jump to navigation

Panggilan Itu December 31, 2008

Posted by merenung in Kehidupan, Umum.
Tags: , , ,
add a comment

Seorang kawan sekelas waktu SMA meneruskan email di milis berisikan cerita seseorang yang menurutku baik untuk dijadikan pelajaran. Aku kutip seluruh tulisan secara utuh, baru kemudian aku tambahkan komentar perenunganku.

<<<<<==========>>>>>

*Judul Tulisan:* Panggilan Allah Hanya 3x saja

Saat itu, Dhuha, hari terakhir aku di Masjid Nabawi untuk menuju Mekah…….aku bertanya pada Ibu Yanti.
“Ibu, kataku, ada cerita apa yang menarik dari Umrah…?” Maklum, ini pertama kali aku ber Umrah. Dan Ibu Yanti, memberikan Tausyiahnya. Ibu Yanti adalah pemilik Maknah Tour Travel dimana saya bergabung untuk Umrah di bulan Juli 2007 yang lalu. Kebetulan umrahku dimulai di Madinah dulu selama 4 hari, baru ke Mekah. Tujuannya adalah mendapatkan moment Malam Jumat di depan Kabah. Jadi aku punya kesempatan untuk bertanya tentang Umrah.

Ibu Yanti berkata…”Shinta, Allah hanya memanggil kita 3 kali saja seumur hidup..”
Keningku berkerut……..”Sedikit sekali Allah memanggil kita..?”
Ibu Yanti tersenyum. “Iya, tahu tidak apa saja 3 panggilan itu..?”
Saya menggelengkan kepala.

“Panggilan pertama adalah Adzan”, ujar Ibu Yanti.
“Itu adalah panggilan Allah yang pertama. Panggilan ini sangat jelas terdengar di telinga kita, sangat kuat terdengar.
Ketika kita sholat, sesungguhnya kita menjawab panggilan Allah. Tetapi Allah masih fleksibel, Dia tidak “cepat marah” akan sikap kita. Kadang kita terlambat, bahkan tidak sholat sama sekali karena malas.
Allah tidak marah seketika. Dia masih memberikan rahmatNya, masih memberikan kebahagiaan bagi umatNya, baik umatNya itu menjawab panggilan Adzan-Nya atau tidak Allah hanya akan membalas umatNya ketika hari Kiamat nanti”.
Saya terpekur…..mata saya berkaca-kaca. Terbayang saya masih melambatkan sholat karena meeting lah, mengajar lah, dan lain lain.

Masya Allah………

Ibu Yanti melanjutkan, “Shinta, Panggilan yang kedua adalah panggilan Umrah/Haji. Panggilan ini bersifat halus. Allah memanggil hamba-hambaNya dengan panggilan yang halus dan sifatnya “bergiliran”.
Hamba yang satu mendapatkan kesempatan yang berbeda dengan hamba yang lain. Jalannya bermacam-macam. Yang tidak punya uang menjadi punya uang, yang tidak berencana malah bisa pergi, ada yang memang berencana dan terkabul. Ketika kita mengambil niat Haji / Umrah, berpakaian Ihram dan melafadzkan “Labaik Allahuma Labaik/ Umrotan”,
sesungguhnya kita saat itu menjawab panggilan Allahyang ke dua. Saat itu kita merasa bahagia, karena panggilan Allah sudah kita jawab, meskipun panggilan itu halus sekali. Allah berkata, laksanakan Haji / Umrah bagi yang mampu”.
Mata saya semakin berkaca-kaca………Subhanallah…….saya datang menjawab panggilan Allah lebih cepat dari yang saya
perhitungkan…….Alhamdulillah…

“Dan panggilan ke-3″, lanjut Bu Yanti, “adalah KEMATIAN.
Panggilan yang kita jawab dengan amal kita. Pada kebanyakan kasus,
Allah tidak memberikan tanda tanda secara langsung, dan kita tidak mampu menjawab dengan lisan dan gerakan.
Kita hanya menjawabnya dengan amal sholeh. Karena itu Shinta, manfaatkan waktumu sebaik-baiknya…
Jawablah 3 panggilan Allah dengan hatimu dan sikap yang Husnul Khotimah………..Insya Allah syurga adalah balasannya…..”

Mata saya basah di dalam Masjid Nabawi , saya sujud bertaubat pada Allah karena kelalaian saya dalam menjawab panggilanNya…..
Kala itu hati saya makin yakin akan kebesaranNya, kasih sayangNya dan dengan semangat menyala-nyala, saya mengenakan baju Ihram dan  berniat……… Aku menjawab panggilan UmrahMu, ya Allah, Tuhan Semesta Alam………..

<<<<<<==========>>>>>

tigapanggilan

Jika tidak disamarkan, kuat diduga bahwa yang menulis adalah seorang wanita bernama Shinta. Nama yang mungkin diambil dari seorang putri cerita wayang Ramayana.

Mungkin memang hanya ada 3 pula jenis manusia yang dipanggil.

Tuli (tidak mendengar);
Azan, haji dan mati itu ada sejak jaman dulu. Mati itu sejak Nabi Adam AS, haji itu sejak jaman Ibrahim AS dan azan itu sejak Rasulullah Muhammad SAW.
Jadi kalau tingkah polah kehidupannya tidak mencerminkan sebagai manusia yang mendengarkan ke tiga panggilan itu, maka sebenarnya manusia ini telah “tuli”, karena tidak “mendengar” kala dirinya “dipanggil”.

Abai (dengar tapi tidak bersegera);
Ada jenis lain yang mendengar panggilan itu tetapi mengabaikannya. Tunda sholat karena sedang sibuk bekerja, tunda haji karena sedang menabung beli mobil baru dan sayangnya panggilan kematian tidak dapat ditunda-tunda sementara bekal untuk menghadapinya belum juga cukup terkumpul.

Hati-hati (selalu menunggu panggilan);
Ada jenis manusia yang menunggu waktu panggilan. Bergegas ke masjid menjelang waktu sholat berharap ganjaran pahala dari ALLAH. Bersiap-siap berangkat haji, seolah-olah ALLAH segera akan mencukupkan hartanya untuk bekal. Dan selalu menyegerakan semua urusan amal shaleh seakan esok hari sudah akan mati.

Kedua jenis manusia (tuli dan abai) mungkin akan berdalih dengan berbagai macam alasan, mengapa tidak bersegera memenuhi panggilan. Rasanya kedua jenis manusia ini akan bersegera memenuhi panggilan, manakala yang memanggil adalah manusia (presiden-nya, atasan-nya, kekasih hati-nya dst). Sementara panggilan ALLAH yang selama ini tidak pernah berhenti mencurahkan Rahman dan Rahim-Nya justru diabaikan atau tidak didengar sama sekali.

Surga Dunia di New York

Semoga ALLAH membukakan hati kita, manusia yang abai dan membukakan telinga manusia yang tuli.

Cak Imin December 28, 2008

Posted by merenung in Serba-serbi, Umum.
Tags: , ,
1 comment so far

Merasa sudah “pantas” memimpin partai besar, Cak Imin -pun mulai digadang-gadang untuk menjadi presiden negeri ini.

Bagaimana kurang pantas, melawan Gus Dur pun dia sudah menang. Sementara kita ingat, bagaimana Gus Dur serius mencap para anggota dewan terhormat negeri ini sebagai anak TK. Siapa bisa marah kala Gus Dur dengan sikap menyepelekan bilang “Gitu aja kok repot…!”. Saat Gus Dur tersinggung dan ingin mengeluarkan Dekrit (dia pikir gampang kali), semua komponen bahu membahu melawan dan menjatuhkannya dari kursinya sebagai presiden. Begitu banyak kekuatan yang perlu dikumpulkan untuk melawan seorang Gus Dur.

Sebaliknya Cak Imin dengan tenangnya meladeni permainan petak umpet perebutan tahta ketua partai (yang skalanya jauh lebih kecil dibandingkan tahta presiden) terbukti menang melawan Gus Dur. Tidak bisa diartikan bahwa Gus Dur tidak serius melawan, jika akhirnya Cak Imin diatas angin. Kita bisa lihat perjalanan perlawanan Cak Imin di media negeri ini. Terbukti dialah yang berhasil “melawan” dan “mengalahkan” Gus Dur, tanpa membuat Gus Dur dan pengikutnya kehilangan muka. Ini hebatnya Cak Imin.

Dan kalau sekarang dia digadang-gadang untuk menjadi presiden negeri ini, tentu bukan tanpa alasan. Mengalahkan Gus Dur yang susahnya seperti itu saja bisa, apalagi mengendalikan negeri ini yang wakil-wakil seluruh rakyatnya saja tidak mampu melawan Gus Dur. Mengalahkan biangnya saja bisa, kenapa sulit mengendalikan orang-orang yang kewalahan melawan biang ini apalagi kroco-kroconya. Logika sederhana yang kita lihat sebagai fakta.

Cak Imin for President

Cak Imin for President

Sambil tersenyum geli, aku ambil foto banner pencalonan Cak Imin di salah satu jalan arteri Jakarta Selatan. Bangsa ini jadi semakin banyak pilihan. Mau milih pencipta lagu, artis sinetron, politikus banyak bicara, penulis buku, pedagang atau Cak Imin (yang sukses melawan dan “mengalahkan” Gus Dur)?

Selamat Cak Imin, walaupun aku sama sekali bukan pendukungmu (bahkan terfikir untuk mendukungpun tidak), tetapi kamu sudah mengalahkan mitos negeri ini.

Menjaga Pandangan December 28, 2008

Posted by merenung in Kehidupan, Umum.
Tags: , , ,
add a comment

Suatu masa, saat membincangkan bagaimana Lia Eden tergoda untuk meyakini bahwa Malaikat Jibril telah merasukinya, kawan seperjalanan menuturkan nasihatnya.

Untuk dapat menghindarkan diri dari godaan syaitan (yang memang sudah menjadi tekadnya untuk menjerumuskan manusia) ada beberapa hal yang perlu untuk dijalankan dalam kehidupan keseharian.

Beberapa hal tersebut adalah;

1. Memelihara wudhu; yang artinya selalu mengambil wudhu saat batal walaupun tidak dalam keadaan hendak melaksanakan sholat.
2. Takbiratul ula; yang artinya selalu mengikuti sholah berjama’ah di masjid sejak rakaat pertama (maksudnya tidak terlambat).
3. Berzikir; selalu berzikir. Saat luang setelah sholat subuh dan asr, kedua sholat ini tidak ada sunnah ba’diyah dapat dimanfaatkan untuk zikir.
4. Membaca Qur’an; dianjurkan untuk menghabiskan 1 juz setiap hari.
5. Puasa Sunnah; puasa Senin Kamis dan 3 hari tengah bulan.
6. Menjaga Pandangan;

Untuk yang nomor 6 ini, kawanku mengkomentarinya kira-kira seperti ini:
“Yang ini susah nih, karena kita laki-laki. Biasanya sulit untuk menundukkan pandangan kalau melihat wanita cantik”.

Aku sedikit menyanggah pendapatnya untuk nomor 6 ini.

Walau yang nomor 6 ini memang sulit disadari. Kalau batal wudhu, telat jama’ah di masjid, lupa zikir, tidak baca Qur’an dan puasa, pastilah kita sadar dan mengetahuinya dengan mudah. Tetapi menjaga pandangan, ini bukan perkara mudah untuk diketahui apalagi sadar.

Menjaga pandangan itu bukan hanya menjaga mata melihat wanita cantik  (atau pria ganteng bagi para wanita). Melainkan justru menjaga pandangan kita dari hal-hal kebendaan (duniawi) yang tidak pernah disadari akan membunuh rasa bersyukur kita.

dunya
Pesona Kebendaan Membunuh Rasa Syukur

Aku memberikan contoh yang sederhana yang terjadi pada diriku sendiri. Saat melihat orang lain mengeluarkan BlackBerry dari kantongnya, kontan saja aku terpikir untuk membelinya. Pasalnya uangpun ada. Apalagi makin hari semakin marak orang banyak mengantongi produk yang satu ini. Operatorpun menggoda dengan berbagai macam paket kemudahan untuk memilikinya, hingga kita tidak punya alasan untuk tidak membelinya. Harga murah, bisa dicicil, fasilitas on line terus-terusan, lalu apalagi yang ditunggu. Hilang sudah ruang bagi logika untuk mempertimbangkan. Masih adakah sisa di dalam hati kita untuk bersyukur?

Beberapa detik hawa nafsu kebendaan itu menjilati akal, logika mulai bertanya tentang amal shaleh apa yang akan didapat kala memiliki benda itu. Fasilitas on line terus-terusan akan membuatku memiliki akses internet tanpa batas, akses ke beberapa email secara simultan, akses-akses lain yang akan menyeret dan menyibukkanku  kedalam dunia “lain”. Akan aku manfaatkan untuk keperluan apa, benda ini? Atau justru aku yang akan dimanfaatkan oleh produk teknologi ini.

Banyak hal lain yang dapat dijadikan contoh menjaga pandangan. Kita melihat orang lain lebih beruntung, lebih pandai dari kita, lebih kaya dari kita, lebih senang dari kita. Kita hidup lebih miskin dari orang lain, mobil kita lebih jelek dari mobil orang lain, rumah kita lebih kecil dari orang lain, gaji kita lebih rendah dari orang lain, karir kita lebih buruk dari oeang lain. Dan seterusnya-dan seterusnya. Kita lupa bahwa masih lebih banyak penduduk dunia yang jauh lebih tidak beruntung dibandingkan kita. Kita menjadi lupa bersyukur, saat tidak menjaga pandangan.

Menurut pendapatku menjaga pandangan itu untuk tidak mengarahkan pandangan kepada hal yang dapat membangkitkan hawa nafsu kebendaan (duniawi). Tentu saja hawa nafsu kebendaan (duniawi) manjadi terlalu dangkal jika dikaitkan hanya dengan persoalan sex belaka, lelaki kepada wanita atau sebaliknya.

Semoga ALLAH SWT selalu memberikan kekuatan agar kita selalu dapat menjaga pandangan kita.

Keuntungan atau Keserakahan December 26, 2008

Posted by merenung in Jum'at, Umum.
Tags: ,
add a comment

minyak_jatuh

Jika membaca berita tentang kenaikan dan penurunan harga minyak dunia USD 133 sampai USD 33 per barel, sampat juga terpikir apakah ini sekedar bentuk mengambil keuntungan ataukah bentuk keserakahan. Perniagaan yang digambarkan dalam beberapa ayat Qur’an, seolah tidak tercerminkan dalam laku dunia.

albaqarah245
Al-Baqarah (2): 245;
Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.

faathir29
Fathir (35): 29;
Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi,

albaqarah261
Al-Baqarah (2): 261;
Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.

Perbedaan harga sedemikian tajam dalam satu tahun hingga lebih dari USD 100 per barel memang membuat kalang kabut para penghasil minyak. Sekaligus ini juga menunjukkan seberapa besar keuntungan yang mereka nikmati. Lalu kemana dan untuk apakah keuntungan itu? Apakah mereka belanjakan untuk perniagaan sebagaimana Qur’an perintahkan? Pasar menjelma menjadi agama baru.Perniagaan dengan ALLAH dicampakkan untuk menggapai perniagaan penuh kenikmatan dan memuaskan keserakahan.

chart
Manakala harga minyak sedemikian jatuh, sementara pemerintah seakan enggan bersegera menurunkan harga minyak dalam negeri. Bagaikan telah lupa bagaimana mereka bersegera menaikkannya saat harga minyak dunia meroket tajam. Apakah ini bentuk dari pengambilan keuntungan atau sekedar wujud keserakahan belaka. Sesak dada rakyat kecil menunggu harga minyak yang disesuaikan dengan perhitungan politik, sementara gelombang PHK mulai mendekat.

Bangsa Sinetron December 24, 2008

Posted by merenung in Umum.
Tags: , , ,
add a comment

Kali ini artis Dicky Chandra memenangi Pilkada Garut dan bakal menjadi Wakil Bupati Garut. Fenomena artis menjadi pejabat, baik eksekutif maupun legislatif memang sedang menjadi trend di negeri ini. Hukum ALLAH memang tidak dapat diubah-ubah. Belum dan mungkin tidak akan pernah kita mendengar rombongan kuda dipimpin oleh singa, sebagaimana tidak ada rombongan salmon dipimpin oleh lumba-lumba.

dickychandra

Pemimpin yang dipilih oleh rakyat pastilah menggambarkan rakyat itu sendiri. Kalau pemimpinnya seorang yang bijak, amanah dan sayang pada rakyatnya, maka dapat dipastikan kebanyakan rakyatnya adalah orang-orang yang bijak, amanah dan penuh kasih sayang.

Saat para pemimpin yang terpilih adalah orang-orang yang populer pandai berperan (pelakon sandiwara) di sinetron, maka pemilihnya memang lah penggemar sinetron.

Siap-siaplah para politisi yang pandai berbicara. Jangan-jangan bangsa ini sedang memasuki fase bangsa sinetron. Pelakon sinetron pasti lebih laku dibanding pembicara, saat fase bangsa NATO (no action talk only) telah lewat. Menjaring artis sebagai pendamping menjadi pilihan paling rasional karena mereka lebih dapat menghibur dibandingkan janji-janji surga yang selama ini telah bosan rakyat mendengarnya.

Sinetron telah terbukti nyata menghibur.

Ingatlah Rasulullah SAW December 21, 2008

Posted by merenung in Serba-serbi, Umum.
Tags: , , , ,
add a comment

Membaca berita minggu lalu tentang ditangkapnya Lia Aminudin gara-gara fatwanya kepada pemerintah, dalam hal ini Presiden SBY, untuk menghapus semua agama dan menjadikannya satu agama saja, memang memprihatinkan. Perasaan yang semula sebel berubah menjadi lucu yang kemudian malah cenderung kasihan. Jika direnungkan, sangat mungkin orang tergelincir pada kesesatan, walaupun menurut yang kuanggap sesat tetap merasa benar. Aku mencoba mensimulasikan situasi bathin Lia Eden, demikian dia lebih dikenal, dan mencoba menanyakannya kepada beberapa teman di lingkunganku. Sebagian besar memang menjadi tersesat.

Kepada mereka aku menanyakan, apakah mereka mengetahui berita dan cerita tentang Lia Eden ini. Sebagian besar menjawab mengetahui, kecuali satu teman wanita yang kurang mengikuti berita. Kepada mereka aku berikan pertanyaan, dengan pembuka seperti ini;

“Jika pada suatu malam, sekitar jam sepuluh malam, dimana semua orang rumahmu sudah terlelap tidur dan kamu mendengar ada yang mengetuk pintu. Kamu kemudian beranjak membuka pintu dan ternyata diluar telah berdiri seseorang dengan pakaian jubah dan sorban putih, tampan berwibawa membuatnya seolah putih bersinar. Dan ketika kamu menanyakan siapa dan ada keperluan apa, lelaki ini menjawab bahwa dia adalah malaikat Jibril yang datang karena diperintahkan untuk menemui kamu. Singkat kata, Malaikat Jibril menyampaikan bahwa dia diperintahkan untuk menyampaikan wahyu kepada kamu untuk kamu sebar luaskan kepada umat manusia.”
Dalam kondisi sedikit shock karena tidak menduga, Malaikat Jibril yang semula ada di hadapannya, perlahan-lahan lenyap tidak berbekas. Sambil berucap “Aku menanti jawabanmu.”

Pertanyaan yang aku ajukan kepada mereka, “Apa yang akan kamu lakukan, setelah Malaikat Jibril lenyap dari pandanganmu?”
Coba tanyakan kepada diri sendiri, apa yang anda lakukan.

Umumnya mereka menjawab, “Aku langsung mengambil wudhu dan sholat menenangkan diri seraya meminta petunjuk kepada ALLAH.”

Malam berikutnya Malaikat Jibril kembali datang dan menanyakan kesiapan kamu untuk menerima wahyu dari ALLAH.

Aku kembali bertanya, “Apa yang akan kamu lakukan?”

Umumnya mereka kembali akan meminta petunjuk ALLAH dengan segala macam sholat sunnah. Intinya adalah untuk meminta kemantapan hati untuk menerima atau menolak tawaran Malaikan Jibril itu.

Jika kemudian aku bertanya, “Setiap malam Malaikat Jibril mendatangi kamu dan meminta jawaban akan kesiapan kamu. Terus menerus berbilang minggu, bulan dan tahun. Lalu apa yang akan kamu lakukan?”

Sebagian besar kemudian menjawab; “Jika memang ALLAH telah menetapkan, aku siap untuk menjalankan amanah untuk menyampaikan wahyu”, yang intinya menerima tawaran Malaikat Jibril karena menganggap mereka adalah orang yang dipilih untuk tugas itu.

muhammad1

Sampai disini aku langsung sampaikan, seperti itulah mungkin Lia Eden tersesat, karena keyakinannya bahwa dia telah dipilih.

Umumnya mereka terperangah dan balik bertanya; “Lalu bagaimana seharusnya?”

Apakah kamu masih ingat Rukun Islam yang pertama?
Syahadat “Asyhadu An-Laa Ilâha Illallâh wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullâh”

Bukankah bersaksi Muhammad adalah Rasul ALLAH mengandung konsekuensi bahwa Baginda Muhammad SAW diyakini sebagai Nabi yang terakhir.
Kalau kita yakin bahwa Raulullah SAW adalah yang terakhir, mengapa kita bingung saat ditawari menerima wahyu.
Bukankah dengan mudah kita bisa sampaikan kepada Malaikat Jibril, bahwa kita meyakini Baginda Muhammad SAW adalah Nabi yang terakhir dan kita adalah pengikutnya. Kita persilahkan saja Malaikat Jibril untuk mencari orang lain yang belum atau tidak meyakini bahwa Rasulullah adalah Nabi terakhir dan bersedia menerima wahyu untuk menjadi nabi berikutnya. Malaikat Jibril (pasti bukan) tentu mengetahui bahwa Rasulullah adalah Nabi yang terkakhir. Pastilah dia tidak akan merasa ditolak dan menganggap kamu orang yang sombong atau bodoh karena tidak mau menerima tawarannya.

Orang-orang cenderung melihat dirinya sendiri dan lupa kepada Rasulullah SAW. Dari kecenderungan itulah iblis masuk dan menyesatkan kita.

Karenanya, biasakanlah mengingat Rasulullah SAW dengan selalu membaca salawat untuk mengiringi zikr kita kepada ALLAH SWT.
Semoga kita selalu diberikan kekuatan dan petunjuk untuk selalu istiqamah dengan keimanan dan syariah kita.

Istimewakan Hari Jum’at December 19, 2008

Posted by merenung in Jum'at.
Tags: , ,
1 comment so far

Dua hari lalu, seorang sahabat bertanya pendapatku tentang sholat Jum’at. Pasalnya dia akan bepergian ke luar negeri menghabiskan akhir tahun disana.

Sambil mencari-cari jawaban di google, sahabat itu bertanya: “Apa yang memperbolehkan kita meninggalkan sholat Jum’at?“. Aku yang memang sudah mulai meraba arah pertanyaannya balik bertanya: “Mengapa hanya karena berada di luar negeri dan musyafir lalu langsung memutuskan untuk meninggalkan ibadah utama?”
Lho kan memang kita diperbolehkan. lagi pula kalau kemudahan tidak kita pergunakan, ALLAH marah karena kita sombong“, sanggahnya. “Kalau musyafir kan boleh jama’ qasar misalnya“, lanjutnya memberi contoh untuk menekankan pembenaran. “Memangnya kamu rencanan akan berada dimana, saat itu?”, tanyaku penasaran.
Sahabatku menyebutkan satu tempat dimana aku pernah juga berkesempatan ke tempat itu dan rasanya memang akan sulit mencari jama’ah shalat Jum’at.

Karena memang sudah biasa dan yakin bahwa agama yang aku anut ini sangat logik, maka aku menjawab dengan logika saja. “ALLAH itu pencemburu“. (nyaris tidak ada hubungan dengan persoalan itu)
Walaupun ALLAH memberikan keringanan kepada kita, tetapi tidak membuat ALLAH lantas marah jika kita tidak memanfaatkannya disebabkan kita memuliakanNya. Kalau yang dinilai oleh ALLAH dari suatu amal adalah niatnya, maka ALLAH akan menilai niat sahabatku ini untuk meninggalkan sholat Jum’at-nya. Kemudian, agar tidak berdosa, maka dicarilah justifikasinya. Tetap saja niat awalnya adalah untuk meninggalkan sholat Jum’at-nya dan itu yang dicatat.

Menurutku ada dua pilihan. Yang pertama, cari informasi sebanyak-banyaknya tempat jama’ah sholat Jum’at di sekitar tempat itu. Dan ini mungkin cukup sulit. Tetapi jika pilihan ini yang kita ambil, maka ALLAH mencatat niat kita untuk menjalankan sholat Jum’at, tetapi kita tidak berhasil menemukan jama’ah. Niatnya tercatat sebagai sholat Jum’at. Yang kedua, tunda acara hari itu sampai dengan selesai sholat Jum’at (yang mungkin lebih mudah untuk mencari jama’ah sholat Jum’at karena banyak waktu). Setelah sholat acara bisa dilanjutkan. Bagiku, ALLAH akan mencatat bukan hanya niat sholat Jum’at-nya saja, tetapi juga niat untuk mengistimewakan sholat Jum’at dengan mengorbankan acara yang telah disusunnya hanya karena ALLAH. Apakah ALLAH akan marah hanya karena kemudahan yang diberikan ALLAH tidak kita manfaatkan. Aku rasa tidak seperti itu.

Memang banyak pendapat yang mirip-mirip seperti itu dan aku sama sekali tidak sependapat, seperti;
“Sudah diberi kemudahan ALLAH mengapa kita tidak manfaatkan?”, umumnya dipakai untuk meninggalkan sesuatu seperti contoh diatas.
“ALLAH Maha Perkasa, jadi tidak perlu dibela”, umumnya dipakai menjustifikasi kelemahan (karena takut).
“Yang menjaga Islam dan Al Qur’an itu ALLAH”, ya…umumnya karena takut juga.
“Rasulullah SAW tidak menjadi hina karena diolok-olok dengan gambar kartun yang melecehkan Beliau”, ya……sama takut juga.
“Bukankah memang dibolehkan dan mengikuti sunnah Rasul..?”, yang ini biasanya kalo ada kawan ngebet pengen kawin lagi.

Sahabatku memilih alternatif ke dua, dengan menunda acaranya sampai selesai sholat Jum’at. Alhamdulillah, semoga ALLAH Yang Maha Pemurah membalas amal shaleh sahabatku ini. Semoga ALLAH memberikan keselamatan dan kemudahan dalam perjalanan wisata akhir tahunnya. Amin

Wejangan Abah December 17, 2008

Posted by merenung in Umum.
Tags: , , ,
1 comment so far

Koi Kolam Samping

Koi Kolam Samping

Abah, begitu biasa kakak sepupu memanggilnya. Diperkenalkan kepadaku hari Sabtu saat dia menghadiri resepsi pernikahan salah satu keponakanku. Pakaian celana panjang menggantung, baju gamis dan topi putih dengan tas terbuat dari kain biasa berwarna putih menjadi sangat terlihat terlalu sederhana dalam upacara adat perkawinan mewah itu.

Di ruang tamu gedung Balai Sudirman, banyak wejangan yang Abah sampaikan kepadaku. Semuanya mengenai manajemen hati. Salah satu yang masih menempel di kepalaku  adalah saat aku menyampaikan hal tulisanku “Miskin: Haram dalam Islam”, sementara menurut sepupuku Abah berpaham “Kaya itu wajib dalam Islam”. Sesuatu yang sepintas hampir sama. Itu pula mengapa aku penasaran menanyakan pendapatnya.

Kalau Miskin itu Haram dalam Islam, dia memang tidak sependapat. Tetapi ternyata “kaya” seperti apa yang wajib didalam Islam itu memang tidak seperti “kaya” yang kita lihat di sekeliling kita. Dicontohkan bahwa Rasulullah SAW seolah memiliki banyak sekali harta yang tersimpan di ATM Beliau di “atas langit” (begitu diumpamakan). Setiap beliau memerlukan, tinggal “pencet PIN” maka “ALLAH turunkan dari langit” (perumpamaan) apa yang hendak Rasulullah SAW belanjakan (pasti) di jalan ALLAH. Jadi Rasulullah memang “kaya” dalam arti banyak “membelanjakan hartanya dijalan ALLAH”. Membeli binatang ternak untuk di sembelih sebagai qurban, membeli baju besi untuk berperang dan seterusnya. Jadi salah apabila “kaya”-nya Rasulullah SAW tersebut dibayangkan dengan memiliki dan menumpuk hartanya. Faktanya saat-saat terakhir Beliau meminta agar sisa uang yang dimilikinya dipakai untuk membayar (sedikit) hutang Beliau. Tidak ada keberlimpahan harta dan tidak ada kemewahan dari Rasulullah SAW.

Pesan Abah; “Kalau sedang menanjak, sukses, janganlah dipamerkan (diperlihatkan), karena akan menebar kebencian. Demikian pula jika sedang terpuruk jangan pula diceritakan, karena akan menyebar duka”. Kalau punya banyak uang, simpanlah di ATM dan belanjakanlah di jalan ALLAH. Bukan dibelanjakan untuk mengangkat status sosial atau malah sengaja dipamer-pamerkan. Seolah ALLAH begitu mencintai sehingga melimpahkan harta yang banyak untuk diperlihatkan (dipamerkan).

Aku jadi semakin yakin bahwa gambaran pembayaran mahar Rasulullah SAW saat beliau menikahi Khadijah ra binti Khuwailid, berupa 20 ekor unta muda, 12 uqiyah emas (1 uqiyah sekitar 40 dirham syar’i; 1 dirham syar’i sekitar 3,770 gram), bukanlah berasal dari harta beliau yang berlimpah ruah. Sangat mungkin semua itu berupa hadiah dari para sahabat beliau yang kaya, sebagai ungkapan turut berbahagia. Semacam kado atau amplop perkawinan jaman sekarang. Aku sangat yakin bahwa Rasulullah SAW dijaga oleh ALLAH dari celah-celah fitnah hidup mewah semacam ini. Sebagaimana fitnah-fitnah lain semacam Rasulullah SAW digambarkan sebagai orang tua yang menikahi Aisyah ra seorang anak kecil berusia 7 tahun. Fitnah yang sangat tidak masuk akal, paling tidak bagi akalku. Faktanya Rasulullah SAW menikahi Aisyah ra. pada usia yang cukup dewasa. Bukan anak kecil 7, 8 atau 9 tahun.

Keesokan harinya, hari Minggu jam setengah enam pagi, telpon rumahku berdering. Menyampaikan pesan bahwa Abah ingin sarapan pagi di rumahku, dan sebentar lagi sudah akan sampai di rumahku. Ditemani kakak-kakak dan ponakanku, mereka aku suguhi pecel madiun dan nasi liwet. Makanan yang gampang didapat disekitar rumahku.

Saat sarapan, sempat Abah berpesan menanggapi bunga yang terlihat di samping rumah. “Semakin harmonis isi rumah ini, maka akan semakin banyak bunga yang akan mekar. Karena sesungguhnya mereka hidup dan meresponse lingkungannya. Jadi dari kitalah (sambil menunjuk dadanya) bunga-bunga itu kita pancing keluar”. Begitu ujarnya kepadaku yang duduk disampingnya.

Sambil bergegas keluar rumah menuju mobil setelah selesai sarapan, Abah terus berucap “Indah sekali……indah sekali”, sambil tersenyum kepadaku. Walau aku tidak mengerti apa arti dari ucapannya di pagi yang sangat cerah itu, aku membalas dengan “Matur nuwun rawuh ipun” (terima kasih atas kunjungannya). Mobilpun meluncur ke Bandara untuk mengejar pesawat yang akan membawanya ke Yogyakarta untuk pulang ke Pondok-nya di Prambanan. Tempat ditepi bukit yang tenang, demikian Abah menggambarkan.

“Kalau ada waktu, mampir ke Pondok saya di Prambanan”, ujar Abah mengulang-ulang undangannya. “Insya ALLAH Bah”, sahutku sungguh-sungguh.

Lemparan Bagus Tapi Meleset December 15, 2008

Posted by merenung in Umum.
Tags: , ,
2 comments

Walau gagal mengenai sasarannya. Tetapi lemparan itu sangat berarti. Baik untuk menunjukkan kepada dunia bahwa perlawanan itu masih ada, walau dalam bentuk yang (mungkin) tidak berarti. Tatapi tetap saja menunjukkan perlawanan.

Semoga menjadi amal shaleh bagi pelakunya.

Miskin: Haram dalam Islam (?) December 7, 2008

Posted by merenung in Umum.
Tags: , , , , , ,
1 comment so far
Haram dalam Islam

Pintar juga orang menarik perhatian. Majalah Kubah Emas Edisi 5 Desember 2008 menulis “Miskin: Haram dalam Islam”. Tetapi itulah sebuah judul, memang seharusnya dibuat agar orang menjadi penasaran dan paling tidak tertarik untuk membaca. Atas dasar logika apa Islam mengharamkan kemiskinan? Bukankah ALLAH SWT Yang Maha Kaya itu pula yang menetapkan rizki masing-masing mahluknya. Dan seterusnya, dan seterusnya.

Tetapi setelah membaca isinya, kesan yang tertangkap justru keunikan “kekayaan” Rasulullah Yang Dimuliakan oleh ALLAH itu.

Salah satu tulisan sebagai contoh.

konglomerat

Coba baca sepintas judul “Konglomerat itu Muhammad SAW”, di halaman 24 – 27. Judulnya saja sudah sangat berkesan mewah.

Dimulai dengan kalimat pembuka “Orang lebih mengenal sosok Muhammad SAW sebagai seorang Rasul yang hidup sangat sederhana. Padahal sebelum menjadi utusan ALLAH, beliau merupakan entrepreneur (pengusaha) sukses. Bahkan profesinya sebagai pedagang, lebih lama dibanding masa kerasulannya. Andapun mungkin terkejut bila sejarah ternyata mencatat Rasulullah SAW juga seorang kaya raya dengan harta berlimpah”.

Aku yakin orang akan tersesat dengan kalimat-kalimat yang digambarkan itu. Kalimat yang menunjukan Rasulullah SAW menjadi pengusaha sukses dalam kurun waktu yang lebih lama dari masa kerasulan Beliau dengan keadaan kaya raya dan harta yang berlimpah.

Tulisan menggiring kita pada pemahaman bagaimana Rasulullah SAW menjadi pebisnis yang terpercaya sehingga direkrut oleh pengusaha kaya Makkah, Khadijah ra binti Khuwailid. Yang selanjutnya dijalani dengan kesuksesan demi kesuksesan, sampai dengan pembayaran mahar Beliau ketika menikahi Khadijah ra binti Khuwailid berupa 20 ekor unta muda, 12 uqiyah emas (1 uqiyah sekitar 40 dirham syar’i; 1 dirham syar’i sekitar 3,770 gram). Menggambarkan jumlah yang sangat besar apabila dikonversikan dengan mata uang dan keadaan sekarang.

Sekali lagi imajinasi kita digiring ke arah kesuksesan, kekaya-rayaan bahkan kemewahan Beliau. Tolong dicatat itu tidak termasuk pengambaran “poligami”, karena kenyataan menggambarkan semasa itu beliau hanya memiliki satu orang istri, Khadijah ra binti Khuwailid saja.

Sampai disini, pertanyaan yang ada di dalam benak adalah, kehidupan Beliau semasa sebelum kerasulan ataukah kehidupan setelah masa kerasulan Beliau yang hendak kita teladani? Aku tinggalkan sejenak pertanyaan ini dan meneruskan penelusuran cerita tentang kekayaan Beliau.

Setelah Beliau menikahi Khadijah binti Khuwailid, maka dapat dibayangkan gabungan limpahan kekayaan yang Mereka miliki. Tentu saja logika akan menggiring ke pemahaman arah itu.

Tetapi pada masa kerasulan Beliau, bahkan masa menjelang kerasulan, saat beliau sering kali menyendiri pergi ke gua Hira, tidaklah menggambarkan kelimpahan kekaya-rayaan kehidupan beliau. Masa kerasulan dimana digambarkan harta Rasulullah adalah “Pertama fai’ (harta benda) yang diberikan kepada beliau dan kaum muslimin, tanpa melewati pertempuran. Harta ini misalnya didapat dari Bani Nazdir yang mengingkari pakta perdamaian Madinah. Mereka memohon jaminan keselamatan untuk meninggalkan Madinah dengan memberikan fai’. Kedua al-shafi, yaitu harta yang dipilih Rasulullah dari ghanimah (rampasan perang) sebelum dibagikan. Dan ketiga al-sahm, yaitu beberapa bagian diluar seperlima yang merupakan hak Rasulullah.” (halaman 26)

Walaupun tulisan masih menggambarkan kelimpahan harta kekayaan di masa kerasulan, seperti di halaman 24:

Hadiah dari Muqaiqis, penguasa Mesir, yang menghadiahkan tiga hamba sahaya, 20 potong baju pembesar, umamah (penutup kepala laki-laki), serta beberapa keledai dan kuda. Dari hadiah itu Muhammad SAW memberi Hatib bin Abi-Balta 100 dinar dan lima potong baju.

Al-Haris bin Syamr al-Ghassani juga pernah menghadiahkan kepada Muhammad SAW 100 gram emas dan sejumlah pakaian. Sebaliknya Rasulullah SAW pernah memberi hadiah kepada beberapa penguasa, seperti kepada gubernur Kisra di Yaman berupa emas dan perak. Beliau juga mempunyai kekayaan tanah di Fadak (daerah pemerintahan otonomi Yahudi di Hijaz) pemberian kaum Yahudi Fadak.

Tetapi kelanjutan tulisan itu menjadi sangat kontradiktif didalam logika berfikirku. Begini yang tertulis di halaman 27:

Muhammad SAW banyak menggunakan harta kekayaannya di jalan ALLAH, seperti menyantuni fakir miskin, anak yatim dan proyek sosial lain. Alibatnya harta kekayaannyapun sedikit demi sedikit berkurang. Bahkan dalam beberapa riwayat disebutkan beliau tidak menyimpan kekayaan di rumah dan barang-barang yang ditemui di rumahnya hanya beberapa peralatan masak dan tikar untuk alas tidur.

Ketika kembali dari  Perang Hunain, Beliau juga disodori uang hasil rampasan perang. Beliau berkata “Letakkan uang itu di masjid”, dan jumlah uang itu yang terbanyak yang pernah diterimanya. Kemudian beliau shalat di masjid itu, tanpa menoleh kepada uang tadi. Ketika beliau selesai shalat, Beliau duduk dekat uang itu dan memberikannya kepada setiap orang yang memintanya. Kemudian baru Beliau berdiri setelah uang itu habis.

Berapa yang diambil oleh Rasulullah SAW, nol besar. Tidak ada bagian sesedikit apapun yang diambil oleh Rasulullah SAW untuk keperluan apapun. Tidak ada sedikitpun. Nol Besar!

Masih dari halaman itu:

Dari suatu riwayat diceritakan, suatu ketika datang seorang kepada Beliau meminta sesuatu.  Oleh Beliau diberilah orang itu kambing yang banyak. Saking banyaknya sampai memenuhi jalan antara dua bukit. Lalu orang itu kembali kepada kaumnya dan berkata. “Masuk Islam-lah kamu sekalian. Sesungguhnya Muhammad bila memberi, dia seperti orang yang tidak takut miskin”.

Muhammad SAW dikabarkan juga pernah menerima 90.000 dirham. Kemudian uang itu diletakkannya di atas tikar. Lalu uang itu Beliau bagi-bagikan kepada orang banyak dan Beliau tidak menolak  permintaan siapapun yang meminta, sampai uang itu habis.

Berapa sisa uang yang beliau ambil dan miliki?  Nol, habis, tidak ada sisa.

Tulisan ini masih juga ingin menggambarkan Rasulullah SAW bergelimang dengan harta dengan menutupnya di halaman 27 itu sebagai berikut:

Sebagai sosok figur teladan, memang Muhammad SAW mempunyai keunikan tersendiri mengenai kekayaan. Maka tidak adil bila sementara ini banyak dari pemuka agama hanya mengemukakan kesedarhanaan / kemiskinan Beliau, karena Muhammad SAW pernah pula menjadi enterpreneur sukses dengan kekayaan yang berlimpah.
Setelah mengetahui catatan sejarah Muhammad SAW dari sisi lain, keputusan ditangan anda. Apakah anda terpacu untuk mencontoh beliau menjadi orang miskin atau orang kaya?

Memang unik “kekayaan” Rasulullah SAW. Tetapi apabila kehidupan Rasulullah SAW yang sesederhana itu dikatakan kaya raya bergelimang harta menurutkan sangatlah keliru. Tidak ada sisa harta yang diwariskan oleh Rasulullah SAW kepada keturunan maupun umatnya berupa harta. Tidak seperti candi Borobudur, Prambanan atau Piramid warisan Firaun yang hidup jauh sebelum Rasulullah SAW. Kenapa tidak ada sisa warisan harta itu? Apakah keturunan Rasulullah SAW Yang Dimuliakan ALLAH SWT menghabiskan sisa harta warisan Rasulullah SAW?

Kalaupun ada orang yang saat ini berlaku seperti Rasulullah SAW dengan menghabiskan kekaya-rayaannya di jalan ALLAH, tidaklah mungkin dia bergelimang harta dan rasanya tidak mungkin pula saat ini orang memandangnya sebagai orang kaya, enterpreneur sukses atau konglomerat seperti judul tulisan diatas. Pastilah dia disebut orang sederhana yang bersahaja. Sebutan yang lebih beruntung untuk tidak dikatakan sok dermawan, sok miskin, fanatik, ekstrimis bahkan teroris. Karena kaya raya, enterpreneur sukses atau konglomerat selalu saja berhubungan dengan kepemilikan jumlah (banyak dan besarnya) properti, rumah mewah, kendaraan mewah dan seterusnya. Selalu saja dilambangkan dengan emas, berlian, saham, dolar dan seterusnya.

Menurut pendapatku Rasulullah SAW bersama nabi-nabi pendahulu lainnya yang kebanyakan mempunyai Bendahara untuk mengatur “harta” bukanlah manusia-manusia biasa yang menikmati gelimangan harta dan hidup kaya raya. Mungkin hanya Nabi Sulaiman AS saja lah yang memang seorang raja (bangsawan) yang dapat dikatakan kaya raya, tetapi bukanlah seorang konglomerat apalagi enterpreneur sukses.

Kaya raya hidup mewah bergelimang harta, menurut pendapatku bukanlah yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Rasulullah SAW mencontohkan kesederhanaan dan rasa tidak memiliki apalagi mencintai “dunia”. Dan miskin menurutku bukanlah sesuatu yang haram didalam Islam, seperti judul diatas. Sebagaimana kaya bukanlah sesuatu yang wajib atau haram di dalam Islam.

Beberapa tulisanku tentang kekayaan:

Kaya Atau Miskin
At-Takaatsur
Ilmu dan / atau Harta

Hanya ALLAH Yang Maha Mengetahui.