jump to navigation

Kejar Dunia, Kejar Akhirat October 31, 2008

Posted by merenung in Kehidupan, Simple.
Tags: , ,
add a comment

Rasanya sudah sering aku mendengar kalimat ini.

“Kejarlah dunia seakan-akan kamu akan mati seribu tahun lagi. Kejarlah akhirat seakan-akan kamu akan mati esok”

Umumnya ini dipergunakan untuk pembenaran aktifitas gigih mencari uang, menumpuk, membelanjakan dan tentu menikmatinya. Karena “mengejar dunia” umumnya selalu diartikan harta, materi, kekayaan, kenikmatan, pangkat, jabatan, kedudukan, status dan seterusnya. Dan “mengejar akhirat” selalu diartikan ritual ibadah, zikir, wirid, infaq/ sedekah, waqaf dan seterusnya. Sehingga aplikasinya adalah menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang, menumpuknya, membelanjakannya untuk kenikmatan (baik kenikmatan fisik, otak, jiwa, dan seterusnya). Lalu memohon ampun dengan ritual-ritual ibadah, agar penghalalan tersebut diampuni. Intinya memisahkan dunia dengan akhirat.

Yang menarik umumnya selalu diutarakan kepadaku saat bincang-bincang santai, seperti Selasa siang kemarin di kantor, dengan rantai kalimat: “Bukankah ada hadist yang mengatakan kejarlah dunia seakan-akan kamu akan mati seribu tahun lagi dan kejarlah akhirat seakan-akan kamu akan mati esok?”
Selalu saja aku balas dengan bertanya, “Hadist apa, siapa, mana rujukannya?”. Seperti biasa, karena sama-sama awam, kata yang paling tepat untuk menjawab pertanyaanku adalah “Katanya…”. Katanya hadist. Katanya hadist.

Bagiku ada cara yang paling mudah yang selalu saja aku pergunakan untuk menerima atau menolak hadist (untuk sementara, saat berbincang-bincang), tentu akhirnya harus merujuk kepada rujukan yang kuat. Aku meyakini bahwa yang dimuliakan oleh ALLAH, Rasulullah Muhammad SAW, adalah manusia yang seluruh hidup dan matinya dijaga oleh ALLAH SWT. Seluruh kehidupan dan kematiannya sebagai manusia direncanakan sempurna, dari sebelum lahirnya, antara lahir dan kematiannya dan tentu sesudah matinya. Kebenarannya, kesalahannya, kesenangannya, marahnya, keinginannya dan seterusnya, seluruhnya dijaga oleh ALLAH SWT. Berbeda dengan kesempurnaan manusia lainnya. Itulah mengapa Beliau menurut keyakinanku dilepaskan dari “hukuman” kesalahan. Kesalahan yang juga bagian rencana ALLAH SWT dengan maksud yang mulia. Berbeda dengan kesalahan yang dilakukan manusia lainnya. Karena keyakinan itulah, jika ada hadist (seperti yang disebutkan tadi) yang “katanya” dari Rasulullah SAW, aku langsung saja melihat riwayat kehidupan Beliau. Adakah Beliau hidup dengan menumpuk harta? Adakah Beliau mengejar dunia? Adakah Beliau menikmati dunia? Jika Rasulullah SAW berucap tentulah Beliau akan melaksanakan ucapannya. Kalaupun ada keinginan Beliau yang sempat Beliau ucapkan tetapi Beliau tidak laksanakan (atas kehendak / rencana ALLAH), menurutku keinginan itu bukanlah suatu yang perlu kita ikuti. Bukankah Beliau tidak melakukannya? Kenapa pula kita ingin lebih dari Beliau? Praktisnya, untuk sementara (sebelum check ‘n recheck) aku hanya menerima hadist yang Rasulullah SAW sendiri melakukannya.

Jika pertanyaannya, bukankah Rasulullah SAW mengejar akhirat seakan-akan Beliau akan mati esok? Sebagai salah satu contoh, adalah shalat malam beliau. Pertanyaan yang seakan ingin membenarkan potongan terakhir untaian kalimat tadi. Kalau tidak keliru, ada riwayat yang menceritakan kaki Beliau yang bengkak karena lama berdiri shalat malam. Saat diingatkan oleh Istri Beliau RA, mengapa Rasulullah SAW shalat sedemikian giatnya? jawaban Beliau tidaklah mencerminkan Beliau sedang mengejar akhirat. Melainkan Beliau melakukan sebagai rasa syukur dan terima kasih kepada ALLAH SWT yang telah memuliakan Beliau diantara manusia lainnya. Jadi jika kita ingin mengikuti Beliau dengan beribadah shalat malam (misalkan, salah satunya), maka lakukanlah untuk bersyukur dan berterima kasih kepada ALLAH SAW karena telah diberikan nikmat iman dan nikmat Islam (nikmat yang penting dari demikian banyak nikmat-nikmat lainnya).

Jadi menurutku, tidak ada satupun alasan pembenaran mencari kekayaan, pangkat, jabatan, status dan seterusnya dengan menghalalkan segala cara, seakan-akan kita mati 1000 tahun lagi. Dan kemudian seolah-olah membersihkannya dengan meminta ampun kepada ALLAH SWT dan beribadah sebanyak-banyaknya, seakan kita mati esok. Walau memang ALLAH SWT Maha Pengampun, Pengasih dan Penyayang.

Jika ternyata aku salah, itu karena kebodohanku dan aku meminta ampun kepada ALLAH SWT.
ALLAH jualah Yang Maha Mengetahui.

Salah Paham Porno October 25, 2008

Posted by merenung in Umum.
Tags: , ,
add a comment

Berita yang marak di media tentang berhadap-hadapannya pihak yang mendukung RUU Pornografi dengan pihak yang menentangnya memang tidak akan pernah bisa dihindari. Jangankan untuk suatu hukum buatan sekelompok manusia yang masih diragukan kemuliaannya, sedang hukum ALLAH Yang Maha Mulia yang diturunkan melalui jalur yang dimuliakan kepada Manusia Mulia -pun dapat kita hitung jumlah pendukung dan penentangnya. Sedemikian banyak fakta sejarah yang sudah menggambarkan bagaimana pertentangan penerimaan Hukum Mutlak itu, lengkap dengan korban-korban yang berjatuhan. Adalah fakta yang juga harus diterima bahwa sampai akhir dunia ini pertentangan itu akan tetap berlangsung. Yang baik, benar, lurus dengan yang buruk, salah dan bengkok. Apalagi untuk yang abu-abu seperti RUU itu (abu-abu aku pilih untuk membedakannya dengan putih-nya Hukum Mutlak ALLAH SWT).

Jadi aku pikir, salah satu kesalahannya adalah cara atau efektifitas pensosialisasian RUU ini kepada masyarakat. Kalau masyarakat lapisan pendidikan tinggi seakan tidak tabu dalam bercerita tentang pornoaksi, seperti dalam Salah Lihat Porno. Sementara masyarakat profesi lain sampai berargumen menentang pemerintah melindungi anak-anaknya dari pornografi dengan dalih intimidasi wilayah privat, seperti dalam Salah Baca Porno. Maka cara pensosialisasian RUU ini menurutku memang kurang memadai.

Seharusnya RUU ini disosialisasikan kepada semua orang yang mewakili. Baik tokoh masyarakat dan sok/ belagak tokoh masyarakat, yang berkepentingan dan sok /belagak berkepentingan, yang intelek dan sok /belagak intelek, yang agamawan dan sok /belagak agamawan, yang siritualis dan sok /belagak spiritualis, yang cari duit dari situ dan sok /belagak cari duit dari situ dan seterusnya dan seterusnya. Pokoknya semua saja masyarakat yang mewakili. Tentu sosialisasi kepada mereka tidak perlu supporter macam demo jalanan atau nonton tanding sepak bola yang selalu teriak-teriak membuyarkan akal dan meninggikan emosi. Jika semua aktifitas itu tercatat dan tentu termasuk nama orang-orang yang sudah ikut didalam sosialisasi RUU itu, rasanya demo jalanan menentang pengesahan RUU itu akan menjadi kurang tokoh. Paling tidak argumentasi membingungkan dari sutradara perempuan muda yang ibu rumah tangga dalan Salah Baca Porno itu mungkin tidak akan muncul.

Memang tentangan itu tidak pernah akan hilang. Banyak kepentingan yang berat bagi pada penentang itu untuk dikorbankan. Mungkin bukan hanya sekedar alasan kepentingan materi, tetapi kepentingan non-materi yang sulit (tidak dapat) dibuktikan.

Hitam putih saja orang sulit membedakan, apalagi abu-abu !

Salah Baca Porno October 24, 2008

Posted by merenung in Serba-serbi.
Tags: , , , ,
1 comment so far

Nonton acara Debat di TV One dua hari lalu aku senyam-senyum sendiri, heran bercampur bingung. Bagaimana tidak. Acara yang menampilkan dua kubu pendukung pengesahan RUU Anti Pornografi dan penentangnya.

Salah seorang wakil penentang adalah seorang perempuan, sutradara muda yang juga seorang ibu. Setelah ditekankan bahwa yang diatur oleh RUU ini adalah media, maka salah satu argumentasi yang disampaikan untuk menentang pengesahan RUU itu adalah (kira-kira) seperti ini:

“Saya merasa diintimindasi oleh negara. Karena saya mengetahui dan berhak mengatur media apa yang boleh dilihat dan tidak boleh dilihat oleh anak saya. Negara tidak berhak mengatur itu”, penjelasannya berapi-api.

Lebih aneh lagi dia juga menyatakan bahwa: “Tidak ada satu pasalpun dari rancangan ini yang saya setujui. Semuanya saya menolaknya”. Ini tentu saja memperkuat prinsip argumentasi penolakan intimidasi itu.

Penjelasan itu terus terang saja membuat aku bingung. Bagaimana seorang ibu menentang pemerintah yang melindungi anak-anaknya dengan undang-undang yang mengatur media agar mereka terhindar (atau paling sedikit mempersulit) dari mendapat akses ke media dengan isi persengamaan, ketelanjangan dan seterusnya.

Ada salah seorang dari pihak pendukung menginterupsi dan mengatakan bahwa para penentang itu hanya memikirkan perut masing-masing dan takut kehilangan lahan nafkah, sementara mengorbankan generasi mendatang. Tentu saja si sutradara muda ini tersinggung dan menentang pendapat itu. Entahlah.

Tidaklah heran kalau aku ketemu seorang anggota masyarakat dengan pendidikan tinggi (S3) dengan sangat biasanya bercerita tentang pornoaksi seperti aku tulis di Salah Lihat Porno seperti itu.

Penyeleweng Zakat ? October 23, 2008

Posted by merenung in Umum.
Tags: , ,
1 comment so far

Menyelewengkan uang negara, walaupun sudah sering kita dengar tetap saja terasa memprihatinkan. Tetapi menyelewengkan uang zakat (dan infaq) oleh lembaga pengelola zakat mungkin menyakitkan hati. Minggu lalu, teman di kantor entah kenapa bercerita aib seorang anggota pengelola zakat yang menyelewengkan uang lembaga yang dikelolanya untuk kepentingan pribadi yang tidak pantas. Teman menceritakan penggunaan uang itu untuk pribadi seperti apa, tapi aku merasa tidak perlu menulisnya. Mudah-mudahan “tidak pantas” sudah mewakili buruknya kebutuhan itu.

Jumlah uang lima ratus juta rupiah (Rp. 500.000.000,-) rasanya bukan jumlah yang sedikit. Tentu lembaga pengelola inipun bukan lembaga kelas kelurahan. Tidak tanggung-tanggung, si penyeleweng sudah berumur sekitar 50 tahun, seorang perempuan pula. Katanya sekarang sedang “diproses” untuk mempertanggung jawabkan uang yang diselewengkan itu. Apakah ter-ekspose di media, akau juga kurang mengetahuinya. Tapi temanku mendapat berita langsung dari salah seorang anggota rumah penyeleweng tersebut.

Kalau cerita ini bohong (mudah-mudahan seperti itu), semoga orang yang pertama menyebarkan fitnah segera bertaubat dan semoga dengan tidak menulis identitas yang jelas seperti ini aku dibebaskan ALLAH dari hukuman ikut menyebarkan fitnah. Karena bukan untuk tujuan itu aku menulis cerita ini di blog.
Kalau cerita ini benar, semoga dengan “diproses”-nya perkara ini, si penyeleweng segera bertaubat agar ALLAH mengampuni segala dosa yang dilakukannya. Dan semoga tulisan ini bukan menjadi penyebar aib, melainkan dapat memberikan pelajaran bagi yang membacanya.

Menyambung tulisankan yang lalu, dengan judul Berzakat Lewat Mana? mungkin karena hal seperti ini juga mengapa orang tidak percaya lembaga amil zakat yang ada. Maksud hati hendak menyerahkan kepada yang ahli, apa daya si ahli tidak menjaga amanah.

Wa ALLAH a’lam

Salah Lihat Porno October 20, 2008

Posted by merenung in Serba-serbi.
Tags: ,
add a comment

Duduk sambil nonton TV menunggu keberangkatan di ruang tunggu, tiba-tiba aku dikejutkan oleh seseorang yang baru masuk ruangan dan menyapaku dengan ramah. Sambil mengulurkan tangannya dia berucap, “Selamat ya !”, ucapnya bersemangat. Aku yang dengan bingung berdiri menyambut uluran tangannya terpaksa berucap “Terima kasih. Tapi apa ya?”, sambil mencari-cari tentang apa ucapan selamat ini. “A…., saya salah ya?”, ucapnya meralat. “Tadi bukannya yang ujian?”, dia bertanya. “Bukan pak”, jawabku mantab.

Aku duduk kembali sementara orang tadi duduk di bangku kosong sebelahku.
“Saya pikir bapak tadi yang ujian. Soalnya mirip dengan bapak. Tapi mereka rombongan dengan istri, anak dan saudara-saudaranya. Makanya saya cari-cari, kok bapak sendirian”, kalimat panjang meluncur dari mulutnya. Aku manggut-manggut mendengarkan. Dia pikir aku yang tadi pagi ujian S3 dimana dia juga sedang kuliah. Usianya sebaya denganku. Dia terus bicara tentang tentang kerjanya, keluarganya dan pindah tugasnya ke pusat.

“Enak pak di pusat. Banyak insentif. Kita bisa jalan-jalan ke daerah. Ke Manado, ke Bali…….(dst)….”, terus saja dia nerocos. Aku senyam-senyum mendengarkan.

“Wah, kalau di daerah kita dijamu pak. Semuanya disediakan. Cewek-cewek nari-nari pak. Tidak pake baju. Tidak pake selembar benang pun. Dia joget-joget. Di pangkuan……….(dst)…….”, dia terus berucap tanpa henti sambil tertawa-tawa. Aku mengimbangi tertawa kecut sambil kebingungan tidak habis pikir. Aku hentikan cerita disini karena kurang pantas diceritakan kalimat-kalimat dan peragaan yang terus diluncurkan tanpa jeda dan membuatku semakin bingung.

Suara adzan terdengar, aku segera beranjak pergi untuk sholat. Ini menghentikan pertemuan singkat itu.

Entah apa yang terjadi. Bagaimana bisa orang yang baru saling mengenal, bahkan kami belum saling memperkenalkan nama masing-masing, menceritakan hal yang (paling tidak bagiku dan lingkunganku) tabu seperti itu. Sudah sejak dulu (sejak pertama kali kerja) aku mendengar cerita seperti ini dari mulut banyak orang. Tetapi apakah sudah sewajar dan biasa seperti ini cerita porno, sehingga orang dengan pendidikan setinggi itu sangat mudah bercerita kepada orang yang tidak dikenalnya.

Apakah itu menjadi ukuran seberapa parah moral bangsa ini? Entahlah.

Tapi kalau baca buku Parlemen Undercover……wah………

Berzakat Lewat Mana? October 16, 2008

Posted by merenung in Jum'at, Umum.
Tags: , , ,
1 comment so far

Sesungguhnya yang diperintahkan untuk menyalurkan zakat itu adalah melalui lembaga amil zakat. Telah banyak lembaga serupa didirikan dan berkiprah demikian baiknya di tanah air ini. Pemerintah juga mendorong dengan memberikan aturan khusus untuk pembayar zakat yang menyaurkannya lewat lembaga yang diakui oleh pemerintah. Hal ini disampaikan oleh seorang ulama Bogor yang sangat mengerti hukum zakat saat wawancara dengan media menanggapi musibah Pasuruan. Musibah dimana untuk kesekian kalinya begitu banyak korban berjatuhan (tewas) hanya untuk mengantri (berebut?) uang zakat sebesar Rp.30.000,- yang dibagikan oleh orang kaya daerah itu. Ulama Bogor tersebut merasa perlu mengulang-ulang (mesosialisasikan) hal penyaluran zakat tersebut, mengingat hingga saat ini masyarakat belum merespons perintah tersebut dengan optimal. Bahkan cenderung banyak yang menyalurkannyas dengan cara yang kurang baik dan berakibat fatal, seperti yang terjadi di Pasuruan itu. Salah satu alasannya adalah ketidak percayaan terhadap lembaga amil zakat yang ada saat ini. Mungkin masih ada alasan lain, tetapi aku mencoba fokus pada masalah ketidak percayaan ini. Hal yang paling sulit dicari di negeri (dunia) ini.

Aku kurang mengerti bagaimana orang menjadi tidak percaya, tetapi aku mengalami proses itu sedikit demi sedikit. Semula aku memang menyalurkan sebagian lewat lembaga yang ada. Sangat praktis. Sambil kerja di kantor, buka browser, klik-klik-klik selesai sudah. Zakat tersalurkan lewat lembaga amanah yang dikelola orang yang sangat mengerti penyalurannya. InsyaALLAH kewajiban terpenuhi dengan ganjaran yang setimpal.

Belakangan aku memilih untuk menyalurkan lewat tempat lain. Yayasan kecil, panti asuhan kecil, masjid bahkan langsung diantarkan ke tempat penerima dan tentu bercampur dengan infaq. Hal yang paling membuat aku tidak sreg dengan lembaga amil zakat besar mungkin terdengar agak aneh. Tetapi mungkin juga bukan aku sendiri yang berfikir seperti ini. Aku berlangganan koran pagi untuk di rumah, tentu juga koran lainnya untuk di kantor (selain internet) sehingga banyak media yang dapat dijadikan referensi. Belanja para pengelola zakat untuk media menurut pendapatku cukup tinggi. Aku kurang mengerti seberapa besar tapi untuk satu halaman koran nasional dengan oplah besar kita tentu dapat membayangkan biayanya yang tidak sedikit. Apakah koran ini memberikan space gratis satu halaman? Rasanya tidak mungkin. Agak sedikit aneh bagiku, foto (pas foto) petinggi pengelola zakat dipajang ikut dilembar media itu bagai caleg-caleg yang sekarang berlomba-lomba memajang foto mereka di media, baik TV, koran, majalah, spanduk, umbul-umbul dan seterusnya.

Kemarin sore aku lewat suatu jalan yang kanan-kirinya penuh dengan deretan umbul-umbul suatu pengumpul zakat. Umbul-umbul itu memang info tentang zakat. Foto ustadz yang cukup dikenal terpajang besar di umbul-umbul itu (dan banyak spanduk di jalan-jalan lainnya). Anehnya, saat itu aku sedang mengendarai mobil berdua dengan putriku yang berusia 10 tahun, tanpa ada percakapan pembuka sebelumnya, putriku ini bertanya dan berikut percakapan singkat itu:
“Foto orang itu buat apa ya pa?”, dia memulai pertanyaan.
“Itu informasi zakat. Papa kenal sama ustadz itu”, aku coba sedikit menjelaskan.
“Dia dibayar ya pa?”, dia melanjutkan bertanya.
“Ya tidak. Kan itu untuk zakat”, aku berusaha sok tau walau mungkin kurang tepat.
“Jadi foto dia itu karena dia pengen aja ya?”, dia belum selesai bertanya.
“Hm……, iya”, aku mencoba mengakhiri percakapan karena bingung mencari jawabannya.

Anak umur 10 tahun saja sudah menghubungkan foto yang ada di umbul-umbul dengan bayaran (uang). Bagaimana dengan iklan satu halaman dengan pas foto pengelola pengumpul zakat itu? Pasti hubungannya dengan bayaran (uang). Lalu uang siapa yang dipakai untuk membayar koran itu? Apakah uang zakat dapat dipergunakan untuk membayar koran, spanduk, umbul-umbul, flyer dan seterusnya yang ada foto pengelolanya (macam caleg atau balon bupati, walikota atau gubernur). Apakah mereka-mereka ini berencana mensosialisasikan tampangnya untuk investasi tahun mendatang saat ada kesempatan jadi caleg, bupati, walikota atau gubernur.

Kalau tidak keliru, hak amil zakat sebesar 12.5 % adalah intepretasi dari ayat Al Qur’an yang menyebutkan 8 golongan yang berhak untuk menerima zakat. Salah satunya adalah amil zakat. Logika yang dipakai adalah 100% dibagi 8 sama dengan 12.5%, sederhana. Jadi kalau amil zakat mengambil Rp. 100.000,- dari muzaki, maka amil zakat berhak mengambil Rp. 12.500,- dari uang itu. Kalau amil zakat mengambil Rp. 100.000.000.000,- (seratus milyar) apakah kemudian amil zakat berhak mengambil Rp. 12.500.000.000,- (dua belas setengah milyar) dari uang itu? Apakah amil zakat bebas mempergunakan bagian yang merupakan haknya itu untuk apa saja? Kalau amil zakat tidak mengambil/memungut (mengeluarkan effort) untuk mengambil dari muzaki, melainkan tinggal tunggu muzaki datang atau malah menerima transferan di rekening, apakah muzaki tetap berhak mengambil 12.5% itu? Dan mungkin masih banyak pertanyaan lainnya. Pertanyaan itu belum mempertanyakan penyalurannya.

Munurut pendapatku pribadi, lembaga amil zakat seharusnya menyalurkan seluruh zakat (100%) kepada muzaki (minus amil, konglomerat yang asetnya lebih sedikit dari hutangnya karena sahamnya jatuh dan musafir kaya). Pengelola zakat dibayar oleh negara dngan gaji yang standar. Negara juga mempergunakan perangkatnya untuk mensosialisasikan zakat tanpa mengambil dari uang zakat yang terkumpul. Profesional (dalam hal pengelolaan zakat) tidak harus dibayar dengan gaji mahal, berjas dasi dan memajang foto di media-media macam caleg minta dipilih di Pemilu.

Paling tidak itu yang membuat aku kembali memilih menyalurkan langsung atau lewat amil zakat kecil-kecil saja. Walaupun katanya penyaluran zakat dari amil zakat kecil-kecil tidak dapat mensejahterakan sebagaimana pemanfaatan zakat untuk dana usaha bergulir yang bisa memberdayakan. Apakah sulit bagi ALLAH untuk untuk membuat seluruh manusia sejahtera (kaya) dan muzaki kebingungan menyalurkan zakatnya?

Kalau aku salah karena bersangka buruk terhadap para pengelola zakat yang besar-besar itu (walau aku tidak menyengaja bersangka buruk), semoga ALLAH mengampuni.

Kangen Ka’bah October 10, 2008

Posted by merenung in Jum'at.
Tags: ,
1 comment so far

Kalau sedang kangen suasana Masjidil Haram, maka buka streaming webcam

http://live.gph.gov.sa/index.cfm

paling tidak hati sedikit terhibur dengan streaming langsung kamera itu. Kapan ya, bisa kesana lagi?

Sesaat sebelum Maghrib (waktu Makkah) – Kamis 9 Oktober 2008

Sekitar jam 20:00 waktu Makkah, Kamis 9 Oktober 2008

Yang Baik Belum Tentu Benar (Dan Sebaliknya) October 9, 2008

Posted by merenung in Umum.
Tags: , , ,
add a comment

Entah kali keberapa Amerika mengalami krisis keuangan parah seperti sekarang ini. Entah apa pula yang menyebabkan godaan kemajuan yang dicapai oleh negara ini seolah telah menghapus cerita-cerita keterpurukan mereka karena ulah mereka sendiri di masa lalu. Pengelolaan ekonomi riba seakan menjadi alat yang paling ampuh untuk menggapai cita-cita kekayaan. Sebagaimana keyakinan bahwa demokrasi ala Amerika adalah alat ampuh untuk memperoleh keadilan yang berujung pada kemakmuran. Entah sampai kapan masyarakat dunia silau dengan cara hidup Amerika (sebagai masyarakat, bangsa maupun negara).

Tentang godaan terhadap fatamorgana kebaikan, aku jadi ingat cerita kawan sebelum waktu berbuka puasa Ramadhan lalu, saat aku mampir ke kantornya. Konon katanya, dia membaca cerita ini di internet.

Diceritakan suatu sore seorang ahli ibadah tertidur pulas di sebuah mushala kecil yang sudah reot dengan atap yang sudah mau runtuh. Saat itu waktu Asr sudah hampir berlalu, sementara shalat wajib belum sempat dijalankan. Gelisah syaitan melihatnya tidak juga terjaga. Maka syaitan menghampiri dan membangunkannya perlahan “Bangunlah kawan, waktu Asr hampir berlalu, sementara kau belum shalat”. Dia terperanjat bangun dan berlari keluar mushala untuk berwudhu. Sesaat berlalu atap mushala runtuh menghantam lantai tempat dimana tubuh tadi tertidur pulas.

Karena ALLAH ijinkan, dia dapat mengenali siapa yang membangunkan dan mengingatkan shalat yang hampir ditinggalkannya. “Bagaimana setan bisa begitu baik menyelamatkan aku dari musibah yang akan menimpaku?”, pikirnya. Dengan sangka baik, lalu dihampiri syaitan bermaksud untuk berterima kasih atas kebaikan yang telah diterimanya. “Aku mengetahui engkau siapa dan aku berterima kasih atas pertolongan yang telah engkau berikan sampai aku terhindar dari musibah yang mungkin akan merenggut nyawaku. Tetapi bolehkan aku bertanya, mengapa engkau menolongku? Bukankah itu perbuatan baik yang justru engkau benci saat manusia melakukannya?”, dia bertanya dengan penuh rasa penasaran.

“Sesungguhnya aku telah mengetahui apabila engkau mati karena tertimpa atap mushala itu, maka ALLAH telah menetapkan syurga bagimu. Aku membangunkanmu agar masih ada waktu bagiku untuk menyesatkanmu selama engkau masih hidup”, jawaban syaitan mengejutkan.

Aku tersenyum mendengar cerita kawanku itu. Banyak memang rayuan syaitan yang sulit untuk dimengerti dengan mudah. Peringatan ALLAH atas riba adalah salah satu contohnya. Banyak sekali penjelasan yang logis dan masuk akal atas riba. Itulah mengapa sampai sekarang  ekonomi riba tetap dijalankan oleh masyarakat yang pandai dan berilmu (kalau tidak logis dan masuk akal, mengapa mereka yang pandai dan berilmu tetap melakukannya?). Tetapi apapun yang menjadi alasan kebaikan yang dihasilkan dari riba sesungguhnya hanyalah kesesatan.

Syaitan memang akan selalu menyesatkan kita, betapapun menarik, baik, manis, menguntungkan, adil dan seterusnya, itu bagi kita. Sesungguhnya biangnya syaitan telah bersumpah untuk menyesatkan manusia. Masih kagum dengan Amerika? Mari kita renungkan.

Mengapa Harus Beda October 8, 2008

Posted by merenung in Umum.
Tags: , , , , ,
add a comment

Kembali, pada Ramadhan tahun ini kita harus berbeda. Sementara saudara kita di Makkah mendapati Ramadhan sebanyak 29 hari, kita di Indonesia mengenapkan dengan 30 hari. Pertanyaan orang awam seperti aku yang tanpa ilmu ini sangat sederhana. Apakah memang kita diperintahkan untuk berbeda?

Pemerintah dengan sangat serius didukung oleh berbagai kalangan berilmu tinggi menyebar sepanjang bentangan teritorial negara Indonesia untuk melihat datangnya bulan baru. Dari Timur sampai ke Barat berkelompok-kelompok manusia penuh ilmu menunggu datangnya bulan baru. Rentang waktu 2 jam dari ujung Timur sampai unjung Barat seolah disatukan dengan tekad yang sama dalam menentukan datangnya tanggal 1 Syawal. Faktanya sidang memutuskan untuk menggenapkannya menjadi 30 hari. Makkah (beda waktu 4 jam), tempat dimana Ka’bah sebagai Kiblat kaum yang mengaku Muslim justru menetapkan Ramadhan tahun ini hanya 29 hari. Yang artinya, pagi berikutnya mereka harus berbuka dan melaksanakan shalat Ied.

Kembali orang awam seperti aku bertanya-tanya. Seandainya negara ini membentang luas sampai meliputi Ka’bah, dimana disana ada saudara-saudara dengan keilmuannya telah melihat bulan baru, apakah kita disini akan mengikuti mereka? Jika saat itu saudara-saudara di Papua telah melihat bulan baru, sementara yang ada di Aceh belum melihatnya (atau sebaliknya), hanya karena sama-sama Indonesia kemudian semua harus sepakat mengakhiri Ramadhan?

Mengapa kita memilih untuk menyesuaikan (menyusul) penetapan 1 Syawal dengan menunggu selama 20 jam dari saudara-saudara kita di Makkah dibandingkan menyesuaikan 4 jam mendahului 1 Syawal, sehingga kita semua sama-sama menghitung Ramadhan sebanyak 29 hari. Bukankah 4 jam lebih sedikit dibandingkan 20 jam. Apakah hanya karena beda negara kita tidak bisa mempergunakan hasil perhitungan saudara kita di tempat yang berjarak 4 jam dan sama-sama sedang waktu malam? Apakah menggenapkan bilangan menjadi 30 lebih “aman” dibandingkan mengikuti perhitungan saudara-saudara kita di Makkah?

Suatu subuh jika tidak keliru pak Quraish Shihab pernah berbicara di TV yang sempat aku catat sebagai berikut:

“Dimanapun daerah yang telah terlihat bulan, maka umat muslim yang saat itu masih dalam keadaan malam, keesokan harinya harus ikut berpuasa atau berlebaran (mungkin maksudnya masuk Ramadhan atau sudah Syawal). Jadi jika Arab Saudi yang hanya beda 4 jam atau Mesir yang beda 5 jam sudah melihat bulan, maka kita ikut berpuasa atau berlebaran. Itu kalau pemerintah mau. Kalau pemerintah tidak mau, ya….repot”.

Memang agak mengherankan. Sementara kita diberikan tuntunan untuk saling terikat, kompak, bersatu, dukung-mendukung, percaya layaknya bersaudara, untuk hal yang sederhana seperti ini saja kita harus berbeda. Hanya karena masing-masing merasa diberi ilmu dan kewenangan kita harus mempertahankan kebenaran sendiri.

Sebenarnya, umat ini bersaudara karena sama-sama muslim atau hanya karena satu negara? Lalu, apakah kita boleh berpuasa pada 1 Syawal?

Selalu Sepasang October 7, 2008

Posted by merenung in Kehidupan.
Tags: , , ,
add a comment

ALLAH Sang Maha Pencipta menurutku memang menciptakan semuanya berpasangan. Diciptakan siang ada malamnya, diciptakan baik ada buruknya, diciptakan senang ada susahnya, diciptakan sulit ada mudahnya. Dan karena itulah ALLAH menjadi Yang Maha Tunggal (tidak berpasangan). Bagiku menjadi jelas tidak ada Kuasa ALLAH (berupa kebaikan) yang sebanding / bersanding (perpasangan) dengan kuasa iblis atau setan berupa keburukan. Karena Ketetapan ALLAH hanyalah berupa kebaikan, walau dapat dipandang sebagai keburukan sebagaimana dapat dipandang sebagai kebaikan. Itu hanyalah karena kebodohan manusia yang memandangnya.

Jika semua ditetapkan sepasang, maka setiap kebaikan selalu saja ada sisi keburukannya (dari sisi pandang manusia). Jika kita mendapatkan maka kita juga akan kehilangan. Jika kita menerima kebaikan niscaya kita akan menerima keburukan (sekali lagi, dari sisi pandang kita). Dia bagai mata uang yang memiliki dua sisi yang tidak dapat kita pisahkan atau kita bedakan nilainya (lagi-lagi, dari sisi pandang kita). Jika kita menerima keberutungan senilai 100 rupiah, maka siap-siaplah untuk juga kehilangan yang 100 rupiah itu. Hukum ini menurutku telah ditetapkan oleh ALLAH, sebagaimana kita menerima kehidupan dengan segala isinya di dunia ini bukan menjadi milik melainkan hanya menjadi titipan belaka. A’a Gym (walau sedari awal bukanlah yang menjadi referensiku), kali ini menggambarkan dengan cukup baik kehidupan kita bak tukang parkir mobil. Tukang parkir (sebagaimana kita hidup) tidak pernah merasa memiliki kendaraan yang dititipkan kepadanya. Tukang parkir tidak bisa menyombongkan mobil mewah yang dititipkan kepadanya, tidak menikmati kecuali memandanginya dan bahkan akan merasa terbebani manakala titipan menjadi banyak dan tidak terawasi. Pada saatnya lapangan parkir itu akan kembali kosong, dimana semua kendaraan titipan sudah diambil kembali oleh yang punya dan tukang parkir itu kembali sendiri tanpa kendaraan titipan. Tetapi manusia hidup justru mencari titipan sebanyak-banyaknya.

Beberapa pandangan hidup, mungkin terinspirasi dengan ciptaan yang berpasangan dan titipan yang hanya akan membebani, mengambil jalan menolak itu semua. Menolak untuk menerima materi, menolak untuk menerima pasangan (berkawin), menolak untuk menerima anak keturunan dan seterusnya, apalagi mencarinya. Mencari materi, mencari pasangan (kawin), berusaha mendapatkan anak (dari perkawinan) dan seterusnya. Kita bisa melihat disekeliling kita orang-orang yang memilih untuk menolak itu semua, mungkin karena mengetahui mereka hanya akan terbebani dan akhirnya kehilangan semuanya.

Indahnya agama yang dibawakan oleh Nabi ALLAH Muhammad SAW menunjukkan sikap yang berbeda da;am menyikapi ketetapan ini. Jika semua orientasi perjalanan dunia hanya untuk persiapan akhirat, maka justru kita harus mengusahakan semua urusan dunia semampu kapasitas kita. Kita mencari semua urusan dunia untuk bekal akhirat, tanpa kecuali.

Semua materi yang kita cari dan dita dapat, kita maknai sebagai titipan dimana kita harus mengeluarkan zakat darinya, memanfaatkan untuk membiayai kebutuhan untuk memelihara amanah, seperti makan untuk tubuh, tempat tinggal, sekolah anak-anak dan seterusnya, yang insya ALLAH akan mendatangkan pahala berlipat kala kita menjalankannya. Bukankah amal kita sangat tergantung dari niat kita? Sisa materi yang ada setelah pemenuhan kewajiban utama kita, kita belanjakan untuk tabungan masa depan kita. utamanya tabungan akhirat kita.

Kita mencari pasangan (istri atau suami) untuk mengumpulkan pahala atas perkawinan itu. Membina dan mempertahankan rumah tangga semata karena ALLAH menjadi dasar semua ganjaran pahala atas saling menghormati, saling pengertian, kesabaran dan cinta kasih diantara pasangan. Demikian pula halnya upaya kita mendapatkan keturunan yang sebaik-baiknya.

Dengan cara seperti itu, rasanya kita tidak perlu menghindari dunia melainkan justru memanfaatkannya untuk tabungan akhirat kita. Yang rugi tentu saja orang-orang yang mengejar dunia untuk kenikmatan dunia semata. Alih-alih mendapatkan kenikmatan dunia mereka justru akan kehilangan seluruh apa yang didapatkannya di dunia dan kecewa karena ternyata di akhirat mereka banyak hutang. Hutang untuk kenikmatan dunia yang belum sempat mereka cicil pengembaliannya (walau sudah diberi diskon dan tanpa bayar bunga he…he…he…..).

Sehungguhnya hanya ALLAH Yang Maha Mengtahui.