Parlemen Undercover September 18, 2008
Posted by merenung in Serba-serbi.Tags: buku, indosiasat, parlemen, sontoloyo, undercover
add a comment
Baca buku dengan judul Parlemen Undercover memang terasa berbeda. Memang cukup beralasan klaim “mustahil tidak best seller” kisah nyata buku yang satu ini.
Menghimpun 30 cerita pendek (nyata) kisah-kisah sontoloyo wakil rakyat negeri indosiasat, buku ini demikian gamblang menceritakan kisah-kisah yang terekspose (maupun tidak) di media negeri (yang memprihatinkan) ini, Indonesia tercinta.
Lucu tetapi tidak bisa tertawa, konyol tetapi tidak menggelikan, gamblang tetapi membingungkan, komplit dan sangat memprihatinkan. Kasihan memang negeri ini. Apalagi melihat fenomena calon elit, penghuni parlemen tahun mendatang. Mungkin akan ada jilid 2, 3, 4 dan seterusnya……….
Ampun …., duh Gusti !
Apa Setelah Puasa? September 17, 2008
Posted by merenung in Umum.Tags: ibadah, nikmat, puasa, ramadhan, syawal
add a comment
Terima kasih Ya ALLAH, engkau telah sampaikan aku ke dalam bulan yang penuh dengan kemurahan nikmat dari-Mu. Berikan aku kekuatan dan kemudahan dalam menggenapkan bilangan ibadah puasaku.
Jika mengambil pengalaman puasa tahun lalu, ternyata memang selama ini aku agak keliru memahami ibadah istimewa yang satu ini. Menahan hawa nafsu, dari makan-minum, hubungan suami-istri dan seterusnya yang digolongkan kepada perbuatan yang membatalkan ibadah puasa. Menjaga perilaku lahir dan bathin yang mengurangi nilai ibadah puasa. Merapikan ibadah wajib yang dilipat gandakan ganjaran pahalanya. Memperbanyak amal-amal ibadah sunnah, mumpung dihitung bagai ibadah wajib. Dan seterusnya, dan seterusnya. Sebagaimana yang hampir selalu kita dengar dari tausyiah para ustadz / ustadzah dalam acara buka bersama. Juga sama di tahun ini.
Buka puasa bersama minggu lalu, ustadz jebolan Lirboyo yang didaulat untuk memberikan tausyiah justru menekankan pada makna Syawal. Kata yang artinya “peningkatan” ini sedikit menyentak dan menyadarkan perlunya perbaikan pemaknaan amal puasa yang sudah aku lakukan bertahun-tahun. Apalah artinya “pelatihan di dalam bulan Ramadhan” jika setelah memasuki Syawal tidak terdapat peningkatan. Begitu inti tausyiah beberapa menit itu.
Merenung sendiri mengingat tausyiah pak ustadz itu, ternyata memang benar bahwa aku agak keliru memaknai ibadah puasa Ramadhan. Pelajaran utamanya adalah mengendalikan dan membatasi kebutuhan yang halal. Mengendalikan dan membatasi makan-minum (dari makanan dan minuman yang halal dan didapat dari yang halal), mengendalikan dan membatasi syahwat (dari pasangan yang halal dan dinikah dengan cara yang halal), dan seterusnya. Setelah masuk Syawal, bak naik kelas kita harus semakin bisa mengendalikan dan membatasi kebutuhan kita dari yang halal-halal ini, selama sebelas bulan sampai ditemukan kembali oleh ALLAH dengan bulan Ramadhan berikutnya.
Alih-alih meningkat (naik kelas), kadang malah lupa mengendalikan dan membatasi kebutuhan dan justru mengumbar keinginan duniawi. Untung tidak terfikirkan untuk mencari dari yang haram. Alhasil setiap habis ulangan umum (puasa Ramadhan) dan ketemu dengan Syawal (peningkatan / naik kelas), tingkah laku sebelas bulan berikutnya tetap kembali seperti di kelas semula. Pantas kalau sampai sekarang aku masih terus ulangan kelas satu.
Semoga selesai ulangan (puasa Ramadhan) tahun ini aku bisa berlaku selayaknya anak kelas dua. Malu juga rasanya jadi anak tinggal kelas bertahun-tahun seperti ini.
My Acer Aspire One September 16, 2008
Posted by merenung in Serba-serbi.Tags: acer, aspire one, laptop
add a comment
Aku tukar Acer Aspire One versi Linux (Linpus) dengan yang WIndows XP. Dengan hard disk 120 GB (dibanding yang Linux cuma 8 GB), aku coba buat dual boot. Dan ternyata cukup mudah dan tidak rewel. Walaupun driver sound cardnya belum ketemu. Jadi belum bunyi. (belum sempet ngoprek)
Baru seminggu aku pake, mendadak power ngga nyala. Aku bawa ke service center, ternyata harus ganti motherboard. Baru pengalaman punya Acer, setelah Toshiba, Asus, HP. Dari Toshiba sampai HP punya masalah kerusakan sendiri-sendiri, walaupun HP 12.1 lebih bandel dibanding yang lain.
Ini foto Acer Aspire One, kecil dibanding 19 inch LCD atau 12.1 inch HP:
Booting Linux atau XP, dua-duanya OK !
Connect pake Huawei 3G juga gak masalah.
Dan yang penting, enteng dan lumayan kecil untuk ditenteng-tenteng kemana-mana.
Dimana Nikmatnya Berzakat ? September 16, 2008
Posted by merenung in Serba-serbi, Umum.Tags: infaq, kaya, miskin, nikmat, puasa, zakat
add a comment
Entah mengapa, bagai kemarin sore aku menulis di blog tentang aktifitas yang satu ini. Kewajiban zakat yang melekat bagi umat yang mengaku beriman.
Mambaca berita dari Pasuruan tentang korban meninggal sebanyak 21 orang saat mengantri pembagian uang zakat. Uang zakat yang HANYA DUA SETENGAH PERSEN DARI HARTA YANG SUDAH MEMENUHI SYARAT memakan korban jiwa sedemikian banyak. Betapa sangat tidak sepadan.
Ber-andai-andai, niat si pembagi zakat (yang hanya 2.5% itu) adalah untuk memastikan bahwa uang zakatnya diterima langsung, sekaligus untuk menyambung tali silaturahmi, entah apa yang ada di dalam benaknya saat ini. Dimana nikmatnya berzakat? Jika harus membawa korban seperti ini. Apalagi ini bukan yang pertama kali. Tidakkah kita mengambil pelajaran dari yang lalu-lalu?
Sejauh pengetahuan yang sangat sedikit ini, sepertinya tuntunan yang ada menyuruh kita menyalurkannya melalui lembaga yang sudah ada. Pemerintah bertanggung jawab untuk membentuk badan amanah ini dan mengelolanya dengan sungguh-sungguh. Lagi pula, badan-badan swasta pun sudah banyak yang memiliki fasilitas penyaluran zakat (yang hanya 2.5 % ini).
Ketidak percayaan memang sepertinya menjadi alasan utama mengapa orang cenderung menyalurkan zakat dengan cara sendiri-sendiri, langsung maupun tidak langsung. Itu memang menjadi cerminan moral elit di mata rakyatnya. Mungkin alasan ini pula yang melatar belakangi orang kaya Pasuruan tersebut untuk menyalurkannya secara langsung. Semoga ALLAH Yang Maha Pemurah memberi penghiburan bagi keluarga para korban dan orang kaya Pasuruan ini, seraya berharap jangan ada lagi orang kaya manapun yang bagi-bagi uang dengan cara memanggil dan mengumpulkan orang miskin di satu tempat / lokasi seperti ini. Tidak untuk beramal sholeh apalagi pamrih dukungan penerima zakat untuk maju caleg atau pilkada.
Seandainya, yang dibagikan oleh orang kaya Pasuruan ini adalah infaq / sodaqoh, kalau aku tidak keliru, apabila memaksa ingin memberikan secara langsung, orang kaya Pasuruan ini seharusnya mendatangi calon penerima infaq tersebut. Satu per satu. Bukan memanggil dan mengumpulkannya, apalagi meng-eksploitasi untuk menjadi bahan pemberitaan kedermawanannya. Anjuran untuk menyerahkan langsung dengan mendatangi calon penerima, menghindarkan mereka dari rasa malu dan direndahkan karena seolah meminta-minta. Bukankah orang kaya Pasuruan itulah yang memerlukan orang miskin untuk penyaluran amal sholehnya?
Andai masih juga beralasan kalau mereka harus didatangi satu per satu maka akan terlalu sedikit yang dapat terjangkau, jika niat orang kaya itu ingin menumpuk amal di bulan puasa. Tentu ALLAH Maha Mengetahui niat mereka. Bukankah amal puasa itu seharusnya tercermin pada bulan-bulan lainnya? Tidakkah di bulan-bulan lain (yang ada sebelas itu) kita membatasi, mengurangi atau menghilangkan amal sholeh kita (yang kebetulan berupa infaq)?
Kalau sudah ALLAH tetapkan seperti ini, kembali kepada manusia itu sendiri. Apakah mau mengambil hikmah berupa pelajaran dan berusaha untuk memperbaikinya. Karena sesal memang sudah tidak ada artinya.







