Pilih Kawin atau PHK (Republika 15-06-2008) June 22, 2008
Posted by merenung in Umum.Tags: kawin, phk
add a comment
Salah satu kolom koran Republika tanggal 15 Juni 2008 menulis berita yang cukup menggugah moral. Salah satu perusahaan besar di Iran mensyaratkan karyawannya yang masih bujang untuk segera kawin. Tidak tanggung-tanggung, persyaratan itupun diberi tenggat waktu 21 September 2008.
Sebenarnya kebijakan yang berbobot moral religius ini patut dicontoh oleh perusahaan yang ada di Indonesia. Terutama bagi karyawan yang sudah berusia lebih dari 30 tahun (laki-laki) dan 25 tahun (perempuan). Pada nungguin apa sih kok nggak kawin-kawin. Apa mereka pikir semakin hati-hati memilih pasangan yang cocok akan semakin baik hasilnya. Pada bangun deh….., jangan pada ngimpi…………..
Masih Soal Ahmadiyah June 22, 2008
Posted by merenung in Jum'at.Tags: adian husaini, ahmadiyah, Islam, Jum'at, republika
1 comment so far
Baca halaman Opini Republika, Jum’at 10 Juni 2008 / 16 Jumadil Akhir 1429H, yang ditulis oleh Adian Husaini, Dosen Pemikiran Islam di Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor.
Kalau gak punya koran-nya, baca di Republika Online http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=338282&kat_id=16
Bingung…. June 18, 2008
Posted by merenung in Umum.Tags: ahmadiyah, bingung, inovator, jaksa, moral
add a comment
Entah apa yang sedang terjadi? Semua pemberitaan media penuh dengan carut marut moral dan kepura-puraan. Dari berita penyuapan jaksa oleh Artalyta yang berkembang sedemikian rupa, perdebatan tentang Ahmadiyah sampai foto syur salah seorang yang konon disebut wakil rakyat.
Di sisi lain, konon telah ditemukan pemanfaatan energi dari pemrosesan air (murni / suling) yang dapat menghemat pemakaian BBM sampai 50 km per liter. Bukankah ini sama artinya dengan harga BBM (paling tidak) khusus untuk transportasi dapat dihemat 1/2, 1/3 bahkan mungkin 1/5 dari konsumsi saat ini. Mobil yang tadinya mengkonsumsi 1:10 menjadi 1:50. Yang tadinya beli bensin bersubsidi Rp. 4.000,- untuk 10 km, sekarang jarak 10 km yang sama memerlukan bensin “tanpa subsidi” seharga sekitar Rp. 2.000,- saja. Bukankah pemerintah dan rakyat tidak lagi perlu pusing dengan BBM?
Di satu sisi kita bersyukur karena ALLAH memberikan harapan bahwa orang-orang Indonesia-pun dapat menjadi inovator tangguh, tetapi di sisi yang lain kita dihadapkan pada kenyataan bahwa moral sudah bukan menjadi barang yang berharga dan perlu dijaga.
Entah apa gunanya semua kebaikan dunia ini tanpa adanya keindahan moral para penghuninya.
Aku berhenti merenung sejenak untuk menghilangkan kebingungan.
Mau Seperti Anjing (?) June 16, 2008
Posted by merenung in Kehidupan, Umum.Tags: anjing, dunia
add a comment
Lagi-lagi ini soal anjing. Gara-gara ingat tulisanku, kawan ruang sebelah memberi oleh-oleh cerita, perolehannya malam mingguan di mushola kecil sekitar Pancoran (dekat kompleks BI). Masih juga tentang binatang yang tergolong paling setia pada majikannya. Kawan ini berpesan agar aku menulisnya dan berharap semoga berguna bagi yang membacanya. Ceritanya kira-kira seperti ini.
Dikisahkan pada masa itu hidup seorang Raja yang bijaksana. Sang Raja mempunyai seorang Perdana Menteri yang sehari-hari menjalankan pemerintaan sesuai perintah Sang Raja. Suatu hari, Raja memanggil Perdana Menteri dengan maksud hendak menguji. Sesaat setelah Perdana Menteri menghadap dan mengucapkan salam, Sang Raja mengutarakan maksudnya:
“Wahai Perdana Menteriku. Aku hendak mengujimu agar aku mengetahui apakah selama ini kamu bertindak bijaksana. Apabila engkau tidak bisa melewatinya, maka aku memutuskan untuk memecatmu dari jabatanmu sebagai Perdana Menteri”.
“Ada tiga pertanyaan yang harus engkau cari jawabannya. Pertama, apakah gerangan yang paling berharga bagimu? Kedua, apakah yang pasti benar bagimu? Dan yang ketiga, apakah yang selalu membohongimu?”
Setelah diberikan batas waktu Perdana Menteripun beranjak pergi. Diuji dengan tiga pertanyaan aneh membuat Perdana Menteri memutar otak dan berusaha mencari jawaban dari para pemikir di negeri itu. Lelah bertanya berhari-hari tanpa mendapat jawaban yang meyakinkan, akhirnya Perdana Menteri itu menjadi putus asa. Hari terakhir dari tengat waktu yang diberikan Sang Raja, Perdana Menteri justru lebih banyak berbaring memikirkan masa depannya. Selepas senja, saat itu Pendana Menteri berbaring di padang rumput luas dengan pandangan kosong menatap indahnya perjalanan menuju malam. Malam yang cerah dengan benda-benda langit bertaburan tidak dapat menghibur kegelisahan Perdana Menteri.
“Kalau memang harus berhenti menjadi seorang petinggi negeri, entah apa yang harus aku kerjakan sehari-hari”, begitu pikir Perdana Menteri sambil menerawang mencari jawaban dari langit.
Tidak beberapa lama, lewat seorang anak gembala dengan menggiring beberapa ekor kambing dan ditemani oleh sahabatnya, seekor anjing. Sambil mengamati dari kejauhan, anak gembala inipun berhenti dan menambatkan tali induk-induk kambingnya di bebatuan agak dekat dengan tempat Perdana Menteri itu berbaring. Anak gembala itupun bertanya kepada Perdana Menteri yang sedang gelisah itu.
“Saya melihat bapak sedari tadi berbaring tetapi tidak tidur. Menatap langit sambil berbicara sendiri. Sedangkan saya tidak melihat apa-apa di lagit yang bapak tatap itu. Bolehkah saya mengetahui apa yang bapak lihat di langit sana?”, anak gembala itu mencoba membuka percakapan.
“Ah…, anak kecil. Aku sedang kesusahan. Sudah sana. Kamu bawa kambing-kambingmu pulang agar tidak kemalaman”, ucap Perdana Menteri itu dengan nada datar.
“Kalau bapak sedang kesusahan, apakah boleh saya membantu bapak?”, lanjut anak gembala itu.
“Seluruh orang pintar di negeri ini sudah tidak bisa menolongku. Lalu bagaimana kamu yang seorang anak gembala ingin menolongku? Baru kali ini aku sebagai Perdana Menteri mengalami persoalan yang sedemikian pelik tanpa bisa aku pecahkan. Sudah sana….., jangan ganggu aku lagi”, sahut Perdana Menteri.
Anak gembala inipun menjadi mengerti, bahwa dia berhadapan dengan seorang Perdana Menteri. “Apakah saya boleh mencoba membantu memecahkan persoalan yang bapak hadapi?”, tanya anak gambala itu sedikit mendesak.
Perdana Menteri menjadi agak kesal dan mulai membentak, “Sudah aku katakan kalau semua orang di negeri ini tidak bisa memecahkan persoalanku. Mengapa kamu masih terus menggangguku?”.
“Pergi kamu…., dan jangan ganggu aku lagi !”. lanjut Perdana Menteri dengan sedikit menghardik.
“Kalau memang semua orang di negeri ini sudah bapak tanya dan tidak bisa menjawab, apa ruginya kalau bapak menceritakan kepada saya. Jika saya tidak bisa menjawab, maka bapak tidak kehilangan apa-apa, tetapi jika saya bisa menjawab, mungkin akan dapat menolong bapak”, anak gembala itu menutup pembicaraan dan beranjak pergi menghampiri ternaknya.
Sambil duduk di samping anjing kesayangannya, anak gembala ini membuka bekal rotinya untuk diberikannya kepada anjingnya. Tiba-tiba Perdana Menteri itu berteriak memanggil; “Hei anak gembala, coba kesini kamu. Aku ingin berbicara kepadamu”. Perdana Menteri itu berubah pikiran, “Tinggal sisa satu orang ini saja, lalu biarlah esok aku berhenti menjadi Perdana Menteri”.
Sambil meninggalkan bungkusan bekal rotinya untuk dimakan oleh anjing kesayangannya, anak gembala itu menghampiri Perdana Menteri. Dan setelah mendengarkan cerita dari Perdana Menteri itu dengan seksama, anak gembala itu berkata dengan sedikit jenaka “Saya bisa menjawab ketiga pertanyaan itu”.
“Coba beritahu aku”, sergah Perdana Menteri tidak sabar.
“Tapi ada satu syaratnya”, sahut anak gembala itu.
“Kurang ajar ! Kamu berbicara dengan siapa ?”, Perdana Menteri itu sedikit berteriak.
“Terserah bapak. Saya tidak memaksa, jika bapak keberatan”, jawab anak gembala itu santai sambil beranjak pergi.
“Sebentar…., baiklah. Katakan persyaratanmu. Aku akan penuhi”, Perdana Menteri itu sedikit putus asa.
“Kalau demikian, sekarang bapak merangkak dari tempat ini ke arah anjing saya disana itu. Sesampainya disana, bapak makanlah roti bersama dengan anjing itu”, dengan tenang anak gembala itu menerangkan persyaratannya.
“Kamu gila……!”, Perdana Menteri itu sudah hampir melayangkan tamparannya ke arah muka anak gembala itu. Sesaat Perdana Menteri itu mulai melayangkan pandangannya kekanan dan kekiri. Merasa tidak ada yang mengawasi, Perdana Menteri itupun menyerah dan mulai mengambil posisi merangkak. Sambil melangkahkan tangan dan kaki merangkak ke arah anjing kesayangan gembala itu makan, Perdana Menteri itu berucap geram, “Kamu akan merasakan akibatnya, jika kamu membohongi aku”.
Anak gembala itu berjalan mengiringi disamping Perdana Menteri yang merangkak sampai ditempat anjing itu makan. Sesaat Perdana Menteri menjulurkan wajahnya mendekati bungkus roti yang sudah mulai kosong sisa makan anjing, anak gembala itu mencegahnya dan berkata “Sudahlah pak. Bapak tidak perlu makan sisa-sisa makanan anjing saya”.
Perdana Menteri itu sontak berdiri dan berkata, “Sekarang katakan kepadaku jawabannya !”.
“Jawaban yang pertama, bapak sudah mengetahuinya. Jabatan Perdana Menteri adalah yang paling berharga sehingga bapak mau merendahkan diri bapak seperti anjing”, jawab anak gembala itu dengan tenang. Perdana Menteri itu tertunduk dalam tidak menyangka akhirnya dia menemukan jawabannya.
“Yang kedua adalah kematian. Hanya kematian yang pasti benar terjadi bagi semua mahluk hidup”, lanjut anak gembala itu. Perdana Menteri mulai terduduk lemas memperoleh jawaban pertanyaan yang kedua.
“Dan yang selalu membohongi bapak dan semua manusia adalah dunia. Kita selalu saja tertipu dengan bujuk rayu dunia tanpa kita sadari”. Perdana Menteri itupun mulai menitikkan air mata. Larut didalam malam yang sangat panjang dan melelahkan.
Keesokan harinya, Perdana Menteri datang menghadap Sang Raja dengan pakaian yang dipakainya sejak kemarin. Raja terkejut melihat mata kuyu Perdana Menteri, lalu bertanya; “Wahai Perdana Menteriku yang bijaksana. Mengapa engkau seperti orang yang tidak tidur? Apakah engkau sudah menemukan jawaban tiga pertanyaanku?”
Perdana Menteri itupun menceritakan apa yang telah dialaminya semalam. Setelah selesai menceritakan seluruh kejadian, Perdana Menteri itupun mengutarakan permintaannya untuk berhenti menjadi Perdana Menteri. Jabatan yang membuat dia tidak pernah bisa menemukan jawaban atas pertanyaan bijak dari Sang Raja.
Akhirnya, pesan untuk diriku sendiri; “Apakah aku pantas merendahkan diriku seperti anjing?” (yang artinya gila jabatan, lupa mati dan memburu dunia). Semoga cerita ini dapat mengingatkan.
Dunia Simbol-simbol June 4, 2008
Posted by merenung in Serba-serbi.Tags: ahmadiyah, FPI, kekerasan, nilai, penodaan, simbol
add a comment
Entah apa yang sedang terjadi di “dunia penuh simbol” seperti Indonesia ini. Semua nilai-nilai hanya diperhitungkan atas dasar apa yang dilihat semata. Kalau beberapa waktu lalu “penodaan agama” dilakukan oleh kelompok Ahmadiyah, dimana masyarakat menunggu keputusan (ragu-ragu) pemerintah untuk membubarkannya, bagai telah di skenariokan tiba-tiba angin berbalik arah. Masyarakat seolah lebih deras menuntut pembubaran FPI.
Anarki untuk alasan apapun memang tidak pernah boleh dilakukan. Itu jelas.
Tetapi yang terjadi ini sungguh sangat lucu. Bagaimana mungkin kita hanya memandang “kekerasan fisik” (dalam hal ini pemukulan / penganiayaan) dan mengabaikan kekerasan non-fisik (seperti penodaan agama). Bagaimana mungkin kita menerima satu label yang sama (yaitu Islam) untuk sesuatu yang saling bertentangan. Adalah tidak masuk dalam logikaku (yang bodoh ini) membenarkan dua hal yang berbeda (bertolak belakang) dan memandangnya sebagai suatu kesatuan kebenaran yang harus dihormati. Kebebasan berfikir macam apa yang memperbolehkan pembenaran hal yang bertolak belakang?
Jika “a = 1″ dan “a = -1″ maka tentu saja “1 = -1″, dan itu harus dihormati sebagai keaneka ragaman?
Jika direnung-renungkan, mengapa muncul kata “pembunuhan karakter / character assassination”. Padahal menyentuh fisik kulitpun tidak, apalagi melukai dan bahkan membunuh. Kata “pembunuhan / assassination” tentu tidak dipilih oleh seorang yang buta pengetahuan bahasa atau orang yang bodoh, melainkan dipilih dari sekian banyak kata untuk dapat menggambarkan seberapa buruk aktifitas itu. Tidak “pemburukkan karakter”, bukan “pelukaan karakter” dan juga bukan “pemukulan karakter”. Jadi, dapat digambarkan aktifitas non-fisik pun memang dapat termasuk didalam golongan “kekerasan”. Kekerasan fisik bisa pulih (fisiknya), tetapi kekerasan non-fisik akan bertahan lebih lama. Bayangkan kalau kita diteriaki bang**t atau baji**an atau f**k you, sepertinya kok akan lebih susah sembuh dibandingkan kena tonjok.
Kalau sekarang ini FPI yang dituntut untuk dibubarkan karena alasan “tindak kekerasan” dan Ahmadiyah “justru” hendak dilestarikan walau melakukan tindak “penodaan”, mudah-mudahan bukan karena ada skenario pengalihan persoalan riuh rendahnya demo anti kenaikan harga BBM.
Hidup di dunia simbol-simbol memang mempunyai nilai-nilai yang berbeda dan berubah-ubah. Tergantung dari sudut kepentingan mana perkara itu dilihat. Malang nian bangsa ini.


