Hidup Adalah Misteri August 7, 2009
Posted by merenung in Kehidupan, Umum.Tags: dunia
add a comment
Ada kawan berpendapat, kematian itu misteri. Karenanya memikirkan soal hidup dan cara menjalaninya adalah jalan untuk menjawab misteri itu. Aku berfikir sebaliknya, hiduplah yang menjadi misteri, sedang mati itu jelas dan pasti.
Mengapa kawan bilang kematian itu misteri, menurutnya karena kita tidak tau apa yang terjadi disana. Sebaliknya menurutku, justru kita tidak tau apa yang telah, sedang dan akan terjadi di dunia ini.
Di dunia ini; orang baik belum tentu hidup enak. Orang jahat belum tentu hidup susah. Orang susah bilang hemat pangkal kaya, sementara orang semakin boros ternyata semakin kaya. Semacam hukum yang tidak pasti. Orang yang tertangkap dengan kardus-kardusan pil haram diganjar 1 tahun, sementara ada yang diganjar 4 tahun hanya untuk satu butir pil yang sama yang tidak diakui sebagai miliknya. Menyerang dan menggulingkan suatu pemerintahan negara lain dengan alasan yang terbukti keliru disebut pionir demokrasi, sementara berjuang karena diusir dari rumah hunian sejak tahun 1958 disebut pemberontak. Itu semua terjadi di dunia, masya ALLAH. Suatu tempat yang tidak pasti yang merupakan misteri (menurut pendapatku).
Kematian; semua sudah pasti mati dan akan mati. Insya ALLAH, pasti akan ditanya dan diadili, sekecil apapun. Pasti tidak ada muslihat dan dusta. Pasti semua amal baik, diganjar dengan kebaikan. Semua amal buruk, pasti akan dibalas keburukan. Tidak koneksi, tidak ada relasi, tidak ada status sosial, tidak ada jabatan, tidak ada semuanya. Semua gamblang terang benderang. Dan itu semua pasti dan tidak ada misteri. (paling tidak itu menurut pendapatku)
Tapi, mempersiapkan bekal untuk semua yang sudah pasti itu (kematian), memang tempatnya di dunia yang penuh misteri ini. Karenanya, jangan bertaruh untuk suatu misteri (kehidupan), karena sesungguhnya misteri hanyalah sebuah ketidak pastian.
Jadi nasehat kawanku dan aku tetap sama, persiapkanlah bekal kematian selagi kita punya kesempatan dalam kehidupan di dunia ini.
ALLAH Yang Maha Benar dan Mengetahui.
Kepunyaan ALLAH May 17, 2009
Posted by merenung in Kehidupan, Umum.Tags: dunia
add a comment
….. Pernah suatu waktu, dia hendak berbelanja di sebuah toko emas di Jeddah. Namun sang pemilik tidak ada di tokonya lantaran sedang sholat. Jerry menunggu di luar, tak berani masuk ke dalam.
“Mengapa Anda tidak masuk ke toko saya?” tanya si pemilik toko ketika selesai sholat. “Saya tidak berani. Nanti, ada yang mengira saya maling dan mendapat hukuman yang berat,” jawab Jerry.
Dengan tenang, orang Arab ini menjawab, “Semua barang tersebut bukan milik saya. Ini semua kepunyaan ALLAH SWT. Mungkin saja Anda lebih perlu dari saya.” Mendapat jawaban itu, bertambahlah ketakjuban Jerry.
(from Republika, Ahad 17 Mei 2009, Islam Digest – Mualaf, Jerry Duane Gray)
Demikian sering aku mendengar bahkan mengalami peristiwa sederhana seperti cuplikan cerita tadi. Betapa, sesering itu pula aku tidak paham atas makna peristiwa tersebut, hanya kerena ego dunia yang selalu saja aku pelihara.
Ya ALLAH berilah sedikit kepandaian kepada hamba, agar hamba dapat sedikit mengerti.
Aliran Relatifitas February 8, 2009
Posted by merenung in Kehidupan, Simple, Umum.Tags: logika, mutlak, relatif
2 comments
Penganut aliran relatifitas umumnya gemar memakai logika. Sayang menurutku logika mereka justru menyesatkan. Bahwa ALLAH jua yang menjadi pusat segalanya, mungkin umumnya sepakat. Bahwa hanya ALLAH yang mutlak dan yang lainnya relatif dapat menjadi penyesat logika.
Banyak dari mereka yang berpendapat, bahwa hitungan bilangan pun merupakan kesepakatan. Contoh sederhana, mereka berpendapat bahwa 1 + 1 = 2 (satu ditambah satu sama dengan dua) adalah merupakan kesepakatan. Sehingga jika semua mahluk seluruh jagad raya (termasuk manusia dan mahluk yang gaib bagi manusia) menyatakan bahwa 1 + 1 = 3 (satu tambah satu sama dengan tiga), maka 1 + 1 = 3 pun menjadi sebuah kebenaran. Dan 1 + 1 = 2 menjadi sesuatu yang keliru. Semua menjadi relatif terhadap zat yang mutlak yaitu ALLAH SWT.
Akibat paham ini, maka tanpa disadari, semua yang tersangkut dengan ALLAH menjadi lepas tidak terkait lagi. Umumnya manusia memilih yang mereka kuasai menjadi hal yang terlepas dari ALLAH. Mereka pikir sudah merebutnya. Tubuh sudah lepas dari ALLAH, ilmu lepas dari ALLAH, perkawinan, perniagaan, pemerintahan, politik, kesehatan dan seterusnya. Semua terlepas dari ALLAH. Untuk hal tertentu mereka menyebutnya sekular, modern, maju, liberal atau apa sajalah. Karena mereka merasa mampu mengendalikannya. Mereka cuma menyerah dengan perihal matahari yang terbit dari Timur dan tenggelam di Barat, gerhana bulan, gempa bumi, tsunami, kematian dan hal-hal dimana mereka memang belum dapat akal untuk mengendalikannya. Bagaimana tidak, membuat binatang bahkan manusia dengan cara cloning mereka sudah dapat lakukan, seakan ALLAH memang sudah tidak diperlukan kecuali mengatur agar alam semesta ini agar sekedar tidak bertubrukan. Sebenarnya apa yang tidak berada di dalam genggaman ALLAH?
Yang lebih menyedihkan, orang yang mengaku muslim / muslimah pun sudah mulai menganggap Al Qur’an bukanlah hukum ALLAH yang mutlak. Bahkan sebagian menganggap Al Qur’an menjadi relatif (hanya karena penafsiran mereka berbeda-beda). Perintah shalat yang disertai petunjuk untuk mengikuti bagaimana cara Rasulullah SAW shalat bisa mereka bolak-balik menjadi “asal ingat ALLAH” lalu tak perlu repot-repot melakukannya. Mengerjakan shalat menjadi tidak wajib bagi mereka. Hukum waris yang lebih tegas bilangannya di dalam Al Qur’an pun diganti dengan mengikuti keadilan manusia. Perniagaan penuh dengan penindasan. Politik penuh naluri kebinatangan / hukum rimba (siapa kuat, dia yang menang). Padahal ALLAH telah ciptakan jalan-jalan kompromi, darurat yang juga pasti, seperti jama’ qasar, waqaf, hibah, bagi hasil, poligami dan seterusnya.
Seandainya mahluk (nyata dan gaib) seluruh dunia sepakat 1 + 1 = 3 (satu tambah satu sama dengan tiga) apakah mereka bisa ciptakan air dari unsur H + O + H = H3O atau oksigen dari O + O = O3. Mungkin mereka lupa bahwa kalau ALLAH SWT itu mutlak maka Al Qur’an juga mutlak dan tentunya hukum ALLAH itu mutlak. Entah mereka setuju atau tidak.
Toh kalau pendapatku ini salah, maka pendapat mereka juga otomatis salah. Wa ALLAH a’lam.
Demokrasi = Agama Baru February 7, 2009
Posted by merenung in Kehidupan, Serba-serbi, Umum.Tags: agama, demokrasi, hamas, korban
add a comment
Demokrasi. Kata yang sangat sering dipakai dan seolah menjadi kunci peradaban manusia modern. Jika tidak demokratis maka otomatis akan menjadi manusia primitif bahkan purba. Entah mengapa peradaban manusia menjadi pemuja demokrasi, padahal boleh dikatakan bangsa ini sangatlah kuat memegang budaya. Budaya yang kemudian dituangkan dalam kalimat padat sederhana yang disebut Pancasila. Entah bangsa mana di jagat ini yang punya sila-sila macam bangsa kita.
Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan
(bener nggak ya ….sudah lama juga tidak pernah membaca sila-sila ini lagi)
Kalimat yang mungkin dirangkai setelah dipikir masak-masak oleh pemikir bangsa ini yang secara seenaknya diterjemahkan sebagai demokrasi. Kata yang datang dari bangsa lain yang konon mereka sebut suara tuhan. Entah tuhan yang mana yang mereka maksud, tapi bangsa ini terlanjur percaya bahwa tuhan itu cuma satu, yaitu ALLAH itu sendiri. Lalu jadilah kemudian demokrasi menjadi suara yang mutlak harus dituruti, harus menang, harus memimpin. Karena suara tuhan sudah pasti benar.

Kaji Terus "Berjuang" Untuk Menegakkan Demokrasi = Menang (foto from Detik)
Budaya yang penting menang ini pula yang menjadikan bangsa ini menjadi abai dengan kebenaran. Untuk apa benar jika kalah. Lebih baik salah tapi menang. Jikapun akhirnya karus kalah, anehnya para atlet demokrasi ini jarang yang sportif. Menuduh lawan bermain curang, meminta pertandingan ulang, bahkan kampiun demokrasi macam Amerika yang dipuja sebagai nabi bisa mengeluarkan fatwa kalah bagi Hamas yang nyata-nyata menang pemilu di Palestina. Suatu tindakan pengecut yang juga ditiru oleh umat penganut demokratis.

Walau Hamas Menang = Tetap Kalah; Penganut Demokrasi Nurut Nabi Amerika
Beberapa hari lalu, seorang ketua lembaga perwakilan daerah menjadi korban pertandingan demokrasi. Kelompok pemuja kemenangan tidak sabar meminta pengukuhan tuntutan mereka kepada sang ketua. Mereka mengejar, merangsek, mengobrak-abrik ruang sidang demokrasi sekaligus melancarkan pencabutan nyawa sang ketua. Pastilah semua atlet demokrasi yang ikut didalam permainan petak umpet demokrasi yang memakan korban itu akan berdalih dan tidak mau dicap sebagai pembunuh. Mereka sekedar mengikuti aturan permainan dan malaikat pencabut nyawalah yang menyebabkan sang ketua mangkat. Apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Itulah pertandingan menang kalah. Pertandingan yang abai terhadap benar salah. Yang menang menjadi benar dan yang kalah pastilah salah. Entah siapa yang seharusnya peduli terhadap femonena demokrasi gila ini.

Korban Jatuh - Fenomena Ritual Agama Baru = Demokrasi
Kasihan bangsa ini. Kasihan pendiri bangsa ini. Mungkin cita-cita mereka terlalu muluk untuk dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Jadilah bangsa ini sebagai pemuja tuhan, pengikut nabi Amerika / Barat, pengamal kitab demokrasi dengan ritual jihad demonstrasi. Toh tawaf dan lempar jamarat, yang merupakan rukun haji umat muslim pun kadang juga memakan korban. Pantaslah kalau demokrasi ini sudah menjadi agama baru bangsa ini. Siapa yang bisa menghindar apalagi menolaknya?
Biadab zionis israel ! January 18, 2009
Posted by merenung in Kehidupan, Umum.Tags: biadab, israel, palestina, zionis
add a comment

Membaca berita hari ini, walau hati masih geram telah tersirat sedikit rasa lega. Kebiadaban zionis israel (semoga ALLAH melaknat mereka) berhenti sementara dengan diumumkannya gencatan senjata sejak pukul 2 dini hari waktu setempat.
Pernyataan perdana menteri israel ehud olmert seperti dikutip cnn, mengatakan
“Hamas has been dealt a very serious blow,” olmert said. “We can say that the conditions have been brought about that enable us to say that the aims that we laid down for the operation have been completely achieved.”
Tidakkah dapat dibaca apa yang sebenarnya mereka inginkan? Mahluk zionis haus darah ini hanya menginginkan pembunuhan dan penghancuran. Sementara sedikit-demi-sedikit mereka menggerogoti tanah-tanah warisan Bangsa Palestina untuk mereka jajah. Mereka inilah teroris yang sebenar-benarnya.

Apa yang terjadi di Gaza – Palestina saat ini, sudah pasti membawa dampak keburukan bagi Bangsa Palestina turun-temurun. Tetapi apakah tidak akan berdampak buruk bagi orang lain seperti Bangsa Indonesia yang kebetulan terletak berjauhan?
Di negara yang penduduknya mengaku mayoritas Muslim ini mempunyai pendapat yang beragam. Walaupun semua (mungkin) bersimpati terhadap penderitaan masyarakat Palestina, masyarakat Gaza pada umumnya, tetapi beberapa orang berpendapat berbeda. Secara terang-terangan di sebuah stasiun TV gus dur menyalahkan “gangguan Hamas” terhadap israel dengan tembakan-tembakan roket sebagai penyebab zionis laknat ini membantai lebih dari 1.000 manusia tanpa kesalahan, sebagian dari mereka adalah wanita dan anak-anak. Membuat cacat seumur hidup lebih dari 5.000 orang lainnya. Menghancurkan ribuan rumah, tempat tinggal dan masjid serta sarana pendukung lainnya. Dan yang pasti mereka menghancurkan hati lebih dari semilyar masyarakat Muslim dunia. Entah apakah tindakan zionis israel itu sepadan dengan alasan “gangguan Hamas” sebagai Bangsa Palestina pewaris tanah itu, hingga gus dur dengan gaya “gitu aja kok repot-nya” menyalahkan Hamas.

Bagi nyawa yang terenggut oleh perilaku laknat zionis israel, insya ALLAH, semoga syahid. Mereka akan menghuni syurga. Tempat persinggahan terakhir yang diidam-idamkan mahluk ciptaan ALLAH.
Al Baqarah: 154
“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.”
Ali Imran: 169
“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki.”
Ali Imran: 195
“Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman), “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik.”
Apa yang terjadi dengan kita yang masih hidup ini?
Apakah semua yang terjadi pada saudara-saudara Muslim Palestina ini tidak ada akibatnya pada kita. Apakah ALLAH tidak akan bertanya apa yang kita perbuat atas perbuatan biadab zionis israel itu?
Bukankah telah nyata apa yang dilakukan oleh zionis biadab selama ini. Dan kita semua diam atas semua itu.
A;-’Ankabuut: 64
“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.”

Panggilan Itu December 31, 2008
Posted by merenung in Kehidupan, Umum.Tags: abai, haji, panggilan, tuli
add a comment
Seorang kawan sekelas waktu SMA meneruskan email di milis berisikan cerita seseorang yang menurutku baik untuk dijadikan pelajaran. Aku kutip seluruh tulisan secara utuh, baru kemudian aku tambahkan komentar perenunganku.
<<<<<==========>>>>>
*Judul Tulisan:* Panggilan Allah Hanya 3x saja
Saat itu, Dhuha, hari terakhir aku di Masjid Nabawi untuk menuju Mekah…….aku bertanya pada Ibu Yanti.
“Ibu, kataku, ada cerita apa yang menarik dari Umrah…?” Maklum, ini pertama kali aku ber Umrah. Dan Ibu Yanti, memberikan Tausyiahnya. Ibu Yanti adalah pemilik Maknah Tour Travel dimana saya bergabung untuk Umrah di bulan Juli 2007 yang lalu. Kebetulan umrahku dimulai di Madinah dulu selama 4 hari, baru ke Mekah. Tujuannya adalah mendapatkan moment Malam Jumat di depan Kabah. Jadi aku punya kesempatan untuk bertanya tentang Umrah.
Ibu Yanti berkata…”Shinta, Allah hanya memanggil kita 3 kali saja seumur hidup..”
Keningku berkerut……..”Sedikit sekali Allah memanggil kita..?”
Ibu Yanti tersenyum. “Iya, tahu tidak apa saja 3 panggilan itu..?”
Saya menggelengkan kepala.
“Panggilan pertama adalah Adzan”, ujar Ibu Yanti.
“Itu adalah panggilan Allah yang pertama. Panggilan ini sangat jelas terdengar di telinga kita, sangat kuat terdengar.
Ketika kita sholat, sesungguhnya kita menjawab panggilan Allah. Tetapi Allah masih fleksibel, Dia tidak “cepat marah” akan sikap kita. Kadang kita terlambat, bahkan tidak sholat sama sekali karena malas.
Allah tidak marah seketika. Dia masih memberikan rahmatNya, masih memberikan kebahagiaan bagi umatNya, baik umatNya itu menjawab panggilan Adzan-Nya atau tidak Allah hanya akan membalas umatNya ketika hari Kiamat nanti”.
Saya terpekur…..mata saya berkaca-kaca. Terbayang saya masih melambatkan sholat karena meeting lah, mengajar lah, dan lain lain.
Masya Allah………
Ibu Yanti melanjutkan, “Shinta, Panggilan yang kedua adalah panggilan Umrah/Haji. Panggilan ini bersifat halus. Allah memanggil hamba-hambaNya dengan panggilan yang halus dan sifatnya “bergiliran”.
Hamba yang satu mendapatkan kesempatan yang berbeda dengan hamba yang lain. Jalannya bermacam-macam. Yang tidak punya uang menjadi punya uang, yang tidak berencana malah bisa pergi, ada yang memang berencana dan terkabul. Ketika kita mengambil niat Haji / Umrah, berpakaian Ihram dan melafadzkan “Labaik Allahuma Labaik/ Umrotan”,
sesungguhnya kita saat itu menjawab panggilan Allahyang ke dua. Saat itu kita merasa bahagia, karena panggilan Allah sudah kita jawab, meskipun panggilan itu halus sekali. Allah berkata, laksanakan Haji / Umrah bagi yang mampu”.
Mata saya semakin berkaca-kaca………Subhanallah…….saya datang menjawab panggilan Allah lebih cepat dari yang saya
perhitungkan…….Alhamdulillah…
“Dan panggilan ke-3″, lanjut Bu Yanti, “adalah KEMATIAN.
Panggilan yang kita jawab dengan amal kita. Pada kebanyakan kasus,
Allah tidak memberikan tanda tanda secara langsung, dan kita tidak mampu menjawab dengan lisan dan gerakan.
Kita hanya menjawabnya dengan amal sholeh. Karena itu Shinta, manfaatkan waktumu sebaik-baiknya…
Jawablah 3 panggilan Allah dengan hatimu dan sikap yang Husnul Khotimah………..Insya Allah syurga adalah balasannya…..”
Mata saya basah di dalam Masjid Nabawi , saya sujud bertaubat pada Allah karena kelalaian saya dalam menjawab panggilanNya…..
Kala itu hati saya makin yakin akan kebesaranNya, kasih sayangNya dan dengan semangat menyala-nyala, saya mengenakan baju Ihram dan berniat……… Aku menjawab panggilan UmrahMu, ya Allah, Tuhan Semesta Alam………..
<<<<<<==========>>>>>

Jika tidak disamarkan, kuat diduga bahwa yang menulis adalah seorang wanita bernama Shinta. Nama yang mungkin diambil dari seorang putri cerita wayang Ramayana.
Mungkin memang hanya ada 3 pula jenis manusia yang dipanggil.
Tuli (tidak mendengar);
Azan, haji dan mati itu ada sejak jaman dulu. Mati itu sejak Nabi Adam AS, haji itu sejak jaman Ibrahim AS dan azan itu sejak Rasulullah Muhammad SAW.
Jadi kalau tingkah polah kehidupannya tidak mencerminkan sebagai manusia yang mendengarkan ke tiga panggilan itu, maka sebenarnya manusia ini telah “tuli”, karena tidak “mendengar” kala dirinya “dipanggil”.
Abai (dengar tapi tidak bersegera);
Ada jenis lain yang mendengar panggilan itu tetapi mengabaikannya. Tunda sholat karena sedang sibuk bekerja, tunda haji karena sedang menabung beli mobil baru dan sayangnya panggilan kematian tidak dapat ditunda-tunda sementara bekal untuk menghadapinya belum juga cukup terkumpul.
Hati-hati (selalu menunggu panggilan);
Ada jenis manusia yang menunggu waktu panggilan. Bergegas ke masjid menjelang waktu sholat berharap ganjaran pahala dari ALLAH. Bersiap-siap berangkat haji, seolah-olah ALLAH segera akan mencukupkan hartanya untuk bekal. Dan selalu menyegerakan semua urusan amal shaleh seakan esok hari sudah akan mati.
Kedua jenis manusia (tuli dan abai) mungkin akan berdalih dengan berbagai macam alasan, mengapa tidak bersegera memenuhi panggilan. Rasanya kedua jenis manusia ini akan bersegera memenuhi panggilan, manakala yang memanggil adalah manusia (presiden-nya, atasan-nya, kekasih hati-nya dst). Sementara panggilan ALLAH yang selama ini tidak pernah berhenti mencurahkan Rahman dan Rahim-Nya justru diabaikan atau tidak didengar sama sekali.
Semoga ALLAH membukakan hati kita, manusia yang abai dan membukakan telinga manusia yang tuli.
Menjaga Pandangan December 28, 2008
Posted by merenung in Kehidupan, Umum.Tags: bersyukur, dunia, kebendaan, pandangan
add a comment
Suatu masa, saat membincangkan bagaimana Lia Eden tergoda untuk meyakini bahwa Malaikat Jibril telah merasukinya, kawan seperjalanan menuturkan nasihatnya.
Untuk dapat menghindarkan diri dari godaan syaitan (yang memang sudah menjadi tekadnya untuk menjerumuskan manusia) ada beberapa hal yang perlu untuk dijalankan dalam kehidupan keseharian.
Beberapa hal tersebut adalah;
1. Memelihara wudhu; yang artinya selalu mengambil wudhu saat batal walaupun tidak dalam keadaan hendak melaksanakan sholat.
2. Takbiratul ula; yang artinya selalu mengikuti sholah berjama’ah di masjid sejak rakaat pertama (maksudnya tidak terlambat).
3. Berzikir; selalu berzikir. Saat luang setelah sholat subuh dan asr, kedua sholat ini tidak ada sunnah ba’diyah dapat dimanfaatkan untuk zikir.
4. Membaca Qur’an; dianjurkan untuk menghabiskan 1 juz setiap hari.
5. Puasa Sunnah; puasa Senin Kamis dan 3 hari tengah bulan.
6. Menjaga Pandangan;
Untuk yang nomor 6 ini, kawanku mengkomentarinya kira-kira seperti ini:
“Yang ini susah nih, karena kita laki-laki. Biasanya sulit untuk menundukkan pandangan kalau melihat wanita cantik”.
Aku sedikit menyanggah pendapatnya untuk nomor 6 ini.
Walau yang nomor 6 ini memang sulit disadari. Kalau batal wudhu, telat jama’ah di masjid, lupa zikir, tidak baca Qur’an dan puasa, pastilah kita sadar dan mengetahuinya dengan mudah. Tetapi menjaga pandangan, ini bukan perkara mudah untuk diketahui apalagi sadar.
Menjaga pandangan itu bukan hanya menjaga mata melihat wanita cantik (atau pria ganteng bagi para wanita). Melainkan justru menjaga pandangan kita dari hal-hal kebendaan (duniawi) yang tidak pernah disadari akan membunuh rasa bersyukur kita.

- Pesona Kebendaan Membunuh Rasa Syukur
Aku memberikan contoh yang sederhana yang terjadi pada diriku sendiri. Saat melihat orang lain mengeluarkan BlackBerry dari kantongnya, kontan saja aku terpikir untuk membelinya. Pasalnya uangpun ada. Apalagi makin hari semakin marak orang banyak mengantongi produk yang satu ini. Operatorpun menggoda dengan berbagai macam paket kemudahan untuk memilikinya, hingga kita tidak punya alasan untuk tidak membelinya. Harga murah, bisa dicicil, fasilitas on line terus-terusan, lalu apalagi yang ditunggu. Hilang sudah ruang bagi logika untuk mempertimbangkan. Masih adakah sisa di dalam hati kita untuk bersyukur?
Beberapa detik hawa nafsu kebendaan itu menjilati akal, logika mulai bertanya tentang amal shaleh apa yang akan didapat kala memiliki benda itu. Fasilitas on line terus-terusan akan membuatku memiliki akses internet tanpa batas, akses ke beberapa email secara simultan, akses-akses lain yang akan menyeret dan menyibukkanku kedalam dunia “lain”. Akan aku manfaatkan untuk keperluan apa, benda ini? Atau justru aku yang akan dimanfaatkan oleh produk teknologi ini.
Banyak hal lain yang dapat dijadikan contoh menjaga pandangan. Kita melihat orang lain lebih beruntung, lebih pandai dari kita, lebih kaya dari kita, lebih senang dari kita. Kita hidup lebih miskin dari orang lain, mobil kita lebih jelek dari mobil orang lain, rumah kita lebih kecil dari orang lain, gaji kita lebih rendah dari orang lain, karir kita lebih buruk dari oeang lain. Dan seterusnya-dan seterusnya. Kita lupa bahwa masih lebih banyak penduduk dunia yang jauh lebih tidak beruntung dibandingkan kita. Kita menjadi lupa bersyukur, saat tidak menjaga pandangan.
Menurut pendapatku menjaga pandangan itu untuk tidak mengarahkan pandangan kepada hal yang dapat membangkitkan hawa nafsu kebendaan (duniawi). Tentu saja hawa nafsu kebendaan (duniawi) manjadi terlalu dangkal jika dikaitkan hanya dengan persoalan sex belaka, lelaki kepada wanita atau sebaliknya.
Semoga ALLAH SWT selalu memberikan kekuatan agar kita selalu dapat menjaga pandangan kita.
Kejar Dunia, Kejar Akhirat October 31, 2008
Posted by merenung in Kehidupan, Simple.Tags: akhirat, dunia, hadist
add a comment
Rasanya sudah sering aku mendengar kalimat ini.
“Kejarlah dunia seakan-akan kamu akan mati seribu tahun lagi. Kejarlah akhirat seakan-akan kamu akan mati esok”
Umumnya ini dipergunakan untuk pembenaran aktifitas gigih mencari uang, menumpuk, membelanjakan dan tentu menikmatinya. Karena “mengejar dunia” umumnya selalu diartikan harta, materi, kekayaan, kenikmatan, pangkat, jabatan, kedudukan, status dan seterusnya. Dan “mengejar akhirat” selalu diartikan ritual ibadah, zikir, wirid, infaq/ sedekah, waqaf dan seterusnya. Sehingga aplikasinya adalah menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang, menumpuknya, membelanjakannya untuk kenikmatan (baik kenikmatan fisik, otak, jiwa, dan seterusnya). Lalu memohon ampun dengan ritual-ritual ibadah, agar penghalalan tersebut diampuni. Intinya memisahkan dunia dengan akhirat.
Yang menarik umumnya selalu diutarakan kepadaku saat bincang-bincang santai, seperti Selasa siang kemarin di kantor, dengan rantai kalimat: “Bukankah ada hadist yang mengatakan kejarlah dunia seakan-akan kamu akan mati seribu tahun lagi dan kejarlah akhirat seakan-akan kamu akan mati esok?”
Selalu saja aku balas dengan bertanya, “Hadist apa, siapa, mana rujukannya?”. Seperti biasa, karena sama-sama awam, kata yang paling tepat untuk menjawab pertanyaanku adalah “Katanya…”. Katanya hadist. Katanya hadist.
Bagiku ada cara yang paling mudah yang selalu saja aku pergunakan untuk menerima atau menolak hadist (untuk sementara, saat berbincang-bincang), tentu akhirnya harus merujuk kepada rujukan yang kuat. Aku meyakini bahwa yang dimuliakan oleh ALLAH, Rasulullah Muhammad SAW, adalah manusia yang seluruh hidup dan matinya dijaga oleh ALLAH SWT. Seluruh kehidupan dan kematiannya sebagai manusia direncanakan sempurna, dari sebelum lahirnya, antara lahir dan kematiannya dan tentu sesudah matinya. Kebenarannya, kesalahannya, kesenangannya, marahnya, keinginannya dan seterusnya, seluruhnya dijaga oleh ALLAH SWT. Berbeda dengan kesempurnaan manusia lainnya. Itulah mengapa Beliau menurut keyakinanku dilepaskan dari “hukuman” kesalahan. Kesalahan yang juga bagian rencana ALLAH SWT dengan maksud yang mulia. Berbeda dengan kesalahan yang dilakukan manusia lainnya. Karena keyakinan itulah, jika ada hadist (seperti yang disebutkan tadi) yang “katanya” dari Rasulullah SAW, aku langsung saja melihat riwayat kehidupan Beliau. Adakah Beliau hidup dengan menumpuk harta? Adakah Beliau mengejar dunia? Adakah Beliau menikmati dunia? Jika Rasulullah SAW berucap tentulah Beliau akan melaksanakan ucapannya. Kalaupun ada keinginan Beliau yang sempat Beliau ucapkan tetapi Beliau tidak laksanakan (atas kehendak / rencana ALLAH), menurutku keinginan itu bukanlah suatu yang perlu kita ikuti. Bukankah Beliau tidak melakukannya? Kenapa pula kita ingin lebih dari Beliau? Praktisnya, untuk sementara (sebelum check ‘n recheck) aku hanya menerima hadist yang Rasulullah SAW sendiri melakukannya.
Jika pertanyaannya, bukankah Rasulullah SAW mengejar akhirat seakan-akan Beliau akan mati esok? Sebagai salah satu contoh, adalah shalat malam beliau. Pertanyaan yang seakan ingin membenarkan potongan terakhir untaian kalimat tadi. Kalau tidak keliru, ada riwayat yang menceritakan kaki Beliau yang bengkak karena lama berdiri shalat malam. Saat diingatkan oleh Istri Beliau RA, mengapa Rasulullah SAW shalat sedemikian giatnya? jawaban Beliau tidaklah mencerminkan Beliau sedang mengejar akhirat. Melainkan Beliau melakukan sebagai rasa syukur dan terima kasih kepada ALLAH SWT yang telah memuliakan Beliau diantara manusia lainnya. Jadi jika kita ingin mengikuti Beliau dengan beribadah shalat malam (misalkan, salah satunya), maka lakukanlah untuk bersyukur dan berterima kasih kepada ALLAH SAW karena telah diberikan nikmat iman dan nikmat Islam (nikmat yang penting dari demikian banyak nikmat-nikmat lainnya).
Jadi menurutku, tidak ada satupun alasan pembenaran mencari kekayaan, pangkat, jabatan, status dan seterusnya dengan menghalalkan segala cara, seakan-akan kita mati 1000 tahun lagi. Dan kemudian seolah-olah membersihkannya dengan meminta ampun kepada ALLAH SWT dan beribadah sebanyak-banyaknya, seakan kita mati esok. Walau memang ALLAH SWT Maha Pengampun, Pengasih dan Penyayang.
Jika ternyata aku salah, itu karena kebodohanku dan aku meminta ampun kepada ALLAH SWT.
ALLAH jualah Yang Maha Mengetahui.
Selalu Sepasang October 7, 2008
Posted by merenung in Kehidupan.Tags: dunia, pahala, pasangan, titipan
add a comment
ALLAH Sang Maha Pencipta menurutku memang menciptakan semuanya berpasangan. Diciptakan siang ada malamnya, diciptakan baik ada buruknya, diciptakan senang ada susahnya, diciptakan sulit ada mudahnya. Dan karena itulah ALLAH menjadi Yang Maha Tunggal (tidak berpasangan). Bagiku menjadi jelas tidak ada Kuasa ALLAH (berupa kebaikan) yang sebanding / bersanding (perpasangan) dengan kuasa iblis atau setan berupa keburukan. Karena Ketetapan ALLAH hanyalah berupa kebaikan, walau dapat dipandang sebagai keburukan sebagaimana dapat dipandang sebagai kebaikan. Itu hanyalah karena kebodohan manusia yang memandangnya.
Jika semua ditetapkan sepasang, maka setiap kebaikan selalu saja ada sisi keburukannya (dari sisi pandang manusia). Jika kita mendapatkan maka kita juga akan kehilangan. Jika kita menerima kebaikan niscaya kita akan menerima keburukan (sekali lagi, dari sisi pandang kita). Dia bagai mata uang yang memiliki dua sisi yang tidak dapat kita pisahkan atau kita bedakan nilainya (lagi-lagi, dari sisi pandang kita). Jika kita menerima keberutungan senilai 100 rupiah, maka siap-siaplah untuk juga kehilangan yang 100 rupiah itu. Hukum ini menurutku telah ditetapkan oleh ALLAH, sebagaimana kita menerima kehidupan dengan segala isinya di dunia ini bukan menjadi milik melainkan hanya menjadi titipan belaka. A’a Gym (walau sedari awal bukanlah yang menjadi referensiku), kali ini menggambarkan dengan cukup baik kehidupan kita bak tukang parkir mobil. Tukang parkir (sebagaimana kita hidup) tidak pernah merasa memiliki kendaraan yang dititipkan kepadanya. Tukang parkir tidak bisa menyombongkan mobil mewah yang dititipkan kepadanya, tidak menikmati kecuali memandanginya dan bahkan akan merasa terbebani manakala titipan menjadi banyak dan tidak terawasi. Pada saatnya lapangan parkir itu akan kembali kosong, dimana semua kendaraan titipan sudah diambil kembali oleh yang punya dan tukang parkir itu kembali sendiri tanpa kendaraan titipan. Tetapi manusia hidup justru mencari titipan sebanyak-banyaknya.
Beberapa pandangan hidup, mungkin terinspirasi dengan ciptaan yang berpasangan dan titipan yang hanya akan membebani, mengambil jalan menolak itu semua. Menolak untuk menerima materi, menolak untuk menerima pasangan (berkawin), menolak untuk menerima anak keturunan dan seterusnya, apalagi mencarinya. Mencari materi, mencari pasangan (kawin), berusaha mendapatkan anak (dari perkawinan) dan seterusnya. Kita bisa melihat disekeliling kita orang-orang yang memilih untuk menolak itu semua, mungkin karena mengetahui mereka hanya akan terbebani dan akhirnya kehilangan semuanya.
Indahnya agama yang dibawakan oleh Nabi ALLAH Muhammad SAW menunjukkan sikap yang berbeda da;am menyikapi ketetapan ini. Jika semua orientasi perjalanan dunia hanya untuk persiapan akhirat, maka justru kita harus mengusahakan semua urusan dunia semampu kapasitas kita. Kita mencari semua urusan dunia untuk bekal akhirat, tanpa kecuali.
Semua materi yang kita cari dan dita dapat, kita maknai sebagai titipan dimana kita harus mengeluarkan zakat darinya, memanfaatkan untuk membiayai kebutuhan untuk memelihara amanah, seperti makan untuk tubuh, tempat tinggal, sekolah anak-anak dan seterusnya, yang insya ALLAH akan mendatangkan pahala berlipat kala kita menjalankannya. Bukankah amal kita sangat tergantung dari niat kita? Sisa materi yang ada setelah pemenuhan kewajiban utama kita, kita belanjakan untuk tabungan masa depan kita. utamanya tabungan akhirat kita.
Kita mencari pasangan (istri atau suami) untuk mengumpulkan pahala atas perkawinan itu. Membina dan mempertahankan rumah tangga semata karena ALLAH menjadi dasar semua ganjaran pahala atas saling menghormati, saling pengertian, kesabaran dan cinta kasih diantara pasangan. Demikian pula halnya upaya kita mendapatkan keturunan yang sebaik-baiknya.
Dengan cara seperti itu, rasanya kita tidak perlu menghindari dunia melainkan justru memanfaatkannya untuk tabungan akhirat kita. Yang rugi tentu saja orang-orang yang mengejar dunia untuk kenikmatan dunia semata. Alih-alih mendapatkan kenikmatan dunia mereka justru akan kehilangan seluruh apa yang didapatkannya di dunia dan kecewa karena ternyata di akhirat mereka banyak hutang. Hutang untuk kenikmatan dunia yang belum sempat mereka cicil pengembaliannya (walau sudah diberi diskon dan tanpa bayar bunga he…he…he…..).
Sehungguhnya hanya ALLAH Yang Maha Mengtahui.
At-Takaatsur August 9, 2008
Posted by merenung in Kehidupan, Umum.Tags: iran, kaya, megah, miskin, pakistan, takaatsur
2 comments
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
﴿١﴾ أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ
﴿٢﴾ حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ
﴿٣﴾ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ
﴿٤﴾ ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ
﴿٥﴾ كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ
﴿٦﴾ لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ
﴿٧﴾ ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ
﴿٨﴾ ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ
1. Bermegah-megahan telah melalaikan kamu,
2. sampai kamu masuk ke dalam kubur.
3. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu),
4. dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui.
5. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin,
6. niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim,
7. dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan `ainul yaqin,
8. kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).
Sambil bincang-bincang di tempat langganan makan siang ba’da sholat Jum’at, salah satu kawan memulai da’wahnya hasil kajian minggu lalu.
Kali ini dia menggambarkan, betapa kita jauh dari menahan diri untuk ber-megah-megah. Karena , bahkan makan tiga kali dalam seharipun pada jaman Rasulullah SAW sudah dapat digolongkan ber-megah-megah. (tentu harus dilihat konteksnya pada masa itu) Ataupun memiliki baju lebih dari 3 stel, juga sudah dapat dikatakan bermegah-megah. Bagaimana dengan kita-kita yang selalu menjaga perut tetap kenyang ini?
Mungkin hal yang dalam bahasa sederhana dikenal dengan “pola hidup sederhana” ini memang sudah banyak dilupakan. Orang kaya (banyak uang) berdalih memanfaatkan (menikmati) kekayaannya sebagai wujud syukur atas pemberian ALLAH kepada mereka. Sementara orang miskin (kekurangan uang) cenderung memakai dalih sabar untuk ketidak mampuannya menikmati dunia (dengan kata lain, seandainya mereka kaya mungkin akan cenderung bermegah-megahan juga).
Padahal ayat-ayat diatas mutlak kebenarannya. Bahwa penafsiran-nya bisa berbeda, kita tinggal menunggu pembuktiannya “nanti”.
Kembali ke bangku sekolah saat kita diajari ilmu pasti, maka akan mudah menerima logika contoh sederhana ini.
Jika kita punya satu stel baju, maka satu stel baju itu akan kita pakai sepanjang hari (hidup). Yang artinya termanfaatkan 100%.
Kalau kita punya dua stel baju, pasti rata-rata pemanfaatannya akan menjadi hanya 50%. Dan itu pasti rata-rata hanya 50%.
Kalau kita punya satu stel baju kerja dan satu stel baju tidur, hampir pasti rata-rata pemanfaatannya 100% untuk masing-masing kebutuhan.
Jika wujud syukur itu adalah memanfaatkan amanah dengan optimal (untuk tujuan, dengan cara dan waktu) yang sesuai dengan perintah ALLAH, maka menjadi mudah menghitung (dengan ilmu pasti) mengapa kita dianjurkan membatasi kebutuhan kita.
Berguman dengan pandangan menerawang, kawan meneruskan : “Wah…., kalo gue masih jauh banget dari situ…….”. Bukan hanya kawan ini sebenarnya yang jauh dari bersyukur, tetapi aku dan mungkin masih banyak yang lain. Bagaimana tidak, kita dianjurkan membatasi “kebutuhan” kita, sedangkan aku sendiri lebih sering memikirkan “keinginan” (hawa nafsu).
Seorang kawan mengirimkan foto-foto (mungkin diambil dari internet) yang membandingkan dua orang pemimpin negara muslim. Betapa kontras dan sangat menggambarkan penyikapan ayat-ayat diatas. Semoga menjadi peringatan bagi kita semua, yang bukan siapa-siapa dibandingkan kedua presiden ini.
Bandingkan juga ibukota kedua negara yang dipimpinnya:
http://en.wikipedia.org/wiki/Tehran
http://en.wikipedia.org/wiki/Islamabad
Akhirnya, semua berpulang kepada kita masing-masing. Kepastian seperti apa yang kita akan hadapi dan pertaruhkan untuk semua ketidak-pastian dunia ini.

