Genk Sekolah? Mau Kemana? January 30, 2009
Posted by merenung in Serba-serbi, Umum.Tags: genk, polisi, sekolah, tawuran
1 comment so far
Hari itu, Jum’at 16 Januari 2009. Ba’da magrib panggilan masuk cellphone saat itu aku menunggu akan pijat refleksi. Suara istriku diseberang sana memberitahu kalau anak lelaki-ku (anak nomor dua) ditangkap polisi. Semula aku agak terkejut, karena penyebabnya adalah tawuran anak sekolah. Tempat tawuranpun cukup jauh dari lokasi sekolah anakku. Tentu saja persepsi menyeret ke arah anakku yang salah karena menyerang anak sekolah lain. Walau agak gundah, ternyata istriku telah datang dan menyelesaikan proses di kantor polisi itu, hingga anakku dilepaskan dan diperbolehkan pulang. Tiga orang guru sekolah dan keempat orang tua murid kawan dari anakku ikut dalam proses itu.
Sampai di rumah malam itu aku sudah sempat mengatur emosi dan memutuskan untuk tidak marah. Lagi pula anakku tidak ditahan oleh polisi. Aku tanyakan apakah sempat terjadi perkelahian, ternyata ceritanya agak lucu. Dan untuk itu tidak habis-habisnya aku mensyukuri apa yang terjadi. Peristiwa itu sungguh sangat membantu aku dan bermanfaat bagi anakku.
Konon dari cerita yang aku terima, siang itu anakku menerima telepon dari salah seorang temannya yang memberitahu bahwa dia dikeroyok oleh anak sekolah lain. Kawan anakku itu, bersama kawan-kawan lainnya sedang dalam perjalanan dengan kendaraan umum untuk nonton pertandingan basket antar sekolah. Entah mengapa seperti sudah tradisi, sepanjang jalur perjalanan kendaraan umum terdapat titik-titik temu ajang tawuran. Di jalur yang dilalui memang terdapat beberapa sekolah (SMA) yang seolah enggan membiarkan anak sekolah lain lewat tanpa gangguan. Sampai sekarangpun apa yang menjadi pemicu perkelahian itu tidaklah jelas.
Mendengar berita seperti itu anakku langsung berinisiatif menolong dengan mengajak empat orang kawan lainnya. Berlima mereka berangkat menggunakan microbus umum menuju lokasi. Turun dari microbus hp kawan anakku berdering, ternyata anak yang tadi menelpon memberi tahu bahwa perkelahian sudah selesai dan dia sedang diantar polisi pulang ke rumah. Batal membantu kawannya, mereka menuju mini-market untuk membeli minuman. Dengan alasan lapar dan belum makan, mereka berjalan mencari warung untuk mengisi perut. Sementara itu seorang polisi sedang berkeliling menyisir mengendarai sepeda motor, mungkin sudah prosedur standar pemeriksaan setelah kejadian seperti siang itu.
Kelima anak yang sedang berjalan ini tentu saja menarik perhatian satu orang polisi yang sedang bertugas menyisir. Berhenti dan bertanya darimana asal sekolah, kelima anak yang tidak punya pikiran macam-macam ini menjawab spontan nama asal sekolah mereka. Tentu saja ini menjadi semacam ‘pekerjaan’ bagi seorang polisi on duty seperti ini. Bukankah ini bisa menjadi penambah bahan prestasi pendongkrak pangkat. Bukankah sudah menjadi tugas mereka untuk mengantisipasi segala kemungkinan. Singkatnya kelima anak ini dibawa ke kantor polisi dekat lokasi untuk diproses.
Sekolah asal dikontak dan kelima orang tua murid dipanggil ke kantor polisi untuk membuat berita acara. Tuduhan yang dikenakan adalah ‘terlibat tawuran’. Tuduhan yang sangat aneh bagi orang awam, karena kelima anak ini bertemu pandang dengan musuhpun tidak. Apalagi bersentuhan dan berkelagi dengan mereka. Tuduhan yang sangat tidak masuk akal, tetapi harus diterima oleh semua pihak yang berada di kantor polisi itu. Konon semua sudah lelah berdebat, sementara polisi hanya akan melepaskan mereka jika berita acara yang dibuat ditanda tangani. Untuk ‘formalitas’ katanya.
Cerita itu masih belum membuatku percaya polisi gegabah menangkap mereka. Aku katakan tidak mungkin kepada anakku, bahwa polisi tidak akan melakukan itu. Barulah anakku mengaku bahwa di dalam tas-nya ditemukan gembok yang terikat di kepala ikat pinggang kulitnya. Seorang kawan lain telah buru-buru membuang senjatanya. Maklum polisi hanya satu orang, anakku tertangkap membawa senjata karena digeledah duluan. Saat aku tanya mengapa dia membawa barang semacam itu, dia menjawab untuk jaga-jaga. Jawaban standar yang konyol memang. Membantu kawan yang dikeroyok dan datang dengan tangan kosong tentu aneh, tetapi membawa senjata semacam itu memanng mungkin sudah cukup untuk mengatakan mereka bermaksud berkelahi.
Keesokan harinya, Sabtu 17 Januari 2009, sore itu aku melihat amplop panggilan dari sekolah sudah ada di rumah. Senin pagi aku diminta datang ke sekolah dengan hal undangan ‘Pelanggaran Tata Tertib’. Hal yang fatal dengan sangsi dikeluarkan dari sekolah. Walaupun aku adalah salah seorang alumni sekolah itu, tapi pengenaan pasal pelanggaran tata tertib membuat aku harus berbesar hati untuk menerima kenyataan, jika anakku harus dikeluarkan dari sekolahnya. Aku sampaikan kepada istriku dan anakku untuk siap menerima kenyataan dan mulai berfikir kemana dan bagaimana akan pindah.
Senin 19 Januari 2009, jam 08:00 aku sampai di sekolah dan sudah ada dua orang ibu yang datang terlebih dahulu menunggu proses. Kami diminta menunggu di ruang BP. Sementara bercakap-cakap dan menunggu kedatangan orang tua murid lainnya, dari mulut kedua orang tua kawanku terasa kesan seolah menyalahkan anakku yang membawa senjata di dalam tas sekolahnya. Kesan itu cukup kentara dengan menanyakan apakah aku mengetahui anakku mempunyai senjata itu. Seolah ingin mengatakan aku kurang mengawasi anakku sampai bisa menyimpan benda / senjata itu di dalam kamar atau rumahku. Beberapa pernyataan aku coba hentikan dengan menyampaikan, bahwa aku mengerti dan menerima kalau anakku mereka anggap biang kerok tertangkapnya anak-anak mereka.
Pagi itu Kapolda datang ke sekolah untuk menanyakan tindak lanjut dari ‘berita acara tawuran’ yang masuk dari salah satu ranting wilayah kewenangannya. Mungkin memang pagi itu Kapolda tidak ada acara lain hingga sempat datang mengurusi lima anak yang ‘terproses verbal’ tawuran, walau bertemu pandang dengan lawan apalagi berkelahipun tidak. Sangat membuang waktu untuk acara resmi seorang Kapolda, entahlah kalau Kapolda itu ternyata alumnus sekolah atau punya anak yang bersekolah di SMA itu. Tentu kedatangannya bukan lagi resmi, tetapi sudah agak pribadi.
Ternyata kami dipanggil satu per satu untuk menghadap Kepala Sekolah, Wakilnya, Wali Kelas murid yang bersangkutan dan beberapa guru Kesiswaan. Saat ibu yang pertama kembali dan memanggil orang tua berikutnya, kami mengetahui bahwa ternyata ibu itu sudah menanda tangani surat pernyataan skorsing selama satu bulan. Suatu pengenaan sangsi yang agak tergesa-gesa dan cukup gegabah. Karena ternyata orang tua murid yang terlibat tawuran, menjadi korban dan diantar polisi pulang ke rumah, anak yang menelpon dan menjadi awal segala kejadian yang melibatkan kelima anak ini tidak ada ditempat. Belakangan menjadi sangat mengherankan bahwa surat panggilan kepada orang tua anak ini-pun belum dilayangkan oleh sekolah. Sekolah seolah ingin cepat selesai dan cuci tangan dari ‘catatan’ polisi yang membukukan proses verbal kelima anak ini dengan menjatuhkan sangsi skorsing. Tanpa mengetahui langsung dari anak yang terlibat tawuran dan memproses dengan orang tua anak yang memang tawuran (bonyok-bonyok), mereka dengan mudah menjatuhkan sangsi kepada anak-anak konyol yang sedang apes berada di tempat dan waktu yang salah.
Singkatnya, kami, orang tua yang masih di luar ruang kantor Kepala Sekolah meminta masuk dan bertemu bersama-sama agar tidak terlalu lama mambuang waktu hanya untuk menerima sangsi sepihak yang dalam pandanganku kurang bijaksana karena tidak melibatkan semua pihak terkait secara menyeluruh. Alhasil setelah bicara panjang lebar yang intinya sekolah hanya berdalih dengan senjata Tata Tertib yang telah ditanda tangani punya satu jalan yaitu mengeluarkan anak dari sekolah. Dengan dalih ini, tentu sekolah menjadi sangat terlihat bijaksana apabila sangsi yang dikenakan tidak sampai mengeluarkan dari sekolah. Apalagi skorsing, walau mungkin sangsi itu akan memberatkan dan dapat berakibat anak tidak naik kelas. Logika yang sangat keliru dan sangat mempermudah persoalan. Bukan logika seorang pendidik.
Belakangan, SMA ini terkenal dengan genk sekolah yang dua tahun lalu beritanya muncul di semua media cetak dan elektronik karena kasus kekerasan. Search di google dengan mudah menemukan cerita-cerita sepak terjang mereka. Anggota genk ini menganiaya seorang anggota juniornya hingga cacat (patah tangan ?). Suatu tindakan yang sangat biadab untuk pelajar seusia mereka. Mungkin beberapa alumnus yang menjadi anggota genk itu membantah kekerasan dan perploncoan, tetapi faktanya itu turun-temurun terjadi. Hanya saja, semua junior tidak berani buka mulut untuk cerita. Ini pula yang mendasari guru tidak bertindak apa-apa, dengan dalih kurang bukti.
Jika agak jeli, sebagai contoh, suatu perhelatan yang menelan biaya setengah milyar (mungkin lebih) bisa diselenggarakan oleh anak-anak SMA itu tanpa restu dari sekolah (artinya sekolah tidak mengetahui dan bertanggung jawab atas penyelenggaraan acara itu), dapat dibayangkan cara pengumpulan dananya. Semua serba memaksa. Anak-anak junior sekolah ini dipaksa menjajakan bunga mawar seharga Rp. 25.000,- oleh seniornya dan apabila target tidak tercapai, mereka harus nombok dengan uang mereka sendiri. Konon ini budaya turun-temurun sejak budaya nge-genk mulai eksis. Budaya tekan dan paksa. Apakah tidak terlihat mencurigakan bagi guru, bagaimana pengumpulan dana dengan menjual mawar seperti ini. Sampai hari ini, masih ada sisa mawar di kulkas rumahku walau acara itu sudah berlangsung lama. Mawar bekas jualan anakku yang ditebusnya dengan uang saku. Suatu kegiatan penindasan yang membuang waktu dan biaya.
Anakku patah arang. Walau hanya di-skors seminggu, tapi dia sudah tidak mau lagi kembali ke sekolah. Selalu saja kakak-kakak kelas yang menjadi alasan utama mengapa dia enggan kembali ke sekolah itu. Sekolah dimana aku dan semua adik-adikku menimba ilmu dengan rasa suka cita. Sungguh, itu sekolah tempat aku dan adik-adikku belajar. Bahkan suami dan istri adik-adikku pun lulusan sekolah itu. Betapa sekolah itu menyenangkan bagi kami. Tetapi itu dulu. Sekarang, bisa ditanyakan kepada pada junior sekolah itu. Batapa mereka tertekan dengan tingkah polah kakak-kakak kelas yang terbiarkan secara turun temurun. Alih-alih menindak, guru malah cuci tangan dengan dalih tidak ada bukti. Suatu tindakan yang kurang cerdas yang diturunkan kepada anak-anak didik mereka. Pantas di negeri ini sangat sulit menangkap koruptor walau peringkat korupsi kita termasuk yang tertinggi di dunia. Ternyata semua karena sulit mencari bukti.
Apa yang terjadi dengan anak-anak yang tawuran itu. Penyebab munculnya persoalan ini. Satu orang anak apes yang “digebugin” dan sempat diproses polisi (artinya terbukti tawuran), dikenakan sangsi keluar dari sekolah. Gampang sekali memang menjalankan sangsi yang sudah tertulis. Bagaimana anak-anak lainnya yang juga ikut tawuran? Kembali, mungkin tidak ada bukti cukup, sehingga tidak ada tindakan konkret. Budaya itu akan terus berlanjut. Entah siapa yang akan menjadi korban dan entah sampai kapan. Entahlah.
Biadab zionis israel ! January 18, 2009
Posted by merenung in Kehidupan, Umum.Tags: biadab, israel, palestina, zionis
add a comment

Membaca berita hari ini, walau hati masih geram telah tersirat sedikit rasa lega. Kebiadaban zionis israel (semoga ALLAH melaknat mereka) berhenti sementara dengan diumumkannya gencatan senjata sejak pukul 2 dini hari waktu setempat.
Pernyataan perdana menteri israel ehud olmert seperti dikutip cnn, mengatakan
“Hamas has been dealt a very serious blow,” olmert said. “We can say that the conditions have been brought about that enable us to say that the aims that we laid down for the operation have been completely achieved.”
Tidakkah dapat dibaca apa yang sebenarnya mereka inginkan? Mahluk zionis haus darah ini hanya menginginkan pembunuhan dan penghancuran. Sementara sedikit-demi-sedikit mereka menggerogoti tanah-tanah warisan Bangsa Palestina untuk mereka jajah. Mereka inilah teroris yang sebenar-benarnya.

Apa yang terjadi di Gaza – Palestina saat ini, sudah pasti membawa dampak keburukan bagi Bangsa Palestina turun-temurun. Tetapi apakah tidak akan berdampak buruk bagi orang lain seperti Bangsa Indonesia yang kebetulan terletak berjauhan?
Di negara yang penduduknya mengaku mayoritas Muslim ini mempunyai pendapat yang beragam. Walaupun semua (mungkin) bersimpati terhadap penderitaan masyarakat Palestina, masyarakat Gaza pada umumnya, tetapi beberapa orang berpendapat berbeda. Secara terang-terangan di sebuah stasiun TV gus dur menyalahkan “gangguan Hamas” terhadap israel dengan tembakan-tembakan roket sebagai penyebab zionis laknat ini membantai lebih dari 1.000 manusia tanpa kesalahan, sebagian dari mereka adalah wanita dan anak-anak. Membuat cacat seumur hidup lebih dari 5.000 orang lainnya. Menghancurkan ribuan rumah, tempat tinggal dan masjid serta sarana pendukung lainnya. Dan yang pasti mereka menghancurkan hati lebih dari semilyar masyarakat Muslim dunia. Entah apakah tindakan zionis israel itu sepadan dengan alasan “gangguan Hamas” sebagai Bangsa Palestina pewaris tanah itu, hingga gus dur dengan gaya “gitu aja kok repot-nya” menyalahkan Hamas.

Bagi nyawa yang terenggut oleh perilaku laknat zionis israel, insya ALLAH, semoga syahid. Mereka akan menghuni syurga. Tempat persinggahan terakhir yang diidam-idamkan mahluk ciptaan ALLAH.
Al Baqarah: 154
“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.”
Ali Imran: 169
“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki.”
Ali Imran: 195
“Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman), “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik.”
Apa yang terjadi dengan kita yang masih hidup ini?
Apakah semua yang terjadi pada saudara-saudara Muslim Palestina ini tidak ada akibatnya pada kita. Apakah ALLAH tidak akan bertanya apa yang kita perbuat atas perbuatan biadab zionis israel itu?
Bukankah telah nyata apa yang dilakukan oleh zionis biadab selama ini. Dan kita semua diam atas semua itu.
A;-’Ankabuut: 64
“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.”

israel should NOT exist ! January 17, 2009
Posted by merenung in Umum.Tags: israel
add a comment
Watch this !
Menghina Nabi Versi Indonesia January 11, 2009
Posted by merenung in Serba-serbi, Umum.Tags: hina, komik, muhammad saw, nabi, zainab r.ha
add a comment
Seorang kawan meneruskan email asal dari salah satu milis yang diikutinya dengan subject Komik Menghina Nabi Muhammad Versi Indonesia. Email ini berisikan suatu penghinaan yang sangat brutal terhadap manusia yang di-Mulia-kan oleh ALLAH SWT ahlaknya, Rasulullah Muhammad SAW. Penghinaan dalam bentuk komik yang menggambarkan ketelanjangan seorang wanita, dalam hal ini Zainab r.ha dan memperlihatkan aurat Rasulullah SAW. Demikian sangat menghujatnya, untuk melihatnya saja aku sudah enggan. Entah kebencian macam apa yang ada di kepala si pembuatnya. Penghinaan terhadap Yang Mulia Rasulullah SAW ternyata masih belum seberapa, jika dilihat kenekatannya melecehkan ALLAH SWT.
Walaupun semua itu berasal dari satu blog yang sengaja diberi nama berbau salah satu suku bangsa, bahkan didalamnya diperjelas dengan “trade mark” nama suku tersebut, tetapi faktanya banyak diantara dari mereka (dari suku tersebut) adalah saudara-saudara Muslim kita yang sama dengan saudara-saudara Muslim kita lainnya. Tentulah mereka tidak memiliki hati untuk berbuat sekeji ini.

- Sedemikian brutal dan keji fitnah manusia laknat ini, sehingga tega menghina Yang Mulia Rasulullah Muhammad SAW.
Dialog yang tertulis pada fasilitas khusus response yang diberikan pun akhirnya menjurus kepada saling membenci antar agama dan suku bangsa. Mungkin memang ini yang diinginkan oleh orang yang membuatnya. Ini bagian permulaan saling caci maki itu:

- Tujuannya bisa saja untuk mengadu domba antar suku bahkan antar agama. Sungguh manusia dengan hati yang “pekat sempurna” sajalah yang mampu melakukan hal yang sekeji ini.
Sayang diantara kita justru ikut menyebarkan kartun penghinaan itu dengan meneruskan dari milis ke milis. Sehingga, walaupun blog tersebut sudah ditutup oleh pengelolanya, ternyata isinya masih terus beredar luas seiring dengan tersebarnya rasa benci. Entah bagaimana orang yang melihat dan membacanya mengelola hati dan menyikapinya.
Laknat ALLAH atas perbuatan buruk si pembuat ulah ini. Semoga manusia hina ini diberi oleh ALLAH kesempatan untuk menyadari dan menyesali perbuatannya serta segera bertobat.
Bagi kita umat Rasulullah SAW, perbanyaklah salawat untuk mengiringi zikr kita kepada ALLAH. Semoga ALLAH menambahkan kecintaan kita kepada Yang Mulia Rasulullah Muhammad SAW dan kelak dihari pembalasan kita mendapat safa’at Beliau SAW.
Bunga-bunga Itu Mekar January 10, 2009
Posted by merenung in Serba-serbi, Umum.Tags: bunga, wijayakusuma
1 comment so far

Wijayakusuma 1
Bagai menunggu kami datang dari liburan ke Cisarua, malam itu kami disambut oleh mekarnya 8 kuntum bunga Wijayakusuma. Semula kuncupnya berjumlah 10 buah, 2 diantaranya gugur sebelum berkebang (kayak lagu). Jumlah yang cukup banyak. Bunga yang puncak mekarnya pada jam 24:00 dan hanya beberapa saat ini, mengingatkan aku pada Abah beberapa waktu lalu.

Wijayakusuma 2
Walau badan capek dan mata yang sudah mengantuk, aku dan istriku duduk di teras samping menunggu puncak mekarnya. Kami ingin membalas keindahan yang diperlihatkan kepada kami dengan perhatian. Toh, besok pagi mereka sudah akan layu dan kering.

Wijayakusuma 3

Wijayakusuma 4
Begitulah alam yang fana ini. Setelah puncak terlewati, maka semua akan menuju kepada kebinasaan. Layu lalu jatuh mati. Tetapi kenangan keindahan itu tetap abadi.

Wijayakusuma 5
Betapa ALLAH menciptakan alam ini dengan keindahan yang sempurna.
Ranjau Paku Ban January 6, 2009
Posted by merenung in Serba-serbi, Umum.Tags: ban kempes, pasar jum'at, ranjau paku
1 comment so far
Berangkat dari rumah sudah agak siang, setengah sembilan lebih. Ini kebiasaan buruk kalo punya kantor deket rumah. Aku stir mobil sendiri menyusuri rute Cinere, Karang Tengah, belok ke arah Jalan Pertanian. Seperti biasa rencananya aku akan lewat Pasar Jum’at terus kearah perempatan Fedex, belok kanan sampe kantor.

Lokasi Kempes Pertama
Perjalanan semula lancar, di samping SLB tiba-tiba ada dua orang boncengan motor menyalip sambil menunjuk ban kiri belakang. Aku mengurangi kecepatan sambil mencoba merasakan apakah ada masalah dengan ban. Tidak beberapa lama, mulai terasa ban memang kempes dan aku mencari tempat berhenti tepat diperempatan muka jalan masuk kompleks yang portalnya ditutup (permanen). Sebelahnya ada warung rokok dan beberapa orang sedang berbincang-bincang.
Seperti sudah aku duga, ranjau paku menancap di ban kiri belakang. Kasihan banget ini orang. Hidup di dunia sekali, punya kesempatan dipakai untuk membuat orang lain susah. Sedikit merasa kesal, teringat bahwa marah dapat menjadi salah satu bentuk ketidak ikhlasan, aku berusaha menghibur diri dengan ikhlas, sabar dan bersyukur. Kalau dari sedemikian banyak mobil yang lewat, paku itu memilih mobilku, tentu memang sudah menjadi ketetapan yang terbaik untuk aku. Alhamdulillah ya ALLAH, aku diberi kesempatan untuk berkeringat (itung-itung olah raga pagi).
Singkat kata, aku ganti ban yang bocor dengan ban serep. Memakan waktu sekitar 10 menit semuanya selesai, aku siap meluncur lagi. Lumayan berkeringat dan tangan kotor, maklum matahari lumayan panas.
Melewati pertigaan Cirendeu dan Kompleks Kejaksaan Lebak Bulus, sementara aman. Sampai perempatan Pasar Jum’at, mendadak ban kiri belakang yang baru aku ganti dengan serep terasa kempes lagi. Tadinya aku khawatir kurang kuat memutar baut-2 roda. Buru-buru aku cari pemberhentian, berhubung perempatan Pasar Jum’at biasanya ramai dan cenderung macet. Disebelah toko bangunan, didepan kios percetakan aku memarkir mobil dan memeriksa ban kiri belakang. Ternyata ranjau paku jenis yang sama persis menancap di ban kiri belakang. Desis suara angin masih terus terdengar, sementara langit sudah menurunkan rintik air. Wah repot deh.

Lokasi Kempes Ke-2
Aku mencoba mencari tukang tambal ban di sekitar perempatan, tetapi tidak terlihat satupun kecuali bengkel motor. Aku kembali masuk kedalam mobil dan mulai mencoba mengontak bantuan. Telpon ke rumah, kebetulan istri pergi belanja dan handphone ditinggal dirumah. Telpon supir yang sedang ke kebon nggak diangkat-angkat. SMS ngabarin kantor, kalau aku terdampar didepan Pusdiklat Polri Pasar Jum’at, ban dua-duanya kempes. Supir menelpon balik, langsung aku suruh meluncur menyusul ke Pasar Jum’at.
Gerimis tidak juga berhenti. Aku buka ban kiri belakang yang kempes dan mengeluarkan serep yang juga kempes. Kebetulan kawan kantor menawarkan budi baiknya untuk menjemput dan mengantarkan ke tukang tambal ban.
Ban ditambal di tukang tambal ban pinggir jalan, masih di depan Pusdiklat Polri, hanya beberapa puluh meter dari tempatku berhenti. Dua ban Rp. 35.000,- cepat saja selesai ditambal. Putar balik ke mobil kemudian memasangnya dan semuanya selesai. Akupun lega seiring gerimis tidak terasa lagi.
Untuk aku, alhamduliLLAH diberikan kesempatan olah raga (lahir dan bathin). Untuk teman yang datang menolong juga supirku insyaALLAH menjadi amal shaleh. Teman lain yang bersimpati lewat SMS mendapat pelajaran. Tukang tambal ban pinggir jalan dapat rejeki untuk makan keluarganya.
Yang kasihan tentu saja kembali si penebar ranjau paku ini. Jika dia berniat buruk, niat buruknya tidak tercapai. Alih-alih mendapat hasil justru apes mendapat amalan dunia yang buruk. Mudah-mudahan dia bisa segera insyaf dan diampuni kesalahannya.

Ranjau Paku
Ringkikan Tawa Itu January 2, 2009
Posted by merenung in Jum'at.Tags: cisarua, horor, Jum'at, tawa
add a comment
Malam Jum’at saat kumpul dengan Ibunda, adik dan anak perempuanku di Cisarua, seperti biasa cerita-cerita berkisar mahluk-mahluk penghuni villa yang kurang nyaman ditatap. Lampu yang tadinya pantang mati mulai mati hidup justru saat sound system dan organ tunggal dimatikan. Gelap gulita tentu menambah suasana horor luasnya taman di depan studio mini villa itu.

Cisarua
Adikku bercerita saat beberapa waktu lalu dijemput suaminya di kantornya, yang memang sudah dikenal dengan berbagai macam gangguan penampakan dan suara ringkikan tawa. Saat itu sudah jam 17:15 di dalam mobil, iparku teringat belum mengerjakan solat Asr. Meneruskan perjalanan yang pasti akan melewatkan waktu yang sempit itu, membuat dia memilih untuk mengerjakannya di mushala yang terletak di basement gedung. Ruang kecil di sudut parkir basement biasanya dipakai para sopir menjalankan ibadah wajib di sela-sela waktu kerja mereka.
Sementara iparku mengerjakan sholat Asr-nya, adikku menunggu di mobil. Sedikit lama kemudian, iparku kembali ke dalam mobil sambil ngomel-ngomel; “Sialan……sialan……., kurang ajar…….”, gumannya. Adiku tentu saja bingung, sambil terus bartanya penasaran; “Ada apa sih……? Kenapa……?”, tanyanya.
Iparku bercerita, setelah dia mengambil air wudhu dan masuk kedalam mushala, ternyata mushala itu kosong. Dan tentu saja dia sholat sendirian di dalam mushala. Mengerjakan shalat dengan penerangan temaram di tempat dengan cerita-cerita seram memang agak mengurangi konsentrasi. Pintu mushala berderit sedikit membuyarkan keheningan, disadari seseorang masuk kedalam mushala. Iparku memejamkan mata untuk mengembalikan konsentrasi yang agak terganggu.
Tiba-tiba terdengar suara ringkikan tawa dibelakangnya memecah keheningan membangunkan suasanya horor. Ringkikan tawa terus menerus seolah enggan berhenti. Sesaat iparku mengucap salam menoleh ke kanan dan ke kiri, di sudut pandangan mata terlihat seseorang masih mengerjakan shalat agak sedikit dibelakang sampingnya. Iparku melanjutkan dengan membaca zikr dan do’a untuk menenangkan debar jantungnya, sambil menunggu orang yang sedang shalat dibelakangnya selesai. Beberapa saat kemudian, iparku menoleh ke belakang dan mengulurkan tangannya untuk menyalami laki-laki yang duduk setelah menyelesaikan shalatnya, sambil bertanya; “Mas denger suara kuntilanak tadi…”.
“Iya…., itu bunyi hape saya”, ujarnya ringan sambil tersenyum.
Iparku berdiri dan beranjak keluar mushala dan kembali ke mobil sambil terus mengomel.
Ternyata itu suara dering handphone orang yang lupa mematikannya saat shalat.
Handphone memang benda yang berguna, tapi berbunyi di tempat ibadah apalagi dengan bunyi ringkikn tawa seperti itu, tentu akan sangat mengganggu. Apalagi suasana seram sudah ada di dalam benak. Karenanya, selalu ingat mematikan handphone sebelum menjalankan shalat, walaupun sholat sendiri di rumah (sedang tidak berjamaah di masjid / mushala).
Cerita itu tentu saja membuyarkan suasana seram malam Jum’at dan mati hidupnya lampu villa di Cisarua.
Keponakan-keponakanku mulai menyalakan kembang api sisa tahun baru kemarin.
Semoga tahun 2009 ini akan menjadi semakin cerah dan penuh berkah.

Day Two in Cisarua
