Antara Nidji dan Rokok February 9, 2009
Posted by merenung in Serba-serbi, Umum.Tags: fatwa, giring, haram, nidji, rokok
add a comment

Nidji merupakan salah satu dari sedikit kelompok musik anak muda yang aku suka. Bahkan diantara yang lainnya, hanya kaset Nidji yang ada di dalam mobilku. Lagu-lagu Nidji yang paling banyak aku bisa nyanyikan. Penyanyi Nidji, Giring, konon pernah bersekolah di SMA dimana aku pernah sekolah juga disana. Jadi memang ada sedikit emosional kalau senior menyukai juniornya. Kakak ipar yang pulang haji menunjukkan foto bersama Giring yang kebetulan ketemu di Tanah Haram saat mereka menunaikan wukuf di Arafah. Aku memang nge-fans sama Nidji.

Tapi beberapa waktu lalu aku agak terperangah, saat melihat mereka menyanyikan jingle iklan rokok. Benda yang baru saja di-fatwa-kan haram oleh lembaga ulama di negara ini. Sayang juga rasanya jika untuk alasan uang mereka harus melupakan keberpihakan kepada kebaikan, seperti meninggalkan rokok dan alkohol. Menjual kebaikan demi uang dan ketenaran. Mengisi amalan haji dengan mengajak kepada kemubaziran. Mengajak meracuni diri dan meracuni orang sekitar. Sangat disayangkan.

Andai mereka merokok, sepertinya tidak ada masalah, karena walaupun di fatwa haram, toh orang tetap tidak melanggar hukum jika terus merokok. Kecuali di tempat-tempat yang memang dilarang oleh Perda. Itupun sekarang sudah mandul. Orang sudah seenak udelnya merokok di dalam kendaraan umum, mal-mal, bahkan rumah sakit. Mungkin Giring lupa bahwa dia pernah dicatat telah berhenti rokok dan alkohol. Lihat catatan Detik.Com tentang hal itu.
Aliran Relatifitas February 8, 2009
Posted by merenung in Kehidupan, Simple, Umum.Tags: logika, mutlak, relatif
1 comment so far
Penganut aliran relatifitas umumnya gemar memakai logika. Sayang menurutku logika mereka justru menyesatkan. Bahwa ALLAH jua yang menjadi pusat segalanya, mungkin umumnya sepakat. Bahwa hanya ALLAH yang mutlak dan yang lainnya relatif dapat menjadi penyesat logika.
Banyak dari mereka yang berpendapat, bahwa hitungan bilangan pun merupakan kesepakatan. Contoh sederhana, mereka berpendapat bahwa 1 + 1 = 2 (satu ditambah satu sama dengan dua) adalah merupakan kesepakatan. Sehingga jika semua mahluk seluruh jagad raya (termasuk manusia dan mahluk yang gaib bagi manusia) menyatakan bahwa 1 + 1 = 3 (satu tambah satu sama dengan tiga), maka 1 + 1 = 3 pun menjadi sebuah kebenaran. Dan 1 + 1 = 2 menjadi sesuatu yang keliru. Semua menjadi relatif terhadap zat yang mutlak yaitu ALLAH SWT.
Akibat paham ini, maka tanpa disadari, semua yang tersangkut dengan ALLAH menjadi lepas tidak terkait lagi. Umumnya manusia memilih yang mereka kuasai menjadi hal yang terlepas dari ALLAH. Mereka pikir sudah merebutnya. Tubuh sudah lepas dari ALLAH, ilmu lepas dari ALLAH, perkawinan, perniagaan, pemerintahan, politik, kesehatan dan seterusnya. Semua terlepas dari ALLAH. Untuk hal tertentu mereka menyebutnya sekular, modern, maju, liberal atau apa sajalah. Karena mereka merasa mampu mengendalikannya. Mereka cuma menyerah dengan perihal matahari yang terbit dari Timur dan tenggelam di Barat, gerhana bulan, gempa bumi, tsunami, kematian dan hal-hal dimana mereka memang belum dapat akal untuk mengendalikannya. Bagaimana tidak, membuat binatang bahkan manusia dengan cara cloning mereka sudah dapat lakukan, seakan ALLAH memang sudah tidak diperlukan kecuali mengatur agar alam semesta ini agar sekedar tidak bertubrukan. Sebenarnya apa yang tidak berada di dalam genggaman ALLAH?
Yang lebih menyedihkan, orang yang mengaku muslim / muslimah pun sudah mulai menganggap Al Qur’an bukanlah hukum ALLAH yang mutlak. Bahkan sebagian menganggap Al Qur’an menjadi relatif (hanya karena penafsiran mereka berbeda-beda). Perintah shalat yang disertai petunjuk untuk mengikuti bagaimana cara Rasulullah SAW shalat bisa mereka bolak-balik menjadi “asal ingat ALLAH” lalu tak perlu repot-repot melakukannya. Mengerjakan shalat menjadi tidak wajib bagi mereka. Hukum waris yang lebih tegas bilangannya di dalam Al Qur’an pun diganti dengan mengikuti keadilan manusia. Perniagaan penuh dengan penindasan. Politik penuh naluri kebinatangan / hukum rimba (siapa kuat, dia yang menang). Padahal ALLAH telah ciptakan jalan-jalan kompromi, darurat yang juga pasti, seperti jama’ qasar, waqaf, hibah, bagi hasil, poligami dan seterusnya.
Seandainya mahluk (nyata dan gaib) seluruh dunia sepakat 1 + 1 = 3 (satu tambah satu sama dengan tiga) apakah mereka bisa ciptakan air dari unsur H + O + H = H3O atau oksigen dari O + O = O3. Mungkin mereka lupa bahwa kalau ALLAH SWT itu mutlak maka Al Qur’an juga mutlak dan tentunya hukum ALLAH itu mutlak. Entah mereka setuju atau tidak.
Toh kalau pendapatku ini salah, maka pendapat mereka juga otomatis salah. Wa ALLAH a’lam.
Demokrasi = Agama Baru February 7, 2009
Posted by merenung in Kehidupan, Serba-serbi, Umum.Tags: agama, demokrasi, hamas, korban
add a comment
Demokrasi. Kata yang sangat sering dipakai dan seolah menjadi kunci peradaban manusia modern. Jika tidak demokratis maka otomatis akan menjadi manusia primitif bahkan purba. Entah mengapa peradaban manusia menjadi pemuja demokrasi, padahal boleh dikatakan bangsa ini sangatlah kuat memegang budaya. Budaya yang kemudian dituangkan dalam kalimat padat sederhana yang disebut Pancasila. Entah bangsa mana di jagat ini yang punya sila-sila macam bangsa kita.
Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan
(bener nggak ya ….sudah lama juga tidak pernah membaca sila-sila ini lagi)
Kalimat yang mungkin dirangkai setelah dipikir masak-masak oleh pemikir bangsa ini yang secara seenaknya diterjemahkan sebagai demokrasi. Kata yang datang dari bangsa lain yang konon mereka sebut suara tuhan. Entah tuhan yang mana yang mereka maksud, tapi bangsa ini terlanjur percaya bahwa tuhan itu cuma satu, yaitu ALLAH itu sendiri. Lalu jadilah kemudian demokrasi menjadi suara yang mutlak harus dituruti, harus menang, harus memimpin. Karena suara tuhan sudah pasti benar.

Kaji Terus "Berjuang" Untuk Menegakkan Demokrasi = Menang (foto from Detik)
Budaya yang penting menang ini pula yang menjadikan bangsa ini menjadi abai dengan kebenaran. Untuk apa benar jika kalah. Lebih baik salah tapi menang. Jikapun akhirnya karus kalah, anehnya para atlet demokrasi ini jarang yang sportif. Menuduh lawan bermain curang, meminta pertandingan ulang, bahkan kampiun demokrasi macam Amerika yang dipuja sebagai nabi bisa mengeluarkan fatwa kalah bagi Hamas yang nyata-nyata menang pemilu di Palestina. Suatu tindakan pengecut yang juga ditiru oleh umat penganut demokratis.

Walau Hamas Menang = Tetap Kalah; Penganut Demokrasi Nurut Nabi Amerika
Beberapa hari lalu, seorang ketua lembaga perwakilan daerah menjadi korban pertandingan demokrasi. Kelompok pemuja kemenangan tidak sabar meminta pengukuhan tuntutan mereka kepada sang ketua. Mereka mengejar, merangsek, mengobrak-abrik ruang sidang demokrasi sekaligus melancarkan pencabutan nyawa sang ketua. Pastilah semua atlet demokrasi yang ikut didalam permainan petak umpet demokrasi yang memakan korban itu akan berdalih dan tidak mau dicap sebagai pembunuh. Mereka sekedar mengikuti aturan permainan dan malaikat pencabut nyawalah yang menyebabkan sang ketua mangkat. Apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Itulah pertandingan menang kalah. Pertandingan yang abai terhadap benar salah. Yang menang menjadi benar dan yang kalah pastilah salah. Entah siapa yang seharusnya peduli terhadap femonena demokrasi gila ini.

Korban Jatuh - Fenomena Ritual Agama Baru = Demokrasi
Kasihan bangsa ini. Kasihan pendiri bangsa ini. Mungkin cita-cita mereka terlalu muluk untuk dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Jadilah bangsa ini sebagai pemuja tuhan, pengikut nabi Amerika / Barat, pengamal kitab demokrasi dengan ritual jihad demonstrasi. Toh tawaf dan lempar jamarat, yang merupakan rukun haji umat muslim pun kadang juga memakan korban. Pantaslah kalau demokrasi ini sudah menjadi agama baru bangsa ini. Siapa yang bisa menghindar apalagi menolaknya?


