jump to navigation

Jangkrik Rambo May 19, 2009

Posted by merenung in Serba-serbi, Umum.
Tags: , ,
add a comment

Seorang kawan Madura, membangga-banggakan jangkrik aduan kesayangannya. Rambo, si jangkrik aduan diberi nama. Nama yang dia anggap layak karena sang jagoan tidak pernah kalah dalam ajang aduan manapun. Kawan Jawa penasaran. Pasalnya jangkrik aduannya menang-kalah terus tergantung angin bertiup. Ini membuatnya kalah nama dibanding kawan Madura.

Dengan rasa penasaran, suatu kali dia coba menawar untuk membeli si Rambo yang begitu dikenal ceritanya itu. Tak dinyana kawan Madura memberikan angka fantastis untuk melepasnya. Dari pada mati penasaran, kawan Jawa membayar dengan berat hati dan mencoba menghibur diri.

Siapa yang berani melawan Rambo, pikir kawan Jawa dengan bangga. Dari arena ke arena Rambo selalu menang, kawan Jawa naik daun. Sambil mengilik-kilik Rambo, kawan Jawa menikmati kopi kentalnya. Nikmatnya jadi jagoan.

Tak lama dada membusung, santer terdengar cerita jagoan tetangga kawan Buton. Jangkrik hitam yang katanya juga belum pernah kalah. Si Hitam, nama jangkrik sesuai warna hitam legam. Kawan Jawa penasaran. Mulailah tantangan dikirimkan. Gayung bersambut, haripun ditentukan.

Rambo dan Hitam berhadap-hadapan. Bukannya bertarung, Rambo langsung mepet tembok lari kesana-kemari. Rambo kalah….., Rambo kalah…… teriak penonton merontokkan sendi-sendi kawan Jawa. Dengan hati dongkol kawan Jawa menemui kawan Madura.

Diseretnya kawan Madura ke arena. “Ndak mungken Rambo kalah…., ndak mungken…,” guman kawan Madura terus-menerus meyakinkan kawan Jawa yang terus mengomel. Sampai di arena, kawan Madura langsung memeriksa Rambo. Jangan-jangan Rambo tidak fit saat ditandingkan. “Bo….Rambo. Kamu kok kalah mBo…..,” tanya kawan Madura kepada Rambo. Rambo gemeteran. “Kenapa kamu kok takut mBo….?” tanya kawan Madura penasaran. “Koe bilang Rambo nggak bisa kalah. Sekarang ketakutan kayak gitu…!” komplain kawan Jawa terus-terusan.

Kawan Madura beranjak menghampiri kandang si Hitam, sambil terus berfikir. “Boh……, ini mosohnya toh?” kawan Madura berteriak terperanjat, membuat semua hadirin ikut terkejut. “Kenapa memangnya…?” kawan Buton ikut penasaran. “Apa…..apa……?” teriak kawan Jawa.

“Bo-abbo……, kalo lawan ini ya kallah si Rambo. Lha wong ini komandan-nya. NDak branee Rambo nglawan komandannya. Sallah kalo Rambo branee……!” jawab kawan Maduran enteng sambil ngeloyor pergi, meninggalkan orang-orang terbengong-bengong tidak habis mengerti.

(ditulis kembali dari cerita kawan lama saat menjamu di gazebo tepi danau di depan rumah bambunya)

*pemilihan daerah (suku) hanya kebetulan hanya untuk unsur lucu dan bukan untuk melecehkan atau maksud lainnya atau ada unsur  SARA lainnya.

Antara Nidji dan Rokok February 9, 2009

Posted by merenung in Serba-serbi, Umum.
Tags: , , , ,
add a comment

banner_nidji1

Nidji merupakan salah satu dari sedikit kelompok musik anak muda yang aku suka. Bahkan diantara yang lainnya, hanya kaset Nidji yang ada di dalam mobilku. Lagu-lagu Nidji yang paling banyak aku bisa nyanyikan. Penyanyi Nidji, Giring, konon pernah bersekolah di SMA dimana aku pernah sekolah juga disana. Jadi memang ada sedikit emosional kalau senior menyukai juniornya. Kakak ipar yang pulang haji menunjukkan foto bersama Giring yang kebetulan ketemu di Tanah Haram saat mereka menunaikan wukuf di Arafah. Aku memang nge-fans sama Nidji.
banner_nidji2
Tapi beberapa waktu lalu aku agak terperangah, saat melihat mereka menyanyikan jingle iklan rokok. Benda yang baru saja di-fatwa-kan haram oleh lembaga ulama di negara ini. Sayang juga rasanya jika untuk alasan uang mereka harus melupakan keberpihakan kepada kebaikan, seperti meninggalkan rokok dan alkohol. Menjual kebaikan demi uang dan ketenaran. Mengisi amalan haji dengan mengajak kepada kemubaziran. Mengajak meracuni diri dan meracuni orang sekitar. Sangat disayangkan.
banner_nidji3
Andai mereka merokok, sepertinya tidak ada masalah, karena walaupun di fatwa haram, toh orang tetap tidak melanggar hukum jika terus merokok. Kecuali di tempat-tempat yang memang dilarang oleh Perda. Itupun sekarang sudah mandul. Orang sudah seenak udelnya merokok di dalam kendaraan umum, mal-mal, bahkan rumah sakit. Mungkin Giring lupa bahwa dia pernah dicatat telah berhenti rokok dan alkohol. Lihat catatan Detik.Com tentang hal itu.

Demokrasi = Agama Baru February 7, 2009

Posted by merenung in Kehidupan, Serba-serbi, Umum.
Tags: , , ,
add a comment

Demokrasi. Kata yang sangat sering dipakai dan seolah menjadi kunci peradaban manusia modern. Jika tidak demokratis maka otomatis akan menjadi manusia primitif bahkan purba. Entah mengapa peradaban manusia menjadi pemuja demokrasi, padahal boleh dikatakan bangsa ini sangatlah kuat memegang budaya. Budaya yang kemudian dituangkan dalam kalimat padat sederhana yang disebut Pancasila. Entah bangsa mana di jagat ini yang punya sila-sila macam bangsa kita.

Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan

(bener nggak ya ….sudah lama juga tidak pernah membaca sila-sila ini lagi)

Kalimat yang mungkin dirangkai setelah dipikir masak-masak oleh pemikir bangsa ini yang secara seenaknya diterjemahkan sebagai demokrasi. Kata yang datang dari bangsa lain yang konon mereka sebut suara tuhan. Entah tuhan yang mana yang mereka maksud, tapi bangsa ini terlanjur percaya bahwa tuhan itu cuma satu, yaitu ALLAH itu sendiri. Lalu jadilah kemudian demokrasi menjadi suara yang mutlak harus dituruti, harus menang, harus memimpin. Karena suara tuhan sudah pasti benar.

Kaji Terus "Berjuang" Untuk Menegakkan Demokrasi = Menang (foto from Detik)

Kaji Terus "Berjuang" Untuk Menegakkan Demokrasi = Menang (foto from Detik)

Budaya yang penting menang ini pula yang menjadikan bangsa ini menjadi abai dengan kebenaran. Untuk apa benar jika kalah. Lebih baik salah tapi menang. Jikapun akhirnya karus kalah, anehnya para atlet demokrasi ini jarang yang sportif. Menuduh lawan bermain curang, meminta pertandingan ulang, bahkan kampiun demokrasi macam Amerika yang dipuja sebagai nabi bisa mengeluarkan fatwa kalah bagi Hamas yang nyata-nyata menang pemilu di Palestina. Suatu tindakan pengecut yang juga ditiru oleh umat penganut demokratis.

Walau Hamas Menang = Tetap Kalah; Penganut Demokrasi Nurut Nabi Amerika

Walau Hamas Menang = Tetap Kalah; Penganut Demokrasi Nurut Nabi Amerika

Beberapa hari lalu, seorang ketua lembaga perwakilan daerah menjadi korban pertandingan demokrasi. Kelompok pemuja kemenangan tidak sabar meminta pengukuhan tuntutan mereka kepada sang ketua. Mereka mengejar, merangsek, mengobrak-abrik ruang sidang demokrasi sekaligus melancarkan pencabutan nyawa sang ketua. Pastilah semua atlet demokrasi yang ikut didalam permainan petak umpet demokrasi yang memakan korban itu akan berdalih dan tidak mau dicap sebagai pembunuh. Mereka sekedar mengikuti aturan permainan dan malaikat pencabut nyawalah yang menyebabkan sang ketua mangkat. Apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Itulah pertandingan menang kalah. Pertandingan yang abai terhadap benar salah. Yang menang menjadi benar dan yang kalah pastilah salah. Entah siapa yang seharusnya peduli terhadap femonena demokrasi gila ini.

Korban Jatuh - Fenomena Ritual Agama Baru = Demokrasi

Korban Jatuh - Fenomena Ritual Agama Baru = Demokrasi

Kasihan bangsa ini. Kasihan pendiri bangsa ini. Mungkin cita-cita mereka terlalu muluk untuk dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Jadilah bangsa ini sebagai pemuja tuhan, pengikut nabi Amerika / Barat, pengamal kitab demokrasi dengan ritual jihad demonstrasi. Toh tawaf dan lempar jamarat, yang merupakan rukun haji umat muslim pun kadang juga memakan korban. Pantaslah kalau demokrasi ini sudah menjadi agama baru bangsa ini. Siapa yang bisa menghindar apalagi menolaknya?

Genk Sekolah? Mau Kemana? January 30, 2009

Posted by merenung in Serba-serbi, Umum.
Tags: , , ,
1 comment so far

Hari itu, Jum’at 16 Januari 2009. Ba’da magrib panggilan masuk cellphone saat itu aku menunggu akan pijat refleksi. Suara istriku diseberang sana memberitahu kalau anak lelaki-ku (anak nomor dua) ditangkap polisi. Semula aku agak terkejut, karena penyebabnya adalah tawuran anak sekolah. Tempat tawuranpun cukup jauh dari lokasi sekolah anakku. Tentu saja persepsi menyeret ke arah anakku yang salah karena menyerang anak sekolah lain. Walau agak gundah, ternyata istriku telah datang dan menyelesaikan proses di kantor polisi itu, hingga anakku dilepaskan dan diperbolehkan pulang. Tiga orang guru sekolah dan keempat orang tua murid kawan dari anakku ikut dalam proses itu.

Sampai di rumah malam itu aku sudah sempat mengatur emosi dan memutuskan untuk tidak marah. Lagi pula anakku tidak ditahan oleh polisi. Aku tanyakan apakah sempat terjadi perkelahian, ternyata ceritanya agak lucu. Dan untuk itu tidak habis-habisnya aku mensyukuri apa yang terjadi. Peristiwa itu sungguh sangat membantu aku dan bermanfaat bagi anakku.

Konon dari cerita yang aku terima, siang itu anakku menerima telepon dari salah seorang temannya yang memberitahu bahwa dia dikeroyok oleh anak sekolah lain. Kawan anakku itu, bersama kawan-kawan lainnya sedang dalam perjalanan dengan kendaraan umum untuk nonton pertandingan basket antar sekolah. Entah mengapa seperti sudah tradisi, sepanjang jalur perjalanan kendaraan umum terdapat titik-titik temu ajang tawuran. Di jalur yang dilalui memang terdapat beberapa sekolah (SMA) yang seolah enggan membiarkan anak sekolah lain lewat tanpa gangguan. Sampai sekarangpun apa yang menjadi pemicu perkelahian itu tidaklah jelas.

Mendengar berita seperti itu anakku langsung berinisiatif menolong dengan mengajak empat orang kawan lainnya. Berlima mereka berangkat menggunakan microbus umum menuju lokasi. Turun dari microbus hp kawan anakku berdering, ternyata anak yang tadi menelpon memberi tahu bahwa perkelahian sudah selesai dan dia sedang diantar polisi pulang ke rumah. Batal membantu kawannya, mereka menuju mini-market untuk membeli minuman. Dengan alasan lapar dan belum makan, mereka berjalan mencari warung untuk mengisi perut. Sementara itu seorang polisi sedang berkeliling menyisir mengendarai sepeda motor, mungkin sudah prosedur standar pemeriksaan setelah kejadian seperti siang itu.

Kelima anak yang sedang berjalan ini tentu saja menarik perhatian satu orang polisi yang sedang bertugas menyisir. Berhenti dan bertanya darimana asal sekolah, kelima anak yang tidak punya pikiran macam-macam ini menjawab spontan nama asal sekolah mereka. Tentu saja ini menjadi semacam ‘pekerjaan’ bagi seorang polisi on duty seperti ini. Bukankah ini bisa menjadi penambah bahan prestasi pendongkrak pangkat. Bukankah sudah menjadi tugas mereka untuk mengantisipasi segala kemungkinan. Singkatnya kelima anak ini dibawa ke kantor polisi dekat lokasi untuk diproses.

Sekolah asal dikontak dan kelima orang tua murid dipanggil ke kantor polisi untuk membuat berita acara. Tuduhan yang dikenakan adalah ‘terlibat tawuran’. Tuduhan yang sangat aneh bagi orang awam, karena kelima anak ini bertemu pandang dengan musuhpun tidak. Apalagi bersentuhan dan berkelagi dengan mereka. Tuduhan yang sangat tidak masuk akal, tetapi harus diterima oleh semua pihak yang berada di kantor polisi itu. Konon semua sudah lelah berdebat, sementara polisi hanya akan melepaskan mereka jika berita acara yang dibuat ditanda tangani. Untuk ‘formalitas’ katanya.

Cerita itu masih belum membuatku percaya polisi gegabah menangkap mereka. Aku katakan tidak mungkin kepada anakku, bahwa polisi tidak akan melakukan itu. Barulah anakku mengaku bahwa di dalam tas-nya ditemukan gembok yang terikat di kepala ikat pinggang kulitnya. Seorang kawan lain telah buru-buru membuang senjatanya. Maklum polisi hanya satu orang, anakku tertangkap membawa senjata karena digeledah duluan. Saat aku tanya mengapa dia membawa barang semacam itu, dia menjawab untuk jaga-jaga. Jawaban standar yang konyol memang. Membantu kawan yang dikeroyok dan datang dengan tangan kosong tentu aneh, tetapi membawa senjata semacam itu memanng mungkin sudah cukup untuk mengatakan mereka bermaksud berkelahi.

Keesokan harinya, Sabtu 17 Januari 2009, sore itu aku melihat amplop panggilan dari sekolah sudah ada di rumah. Senin pagi aku diminta datang ke sekolah dengan hal undangan ‘Pelanggaran Tata Tertib’. Hal yang fatal dengan sangsi dikeluarkan dari sekolah. Walaupun aku adalah salah seorang alumni sekolah itu, tapi pengenaan pasal pelanggaran tata tertib membuat aku harus berbesar hati untuk menerima kenyataan, jika anakku harus dikeluarkan dari sekolahnya. Aku sampaikan kepada istriku dan anakku untuk siap menerima kenyataan dan mulai berfikir kemana dan bagaimana akan pindah.

Senin 19 Januari 2009, jam 08:00 aku sampai di sekolah dan sudah ada dua orang ibu yang datang terlebih dahulu menunggu proses. Kami diminta menunggu di ruang BP. Sementara bercakap-cakap dan menunggu kedatangan orang tua murid lainnya, dari mulut kedua orang tua kawanku terasa kesan seolah menyalahkan anakku yang membawa senjata di dalam tas sekolahnya. Kesan itu cukup kentara dengan menanyakan apakah aku mengetahui anakku mempunyai senjata itu. Seolah ingin mengatakan aku kurang mengawasi anakku sampai bisa menyimpan benda / senjata itu di dalam kamar atau rumahku. Beberapa pernyataan aku coba hentikan dengan menyampaikan, bahwa aku mengerti dan menerima kalau anakku mereka anggap biang kerok tertangkapnya anak-anak mereka.

Pagi itu Kapolda datang ke sekolah untuk menanyakan tindak lanjut dari ‘berita acara tawuran’ yang masuk dari salah satu ranting wilayah kewenangannya. Mungkin memang pagi itu Kapolda tidak ada acara lain hingga sempat datang mengurusi lima anak yang ‘terproses verbal’ tawuran, walau bertemu pandang dengan lawan apalagi berkelahipun tidak. Sangat membuang waktu untuk acara resmi seorang Kapolda, entahlah kalau Kapolda itu ternyata alumnus sekolah atau punya anak yang bersekolah di SMA itu. Tentu kedatangannya bukan lagi resmi, tetapi sudah agak pribadi.

Ternyata kami dipanggil satu per satu untuk menghadap Kepala Sekolah, Wakilnya, Wali Kelas murid yang bersangkutan dan beberapa guru Kesiswaan. Saat ibu yang pertama kembali dan memanggil orang tua berikutnya, kami mengetahui bahwa ternyata ibu itu sudah menanda tangani surat pernyataan skorsing selama satu bulan. Suatu pengenaan sangsi yang agak tergesa-gesa dan cukup gegabah. Karena ternyata orang tua murid yang terlibat tawuran, menjadi korban dan diantar polisi pulang ke rumah, anak yang menelpon dan menjadi awal segala kejadian yang melibatkan kelima anak ini tidak ada ditempat. Belakangan menjadi sangat mengherankan bahwa surat panggilan kepada orang tua anak ini-pun belum dilayangkan oleh sekolah. Sekolah seolah ingin cepat selesai dan cuci tangan dari ‘catatan’ polisi yang membukukan proses verbal kelima anak ini dengan menjatuhkan sangsi skorsing. Tanpa mengetahui langsung dari anak yang terlibat tawuran dan memproses dengan orang tua anak yang memang tawuran (bonyok-bonyok), mereka dengan mudah menjatuhkan sangsi kepada anak-anak konyol yang sedang apes berada di tempat dan waktu yang salah.

Singkatnya, kami, orang tua yang masih di luar ruang kantor Kepala Sekolah meminta masuk dan bertemu bersama-sama agar tidak terlalu lama mambuang waktu hanya untuk menerima sangsi sepihak yang dalam pandanganku kurang bijaksana karena tidak melibatkan semua pihak terkait secara menyeluruh. Alhasil setelah bicara panjang lebar yang intinya sekolah hanya berdalih dengan senjata Tata Tertib yang telah ditanda tangani punya satu jalan yaitu mengeluarkan anak dari sekolah. Dengan dalih ini, tentu sekolah menjadi sangat terlihat bijaksana apabila sangsi yang dikenakan tidak sampai mengeluarkan dari sekolah. Apalagi skorsing, walau mungkin sangsi itu akan memberatkan dan dapat berakibat anak tidak naik kelas. Logika yang sangat keliru dan sangat mempermudah persoalan. Bukan logika seorang pendidik.

Belakangan, SMA ini terkenal dengan genk sekolah yang dua tahun lalu beritanya muncul di semua media cetak dan elektronik karena kasus kekerasan. Search di google dengan mudah menemukan cerita-cerita sepak terjang mereka. Anggota genk ini menganiaya seorang anggota juniornya hingga cacat (patah tangan ?). Suatu tindakan yang sangat biadab untuk pelajar seusia mereka. Mungkin beberapa alumnus yang menjadi anggota genk itu membantah kekerasan dan perploncoan, tetapi faktanya itu turun-temurun terjadi. Hanya saja, semua junior tidak berani buka mulut untuk cerita. Ini pula yang mendasari guru tidak bertindak apa-apa, dengan dalih kurang bukti.

Jika agak jeli, sebagai contoh, suatu perhelatan yang menelan biaya setengah milyar (mungkin lebih) bisa diselenggarakan oleh anak-anak SMA itu tanpa restu dari sekolah (artinya sekolah tidak mengetahui dan bertanggung jawab atas penyelenggaraan acara itu), dapat dibayangkan cara pengumpulan dananya. Semua serba memaksa. Anak-anak junior sekolah ini dipaksa menjajakan bunga mawar seharga Rp. 25.000,- oleh seniornya dan apabila target tidak tercapai, mereka harus nombok dengan uang mereka sendiri. Konon ini budaya turun-temurun sejak budaya nge-genk mulai eksis. Budaya tekan dan paksa. Apakah tidak terlihat mencurigakan bagi guru, bagaimana pengumpulan dana dengan menjual mawar seperti ini. Sampai hari ini, masih ada sisa mawar di kulkas rumahku walau acara itu sudah berlangsung lama. Mawar bekas jualan anakku yang ditebusnya dengan uang saku. Suatu kegiatan penindasan yang membuang waktu dan biaya.

Anakku patah arang. Walau hanya di-skors seminggu, tapi dia sudah tidak mau lagi kembali ke sekolah. Selalu saja kakak-kakak kelas yang menjadi alasan utama mengapa dia enggan kembali ke sekolah itu. Sekolah dimana aku dan semua adik-adikku menimba ilmu dengan rasa suka cita. Sungguh, itu sekolah tempat aku dan adik-adikku belajar. Bahkan suami dan istri adik-adikku pun lulusan sekolah itu. Betapa sekolah itu menyenangkan bagi kami. Tetapi itu dulu. Sekarang, bisa ditanyakan kepada pada junior sekolah itu. Batapa mereka tertekan dengan tingkah polah kakak-kakak kelas yang terbiarkan secara turun temurun. Alih-alih menindak, guru malah cuci tangan dengan dalih tidak ada bukti. Suatu tindakan yang kurang cerdas yang diturunkan kepada anak-anak didik mereka. Pantas di negeri ini sangat sulit menangkap koruptor walau peringkat korupsi kita termasuk yang tertinggi di dunia. Ternyata semua karena sulit mencari bukti.

Apa yang terjadi dengan anak-anak yang tawuran itu. Penyebab munculnya persoalan ini. Satu orang anak apes  yang “digebugin” dan sempat diproses polisi (artinya terbukti tawuran), dikenakan sangsi keluar dari sekolah. Gampang sekali memang menjalankan sangsi yang sudah tertulis. Bagaimana anak-anak lainnya yang juga ikut tawuran? Kembali, mungkin tidak ada bukti cukup, sehingga tidak ada tindakan konkret. Budaya itu akan terus berlanjut. Entah siapa yang akan menjadi korban dan entah sampai kapan. Entahlah.

Menghina Nabi Versi Indonesia January 11, 2009

Posted by merenung in Serba-serbi, Umum.
Tags: , , , ,
add a comment

Seorang kawan meneruskan email asal dari salah satu milis yang diikutinya dengan subject Komik Menghina Nabi Muhammad Versi Indonesia. Email ini berisikan suatu penghinaan yang sangat brutal terhadap manusia yang di-Mulia-kan oleh ALLAH SWT ahlaknya, Rasulullah Muhammad SAW. Penghinaan dalam bentuk komik yang menggambarkan ketelanjangan seorang wanita, dalam hal ini Zainab r.ha dan memperlihatkan aurat Rasulullah SAW. Demikian sangat menghujatnya, untuk melihatnya saja aku sudah enggan. Entah kebencian macam apa yang ada di kepala si pembuatnya. Penghinaan terhadap Yang Mulia Rasulullah SAW ternyata masih belum seberapa, jika dilihat kenekatannya melecehkan ALLAH SWT.

Walaupun semua itu berasal dari satu blog yang sengaja diberi nama berbau salah satu suku bangsa, bahkan didalamnya diperjelas dengan “trade mark” nama suku tersebut, tetapi faktanya banyak diantara dari mereka (dari suku tersebut) adalah saudara-saudara Muslim kita yang sama dengan saudara-saudara Muslim kita lainnya. Tentulah mereka tidak memiliki hati untuk berbuat sekeji ini.

Sedemikian brutal dan keji fitnah manusia laknat ini, sehingga tega menghina Yang Mulia Rasulullah Muhammad SAW.
Sedemikian brutal dan keji fitnah manusia laknat ini, sehingga tega menghina Yang Mulia Rasulullah Muhammad SAW.

Dialog yang tertulis pada fasilitas khusus response yang diberikan pun akhirnya menjurus kepada saling membenci antar agama dan suku bangsa. Mungkin memang ini yang diinginkan oleh orang yang membuatnya. Ini bagian permulaan saling caci maki itu:

Tujuannya bisa saja untuk mengadu domba antar suku bahkan antar agama. Sungguh manusia dengan hati yang "pekat sempurna" sajalah yang mampu melakukan hal yang sekeji ini.
Tujuannya bisa saja untuk mengadu domba antar suku bahkan antar agama. Sungguh manusia dengan hati yang “pekat sempurna” sajalah yang mampu melakukan hal yang sekeji ini.

Sayang diantara kita justru ikut menyebarkan kartun penghinaan itu dengan meneruskan dari milis ke milis. Sehingga, walaupun blog tersebut sudah ditutup oleh pengelolanya, ternyata isinya masih terus beredar luas seiring dengan tersebarnya rasa benci. Entah bagaimana orang yang melihat dan membacanya mengelola hati dan menyikapinya.

Laknat ALLAH atas perbuatan buruk si pembuat ulah ini. Semoga manusia hina ini diberi oleh ALLAH kesempatan untuk menyadari dan menyesali perbuatannya serta segera bertobat.

Bagi kita umat Rasulullah SAW, perbanyaklah salawat untuk mengiringi zikr kita kepada ALLAH. Semoga ALLAH menambahkan kecintaan kita kepada Yang Mulia Rasulullah Muhammad SAW dan kelak dihari pembalasan kita mendapat safa’at Beliau SAW.

Bunga-bunga Itu Mekar January 10, 2009

Posted by merenung in Serba-serbi, Umum.
Tags: ,
1 comment so far
Wijayakusuma 1

Wijayakusuma 1

Bagai menunggu kami datang dari liburan ke Cisarua, malam itu kami disambut oleh mekarnya 8 kuntum bunga Wijayakusuma. Semula kuncupnya berjumlah 10 buah, 2 diantaranya gugur sebelum berkebang (kayak lagu). Jumlah yang cukup banyak. Bunga yang puncak  mekarnya pada jam 24:00 dan hanya beberapa saat ini, mengingatkan aku pada Abah beberapa waktu lalu.

Wijayakusuma 2

Wijayakusuma 2

Walau badan capek dan mata yang sudah mengantuk, aku dan istriku duduk di teras samping menunggu puncak mekarnya. Kami ingin membalas keindahan yang diperlihatkan kepada kami dengan perhatian. Toh, besok pagi mereka sudah akan layu dan kering.

Wijayakusuma 3

Wijayakusuma 3

Wijayakusuma 4

Wijayakusuma 4

Begitulah alam yang fana ini. Setelah puncak terlewati, maka semua akan menuju kepada kebinasaan. Layu lalu jatuh mati. Tetapi kenangan keindahan itu tetap abadi.

Wijayakusuma 5

Wijayakusuma 5

Betapa ALLAH menciptakan alam ini dengan keindahan yang sempurna.

Ranjau Paku Ban January 6, 2009

Posted by merenung in Serba-serbi, Umum.
Tags: , ,
1 comment so far

Berangkat dari rumah sudah agak siang, setengah sembilan lebih.  Ini kebiasaan buruk kalo punya kantor deket rumah.  Aku stir mobil sendiri menyusuri rute Cinere, Karang Tengah, belok ke arah Jalan Pertanian. Seperti biasa rencananya aku akan lewat Pasar Jum’at terus kearah perempatan Fedex, belok kanan sampe kantor.

Lokasi Kempes Pertama

Lokasi Kempes Pertama

Perjalanan semula lancar, di samping SLB tiba-tiba ada dua orang boncengan motor menyalip sambil menunjuk ban kiri belakang. Aku mengurangi kecepatan sambil mencoba merasakan apakah ada masalah dengan ban. Tidak beberapa lama, mulai terasa ban memang kempes dan aku mencari tempat berhenti tepat diperempatan muka jalan masuk kompleks yang portalnya ditutup (permanen). Sebelahnya ada warung rokok dan beberapa orang sedang berbincang-bincang.

Seperti sudah aku duga, ranjau paku menancap di ban kiri belakang. Kasihan banget ini orang. Hidup di dunia sekali, punya kesempatan dipakai untuk membuat orang lain susah. Sedikit merasa kesal, teringat bahwa marah dapat menjadi salah satu bentuk ketidak ikhlasan, aku berusaha menghibur diri dengan ikhlas, sabar dan bersyukur. Kalau dari sedemikian banyak mobil yang lewat, paku itu memilih mobilku, tentu memang sudah menjadi ketetapan yang terbaik untuk aku. Alhamdulillah ya ALLAH, aku diberi kesempatan untuk berkeringat (itung-itung olah raga pagi).

Singkat kata, aku ganti ban yang bocor dengan ban serep. Memakan waktu sekitar 10 menit semuanya selesai, aku siap meluncur lagi. Lumayan berkeringat dan tangan kotor, maklum matahari lumayan panas.

Melewati pertigaan Cirendeu dan Kompleks Kejaksaan Lebak Bulus, sementara aman. Sampai  perempatan Pasar Jum’at, mendadak ban kiri belakang yang baru aku ganti dengan serep terasa kempes lagi. Tadinya aku khawatir  kurang kuat memutar baut-2 roda. Buru-buru aku cari pemberhentian, berhubung perempatan Pasar Jum’at biasanya ramai dan cenderung macet. Disebelah toko bangunan, didepan kios percetakan aku memarkir mobil dan memeriksa ban kiri belakang. Ternyata ranjau paku jenis yang sama persis menancap di ban kiri belakang. Desis suara angin masih terus terdengar, sementara langit sudah menurunkan rintik air. Wah repot deh.

Lokasi Kempes Ke-2

Lokasi Kempes Ke-2

Aku mencoba mencari tukang tambal ban di sekitar perempatan, tetapi tidak terlihat satupun kecuali bengkel motor. Aku kembali masuk kedalam mobil dan mulai mencoba mengontak bantuan. Telpon ke rumah, kebetulan istri pergi belanja dan handphone ditinggal dirumah. Telpon supir yang sedang ke kebon nggak diangkat-angkat. SMS ngabarin kantor, kalau aku terdampar didepan Pusdiklat Polri Pasar Jum’at, ban dua-duanya kempes. Supir menelpon balik, langsung aku suruh meluncur menyusul ke Pasar Jum’at.

Gerimis tidak juga berhenti. Aku buka ban kiri belakang yang kempes dan mengeluarkan serep yang juga kempes. Kebetulan kawan kantor menawarkan budi baiknya untuk menjemput dan mengantarkan ke tukang tambal ban.

Ban ditambal di tukang tambal ban pinggir jalan, masih di depan Pusdiklat Polri, hanya beberapa puluh meter dari tempatku berhenti. Dua ban Rp. 35.000,- cepat saja selesai ditambal. Putar balik ke mobil kemudian memasangnya dan semuanya selesai. Akupun lega seiring gerimis tidak terasa lagi.

Untuk aku, alhamduliLLAH diberikan kesempatan olah raga (lahir dan bathin). Untuk teman yang datang menolong juga supirku insyaALLAH menjadi amal shaleh. Teman lain yang bersimpati lewat SMS mendapat pelajaran. Tukang tambal ban pinggir jalan dapat rejeki untuk makan keluarganya.
Yang kasihan tentu saja kembali si penebar ranjau paku ini. Jika dia berniat buruk, niat buruknya tidak tercapai. Alih-alih mendapat hasil justru apes mendapat amalan dunia yang buruk. Mudah-mudahan dia bisa segera insyaf dan diampuni kesalahannya.

Ranjau Paku

Ranjau Paku

Cak Imin December 28, 2008

Posted by merenung in Serba-serbi, Umum.
Tags: , ,
1 comment so far

Merasa sudah “pantas” memimpin partai besar, Cak Imin -pun mulai digadang-gadang untuk menjadi presiden negeri ini.

Bagaimana kurang pantas, melawan Gus Dur pun dia sudah menang. Sementara kita ingat, bagaimana Gus Dur serius mencap para anggota dewan terhormat negeri ini sebagai anak TK. Siapa bisa marah kala Gus Dur dengan sikap menyepelekan bilang “Gitu aja kok repot…!”. Saat Gus Dur tersinggung dan ingin mengeluarkan Dekrit (dia pikir gampang kali), semua komponen bahu membahu melawan dan menjatuhkannya dari kursinya sebagai presiden. Begitu banyak kekuatan yang perlu dikumpulkan untuk melawan seorang Gus Dur.

Sebaliknya Cak Imin dengan tenangnya meladeni permainan petak umpet perebutan tahta ketua partai (yang skalanya jauh lebih kecil dibandingkan tahta presiden) terbukti menang melawan Gus Dur. Tidak bisa diartikan bahwa Gus Dur tidak serius melawan, jika akhirnya Cak Imin diatas angin. Kita bisa lihat perjalanan perlawanan Cak Imin di media negeri ini. Terbukti dialah yang berhasil “melawan” dan “mengalahkan” Gus Dur, tanpa membuat Gus Dur dan pengikutnya kehilangan muka. Ini hebatnya Cak Imin.

Dan kalau sekarang dia digadang-gadang untuk menjadi presiden negeri ini, tentu bukan tanpa alasan. Mengalahkan Gus Dur yang susahnya seperti itu saja bisa, apalagi mengendalikan negeri ini yang wakil-wakil seluruh rakyatnya saja tidak mampu melawan Gus Dur. Mengalahkan biangnya saja bisa, kenapa sulit mengendalikan orang-orang yang kewalahan melawan biang ini apalagi kroco-kroconya. Logika sederhana yang kita lihat sebagai fakta.

Cak Imin for President

Cak Imin for President

Sambil tersenyum geli, aku ambil foto banner pencalonan Cak Imin di salah satu jalan arteri Jakarta Selatan. Bangsa ini jadi semakin banyak pilihan. Mau milih pencipta lagu, artis sinetron, politikus banyak bicara, penulis buku, pedagang atau Cak Imin (yang sukses melawan dan “mengalahkan” Gus Dur)?

Selamat Cak Imin, walaupun aku sama sekali bukan pendukungmu (bahkan terfikir untuk mendukungpun tidak), tetapi kamu sudah mengalahkan mitos negeri ini.

Ingatlah Rasulullah SAW December 21, 2008

Posted by merenung in Serba-serbi, Umum.
Tags: , , , ,
add a comment

Membaca berita minggu lalu tentang ditangkapnya Lia Aminudin gara-gara fatwanya kepada pemerintah, dalam hal ini Presiden SBY, untuk menghapus semua agama dan menjadikannya satu agama saja, memang memprihatinkan. Perasaan yang semula sebel berubah menjadi lucu yang kemudian malah cenderung kasihan. Jika direnungkan, sangat mungkin orang tergelincir pada kesesatan, walaupun menurut yang kuanggap sesat tetap merasa benar. Aku mencoba mensimulasikan situasi bathin Lia Eden, demikian dia lebih dikenal, dan mencoba menanyakannya kepada beberapa teman di lingkunganku. Sebagian besar memang menjadi tersesat.

Kepada mereka aku menanyakan, apakah mereka mengetahui berita dan cerita tentang Lia Eden ini. Sebagian besar menjawab mengetahui, kecuali satu teman wanita yang kurang mengikuti berita. Kepada mereka aku berikan pertanyaan, dengan pembuka seperti ini;

“Jika pada suatu malam, sekitar jam sepuluh malam, dimana semua orang rumahmu sudah terlelap tidur dan kamu mendengar ada yang mengetuk pintu. Kamu kemudian beranjak membuka pintu dan ternyata diluar telah berdiri seseorang dengan pakaian jubah dan sorban putih, tampan berwibawa membuatnya seolah putih bersinar. Dan ketika kamu menanyakan siapa dan ada keperluan apa, lelaki ini menjawab bahwa dia adalah malaikat Jibril yang datang karena diperintahkan untuk menemui kamu. Singkat kata, Malaikat Jibril menyampaikan bahwa dia diperintahkan untuk menyampaikan wahyu kepada kamu untuk kamu sebar luaskan kepada umat manusia.”
Dalam kondisi sedikit shock karena tidak menduga, Malaikat Jibril yang semula ada di hadapannya, perlahan-lahan lenyap tidak berbekas. Sambil berucap “Aku menanti jawabanmu.”

Pertanyaan yang aku ajukan kepada mereka, “Apa yang akan kamu lakukan, setelah Malaikat Jibril lenyap dari pandanganmu?”
Coba tanyakan kepada diri sendiri, apa yang anda lakukan.

Umumnya mereka menjawab, “Aku langsung mengambil wudhu dan sholat menenangkan diri seraya meminta petunjuk kepada ALLAH.”

Malam berikutnya Malaikat Jibril kembali datang dan menanyakan kesiapan kamu untuk menerima wahyu dari ALLAH.

Aku kembali bertanya, “Apa yang akan kamu lakukan?”

Umumnya mereka kembali akan meminta petunjuk ALLAH dengan segala macam sholat sunnah. Intinya adalah untuk meminta kemantapan hati untuk menerima atau menolak tawaran Malaikan Jibril itu.

Jika kemudian aku bertanya, “Setiap malam Malaikat Jibril mendatangi kamu dan meminta jawaban akan kesiapan kamu. Terus menerus berbilang minggu, bulan dan tahun. Lalu apa yang akan kamu lakukan?”

Sebagian besar kemudian menjawab; “Jika memang ALLAH telah menetapkan, aku siap untuk menjalankan amanah untuk menyampaikan wahyu”, yang intinya menerima tawaran Malaikat Jibril karena menganggap mereka adalah orang yang dipilih untuk tugas itu.

muhammad1

Sampai disini aku langsung sampaikan, seperti itulah mungkin Lia Eden tersesat, karena keyakinannya bahwa dia telah dipilih.

Umumnya mereka terperangah dan balik bertanya; “Lalu bagaimana seharusnya?”

Apakah kamu masih ingat Rukun Islam yang pertama?
Syahadat “Asyhadu An-Laa Ilâha Illallâh wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullâh”

Bukankah bersaksi Muhammad adalah Rasul ALLAH mengandung konsekuensi bahwa Baginda Muhammad SAW diyakini sebagai Nabi yang terakhir.
Kalau kita yakin bahwa Raulullah SAW adalah yang terakhir, mengapa kita bingung saat ditawari menerima wahyu.
Bukankah dengan mudah kita bisa sampaikan kepada Malaikat Jibril, bahwa kita meyakini Baginda Muhammad SAW adalah Nabi yang terakhir dan kita adalah pengikutnya. Kita persilahkan saja Malaikat Jibril untuk mencari orang lain yang belum atau tidak meyakini bahwa Rasulullah adalah Nabi terakhir dan bersedia menerima wahyu untuk menjadi nabi berikutnya. Malaikat Jibril (pasti bukan) tentu mengetahui bahwa Rasulullah adalah Nabi yang terkakhir. Pastilah dia tidak akan merasa ditolak dan menganggap kamu orang yang sombong atau bodoh karena tidak mau menerima tawarannya.

Orang-orang cenderung melihat dirinya sendiri dan lupa kepada Rasulullah SAW. Dari kecenderungan itulah iblis masuk dan menyesatkan kita.

Karenanya, biasakanlah mengingat Rasulullah SAW dengan selalu membaca salawat untuk mengiringi zikr kita kepada ALLAH SWT.
Semoga kita selalu diberikan kekuatan dan petunjuk untuk selalu istiqamah dengan keimanan dan syariah kita.

Salah Baca Porno October 24, 2008

Posted by merenung in Serba-serbi.
Tags: , , , ,
1 comment so far

Nonton acara Debat di TV One dua hari lalu aku senyam-senyum sendiri, heran bercampur bingung. Bagaimana tidak. Acara yang menampilkan dua kubu pendukung pengesahan RUU Anti Pornografi dan penentangnya.

Salah seorang wakil penentang adalah seorang perempuan, sutradara muda yang juga seorang ibu. Setelah ditekankan bahwa yang diatur oleh RUU ini adalah media, maka salah satu argumentasi yang disampaikan untuk menentang pengesahan RUU itu adalah (kira-kira) seperti ini:

“Saya merasa diintimindasi oleh negara. Karena saya mengetahui dan berhak mengatur media apa yang boleh dilihat dan tidak boleh dilihat oleh anak saya. Negara tidak berhak mengatur itu”, penjelasannya berapi-api.

Lebih aneh lagi dia juga menyatakan bahwa: “Tidak ada satu pasalpun dari rancangan ini yang saya setujui. Semuanya saya menolaknya”. Ini tentu saja memperkuat prinsip argumentasi penolakan intimidasi itu.

Penjelasan itu terus terang saja membuat aku bingung. Bagaimana seorang ibu menentang pemerintah yang melindungi anak-anaknya dengan undang-undang yang mengatur media agar mereka terhindar (atau paling sedikit mempersulit) dari mendapat akses ke media dengan isi persengamaan, ketelanjangan dan seterusnya.

Ada salah seorang dari pihak pendukung menginterupsi dan mengatakan bahwa para penentang itu hanya memikirkan perut masing-masing dan takut kehilangan lahan nafkah, sementara mengorbankan generasi mendatang. Tentu saja si sutradara muda ini tersinggung dan menentang pendapat itu. Entahlah.

Tidaklah heran kalau aku ketemu seorang anggota masyarakat dengan pendidikan tinggi (S3) dengan sangat biasanya bercerita tentang pornoaksi seperti aku tulis di Salah Lihat Porno seperti itu.