jump to navigation

My Koi February 15, 2009

Posted by merenung in Simple, Umum.
Tags: ,
add a comment


My Koi enjoying the rain

Posted by ShoZu

I just captured this picture with my Nokia E63 and sent it with ShoZu to the net. ShoZu amazingly ease me to post to WordPress. You could edit it later, put some words and so on.

sblog3

Aliran Relatifitas February 8, 2009

Posted by merenung in Kehidupan, Simple, Umum.
Tags: , ,
2 comments

Penganut aliran relatifitas umumnya gemar memakai logika. Sayang menurutku logika mereka justru menyesatkan. Bahwa ALLAH jua yang menjadi pusat segalanya, mungkin umumnya sepakat. Bahwa hanya ALLAH yang mutlak dan yang lainnya relatif dapat menjadi penyesat logika.

Banyak dari mereka yang berpendapat, bahwa hitungan bilangan pun merupakan kesepakatan. Contoh sederhana, mereka berpendapat bahwa 1 + 1 = 2 (satu ditambah satu sama dengan dua) adalah merupakan kesepakatan. Sehingga jika semua mahluk seluruh jagad raya (termasuk manusia dan mahluk yang gaib bagi manusia) menyatakan bahwa 1 + 1 = 3 (satu tambah satu sama dengan tiga), maka 1 + 1 = 3 pun menjadi sebuah kebenaran. Dan 1 + 1 = 2 menjadi sesuatu yang keliru. Semua menjadi relatif terhadap zat yang mutlak yaitu ALLAH SWT.

Akibat paham ini, maka tanpa disadari, semua yang tersangkut dengan ALLAH menjadi lepas tidak terkait lagi. Umumnya manusia memilih yang mereka kuasai menjadi hal yang terlepas dari ALLAH. Mereka pikir sudah merebutnya. Tubuh sudah lepas dari ALLAH, ilmu lepas dari ALLAH, perkawinan, perniagaan, pemerintahan, politik, kesehatan dan seterusnya. Semua terlepas dari ALLAH. Untuk hal tertentu mereka menyebutnya sekular, modern, maju, liberal atau apa sajalah. Karena mereka merasa mampu mengendalikannya. Mereka cuma menyerah dengan perihal matahari yang terbit dari Timur dan tenggelam di Barat, gerhana bulan, gempa bumi, tsunami, kematian dan hal-hal dimana mereka memang belum dapat akal untuk mengendalikannya. Bagaimana tidak, membuat binatang bahkan manusia dengan cara cloning mereka sudah dapat lakukan, seakan ALLAH memang sudah tidak diperlukan kecuali mengatur agar alam semesta ini agar sekedar tidak bertubrukan. Sebenarnya apa yang tidak berada di dalam genggaman ALLAH?

Yang lebih menyedihkan, orang yang mengaku muslim / muslimah pun sudah mulai menganggap Al Qur’an bukanlah hukum ALLAH yang mutlak. Bahkan sebagian menganggap Al Qur’an menjadi relatif (hanya karena penafsiran mereka berbeda-beda). Perintah shalat yang disertai petunjuk untuk mengikuti bagaimana cara Rasulullah SAW shalat bisa mereka bolak-balik menjadi “asal ingat ALLAH” lalu tak perlu repot-repot melakukannya. Mengerjakan shalat menjadi tidak wajib bagi mereka.  Hukum waris yang lebih tegas bilangannya di dalam Al Qur’an pun diganti dengan mengikuti keadilan manusia. Perniagaan penuh dengan penindasan. Politik penuh naluri kebinatangan / hukum rimba (siapa kuat, dia yang menang). Padahal ALLAH telah ciptakan jalan-jalan kompromi, darurat yang juga pasti, seperti jama’ qasar, waqaf, hibah, bagi hasil, poligami dan seterusnya.

Seandainya mahluk (nyata dan gaib) seluruh dunia sepakat 1 + 1 = 3 (satu tambah satu sama dengan tiga) apakah mereka bisa ciptakan air dari unsur H + O + H = H3O atau oksigen dari O + O = O3. Mungkin mereka lupa bahwa kalau ALLAH SWT itu mutlak maka Al Qur’an juga mutlak dan tentunya hukum ALLAH itu mutlak. Entah mereka setuju atau tidak.

Toh kalau pendapatku ini salah, maka pendapat mereka juga otomatis salah. Wa ALLAH a’lam.

Kejar Dunia, Kejar Akhirat October 31, 2008

Posted by merenung in Kehidupan, Simple.
Tags: , ,
add a comment

Rasanya sudah sering aku mendengar kalimat ini.

“Kejarlah dunia seakan-akan kamu akan mati seribu tahun lagi. Kejarlah akhirat seakan-akan kamu akan mati esok”

Umumnya ini dipergunakan untuk pembenaran aktifitas gigih mencari uang, menumpuk, membelanjakan dan tentu menikmatinya. Karena “mengejar dunia” umumnya selalu diartikan harta, materi, kekayaan, kenikmatan, pangkat, jabatan, kedudukan, status dan seterusnya. Dan “mengejar akhirat” selalu diartikan ritual ibadah, zikir, wirid, infaq/ sedekah, waqaf dan seterusnya. Sehingga aplikasinya adalah menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang, menumpuknya, membelanjakannya untuk kenikmatan (baik kenikmatan fisik, otak, jiwa, dan seterusnya). Lalu memohon ampun dengan ritual-ritual ibadah, agar penghalalan tersebut diampuni. Intinya memisahkan dunia dengan akhirat.

Yang menarik umumnya selalu diutarakan kepadaku saat bincang-bincang santai, seperti Selasa siang kemarin di kantor, dengan rantai kalimat: “Bukankah ada hadist yang mengatakan kejarlah dunia seakan-akan kamu akan mati seribu tahun lagi dan kejarlah akhirat seakan-akan kamu akan mati esok?”
Selalu saja aku balas dengan bertanya, “Hadist apa, siapa, mana rujukannya?”. Seperti biasa, karena sama-sama awam, kata yang paling tepat untuk menjawab pertanyaanku adalah “Katanya…”. Katanya hadist. Katanya hadist.

Bagiku ada cara yang paling mudah yang selalu saja aku pergunakan untuk menerima atau menolak hadist (untuk sementara, saat berbincang-bincang), tentu akhirnya harus merujuk kepada rujukan yang kuat. Aku meyakini bahwa yang dimuliakan oleh ALLAH, Rasulullah Muhammad SAW, adalah manusia yang seluruh hidup dan matinya dijaga oleh ALLAH SWT. Seluruh kehidupan dan kematiannya sebagai manusia direncanakan sempurna, dari sebelum lahirnya, antara lahir dan kematiannya dan tentu sesudah matinya. Kebenarannya, kesalahannya, kesenangannya, marahnya, keinginannya dan seterusnya, seluruhnya dijaga oleh ALLAH SWT. Berbeda dengan kesempurnaan manusia lainnya. Itulah mengapa Beliau menurut keyakinanku dilepaskan dari “hukuman” kesalahan. Kesalahan yang juga bagian rencana ALLAH SWT dengan maksud yang mulia. Berbeda dengan kesalahan yang dilakukan manusia lainnya. Karena keyakinan itulah, jika ada hadist (seperti yang disebutkan tadi) yang “katanya” dari Rasulullah SAW, aku langsung saja melihat riwayat kehidupan Beliau. Adakah Beliau hidup dengan menumpuk harta? Adakah Beliau mengejar dunia? Adakah Beliau menikmati dunia? Jika Rasulullah SAW berucap tentulah Beliau akan melaksanakan ucapannya. Kalaupun ada keinginan Beliau yang sempat Beliau ucapkan tetapi Beliau tidak laksanakan (atas kehendak / rencana ALLAH), menurutku keinginan itu bukanlah suatu yang perlu kita ikuti. Bukankah Beliau tidak melakukannya? Kenapa pula kita ingin lebih dari Beliau? Praktisnya, untuk sementara (sebelum check ‘n recheck) aku hanya menerima hadist yang Rasulullah SAW sendiri melakukannya.

Jika pertanyaannya, bukankah Rasulullah SAW mengejar akhirat seakan-akan Beliau akan mati esok? Sebagai salah satu contoh, adalah shalat malam beliau. Pertanyaan yang seakan ingin membenarkan potongan terakhir untaian kalimat tadi. Kalau tidak keliru, ada riwayat yang menceritakan kaki Beliau yang bengkak karena lama berdiri shalat malam. Saat diingatkan oleh Istri Beliau RA, mengapa Rasulullah SAW shalat sedemikian giatnya? jawaban Beliau tidaklah mencerminkan Beliau sedang mengejar akhirat. Melainkan Beliau melakukan sebagai rasa syukur dan terima kasih kepada ALLAH SWT yang telah memuliakan Beliau diantara manusia lainnya. Jadi jika kita ingin mengikuti Beliau dengan beribadah shalat malam (misalkan, salah satunya), maka lakukanlah untuk bersyukur dan berterima kasih kepada ALLAH SAW karena telah diberikan nikmat iman dan nikmat Islam (nikmat yang penting dari demikian banyak nikmat-nikmat lainnya).

Jadi menurutku, tidak ada satupun alasan pembenaran mencari kekayaan, pangkat, jabatan, status dan seterusnya dengan menghalalkan segala cara, seakan-akan kita mati 1000 tahun lagi. Dan kemudian seolah-olah membersihkannya dengan meminta ampun kepada ALLAH SWT dan beribadah sebanyak-banyaknya, seakan kita mati esok. Walau memang ALLAH SWT Maha Pengampun, Pengasih dan Penyayang.

Jika ternyata aku salah, itu karena kebodohanku dan aku meminta ampun kepada ALLAH SWT.
ALLAH jualah Yang Maha Mengetahui.

Sebuah Tamparan May 3, 2008

Posted by merenung in Simple.
Tags: , , ,
2 comments

Lupa judul buku yang dibaca oleh ibuku, tiba-tiba saja dia berkata kepadaku, bahwa iblis nanti tidak akan merasa tersiksa di dalam neraka, karena wujudnya diciptakan dari unsur api.
Aku jadi teringat salah satu email yang aku terima dari seorang teman yang berbagi, isinya kira-kira seperti ini:

Suatu saat seorang santri bertanya kepada kyai-nya,
“Jika ALLAH itu wujud, dapatkah kyai menunjukkannya kepada saya? Mohon jelaskan kepada saya tentang takdir? Jika memang iblis diciptakan ALLAH dari api, bagaimana dia akan merasa tersiksa di dalam neraka yang juga dari api?”
Sambil tersenyum sang kyai langsung menampar pipi kanan santrinya dengan keras. “Plaak….!”
“Aduuh…! Mengapa kyai menampar pipi saya? Apakah pertanyaan saya salah? Apakah kyai tidak tau jawabannya atau memang tidak mau menjawabnya?”
Masih tersenyum dengan lembut, sang kyai berkata: “Itulah jawaban dari ketiga pertanyaanmu”.
“Jika pipimu terasa sakit dan sakit itu memang ada, coba kamu tunjukkan kepadaku rasa sakitmu”.
“Apakah tadi malam engkau bermimpi aku akan menamparmu? Atau, saat engkau bertanya, apakah engkau membayangkan aku akan menamparmu?”
“Jika pipimu terbuat dari daging yang dilapisi kulit sementara punggung telapak tangankupun terbuat dari unsur yang sama, mengapa kamu merasakan sakitnya?”

Sebuah cerita yang sangat sederhana dan mudah-mudahan menjawab pertanyaan di dalam kepala ibuku.

Mengumpulkan Bekal – Bermodal Niat Baik March 29, 2008

Posted by merenung in Simple.
Tags:
add a comment

Bermula dari “niat”, hal yang paling simple dan hanya diketahui oleh kita dan ALLAH Yang Maha Mengetahui.

Niat baik dan dilaksanakan dengan baik dan benar, dapat ganjaran pahala berlipat; (+1) x(+1) = (+∞)

Niat baik tapi belum sempat dilaksanakan, dapat ganjaran pahala niat; (+1) x (0) = (+1)

Niat buruk tapi tidak dilaksanakan, dima’afkan dan tidak dicatat; (-1) x (0) = (0)

Niat buruk dan dilaksanakan, diganjar balasan setimpal; (-1) x (1) = (-1)

Simple dan menunjukkan betapa ALLAH mempermudah kita untuk mengumpulkan “bekal akhirat”.

Hanya ALLAH jualah Yang Maha Mengetahui.

We still be Mosleem March 11, 2008

Posted by merenung in Simple.
add a comment
Ingat banjir, ingat peristiwa banjir di Mina yang sempat aku alami, jadi ingat percakapan singkat bule American Mosleem dengan orang Jawa Indonesia. Saat itu mereka berdua duduk di teras Masjidil Haram menghadap Ka’bah. Bincang sana-sini akhirnya obrolan sampai pada cerita tentang Ka’bah kebanjiran dan terendam air setinggi leher orang dewasa. Peristiwa terendamnya Ka’bah memang tidak hanya sekali saja. Karenanya si bule bertanya kepada si Jawa, “My brother, what happen to us if the water raise so high to the top of Ka’bah?”. Si Jawa berfikir kompleks, karena pas di depan Ka’bah dan pas musim haji, yang ada di kepalanya hanya pertanyaan, “Bagaimana tawaf-nya ya, kalau Ka’bah terendam seluruhnya?”. Melihat si Jawa tercenung cukup lama sambil menerawang kesana-kemari, si bule pun menjawab dengan ringan; “Don’t worry my brother, we still be Mosleem”.
He…he…..he…………., “so what gitu loh………”

Duri Ikan Bandeng March 3, 2008

Posted by merenung in Simple.
add a comment

Almarhum Eyang Kakung-ku pernah mengajari aku. Saat itu aku baru berumur enam tahun. Sambil menyuapiku, Eyang-ku berkata dengan dalam;

“Kowe ngerti iwak sing paling enak iku iwak bandeng”  (Mengertikah kamu kalau ikan yang paling enak itu ikan bandeng)

Sambil menggeleng, aku menjawab; “Sebab-pe opo Eyang?” (Sebab kenapa Eyang?)

“Amergo akeh ri ne” (Karena banyak duri-nya)

“Iwak iku nek luwih akeh ri ne, mesti luwih enak. Koyo wong urip, ojo nggolek penake wae. Luwih abot lan angel mesti mengko dadine luwih kepenak” (Ikan itu kalau lebih banyak durinya, pasti lebih enak. Seperti orang hidup, jangan cari yang enak-enak. Lebih berat dan sulit pasti akan menjadikan kita lebih nyaman / enak)

Berpuluh tahun kemudian barulah kata-kata yang disampaikan oleh  Eyang-ku, Soehirman Tjokroseputro baru aku pahami. Terima kasih,  Eyang telah membekali aku dengan suatu nilai kehidupan.

Nabi Orang Indonesia March 2, 2008

Posted by merenung in Simple.
add a comment

Seorang kawan bertanya; “Menurut kamu, andaikata dahulu Nabi ditakdirkan sebagai orang Indonesia, apakah mungkin kita sekarang sholat dan berdo’a mempergunakan Bahasa Indonesia?”

Aku jawab; “Kalaupun dahulu Nabi ditakdirkan sebagai orang Indonesia, maka Al’Qur’an akan tetap dalam Bahasa Arab, kita sholat memakai Bahasa Arab dan berdo’apun dengan do’a-do’a yang dicontohkan di dalam Al Qur’a dalam Bahasa Arab. Cuma, kalau sedang mengajar Bahasa Arab dan Ilmu Al Qur’an, tentu Nabi akan menyampaikan dalam Bahasa Indonesia. Kalau tidak dengan Bahasa Indonesia bisa nggak ngerti-ngerti para sahabatnya.”

Dan hanya ALLAH Yang Maha Mengetahui.