Apartemen Bersubsidi May 3, 2008
Posted by merenung in Serba-serbi.Tags: apartment, subsidi
trackback
Ngobrol di dalam mobil selesai sholat Jum’a, saat mau makan siang (menu sop ikan hiu), dua teman yang duduk di kursi belakang sibuk membahas apartemen bersubsidi. Memang agak aneh di telinga jika mendengar kedua teman yang sama-sama punya penghasilan tetap lebih besar dari 4 juta sebulan dan sudah memiliki rumah (tempat tinggal) dan tentu aset lainnya, ingin memanfaatkan subsidi pemerintah ini untuk lebih mensejahterakan kehidupannya.
Sedianya pemerintah memberikan subsidi kepada kelompok masyarakat yang belum mempunyai rumah (tempat tinggal) agar terbantu memilikinya. Betapa saat ini kelompok yang berpendapatan dibawah 4 juta sebulan hanya dapat menyisihkan penghasilannya untuk membayar kontrakan rumah tanpa dapat memilikinya. Entah sampai kapan kelompok ini dapat tenang dalam urusah tempat tinggal (papan) apabila pemerintah tidak turut serta dalam mencari pemecahannya.
Walaupun dapat mengerti apa yang dicari oleh para investor (spekulan subsidi pemerintah) yaitu keuntungan materi, tetapi tetap saja sulit dimengerti apabila sikap itu lebih mencerminkan keserakahan. Bukankah selama ini kita masih tetap mendapatkan subsidi dari pemerintah, saat kita membeli bensin premium? Bukankah masih banyak kelompok masyarakat yang masih memerlukan subsidi? Bukankah kita seharusnya justru membantu masyarakat yang masih memerlukan subsidi? Bukankan apartemen bersubsidi ini bukan ditujukan untuk kita?
Lucu juga membayangkan sikap mereka jika digambarkan dalam bentuk fisik yang lebih mudah dimengerti. Aku membayangkan mereka yang sudah tua-tua itu mengenakan celana monyet (baju anak kecil) yang sesak kekecilan dan sobek sana-sini karena sangat dipaksakan. Entah pelawak, orang yang kurang kecerdasan atau orang aneh sajalah yang mau mengenakan pakaian yang dibuat bukan untuk ukurannya itu. Tapi memang nilai-nilai sudah berubah. “Biar gila tapi kaya”, mungkin itu semboyannya.
Keciaaan deh lo….


Selama pakai celana monyet pun tidak digugat dan yang pakai tetap merasa pakai ‘the king’s new cloth’ . . . ya semua akan terus begini. Dan yang saya takut “Keciaaan deh lo” jadi berbalik ke kita-kita, Pak. Di dunia Mata Satu, orang bermata dua adalah yang tidak normal.
Begitu pun, ayo tetap jadi orang bermata dua, Pak.Sehngga tetap bisa melihat semuanya dalam 3 dimensi . . . .
Kalau kita yakin di dunia macam apa “we belong to”, sepertinya keciaan deh lo -nya tidak akan pernah berbalik ke kita. Bagai hidup di dunia Mata Satu (human life), sesungguhnya kita mengetahui yang normal itu tetap bermata dua. Jadi jangan takut tetap waras di sekitar orang gila, Pak. Dunia Mata Satu, bukanlah dunia manusia (as a spiritual being).