Sakit Mahal, Sehat Tak Ternilai April 10, 2008
Posted by merenung in Kesehatan.Tags: demam berdarah, diabetes, sakit
1 comment so far
Kali ini tetangga depan rumah dirawat di rumah sakit tidak jauh dari rumah karena kena demam berdarah. Ceritanya aku menyempatkan jenguk ke rumah sakit, sekalian lewat waktu mau pulang dari jalan-jalan dengan anakku.
Menuju lantai tempat tetanggaku dirawat, sampai mengetuk pintu masih belum terbayang ruang rawat yang akan aku masuki, walau sudah sempat dua kali aku dirawat di rumah sakit ini, kedua-duanya karena demam berdarah. Waktu pintu aku buka, ternyata ruang itu besar sekali. Tetanggaku tergolek di tempat tidur dekat dengan jendela, ruangan itu terasa lapang dengan adanya penyekat terpisah sofa tamu dan meja makan. Mewah amat, dalam hatiku.
Cerita sana-sini tentang penyakit, akhirnya dia bercerita bagaimana bingungnya mencari kamar. Waktu pertama mengetahui bahwa trombosit sudah 90 ribu, tidak ada jalan lain kecuali mencari kamar rumah sakit untuk dirawah. Dalam kondisi yang telah diketahui harus dirawat itulah rumah sakit menjawab permintaan kamar tetanggaku dengan kalimat yang konon sudah standar untuk orang-orang tertentu yang meminta kamar kelas satu (satu kamar bisa untuk dua orang).
“Kamar sudah penuh semua. Yang tersisa hanya satu kamar kelas satu, tapi yang pasien yang satu sakit diabetes dan sedang observasi. Yang lainnya Super VIP tinggal sisa satu”.
Tetanggaku masih berupaya mencari kamar rumah sakit lain yang sekelas dan mendapat jawaban sama; “Sisa satu Super VIP, tiga juta setengah satu malam”.
Mau tak mau tetanggaku tidak ingin mengambil resiko dengan tidur di rumah, maka dirawatlah dia di kamar yang luas itu. Kalau malam ditinggal sendirian, karena istri bekerja dan mengurus ketiga anaknya di rumah.
Menutup cerita standar pelayanan rumah sakit itu, ternyata di tempat yang setiap pengukuran temperatur tubuh dikenakan charge untuk pengecekan itu, dia sempat guyon :”Gue gak tau nih, tadi minta dua wash lap untuk ngompres, di charge juga kali….he….he…..he…….”, sambil tertawa kecut.
Jaga kesehatan. Kalau sakit sudah semahal itu, kesehatan itu bagai harta tak ternilai.
Lagi-lagi Rokok March 10, 2008
Posted by merenung in Kesehatan.Tags: haram, nyawa, rokok
2 comments
Gara-gara teman bicara tentang rokok di milis, aku jadi ingin menulis hal tentang rokok ini.
Tahun-tahun terakhir sebelum aku berhenti merokok, di kantong selalu sedia salah satu dari 2 jenis rokok filter (Marlboro atau 555) dan 1 jenis rokok keretek (234).
Marlboro dan 555, walau sama-sama rokok putih (?) tapi dihisap dalam waktu yang beda. Rokok putih Marlboro terus menerus menemani bibir, sementara 234 lebih cocok sebagai pencuci mulut dan pengantar angan-angan.
Sepulang dari tempat itu aku termenung dan bertanya ke dalam diriku.
Bukankah aku juga memperlakukan rokok bak nyawaku.
Bukankah makanku tak nikmat jika tak ditutup dengan rokok.
Bukankah di sela-sela main tennis aku istirahat dan mengambil nafas dari rokok.
Bukankah aku hanya bisa berkontribusi dalam rapat jika dikawal dengan rokok.
Bukankan ide-ide hanya muncul bersamaan dengan hirupan rokok.
Bukankah ke toilet pun aku harus ditemani oleh rokok.
Bukankah itu tanda-tanda aku menduakan ALLAH SWT?
Bukankah itu tanda-tanda aku me-nuhankan rokok?
Hukumnya?
Merugikan – merugikan, hukumnya dilarang (haram).
Merugikan – menguntungan, hukumnya haram.
Menguntungkan – merugikan, hukumnya haram.
Menguntungkan – menguntungkan, hal inilah yang diatur.
Apalagi jika kita membeli kenikmatan dengan meracuni orang lain (perokok pasif), lalu apa hukumnya jika tidak haram (dilarang)?
Obat Cina – Angong Niuhuang Wan January 30, 2008
Posted by merenung in Kesehatan.Tags: Angong Niuhuang Wan
add a comment
Awal Januari lalu, seperti kebiasaan selama ini, hari Senin aku puasa. Badan agak terasa lemas dan kepala pening pagi itu, aku minta tolong teman untuk dipijat ditengkuk. Siang hari, ba’da dzuhur harus berangkat untuk ikut RUPS Tahunan anak perusahaan yang agak tertunda, salah satunya untuk mengesahkan anggaran 2008. Agak terpaksa karena harus duduk di bagian pemegang saham, dari awal sudah melihat-lihat terus ke langit-langit tempat AC palfon menyemburkan angin dingin tepat ke arah kepala sambil berfikir, “Alamat tambah pening deh”. Apalagi ruang yang luas itu hanya diisi beberapa orang saja. Rapatnya sendiri berjalan biasa saja dan tidak terlalu membuat pusing. Tetapi karena tengah berpuasa dan sedang pening, ditambah semburan angin dingin AC diatas kepala, tentu saja tengkuk bertambah pegal dan menambah pening kepala. “Masuk angin”, pikirku.
Memang sadar bahwa agak sedikit dzolim terhadap diri sendiri, karena beberapa hari sebelumnya sudah dijalani dengan kurang seimbang. Sebelum libur Natal dan akhir tahun, sempat begadang tidak tidur lebih dari 24 jam. Memang kerja dikantor dengan target sebelum libur panjang, karena biasanya kantor afiliasi yang ada di negri kangguru orang-orangnya akan libur sampai pertengahan Januari. Agak memaksakan diri. Libur panjang akhir tahun, diisi dengan aktifitas “nukang” dan ngisi apartemen mungil. Berangkat dari rumah pagi hari, belanja perkakas dan lain-lain, terus nukang dan pulang malam hari. Asyik juga sih. Belum lagi tidur dini hari pas tahun baru, walaupun tidak ada acara khusus kecuali makan bersama dengan keluarga di rumah adik dan lihat dari kejauhan para tetangga menyalakan kembang api bersahut-sahutan. Agak kontras memang, sementara yang lain prihatin dan mengadakan zikir bersama, sebagian lainnya membakar kembang api yang hanya bisa dinikmati beberapa menit saja. Intinya akhir tahun yang kurang sehat.
Pulang dari acara rapat, naik taksi dengan kawan untuk kembali ke kantor sekitar jam 4 sore. Dengan tengkuk pegal dan kepala masih tetap pening aku sandarkan kepalaku di tempat duduk belakang sambil mencoba mengistirahatkan pikiran. Setengah perjalanan yang agak macet, karena memang jam pulang kantor, aku mulai merasakan kesemutan dari tengkuk sampai tulang ekor. Walau AC mobil sepertinya cukup dingin, tapi badan terasa panas dan agak berkeringat, mungkin juga karena menahan pening kepala. Tiba-tiba ada perasahan berbeda yang menjalar di tengkuk dan anehnya kepala dan tengkuk menjadi enteng. Peningnya berkurang bahkah bisa dikatakan hilang. Waktu mencoba mengankat tangan kanan, ternyata tangan terasa lemas. Juga kaki sebelah kanan. Mencoba mengusap wajah sebelah kanan, terasa ada strum menyengat diwajah.
Sedikit menenangkan diri, saya coba tanya ke teman di sebelah, “Kenapa ya, tangan saya kebas seperti kesemutan dan lemas? Apa muka saya pucat?” sambil aku gerak-gerakkan tangan dan kaki kanan. “Pucat pak, jangan terlalu dipikirkan. Apa ini langsung pulang saja?”, ternyata belakangan mengaku juga bahwa ada perasaan takut pada saat itu. Singkat cerita, turun taksi dipapah, dengan agak menyeret kaki kanan berjalan masuk ke kantor.
Malam itu saya dibawa ke pijat refleksi (kebetulan sudah kenal sejak jaman SMA dulu) dan diberi obat. Seperti biasa, obat dibungkus bola lilin sebesar kelereng besar, isinya dodol sebesar kelereng untuk disedu dengan air mendidih. Kalau dibaca huruf latin-nya Tong Ren Tang, sepertinya obat untuk heat stroke dan sejenisnya. AlhamduliLLAH, ces pleng…….
Masih rutin sampai sekarang pijat refleksi, alhamduliLLAH, hanya karena kemurahan ALLAH SWT, saat ini badan cukup bugar. Tadi pagi jalan treadmill 30 menit dan keluar keringat cukup banyak. (tengkuk sih kadang masih pegal-pegal)
Merenungkan kejadian tangan dan kaki lemas seperti itu ngeri rasanya. Semoga menjadi pelajaran yang berharga dan lebih berhati-hati menjaga kesehatan. Apalagi umur sudah tidak lagi muda. Tubuhpun akan protes kalau di-dzolimi.
Terima kasih ya ALLAH, Engkau berikan aku kesempatan untuk memperbaiki sikap yang selama ini berbuat tidak seimbang dan adil terhadap tubuhku. Kuatkan aku ya ALLAH, agar aku selalu dapat berusaha menjaga amanah yang engkau titipkan kepadaku. Amin.
Makan-lah Dengan Benar January 23, 2008
Posted by merenung in Kesehatan.Tags: makan, nikmat
add a comment
Sepertinya, kebanyakan orang jaman sekarang sakit karena dua sebab utama, walaupun masih banyak penyebab lainnya. Dua penyebab utama tersebut adalah pikiran dan pola makan.
Merenungi pola makan yang sudah dijalani selama hidup ini, ternyata banyak sekali yang sudah salah dijalankan. Baik dari cara, jenis, waktu atau banyaknya. Sering kali, karena nikmat, makanan tidak dikunyah dengan baik (dan cukup). Dan itu mengakibatkan beban kerja lambung maupun usus menjadi berat. Belum lagi kegemaran makanan manis, goreng-gorengan atau makanan bersantan. Gurih memang. Makan malam hari, bahkan menjelang tidur. Ada saja yang bilang, kalau perut lapar (kosong) tidur malam tidak bisa nyeyak. Mentang-mentang enak, porsi makanpun menjadi banyak, goreng-gorengan dengan nasi gurih di malam hari. Nikmat…….
Mungkin banyak sudah buku-buku yang mengajarkan cara makan yang baik, kombinasi jenis makanan yang tepat atau bahkan menyesuaikan dengan golongan darah masing-masing orang. Tapi mungkin dan saya yakini benar, adalah cara makan Rasulullah SAW. Makan dengan waktu yang teratur pada saat lapar dan berhenti sebelum kenyang.
Ada juga nasehat tambahan untuk cara makan Rasulullah SAW itu, katanya kecuali jam 12:00 sampai dengan jam 18:00 kita hanya boleh makan buah-buahan. Kalau begitu, sarapan dan makan malamnya buah-buahan, sedangkan makan siang boleh bebas…..asal……tidak boleh sampai kenyang.
Mudah-mudahan kita selalu diberikan kekuatan untuk menjaga kesehatan kita dengan menjaga pola makan kita.

