Hidup Adalah Misteri August 7, 2009
Posted by merenung in Kehidupan, Umum.Tags: dunia
add a comment
Ada kawan berpendapat, kematian itu misteri. Karenanya memikirkan soal hidup dan cara menjalaninya adalah jalan untuk menjawab misteri itu. Aku berfikir sebaliknya, hiduplah yang menjadi misteri, sedang mati itu jelas dan pasti.
Mengapa kawan bilang kematian itu misteri, menurutnya karena kita tidak tau apa yang terjadi disana. Sebaliknya menurutku, justru kita tidak tau apa yang telah, sedang dan akan terjadi di dunia ini.
Di dunia ini; orang baik belum tentu hidup enak. Orang jahat belum tentu hidup susah. Orang susah bilang hemat pangkal kaya, sementara orang semakin boros ternyata semakin kaya. Semacam hukum yang tidak pasti. Orang yang tertangkap dengan kardus-kardusan pil haram diganjar 1 tahun, sementara ada yang diganjar 4 tahun hanya untuk satu butir pil yang sama yang tidak diakui sebagai miliknya. Menyerang dan menggulingkan suatu pemerintahan negara lain dengan alasan yang terbukti keliru disebut pionir demokrasi, sementara berjuang karena diusir dari rumah hunian sejak tahun 1958 disebut pemberontak. Itu semua terjadi di dunia, masya ALLAH. Suatu tempat yang tidak pasti yang merupakan misteri (menurut pendapatku).
Kematian; semua sudah pasti mati dan akan mati. Insya ALLAH, pasti akan ditanya dan diadili, sekecil apapun. Pasti tidak ada muslihat dan dusta. Pasti semua amal baik, diganjar dengan kebaikan. Semua amal buruk, pasti akan dibalas keburukan. Tidak koneksi, tidak ada relasi, tidak ada status sosial, tidak ada jabatan, tidak ada semuanya. Semua gamblang terang benderang. Dan itu semua pasti dan tidak ada misteri. (paling tidak itu menurut pendapatku)
Tapi, mempersiapkan bekal untuk semua yang sudah pasti itu (kematian), memang tempatnya di dunia yang penuh misteri ini. Karenanya, jangan bertaruh untuk suatu misteri (kehidupan), karena sesungguhnya misteri hanyalah sebuah ketidak pastian.
Jadi nasehat kawanku dan aku tetap sama, persiapkanlah bekal kematian selagi kita punya kesempatan dalam kehidupan di dunia ini.
ALLAH Yang Maha Benar dan Mengetahui.
Islam Yang Simpatik August 1, 2009
Posted by merenung in Copy, Umum.Tags: agama, Islam, muslim
add a comment
di-copy
Dari Koran Republika Selasa 28 Juli 2009.
hikmah – Islam yang Simpatik
Oleh Fauzi Bahreisy
Manakala menjadi imam shalat bagi kaum Muslimin di tempatnya, Mu’adz ibn Jabal RA membaca surat yang agak panjang, sehingga ada salah seorang makmum yang memisahkan diri dan menunaikan shalat sendiri.
Tindakan makmum tersebut spontan mendapat sorotan dari sebagian orang. Bahkan, ada yang menganggapnya sebagai munafik.
Merasa tidak nyaman dengan kondisi itu, dia melaporkan kasusnya kepada Rasulullah SAW.
Dia mengadukan apa yang sebenarnya terjadi. Setelah mendengar dari orang tersebut, Rasulullah SAW memanggil Mu’adz seraya berkata, `’Apakah engkau mau menjadi tukang fitnah wahai Mu’adz?’` Rasulullah SAW mengulanginya sampai tiga kali (HR Bukhari).
Artinya, Rasulullah SAW menegur tindakan Mu’adz yang telah menyulitkan jamaah shalat dengan membaca surat yang agak panjang. Hadis di atas memberikan gambaran mengenai Islam yang sebenarnya.
Islam yang hadir sebagai agama yang penuh rahmat: tidak memberatkan dan tidak pula menyulitkan.
Islam yang hadir sebagai agama yang pertengahan: tidak berlebihan dan melampaui batas. Serta Islam sebagai agama yang seharusnya memikat dan melahirkan simpati, bukan justru membuat orang lari dari agama.
Pada hadis di atas, tindakan ceroboh dan berlebihan dalam shalat yang membuat orang lain merasa berat dan tidak senang, mendapat teguran dari Rasulullah SAW. Padahal, itu tampak sepele.
Apalagi tindakan ekstrem dan melampaui batas yang lebih daripada itu.
Karenanya, ketika Rasulullah SAW mengutus Mu’adz bin Jabal dan Abu Musa ke Yaman, Rasulullah SAW berpesan, `’Permudahlah, jangan mempersulit! Berikan kabar gembira, jangan membuat orang malah lari dari agama!’` (Muttafaq alaih).
Pesan ini sangat penting untuk menjadi pegangan setiap Muslim, terutama para dai atau aktivis dakwah. Cara dakwah yang penuh hikmah seperti yang ditampilkan Rasulullah SAW akan mendapatkan simpati dan respons positif.
Sebaliknya, cara dakwah yang keras dan ekstrem, serta menebar teror dan ketakutan, tidak hanya menimbulkan efek buruk kepada oknum pelakunya, namun juga kepada Islam karena ia akan dianggap sebagai agama radikal dan kejam.
Kalau ini terjadi, maka persis seperti yang dikatakan oleh Muhammad Abduh, `’Keindahan Islam tertutupi oleh perilaku umat Islam.’` Dari sini kita memahami mengapa Rasulullah SAW bersabda, `’Janganlah kalian ekstrem dalam beragama. Sebab, yang membuat generasi terdahulu binasa adalah tindakan ekstrem dalam beragama.’` (HR Ibn Ahmad, Majah, dan an-Nasai).
