jump to navigation

Ringkikan Tawa Itu January 2, 2009

Posted by merenung in Jum'at.
Tags: , , ,
add a comment

Malam Jum’at saat kumpul dengan Ibunda, adik dan anak perempuanku di Cisarua, seperti biasa cerita-cerita berkisar mahluk-mahluk penghuni villa yang kurang nyaman ditatap. Lampu yang tadinya pantang mati mulai mati hidup justru saat sound system dan organ tunggal dimatikan. Gelap gulita tentu menambah suasana horor luasnya taman di depan studio mini villa itu.

Cisarua

Cisarua

Adikku bercerita saat beberapa waktu lalu dijemput suaminya di kantornya, yang memang sudah dikenal dengan berbagai macam gangguan penampakan dan suara ringkikan tawa. Saat itu sudah jam 17:15 di dalam mobil, iparku teringat belum mengerjakan solat Asr. Meneruskan perjalanan yang pasti akan melewatkan waktu yang sempit itu, membuat dia memilih untuk mengerjakannya di mushala yang terletak di basement gedung. Ruang kecil di sudut parkir basement biasanya dipakai para sopir menjalankan ibadah wajib di sela-sela waktu kerja mereka.

Sementara iparku mengerjakan sholat Asr-nya, adikku menunggu di mobil. Sedikit lama kemudian, iparku kembali ke dalam mobil sambil ngomel-ngomel; “Sialan……sialan……., kurang ajar…….”, gumannya. Adiku tentu saja bingung, sambil terus bartanya penasaran; “Ada apa sih……? Kenapa……?”, tanyanya.

Iparku bercerita, setelah dia mengambil air wudhu dan masuk kedalam mushala, ternyata mushala itu kosong. Dan tentu saja dia sholat sendirian di dalam mushala. Mengerjakan shalat dengan penerangan temaram di tempat dengan cerita-cerita seram memang agak mengurangi konsentrasi. Pintu mushala berderit sedikit membuyarkan keheningan, disadari seseorang masuk kedalam mushala. Iparku memejamkan mata untuk mengembalikan konsentrasi yang agak terganggu.

Tiba-tiba terdengar suara ringkikan tawa dibelakangnya memecah keheningan membangunkan suasanya horor. Ringkikan tawa terus menerus seolah enggan berhenti. Sesaat iparku mengucap salam menoleh ke kanan dan ke kiri, di sudut pandangan mata terlihat seseorang masih mengerjakan shalat agak sedikit dibelakang sampingnya. Iparku melanjutkan dengan membaca zikr dan do’a untuk menenangkan debar jantungnya, sambil menunggu orang yang sedang shalat dibelakangnya selesai. Beberapa saat kemudian, iparku menoleh ke belakang dan mengulurkan tangannya untuk menyalami laki-laki yang duduk setelah menyelesaikan shalatnya, sambil bertanya; “Mas denger suara kuntilanak tadi…”.

“Iya…., itu bunyi hape saya”, ujarnya ringan sambil tersenyum.

Iparku berdiri dan beranjak keluar mushala dan kembali ke mobil sambil terus mengomel.
Ternyata itu suara dering handphone orang yang lupa mematikannya saat shalat.

Handphone memang benda yang berguna, tapi berbunyi di tempat ibadah apalagi dengan bunyi ringkikn tawa seperti itu, tentu akan sangat mengganggu. Apalagi suasana seram sudah ada di dalam benak. Karenanya, selalu ingat mematikan handphone sebelum menjalankan shalat, walaupun sholat sendiri di rumah (sedang tidak berjamaah di masjid / mushala).

Cerita itu tentu saja membuyarkan suasana seram malam Jum’at dan mati hidupnya lampu villa di Cisarua.
Keponakan-keponakanku mulai menyalakan kembang api sisa tahun baru kemarin.
Semoga tahun 2009 ini akan menjadi semakin cerah dan penuh berkah.

Day Two in Cisarua

Day Two in Cisarua

Keuntungan atau Keserakahan December 26, 2008

Posted by merenung in Jum'at, Umum.
Tags: ,
add a comment

minyak_jatuh

Jika membaca berita tentang kenaikan dan penurunan harga minyak dunia USD 133 sampai USD 33 per barel, sampat juga terpikir apakah ini sekedar bentuk mengambil keuntungan ataukah bentuk keserakahan. Perniagaan yang digambarkan dalam beberapa ayat Qur’an, seolah tidak tercerminkan dalam laku dunia.

albaqarah245
Al-Baqarah (2): 245;
Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.

faathir29
Fathir (35): 29;
Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi,

albaqarah261
Al-Baqarah (2): 261;
Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.

Perbedaan harga sedemikian tajam dalam satu tahun hingga lebih dari USD 100 per barel memang membuat kalang kabut para penghasil minyak. Sekaligus ini juga menunjukkan seberapa besar keuntungan yang mereka nikmati. Lalu kemana dan untuk apakah keuntungan itu? Apakah mereka belanjakan untuk perniagaan sebagaimana Qur’an perintahkan? Pasar menjelma menjadi agama baru.Perniagaan dengan ALLAH dicampakkan untuk menggapai perniagaan penuh kenikmatan dan memuaskan keserakahan.

chart
Manakala harga minyak sedemikian jatuh, sementara pemerintah seakan enggan bersegera menurunkan harga minyak dalam negeri. Bagaikan telah lupa bagaimana mereka bersegera menaikkannya saat harga minyak dunia meroket tajam. Apakah ini bentuk dari pengambilan keuntungan atau sekedar wujud keserakahan belaka. Sesak dada rakyat kecil menunggu harga minyak yang disesuaikan dengan perhitungan politik, sementara gelombang PHK mulai mendekat.

Istimewakan Hari Jum’at December 19, 2008

Posted by merenung in Jum'at.
Tags: , ,
1 comment so far

Dua hari lalu, seorang sahabat bertanya pendapatku tentang sholat Jum’at. Pasalnya dia akan bepergian ke luar negeri menghabiskan akhir tahun disana.

Sambil mencari-cari jawaban di google, sahabat itu bertanya: “Apa yang memperbolehkan kita meninggalkan sholat Jum’at?“. Aku yang memang sudah mulai meraba arah pertanyaannya balik bertanya: “Mengapa hanya karena berada di luar negeri dan musyafir lalu langsung memutuskan untuk meninggalkan ibadah utama?”
Lho kan memang kita diperbolehkan. lagi pula kalau kemudahan tidak kita pergunakan, ALLAH marah karena kita sombong“, sanggahnya. “Kalau musyafir kan boleh jama’ qasar misalnya“, lanjutnya memberi contoh untuk menekankan pembenaran. “Memangnya kamu rencanan akan berada dimana, saat itu?”, tanyaku penasaran.
Sahabatku menyebutkan satu tempat dimana aku pernah juga berkesempatan ke tempat itu dan rasanya memang akan sulit mencari jama’ah shalat Jum’at.

Karena memang sudah biasa dan yakin bahwa agama yang aku anut ini sangat logik, maka aku menjawab dengan logika saja. “ALLAH itu pencemburu“. (nyaris tidak ada hubungan dengan persoalan itu)
Walaupun ALLAH memberikan keringanan kepada kita, tetapi tidak membuat ALLAH lantas marah jika kita tidak memanfaatkannya disebabkan kita memuliakanNya. Kalau yang dinilai oleh ALLAH dari suatu amal adalah niatnya, maka ALLAH akan menilai niat sahabatku ini untuk meninggalkan sholat Jum’at-nya. Kemudian, agar tidak berdosa, maka dicarilah justifikasinya. Tetap saja niat awalnya adalah untuk meninggalkan sholat Jum’at-nya dan itu yang dicatat.

Menurutku ada dua pilihan. Yang pertama, cari informasi sebanyak-banyaknya tempat jama’ah sholat Jum’at di sekitar tempat itu. Dan ini mungkin cukup sulit. Tetapi jika pilihan ini yang kita ambil, maka ALLAH mencatat niat kita untuk menjalankan sholat Jum’at, tetapi kita tidak berhasil menemukan jama’ah. Niatnya tercatat sebagai sholat Jum’at. Yang kedua, tunda acara hari itu sampai dengan selesai sholat Jum’at (yang mungkin lebih mudah untuk mencari jama’ah sholat Jum’at karena banyak waktu). Setelah sholat acara bisa dilanjutkan. Bagiku, ALLAH akan mencatat bukan hanya niat sholat Jum’at-nya saja, tetapi juga niat untuk mengistimewakan sholat Jum’at dengan mengorbankan acara yang telah disusunnya hanya karena ALLAH. Apakah ALLAH akan marah hanya karena kemudahan yang diberikan ALLAH tidak kita manfaatkan. Aku rasa tidak seperti itu.

Memang banyak pendapat yang mirip-mirip seperti itu dan aku sama sekali tidak sependapat, seperti;
“Sudah diberi kemudahan ALLAH mengapa kita tidak manfaatkan?”, umumnya dipakai untuk meninggalkan sesuatu seperti contoh diatas.
“ALLAH Maha Perkasa, jadi tidak perlu dibela”, umumnya dipakai menjustifikasi kelemahan (karena takut).
“Yang menjaga Islam dan Al Qur’an itu ALLAH”, ya…umumnya karena takut juga.
“Rasulullah SAW tidak menjadi hina karena diolok-olok dengan gambar kartun yang melecehkan Beliau”, ya……sama takut juga.
“Bukankah memang dibolehkan dan mengikuti sunnah Rasul..?”, yang ini biasanya kalo ada kawan ngebet pengen kawin lagi.

Sahabatku memilih alternatif ke dua, dengan menunda acaranya sampai selesai sholat Jum’at. Alhamdulillah, semoga ALLAH Yang Maha Pemurah membalas amal shaleh sahabatku ini. Semoga ALLAH memberikan keselamatan dan kemudahan dalam perjalanan wisata akhir tahunnya. Amin

Kali Ini Sama December 5, 2008

Posted by merenung in Jum'at.
Tags: , ,
add a comment

Pemerintah menetapkan Iedul Adha pada tanggal 8 Desember 2008.

Alhamdulillah kali ini kita yang di Indonesia bisa sama dengan saudara-saudara Muslim kita di Makkah. Kita bisa puasa saat mereka wukuf di Arafah (betapa indahnya nikmat ALLAH). Kita bisa sholah Ied di hari yang sama, serta memotong dan membagi daging sapi / kambing di hari yang sama pula.

Andai kita tidak pernah berbeda dalam menetapkan suatu hari.

Padahal sidang penetapan itu terjadi pada pukul 23:55 WIB (menurut koran Republika), kenapa waktu Lebaran kemarin kita beda dengan saudara Muslim di Makkah.

Tetapi baiklah, itu semua sudah terjadi. Dan yang sudah terjadi pastilah yang terbaik yang ALLAH tetapkan bagi seluruh jagad raya beserta seluruh isinya.

Nikmati barokah nikmat ALLAH di hari Jum’at ini, semoga semua saudara Muslim / Muslimah menikmati long week end bersama keluarga, kerabat, handai tolan dalam keadaan sehat wal afiat.

Ilmu dan / atau Harta November 28, 2008

Posted by merenung in Jum'at.
Tags: , ,
add a comment

Kalau kita membagikan harta kita kepada orang lain, maka harta kita akan berkurang. Tetapi kalau kita membagikan ilmu kepada orang lain, maka ilmu kita akan bertambah.

Dengan ilmu kita lebih mudah mencari harta, tetapi dengan harta belum tentu kita dapat mencari ilmu.

Mungkin masih banyak ungkapan lain yang menggambarkan betapa ilmu lebih berharga daripada harta.

Benarkah seperti itu?

Walau memang didalam Al Qur’an yang aku yakini kebenarannya pun orang berilmu didudukkan lebih tinggi beberapa derajat, tetapi aku tidak memahami ilmu sebagai yang sedemikian berbeda dengan harta.

Memang pada kenyataannya aku lebih sering menyaksikan seseorang dengan sangat mudah (sekejap) kehilangan hartanya. Kebakaran, kecurian, kecelakaan selalu menghiasi media cetak dan elektronik. Tetapi bukan berarti aku tidak pernah mendengar seorang yang hafidz (hapal) Qur’an dengan sekejap kehilangan hapalannya dalam kondisi terjaga dan sehat (maksudnya bukan disebabkan gangguan fisik atau kesehatan). Bukankah jika orang lupa (atau tidak ingat) pada saat iru orang tersebut juga menjadi tidak berilmu?  Pernah juga aku mendengar seorang ustadz berilmu yang terkenal menangis karena lupa bacaan surah Al Fatihah. Surah yang hampir selalu didengar dan dibacanya seumur hidupnya paling sedikit 17 kali dalam satu hari. Memang kali ini disebabkan karena sakit yang diderita oleh beliau. Begitu mudahnya seseorang kehilangan.

Agama yang aku yakini memberikan pemahaman kepadaku bahwa semua di dunia ini bukanlah milik kita. Baik yang nyata seperti harta, maupun yang tidak terlihat seperti ilmu. Selama itu masih di dunia, maka itu bukanlah milik kita.

ALLAH Yang Maha Memiliki segalanya-lah yang menitipkan kepada kita. Maka kita wajib mengelola amanah yang dititipkan kepada kita sesuai dengan apa yang diperintahkan. Ilmu dan / atau harta sama-sama bukan milik kita. Membagi ilmu dan / atau harta kepada orang lain (sebagaimana yang diperintahkan) pasti akan sama-sama  manjadikannya bertambah. Sebagaimana membagikan ilmu dan / atau harta kepada orang lain yang tidak pantas mendapatkan atau untuk tujuan yang keliru akan menjadikannya sia-sia (berkurang).

Orang yang banyak ilmu sering disebut orang pandai atau orang berilmu, sementara orang yang banyak harta sering disebut orang kaya.

Apakah benar orang yang banyak ilmu (memiliki pengetahuan yang luas dan / atau mendalam) sebenarnya orang pandai?

Apakah benar orang yang banyak harta (menguasai kepemilikan materi dan harta benda yang banyak) sebenarnya orang kaya?

Komentar pembaca akan sangat membantu menjawab dua pertanyaan yang sebenarnya sama ini.

Berzakat Lewat Mana? October 16, 2008

Posted by merenung in Jum'at, Umum.
Tags: , , ,
1 comment so far

Sesungguhnya yang diperintahkan untuk menyalurkan zakat itu adalah melalui lembaga amil zakat. Telah banyak lembaga serupa didirikan dan berkiprah demikian baiknya di tanah air ini. Pemerintah juga mendorong dengan memberikan aturan khusus untuk pembayar zakat yang menyaurkannya lewat lembaga yang diakui oleh pemerintah. Hal ini disampaikan oleh seorang ulama Bogor yang sangat mengerti hukum zakat saat wawancara dengan media menanggapi musibah Pasuruan. Musibah dimana untuk kesekian kalinya begitu banyak korban berjatuhan (tewas) hanya untuk mengantri (berebut?) uang zakat sebesar Rp.30.000,- yang dibagikan oleh orang kaya daerah itu. Ulama Bogor tersebut merasa perlu mengulang-ulang (mesosialisasikan) hal penyaluran zakat tersebut, mengingat hingga saat ini masyarakat belum merespons perintah tersebut dengan optimal. Bahkan cenderung banyak yang menyalurkannyas dengan cara yang kurang baik dan berakibat fatal, seperti yang terjadi di Pasuruan itu. Salah satu alasannya adalah ketidak percayaan terhadap lembaga amil zakat yang ada saat ini. Mungkin masih ada alasan lain, tetapi aku mencoba fokus pada masalah ketidak percayaan ini. Hal yang paling sulit dicari di negeri (dunia) ini.

Aku kurang mengerti bagaimana orang menjadi tidak percaya, tetapi aku mengalami proses itu sedikit demi sedikit. Semula aku memang menyalurkan sebagian lewat lembaga yang ada. Sangat praktis. Sambil kerja di kantor, buka browser, klik-klik-klik selesai sudah. Zakat tersalurkan lewat lembaga amanah yang dikelola orang yang sangat mengerti penyalurannya. InsyaALLAH kewajiban terpenuhi dengan ganjaran yang setimpal.

Belakangan aku memilih untuk menyalurkan lewat tempat lain. Yayasan kecil, panti asuhan kecil, masjid bahkan langsung diantarkan ke tempat penerima dan tentu bercampur dengan infaq. Hal yang paling membuat aku tidak sreg dengan lembaga amil zakat besar mungkin terdengar agak aneh. Tetapi mungkin juga bukan aku sendiri yang berfikir seperti ini. Aku berlangganan koran pagi untuk di rumah, tentu juga koran lainnya untuk di kantor (selain internet) sehingga banyak media yang dapat dijadikan referensi. Belanja para pengelola zakat untuk media menurut pendapatku cukup tinggi. Aku kurang mengerti seberapa besar tapi untuk satu halaman koran nasional dengan oplah besar kita tentu dapat membayangkan biayanya yang tidak sedikit. Apakah koran ini memberikan space gratis satu halaman? Rasanya tidak mungkin. Agak sedikit aneh bagiku, foto (pas foto) petinggi pengelola zakat dipajang ikut dilembar media itu bagai caleg-caleg yang sekarang berlomba-lomba memajang foto mereka di media, baik TV, koran, majalah, spanduk, umbul-umbul dan seterusnya.

Kemarin sore aku lewat suatu jalan yang kanan-kirinya penuh dengan deretan umbul-umbul suatu pengumpul zakat. Umbul-umbul itu memang info tentang zakat. Foto ustadz yang cukup dikenal terpajang besar di umbul-umbul itu (dan banyak spanduk di jalan-jalan lainnya). Anehnya, saat itu aku sedang mengendarai mobil berdua dengan putriku yang berusia 10 tahun, tanpa ada percakapan pembuka sebelumnya, putriku ini bertanya dan berikut percakapan singkat itu:
“Foto orang itu buat apa ya pa?”, dia memulai pertanyaan.
“Itu informasi zakat. Papa kenal sama ustadz itu”, aku coba sedikit menjelaskan.
“Dia dibayar ya pa?”, dia melanjutkan bertanya.
“Ya tidak. Kan itu untuk zakat”, aku berusaha sok tau walau mungkin kurang tepat.
“Jadi foto dia itu karena dia pengen aja ya?”, dia belum selesai bertanya.
“Hm……, iya”, aku mencoba mengakhiri percakapan karena bingung mencari jawabannya.

Anak umur 10 tahun saja sudah menghubungkan foto yang ada di umbul-umbul dengan bayaran (uang). Bagaimana dengan iklan satu halaman dengan pas foto pengelola pengumpul zakat itu? Pasti hubungannya dengan bayaran (uang). Lalu uang siapa yang dipakai untuk membayar koran itu? Apakah uang zakat dapat dipergunakan untuk membayar koran, spanduk, umbul-umbul, flyer dan seterusnya yang ada foto pengelolanya (macam caleg atau balon bupati, walikota atau gubernur). Apakah mereka-mereka ini berencana mensosialisasikan tampangnya untuk investasi tahun mendatang saat ada kesempatan jadi caleg, bupati, walikota atau gubernur.

Kalau tidak keliru, hak amil zakat sebesar 12.5 % adalah intepretasi dari ayat Al Qur’an yang menyebutkan 8 golongan yang berhak untuk menerima zakat. Salah satunya adalah amil zakat. Logika yang dipakai adalah 100% dibagi 8 sama dengan 12.5%, sederhana. Jadi kalau amil zakat mengambil Rp. 100.000,- dari muzaki, maka amil zakat berhak mengambil Rp. 12.500,- dari uang itu. Kalau amil zakat mengambil Rp. 100.000.000.000,- (seratus milyar) apakah kemudian amil zakat berhak mengambil Rp. 12.500.000.000,- (dua belas setengah milyar) dari uang itu? Apakah amil zakat bebas mempergunakan bagian yang merupakan haknya itu untuk apa saja? Kalau amil zakat tidak mengambil/memungut (mengeluarkan effort) untuk mengambil dari muzaki, melainkan tinggal tunggu muzaki datang atau malah menerima transferan di rekening, apakah muzaki tetap berhak mengambil 12.5% itu? Dan mungkin masih banyak pertanyaan lainnya. Pertanyaan itu belum mempertanyakan penyalurannya.

Munurut pendapatku pribadi, lembaga amil zakat seharusnya menyalurkan seluruh zakat (100%) kepada muzaki (minus amil, konglomerat yang asetnya lebih sedikit dari hutangnya karena sahamnya jatuh dan musafir kaya). Pengelola zakat dibayar oleh negara dngan gaji yang standar. Negara juga mempergunakan perangkatnya untuk mensosialisasikan zakat tanpa mengambil dari uang zakat yang terkumpul. Profesional (dalam hal pengelolaan zakat) tidak harus dibayar dengan gaji mahal, berjas dasi dan memajang foto di media-media macam caleg minta dipilih di Pemilu.

Paling tidak itu yang membuat aku kembali memilih menyalurkan langsung atau lewat amil zakat kecil-kecil saja. Walaupun katanya penyaluran zakat dari amil zakat kecil-kecil tidak dapat mensejahterakan sebagaimana pemanfaatan zakat untuk dana usaha bergulir yang bisa memberdayakan. Apakah sulit bagi ALLAH untuk untuk membuat seluruh manusia sejahtera (kaya) dan muzaki kebingungan menyalurkan zakatnya?

Kalau aku salah karena bersangka buruk terhadap para pengelola zakat yang besar-besar itu (walau aku tidak menyengaja bersangka buruk), semoga ALLAH mengampuni.

Kangen Ka’bah October 10, 2008

Posted by merenung in Jum'at.
Tags: ,
1 comment so far

Kalau sedang kangen suasana Masjidil Haram, maka buka streaming webcam

http://live.gph.gov.sa/index.cfm

paling tidak hati sedikit terhibur dengan streaming langsung kamera itu. Kapan ya, bisa kesana lagi?

Sesaat sebelum Maghrib (waktu Makkah) – Kamis 9 Oktober 2008

Sekitar jam 20:00 waktu Makkah, Kamis 9 Oktober 2008

Tidak Lebih Baik Dari Anjing July 3, 2008

Posted by merenung in Jum'at.
Tags: , ,
add a comment

Semasa aku kecil dan ikut tinggal bersama kakek-nenek di Yogya, aku punya sahabat yang selalu mendampingi yaitu seekor anjing delmatian. Tinggi, gagah dengan postur anjing greyhound. Saat SMA dan tinggal di rumah orang tua, kami selalu memiliki anjing peliharaan dari berbagai jenis. Itu membuat aku sedikit banyak mengenal sifat binatang yang satu ini.

Sifat utama yang paling menonjol adalah “pengabdian dan kesetiaan”. Anjing memang ada yang cerdas dan bodo. Atau lucu / kocak dan serius. Kemaruk makan atau yang diet makan. Tetapi kepada manusia yang selalu memberinya makan dan di-”identifikasi” sebagai majikan, sikap “pengabdian dan kesetiaan” menjadi sangat menonjol. Sebagai ilustrasi, keponakanku memelihara anjing yang dirawatnya sejak dari sangat kecil (bayi). Ponakanku tentu sering memberinya makan, bahkan makan pun berdua (habis dia gigit gantian anjingnya menggigit lalu dia kembali menggigit – jorok banget). Tetapi lucunya, setelah anjing ini tumbuh menjadi besar, dia berani marah dan menggigit ponakanku ini. Aku menganggap anjing ini tidak “mengidentifikasi” ponakanku sebagai majikannya.

Dari banyak anjing peliharaan, ada tiga anjing yang dekat dengan aku. Melko (si delmatian), Samino dan Blanki (dua-duanya seluruh bulunya berwarna hitam tapi aku gak jelas ras-nya). Masa memelihara Melko, aku masih kecil dan kurang menghayati perilakunya.  Yang aku rasakan adalah aku sayang kepada dia. Melko punya cara membangunkan aku pagi hari, yaitu dengan  menjilati mukaku (he…he…he…., najis). Aku mulai mengamati perilaku anjing adalah saat memelihara Samino (semasa aku SMP) dan Blanki (semasa aku SMA).

Walau Samino dan Blanki adalah anjing dari ras yang berbeda, tetapi perilakunya mirip-mirip. Samino agak periang dan suka bercanda, sementara Blanki agak lebih serius (mungkin juga karena agak gemuk). Mendengar suaraku dari jauh saja mereka sudah akan segera menyaut dengan gonggongan ringan dan kibasan ekor, sambil mendekat dengan pandangan menyelidik apakah aku sedang senang atau sedang marah. Kalaupun suatu saat aku marah dan memukul (cenderung menyakiti), mereka (dengan sangat mengherankan) menunjukan sikap takut, minta dikasihani (terlihat dari matanya) dan justru merunduk-runduk terus mendekat (sambil melipat buntutnya). Kadang juga terlihat matanya ber-air, menangis sambil mengerang-erang dengan khas anjing. Sikap itu juga yang aku trenyuh dan menghentikan pukulan. Bayangkan erangan “kaing..!” setiap kali aku pukul dan dia tetap merunduk menghampiri aku lagi. Menurut seorang kawan, cerita tentang anjingku tidaklah seberapa dibandingkan dengan anjing pincangnya. Anjing pincangnya tetap patuh dan setia, walau kawan ini sendirilah yang memukulkan balok ke kaki anjingnya hingga retak (patah) dan pincang. Mungkin masih banyak cerita dan sulit untuk dilukiskan dalam kata-kata, bagaimana “pengabdian dan kesetiaan” binatang yang satu ini.

Sementara aku yang sudah jelas lebih cerdas dari anjing. Paham dan mengerti (bukan hanya mengidentifikasi dengan naluri) serta mengakui bahwa majikanku adalah ALLAH Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Dan dengan segala ke-Agung-an NYA tidak pernah putus memberikan anugerah segala keistimewaan kepadaku. Memberikan petunjuk, peringatan dan pelajaran kepadaku. Sementara, aku membayangkan saat ALLAH memanggilku untuk bersujud (sholat), apakah aku bisa seperti anjing-anjingku yang langsung berlari menghampiri? Apakah aku bisa seperti anjing-anjingku yang setia tetap menghampiri manakala dipukul dan disakiti, sementara aku yakin bahwa ALLAH tidak pernah “memukul dan menyakiti” aku? Apakah aku bisa lebih baik dari pada anjing-anjingku yang hanya mendengar suaraku dari jauhpun mereka sudah menunjukkan sikap kegembiraan?

Bukankan sikapku selama ini tidak lebih baik dari anjing?

“Apakah engkau mengetahui orang yang menjadikan hawa-nafsunya sebagai tuhannya? Maka apakah engkau sebagai pemelihara atasnya, atau apakah engkau mengira bahwa kebanyakan mereka mendengar atau memahami(apa-apa yang engkau sampaikan)? Mereka tidak lain adalah seperti hewan bahkan lebih tersesat jalannya”. Surah ke-25 Al Furqaan (Pembeda): 43-44.

Me Melko Doggy

Masih Soal Ahmadiyah June 22, 2008

Posted by merenung in Jum'at.
Tags: , , , ,
1 comment so far

Baca halaman Opini Republika, Jum’at 10 Juni 2008 / 16 Jumadil Akhir 1429H, yang ditulis oleh Adian Husaini, Dosen Pemikiran Islam di Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor.

Kalau gak punya koran-nya, baca di Republika Online http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=338282&kat_id=16

Islam Menjawab - Adian Husaini

Boikot Produk Belanda April 5, 2008

Posted by merenung in Jum'at, Serba-serbi.
Tags: , , ,
add a comment
Walaupun belum dan tidak ada keinginan melihat karya amalan jahat Geert Wilder Fitna, tetapi mendengarkan response dan perbicangan di seluruh media sudah cukup menggambarkan bahwa Umat Islam secara bersama-sama mupun sendiri-sendiri harus bereaksi sepadan (setimpal) dengan apa yang dilakukan oleh anggota parlemen Belanda ini. Membiarkan penghinaan ini terus menerus terjadi seperti pendapat seorang Romo Magnis yang aku sempat lihat di TV swasta dan sepertinya tidak dibantah oleh pembicara lainnya yang seorang Rektor UIN Syarif Hidayatullah, dinilai akan membuat para penghina agama akan suka rela berhenti menghina. Konon mungkin karena bosan tidak mendapat tanggapan. Dicontohkannya penghinaan kepada agama Katholik yang konon menyurut sendiri.

Himbauan paling cocok menurutku adalah dengan memboikot semua yang berhubungan dengan Belanda. Sebagaimana disuarakan oleh mantan Perdana Mentri Malaysia beberapa waktu lalu. Sikap ini sepadan (setimpal) karena terbukti mereka memperlakukan seluruh Umat Islam persis seperti pelaku bom Bali atau penabrak Twin Tower. Bahkan hanya karena namanya berbau Islam saja, seorang seniman Indonesia tidak bisa masuk ke Amerika. Kalau mereka bisa berhati-hati dan melihat semua orang Islam patut dicurigai sama dengan pelaku bom Bali atau penabarak Twin Tower, kenapa kita tidak bisa berhati-hati dan melihat semua orang Belanda patut dicurigai sama dengan anggota parlemen Belanda yang sudah pasti ada pendukungnya? Kalau seseorang yang bukan siapa-siapa bisa dianggap mewakili dan didukung oleh suatu umat, mengapa seorang anggota parlemen tidak bisa mewakili dan didukung suatu bangsa?

Bersama-sama atau sendiri-sendiri umat Islam harus meresponse amal jahat mereka dengan amal shaleh yang beradab. Boikot seluruh yang berhubungan dengan negara-negara penghina agama. Tunjukkan bahwa mereka keliru menilai kita. Biarlah ALLAH yang membuka atau menutup mata hati mereka. Caci-maki dan sikap anarkis tidak akan membukakan mata dan telinga mereka.
Mulailah dengan memboikot semua yang berhubungan dengan produk Belanda.

Sekarang !