
Lupa judul buku yang dibaca oleh ibuku, tiba-tiba saja dia berkata kepadaku, bahwa iblis nanti tidak akan merasa tersiksa di dalam neraka, karena wujudnya diciptakan dari unsur api.
Aku jadi teringat salah satu email yang aku terima dari seorang teman yang berbagi, isinya kira-kira seperti ini:
Suatu saat seorang santri bertanya kepada kyai-nya,
“Jika ALLAH itu wujud, dapatkah kyai menunjukkannya kepada saya? Mohon jelaskan kepada saya tentang takdir? Jika memang iblis diciptakan ALLAH dari api, bagaimana dia akan merasa tersiksa di dalam neraka yang juga dari api?”
Sambil tersenyum sang kyai langsung menampar pipi kanan santrinya dengan keras. “Plaak….!”
“Aduuh…! Mengapa kyai menampar pipi saya? Apakah pertanyaan saya salah? Apakah kyai tidak tau jawabannya atau memang tidak mau menjawabnya?”
Masih tersenyum dengan lembut, sang kyai berkata: “Itulah jawaban dari ketiga pertanyaanmu”.
“Jika pipimu terasa sakit dan sakit itu memang ada, coba kamu tunjukkan kepadaku rasa sakitmu”.
“Apakah tadi malam engkau bermimpi aku akan menamparmu? Atau, saat engkau bertanya, apakah engkau membayangkan aku akan menamparmu?”
“Jika pipimu terbuat dari daging yang dilapisi kulit sementara punggung telapak tangankupun terbuat dari unsur yang sama, mengapa kamu merasakan sakitnya?”
Sebuah cerita yang sangat sederhana dan mudah-mudahan menjawab pertanyaan di dalam kepala ibuku.





