Hidup Adalah Misteri August 7, 2009
Posted by merenung in Kehidupan, Umum.Tags: dunia
add a comment
Ada kawan berpendapat, kematian itu misteri. Karenanya memikirkan soal hidup dan cara menjalaninya adalah jalan untuk menjawab misteri itu. Aku berfikir sebaliknya, hiduplah yang menjadi misteri, sedang mati itu jelas dan pasti.
Mengapa kawan bilang kematian itu misteri, menurutnya karena kita tidak tau apa yang terjadi disana. Sebaliknya menurutku, justru kita tidak tau apa yang telah, sedang dan akan terjadi di dunia ini.
Di dunia ini; orang baik belum tentu hidup enak. Orang jahat belum tentu hidup susah. Orang susah bilang hemat pangkal kaya, sementara orang semakin boros ternyata semakin kaya. Semacam hukum yang tidak pasti. Orang yang tertangkap dengan kardus-kardusan pil haram diganjar 1 tahun, sementara ada yang diganjar 4 tahun hanya untuk satu butir pil yang sama yang tidak diakui sebagai miliknya. Menyerang dan menggulingkan suatu pemerintahan negara lain dengan alasan yang terbukti keliru disebut pionir demokrasi, sementara berjuang karena diusir dari rumah hunian sejak tahun 1958 disebut pemberontak. Itu semua terjadi di dunia, masya ALLAH. Suatu tempat yang tidak pasti yang merupakan misteri (menurut pendapatku).
Kematian; semua sudah pasti mati dan akan mati. Insya ALLAH, pasti akan ditanya dan diadili, sekecil apapun. Pasti tidak ada muslihat dan dusta. Pasti semua amal baik, diganjar dengan kebaikan. Semua amal buruk, pasti akan dibalas keburukan. Tidak koneksi, tidak ada relasi, tidak ada status sosial, tidak ada jabatan, tidak ada semuanya. Semua gamblang terang benderang. Dan itu semua pasti dan tidak ada misteri. (paling tidak itu menurut pendapatku)
Tapi, mempersiapkan bekal untuk semua yang sudah pasti itu (kematian), memang tempatnya di dunia yang penuh misteri ini. Karenanya, jangan bertaruh untuk suatu misteri (kehidupan), karena sesungguhnya misteri hanyalah sebuah ketidak pastian.
Jadi nasehat kawanku dan aku tetap sama, persiapkanlah bekal kematian selagi kita punya kesempatan dalam kehidupan di dunia ini.
ALLAH Yang Maha Benar dan Mengetahui.
Islam Yang Simpatik August 1, 2009
Posted by merenung in Copy, Umum.Tags: agama, Islam, muslim
add a comment
di-copy
Dari Koran Republika Selasa 28 Juli 2009.
hikmah – Islam yang Simpatik
Oleh Fauzi Bahreisy
Manakala menjadi imam shalat bagi kaum Muslimin di tempatnya, Mu’adz ibn Jabal RA membaca surat yang agak panjang, sehingga ada salah seorang makmum yang memisahkan diri dan menunaikan shalat sendiri.
Tindakan makmum tersebut spontan mendapat sorotan dari sebagian orang. Bahkan, ada yang menganggapnya sebagai munafik.
Merasa tidak nyaman dengan kondisi itu, dia melaporkan kasusnya kepada Rasulullah SAW.
Dia mengadukan apa yang sebenarnya terjadi. Setelah mendengar dari orang tersebut, Rasulullah SAW memanggil Mu’adz seraya berkata, `’Apakah engkau mau menjadi tukang fitnah wahai Mu’adz?’` Rasulullah SAW mengulanginya sampai tiga kali (HR Bukhari).
Artinya, Rasulullah SAW menegur tindakan Mu’adz yang telah menyulitkan jamaah shalat dengan membaca surat yang agak panjang. Hadis di atas memberikan gambaran mengenai Islam yang sebenarnya.
Islam yang hadir sebagai agama yang penuh rahmat: tidak memberatkan dan tidak pula menyulitkan.
Islam yang hadir sebagai agama yang pertengahan: tidak berlebihan dan melampaui batas. Serta Islam sebagai agama yang seharusnya memikat dan melahirkan simpati, bukan justru membuat orang lari dari agama.
Pada hadis di atas, tindakan ceroboh dan berlebihan dalam shalat yang membuat orang lain merasa berat dan tidak senang, mendapat teguran dari Rasulullah SAW. Padahal, itu tampak sepele.
Apalagi tindakan ekstrem dan melampaui batas yang lebih daripada itu.
Karenanya, ketika Rasulullah SAW mengutus Mu’adz bin Jabal dan Abu Musa ke Yaman, Rasulullah SAW berpesan, `’Permudahlah, jangan mempersulit! Berikan kabar gembira, jangan membuat orang malah lari dari agama!’` (Muttafaq alaih).
Pesan ini sangat penting untuk menjadi pegangan setiap Muslim, terutama para dai atau aktivis dakwah. Cara dakwah yang penuh hikmah seperti yang ditampilkan Rasulullah SAW akan mendapatkan simpati dan respons positif.
Sebaliknya, cara dakwah yang keras dan ekstrem, serta menebar teror dan ketakutan, tidak hanya menimbulkan efek buruk kepada oknum pelakunya, namun juga kepada Islam karena ia akan dianggap sebagai agama radikal dan kejam.
Kalau ini terjadi, maka persis seperti yang dikatakan oleh Muhammad Abduh, `’Keindahan Islam tertutupi oleh perilaku umat Islam.’` Dari sini kita memahami mengapa Rasulullah SAW bersabda, `’Janganlah kalian ekstrem dalam beragama. Sebab, yang membuat generasi terdahulu binasa adalah tindakan ekstrem dalam beragama.’` (HR Ibn Ahmad, Majah, dan an-Nasai).
Jangkrik Rambo May 19, 2009
Posted by merenung in Serba-serbi, Umum.Tags: jangkrik, kawan, rambo
add a comment
Seorang kawan Madura, membangga-banggakan jangkrik aduan kesayangannya. Rambo, si jangkrik aduan diberi nama. Nama yang dia anggap layak karena sang jagoan tidak pernah kalah dalam ajang aduan manapun. Kawan Jawa penasaran. Pasalnya jangkrik aduannya menang-kalah terus tergantung angin bertiup. Ini membuatnya kalah nama dibanding kawan Madura.
Dengan rasa penasaran, suatu kali dia coba menawar untuk membeli si Rambo yang begitu dikenal ceritanya itu. Tak dinyana kawan Madura memberikan angka fantastis untuk melepasnya. Dari pada mati penasaran, kawan Jawa membayar dengan berat hati dan mencoba menghibur diri.
Siapa yang berani melawan Rambo, pikir kawan Jawa dengan bangga. Dari arena ke arena Rambo selalu menang, kawan Jawa naik daun. Sambil mengilik-kilik Rambo, kawan Jawa menikmati kopi kentalnya. Nikmatnya jadi jagoan.
Tak lama dada membusung, santer terdengar cerita jagoan tetangga kawan Buton. Jangkrik hitam yang katanya juga belum pernah kalah. Si Hitam, nama jangkrik sesuai warna hitam legam. Kawan Jawa penasaran. Mulailah tantangan dikirimkan. Gayung bersambut, haripun ditentukan.
Rambo dan Hitam berhadap-hadapan. Bukannya bertarung, Rambo langsung mepet tembok lari kesana-kemari. Rambo kalah….., Rambo kalah…… teriak penonton merontokkan sendi-sendi kawan Jawa. Dengan hati dongkol kawan Jawa menemui kawan Madura.
Diseretnya kawan Madura ke arena. “Ndak mungken Rambo kalah…., ndak mungken…,” guman kawan Madura terus-menerus meyakinkan kawan Jawa yang terus mengomel. Sampai di arena, kawan Madura langsung memeriksa Rambo. Jangan-jangan Rambo tidak fit saat ditandingkan. “Bo….Rambo. Kamu kok kalah mBo…..,” tanya kawan Madura kepada Rambo. Rambo gemeteran. “Kenapa kamu kok takut mBo….?” tanya kawan Madura penasaran. “Koe bilang Rambo nggak bisa kalah. Sekarang ketakutan kayak gitu…!” komplain kawan Jawa terus-terusan.
Kawan Madura beranjak menghampiri kandang si Hitam, sambil terus berfikir. “Boh……, ini mosohnya toh?” kawan Madura berteriak terperanjat, membuat semua hadirin ikut terkejut. “Kenapa memangnya…?” kawan Buton ikut penasaran. “Apa…..apa……?” teriak kawan Jawa.
“Bo-abbo……, kalo lawan ini ya kallah si Rambo. Lha wong ini komandan-nya. NDak branee Rambo nglawan komandannya. Sallah kalo Rambo branee……!” jawab kawan Maduran enteng sambil ngeloyor pergi, meninggalkan orang-orang terbengong-bengong tidak habis mengerti.
(ditulis kembali dari cerita kawan lama saat menjamu di gazebo tepi danau di depan rumah bambunya)
*pemilihan daerah (suku) hanya kebetulan hanya untuk unsur lucu dan bukan untuk melecehkan atau maksud lainnya atau ada unsur SARA lainnya.
Kepunyaan ALLAH May 17, 2009
Posted by merenung in Kehidupan, Umum.Tags: dunia
add a comment
….. Pernah suatu waktu, dia hendak berbelanja di sebuah toko emas di Jeddah. Namun sang pemilik tidak ada di tokonya lantaran sedang sholat. Jerry menunggu di luar, tak berani masuk ke dalam.
“Mengapa Anda tidak masuk ke toko saya?” tanya si pemilik toko ketika selesai sholat. “Saya tidak berani. Nanti, ada yang mengira saya maling dan mendapat hukuman yang berat,” jawab Jerry.
Dengan tenang, orang Arab ini menjawab, “Semua barang tersebut bukan milik saya. Ini semua kepunyaan ALLAH SWT. Mungkin saja Anda lebih perlu dari saya.” Mendapat jawaban itu, bertambahlah ketakjuban Jerry.
(from Republika, Ahad 17 Mei 2009, Islam Digest – Mualaf, Jerry Duane Gray)
Demikian sering aku mendengar bahkan mengalami peristiwa sederhana seperti cuplikan cerita tadi. Betapa, sesering itu pula aku tidak paham atas makna peristiwa tersebut, hanya kerena ego dunia yang selalu saja aku pelihara.
Ya ALLAH berilah sedikit kepandaian kepada hamba, agar hamba dapat sedikit mengerti.
Antara Nidji dan Rokok February 9, 2009
Posted by merenung in Serba-serbi, Umum.Tags: fatwa, giring, haram, nidji, rokok
add a comment

Nidji merupakan salah satu dari sedikit kelompok musik anak muda yang aku suka. Bahkan diantara yang lainnya, hanya kaset Nidji yang ada di dalam mobilku. Lagu-lagu Nidji yang paling banyak aku bisa nyanyikan. Penyanyi Nidji, Giring, konon pernah bersekolah di SMA dimana aku pernah sekolah juga disana. Jadi memang ada sedikit emosional kalau senior menyukai juniornya. Kakak ipar yang pulang haji menunjukkan foto bersama Giring yang kebetulan ketemu di Tanah Haram saat mereka menunaikan wukuf di Arafah. Aku memang nge-fans sama Nidji.

Tapi beberapa waktu lalu aku agak terperangah, saat melihat mereka menyanyikan jingle iklan rokok. Benda yang baru saja di-fatwa-kan haram oleh lembaga ulama di negara ini. Sayang juga rasanya jika untuk alasan uang mereka harus melupakan keberpihakan kepada kebaikan, seperti meninggalkan rokok dan alkohol. Menjual kebaikan demi uang dan ketenaran. Mengisi amalan haji dengan mengajak kepada kemubaziran. Mengajak meracuni diri dan meracuni orang sekitar. Sangat disayangkan.

Andai mereka merokok, sepertinya tidak ada masalah, karena walaupun di fatwa haram, toh orang tetap tidak melanggar hukum jika terus merokok. Kecuali di tempat-tempat yang memang dilarang oleh Perda. Itupun sekarang sudah mandul. Orang sudah seenak udelnya merokok di dalam kendaraan umum, mal-mal, bahkan rumah sakit. Mungkin Giring lupa bahwa dia pernah dicatat telah berhenti rokok dan alkohol. Lihat catatan Detik.Com tentang hal itu.
Aliran Relatifitas February 8, 2009
Posted by merenung in Kehidupan, Simple, Umum.Tags: logika, mutlak, relatif
2 comments
Penganut aliran relatifitas umumnya gemar memakai logika. Sayang menurutku logika mereka justru menyesatkan. Bahwa ALLAH jua yang menjadi pusat segalanya, mungkin umumnya sepakat. Bahwa hanya ALLAH yang mutlak dan yang lainnya relatif dapat menjadi penyesat logika.
Banyak dari mereka yang berpendapat, bahwa hitungan bilangan pun merupakan kesepakatan. Contoh sederhana, mereka berpendapat bahwa 1 + 1 = 2 (satu ditambah satu sama dengan dua) adalah merupakan kesepakatan. Sehingga jika semua mahluk seluruh jagad raya (termasuk manusia dan mahluk yang gaib bagi manusia) menyatakan bahwa 1 + 1 = 3 (satu tambah satu sama dengan tiga), maka 1 + 1 = 3 pun menjadi sebuah kebenaran. Dan 1 + 1 = 2 menjadi sesuatu yang keliru. Semua menjadi relatif terhadap zat yang mutlak yaitu ALLAH SWT.
Akibat paham ini, maka tanpa disadari, semua yang tersangkut dengan ALLAH menjadi lepas tidak terkait lagi. Umumnya manusia memilih yang mereka kuasai menjadi hal yang terlepas dari ALLAH. Mereka pikir sudah merebutnya. Tubuh sudah lepas dari ALLAH, ilmu lepas dari ALLAH, perkawinan, perniagaan, pemerintahan, politik, kesehatan dan seterusnya. Semua terlepas dari ALLAH. Untuk hal tertentu mereka menyebutnya sekular, modern, maju, liberal atau apa sajalah. Karena mereka merasa mampu mengendalikannya. Mereka cuma menyerah dengan perihal matahari yang terbit dari Timur dan tenggelam di Barat, gerhana bulan, gempa bumi, tsunami, kematian dan hal-hal dimana mereka memang belum dapat akal untuk mengendalikannya. Bagaimana tidak, membuat binatang bahkan manusia dengan cara cloning mereka sudah dapat lakukan, seakan ALLAH memang sudah tidak diperlukan kecuali mengatur agar alam semesta ini agar sekedar tidak bertubrukan. Sebenarnya apa yang tidak berada di dalam genggaman ALLAH?
Yang lebih menyedihkan, orang yang mengaku muslim / muslimah pun sudah mulai menganggap Al Qur’an bukanlah hukum ALLAH yang mutlak. Bahkan sebagian menganggap Al Qur’an menjadi relatif (hanya karena penafsiran mereka berbeda-beda). Perintah shalat yang disertai petunjuk untuk mengikuti bagaimana cara Rasulullah SAW shalat bisa mereka bolak-balik menjadi “asal ingat ALLAH” lalu tak perlu repot-repot melakukannya. Mengerjakan shalat menjadi tidak wajib bagi mereka. Hukum waris yang lebih tegas bilangannya di dalam Al Qur’an pun diganti dengan mengikuti keadilan manusia. Perniagaan penuh dengan penindasan. Politik penuh naluri kebinatangan / hukum rimba (siapa kuat, dia yang menang). Padahal ALLAH telah ciptakan jalan-jalan kompromi, darurat yang juga pasti, seperti jama’ qasar, waqaf, hibah, bagi hasil, poligami dan seterusnya.
Seandainya mahluk (nyata dan gaib) seluruh dunia sepakat 1 + 1 = 3 (satu tambah satu sama dengan tiga) apakah mereka bisa ciptakan air dari unsur H + O + H = H3O atau oksigen dari O + O = O3. Mungkin mereka lupa bahwa kalau ALLAH SWT itu mutlak maka Al Qur’an juga mutlak dan tentunya hukum ALLAH itu mutlak. Entah mereka setuju atau tidak.
Toh kalau pendapatku ini salah, maka pendapat mereka juga otomatis salah. Wa ALLAH a’lam.
Demokrasi = Agama Baru February 7, 2009
Posted by merenung in Kehidupan, Serba-serbi, Umum.Tags: agama, demokrasi, hamas, korban
add a comment
Demokrasi. Kata yang sangat sering dipakai dan seolah menjadi kunci peradaban manusia modern. Jika tidak demokratis maka otomatis akan menjadi manusia primitif bahkan purba. Entah mengapa peradaban manusia menjadi pemuja demokrasi, padahal boleh dikatakan bangsa ini sangatlah kuat memegang budaya. Budaya yang kemudian dituangkan dalam kalimat padat sederhana yang disebut Pancasila. Entah bangsa mana di jagat ini yang punya sila-sila macam bangsa kita.
Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan
(bener nggak ya ….sudah lama juga tidak pernah membaca sila-sila ini lagi)
Kalimat yang mungkin dirangkai setelah dipikir masak-masak oleh pemikir bangsa ini yang secara seenaknya diterjemahkan sebagai demokrasi. Kata yang datang dari bangsa lain yang konon mereka sebut suara tuhan. Entah tuhan yang mana yang mereka maksud, tapi bangsa ini terlanjur percaya bahwa tuhan itu cuma satu, yaitu ALLAH itu sendiri. Lalu jadilah kemudian demokrasi menjadi suara yang mutlak harus dituruti, harus menang, harus memimpin. Karena suara tuhan sudah pasti benar.

Kaji Terus "Berjuang" Untuk Menegakkan Demokrasi = Menang (foto from Detik)
Budaya yang penting menang ini pula yang menjadikan bangsa ini menjadi abai dengan kebenaran. Untuk apa benar jika kalah. Lebih baik salah tapi menang. Jikapun akhirnya karus kalah, anehnya para atlet demokrasi ini jarang yang sportif. Menuduh lawan bermain curang, meminta pertandingan ulang, bahkan kampiun demokrasi macam Amerika yang dipuja sebagai nabi bisa mengeluarkan fatwa kalah bagi Hamas yang nyata-nyata menang pemilu di Palestina. Suatu tindakan pengecut yang juga ditiru oleh umat penganut demokratis.

Walau Hamas Menang = Tetap Kalah; Penganut Demokrasi Nurut Nabi Amerika
Beberapa hari lalu, seorang ketua lembaga perwakilan daerah menjadi korban pertandingan demokrasi. Kelompok pemuja kemenangan tidak sabar meminta pengukuhan tuntutan mereka kepada sang ketua. Mereka mengejar, merangsek, mengobrak-abrik ruang sidang demokrasi sekaligus melancarkan pencabutan nyawa sang ketua. Pastilah semua atlet demokrasi yang ikut didalam permainan petak umpet demokrasi yang memakan korban itu akan berdalih dan tidak mau dicap sebagai pembunuh. Mereka sekedar mengikuti aturan permainan dan malaikat pencabut nyawalah yang menyebabkan sang ketua mangkat. Apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Itulah pertandingan menang kalah. Pertandingan yang abai terhadap benar salah. Yang menang menjadi benar dan yang kalah pastilah salah. Entah siapa yang seharusnya peduli terhadap femonena demokrasi gila ini.

Korban Jatuh - Fenomena Ritual Agama Baru = Demokrasi
Kasihan bangsa ini. Kasihan pendiri bangsa ini. Mungkin cita-cita mereka terlalu muluk untuk dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Jadilah bangsa ini sebagai pemuja tuhan, pengikut nabi Amerika / Barat, pengamal kitab demokrasi dengan ritual jihad demonstrasi. Toh tawaf dan lempar jamarat, yang merupakan rukun haji umat muslim pun kadang juga memakan korban. Pantaslah kalau demokrasi ini sudah menjadi agama baru bangsa ini. Siapa yang bisa menghindar apalagi menolaknya?
Genk Sekolah? Mau Kemana? January 30, 2009
Posted by merenung in Serba-serbi, Umum.Tags: genk, polisi, sekolah, tawuran
1 comment so far
Hari itu, Jum’at 16 Januari 2009. Ba’da magrib panggilan masuk cellphone saat itu aku menunggu akan pijat refleksi. Suara istriku diseberang sana memberitahu kalau anak lelaki-ku (anak nomor dua) ditangkap polisi. Semula aku agak terkejut, karena penyebabnya adalah tawuran anak sekolah. Tempat tawuranpun cukup jauh dari lokasi sekolah anakku. Tentu saja persepsi menyeret ke arah anakku yang salah karena menyerang anak sekolah lain. Walau agak gundah, ternyata istriku telah datang dan menyelesaikan proses di kantor polisi itu, hingga anakku dilepaskan dan diperbolehkan pulang. Tiga orang guru sekolah dan keempat orang tua murid kawan dari anakku ikut dalam proses itu.
Sampai di rumah malam itu aku sudah sempat mengatur emosi dan memutuskan untuk tidak marah. Lagi pula anakku tidak ditahan oleh polisi. Aku tanyakan apakah sempat terjadi perkelahian, ternyata ceritanya agak lucu. Dan untuk itu tidak habis-habisnya aku mensyukuri apa yang terjadi. Peristiwa itu sungguh sangat membantu aku dan bermanfaat bagi anakku.
Konon dari cerita yang aku terima, siang itu anakku menerima telepon dari salah seorang temannya yang memberitahu bahwa dia dikeroyok oleh anak sekolah lain. Kawan anakku itu, bersama kawan-kawan lainnya sedang dalam perjalanan dengan kendaraan umum untuk nonton pertandingan basket antar sekolah. Entah mengapa seperti sudah tradisi, sepanjang jalur perjalanan kendaraan umum terdapat titik-titik temu ajang tawuran. Di jalur yang dilalui memang terdapat beberapa sekolah (SMA) yang seolah enggan membiarkan anak sekolah lain lewat tanpa gangguan. Sampai sekarangpun apa yang menjadi pemicu perkelahian itu tidaklah jelas.
Mendengar berita seperti itu anakku langsung berinisiatif menolong dengan mengajak empat orang kawan lainnya. Berlima mereka berangkat menggunakan microbus umum menuju lokasi. Turun dari microbus hp kawan anakku berdering, ternyata anak yang tadi menelpon memberi tahu bahwa perkelahian sudah selesai dan dia sedang diantar polisi pulang ke rumah. Batal membantu kawannya, mereka menuju mini-market untuk membeli minuman. Dengan alasan lapar dan belum makan, mereka berjalan mencari warung untuk mengisi perut. Sementara itu seorang polisi sedang berkeliling menyisir mengendarai sepeda motor, mungkin sudah prosedur standar pemeriksaan setelah kejadian seperti siang itu.
Kelima anak yang sedang berjalan ini tentu saja menarik perhatian satu orang polisi yang sedang bertugas menyisir. Berhenti dan bertanya darimana asal sekolah, kelima anak yang tidak punya pikiran macam-macam ini menjawab spontan nama asal sekolah mereka. Tentu saja ini menjadi semacam ‘pekerjaan’ bagi seorang polisi on duty seperti ini. Bukankah ini bisa menjadi penambah bahan prestasi pendongkrak pangkat. Bukankah sudah menjadi tugas mereka untuk mengantisipasi segala kemungkinan. Singkatnya kelima anak ini dibawa ke kantor polisi dekat lokasi untuk diproses.
Sekolah asal dikontak dan kelima orang tua murid dipanggil ke kantor polisi untuk membuat berita acara. Tuduhan yang dikenakan adalah ‘terlibat tawuran’. Tuduhan yang sangat aneh bagi orang awam, karena kelima anak ini bertemu pandang dengan musuhpun tidak. Apalagi bersentuhan dan berkelagi dengan mereka. Tuduhan yang sangat tidak masuk akal, tetapi harus diterima oleh semua pihak yang berada di kantor polisi itu. Konon semua sudah lelah berdebat, sementara polisi hanya akan melepaskan mereka jika berita acara yang dibuat ditanda tangani. Untuk ‘formalitas’ katanya.
Cerita itu masih belum membuatku percaya polisi gegabah menangkap mereka. Aku katakan tidak mungkin kepada anakku, bahwa polisi tidak akan melakukan itu. Barulah anakku mengaku bahwa di dalam tas-nya ditemukan gembok yang terikat di kepala ikat pinggang kulitnya. Seorang kawan lain telah buru-buru membuang senjatanya. Maklum polisi hanya satu orang, anakku tertangkap membawa senjata karena digeledah duluan. Saat aku tanya mengapa dia membawa barang semacam itu, dia menjawab untuk jaga-jaga. Jawaban standar yang konyol memang. Membantu kawan yang dikeroyok dan datang dengan tangan kosong tentu aneh, tetapi membawa senjata semacam itu memanng mungkin sudah cukup untuk mengatakan mereka bermaksud berkelahi.
Keesokan harinya, Sabtu 17 Januari 2009, sore itu aku melihat amplop panggilan dari sekolah sudah ada di rumah. Senin pagi aku diminta datang ke sekolah dengan hal undangan ‘Pelanggaran Tata Tertib’. Hal yang fatal dengan sangsi dikeluarkan dari sekolah. Walaupun aku adalah salah seorang alumni sekolah itu, tapi pengenaan pasal pelanggaran tata tertib membuat aku harus berbesar hati untuk menerima kenyataan, jika anakku harus dikeluarkan dari sekolahnya. Aku sampaikan kepada istriku dan anakku untuk siap menerima kenyataan dan mulai berfikir kemana dan bagaimana akan pindah.
Senin 19 Januari 2009, jam 08:00 aku sampai di sekolah dan sudah ada dua orang ibu yang datang terlebih dahulu menunggu proses. Kami diminta menunggu di ruang BP. Sementara bercakap-cakap dan menunggu kedatangan orang tua murid lainnya, dari mulut kedua orang tua kawanku terasa kesan seolah menyalahkan anakku yang membawa senjata di dalam tas sekolahnya. Kesan itu cukup kentara dengan menanyakan apakah aku mengetahui anakku mempunyai senjata itu. Seolah ingin mengatakan aku kurang mengawasi anakku sampai bisa menyimpan benda / senjata itu di dalam kamar atau rumahku. Beberapa pernyataan aku coba hentikan dengan menyampaikan, bahwa aku mengerti dan menerima kalau anakku mereka anggap biang kerok tertangkapnya anak-anak mereka.
Pagi itu Kapolda datang ke sekolah untuk menanyakan tindak lanjut dari ‘berita acara tawuran’ yang masuk dari salah satu ranting wilayah kewenangannya. Mungkin memang pagi itu Kapolda tidak ada acara lain hingga sempat datang mengurusi lima anak yang ‘terproses verbal’ tawuran, walau bertemu pandang dengan lawan apalagi berkelahipun tidak. Sangat membuang waktu untuk acara resmi seorang Kapolda, entahlah kalau Kapolda itu ternyata alumnus sekolah atau punya anak yang bersekolah di SMA itu. Tentu kedatangannya bukan lagi resmi, tetapi sudah agak pribadi.
Ternyata kami dipanggil satu per satu untuk menghadap Kepala Sekolah, Wakilnya, Wali Kelas murid yang bersangkutan dan beberapa guru Kesiswaan. Saat ibu yang pertama kembali dan memanggil orang tua berikutnya, kami mengetahui bahwa ternyata ibu itu sudah menanda tangani surat pernyataan skorsing selama satu bulan. Suatu pengenaan sangsi yang agak tergesa-gesa dan cukup gegabah. Karena ternyata orang tua murid yang terlibat tawuran, menjadi korban dan diantar polisi pulang ke rumah, anak yang menelpon dan menjadi awal segala kejadian yang melibatkan kelima anak ini tidak ada ditempat. Belakangan menjadi sangat mengherankan bahwa surat panggilan kepada orang tua anak ini-pun belum dilayangkan oleh sekolah. Sekolah seolah ingin cepat selesai dan cuci tangan dari ‘catatan’ polisi yang membukukan proses verbal kelima anak ini dengan menjatuhkan sangsi skorsing. Tanpa mengetahui langsung dari anak yang terlibat tawuran dan memproses dengan orang tua anak yang memang tawuran (bonyok-bonyok), mereka dengan mudah menjatuhkan sangsi kepada anak-anak konyol yang sedang apes berada di tempat dan waktu yang salah.
Singkatnya, kami, orang tua yang masih di luar ruang kantor Kepala Sekolah meminta masuk dan bertemu bersama-sama agar tidak terlalu lama mambuang waktu hanya untuk menerima sangsi sepihak yang dalam pandanganku kurang bijaksana karena tidak melibatkan semua pihak terkait secara menyeluruh. Alhasil setelah bicara panjang lebar yang intinya sekolah hanya berdalih dengan senjata Tata Tertib yang telah ditanda tangani punya satu jalan yaitu mengeluarkan anak dari sekolah. Dengan dalih ini, tentu sekolah menjadi sangat terlihat bijaksana apabila sangsi yang dikenakan tidak sampai mengeluarkan dari sekolah. Apalagi skorsing, walau mungkin sangsi itu akan memberatkan dan dapat berakibat anak tidak naik kelas. Logika yang sangat keliru dan sangat mempermudah persoalan. Bukan logika seorang pendidik.
Belakangan, SMA ini terkenal dengan genk sekolah yang dua tahun lalu beritanya muncul di semua media cetak dan elektronik karena kasus kekerasan. Search di google dengan mudah menemukan cerita-cerita sepak terjang mereka. Anggota genk ini menganiaya seorang anggota juniornya hingga cacat (patah tangan ?). Suatu tindakan yang sangat biadab untuk pelajar seusia mereka. Mungkin beberapa alumnus yang menjadi anggota genk itu membantah kekerasan dan perploncoan, tetapi faktanya itu turun-temurun terjadi. Hanya saja, semua junior tidak berani buka mulut untuk cerita. Ini pula yang mendasari guru tidak bertindak apa-apa, dengan dalih kurang bukti.
Jika agak jeli, sebagai contoh, suatu perhelatan yang menelan biaya setengah milyar (mungkin lebih) bisa diselenggarakan oleh anak-anak SMA itu tanpa restu dari sekolah (artinya sekolah tidak mengetahui dan bertanggung jawab atas penyelenggaraan acara itu), dapat dibayangkan cara pengumpulan dananya. Semua serba memaksa. Anak-anak junior sekolah ini dipaksa menjajakan bunga mawar seharga Rp. 25.000,- oleh seniornya dan apabila target tidak tercapai, mereka harus nombok dengan uang mereka sendiri. Konon ini budaya turun-temurun sejak budaya nge-genk mulai eksis. Budaya tekan dan paksa. Apakah tidak terlihat mencurigakan bagi guru, bagaimana pengumpulan dana dengan menjual mawar seperti ini. Sampai hari ini, masih ada sisa mawar di kulkas rumahku walau acara itu sudah berlangsung lama. Mawar bekas jualan anakku yang ditebusnya dengan uang saku. Suatu kegiatan penindasan yang membuang waktu dan biaya.
Anakku patah arang. Walau hanya di-skors seminggu, tapi dia sudah tidak mau lagi kembali ke sekolah. Selalu saja kakak-kakak kelas yang menjadi alasan utama mengapa dia enggan kembali ke sekolah itu. Sekolah dimana aku dan semua adik-adikku menimba ilmu dengan rasa suka cita. Sungguh, itu sekolah tempat aku dan adik-adikku belajar. Bahkan suami dan istri adik-adikku pun lulusan sekolah itu. Betapa sekolah itu menyenangkan bagi kami. Tetapi itu dulu. Sekarang, bisa ditanyakan kepada pada junior sekolah itu. Batapa mereka tertekan dengan tingkah polah kakak-kakak kelas yang terbiarkan secara turun temurun. Alih-alih menindak, guru malah cuci tangan dengan dalih tidak ada bukti. Suatu tindakan yang kurang cerdas yang diturunkan kepada anak-anak didik mereka. Pantas di negeri ini sangat sulit menangkap koruptor walau peringkat korupsi kita termasuk yang tertinggi di dunia. Ternyata semua karena sulit mencari bukti.
Apa yang terjadi dengan anak-anak yang tawuran itu. Penyebab munculnya persoalan ini. Satu orang anak apes yang “digebugin” dan sempat diproses polisi (artinya terbukti tawuran), dikenakan sangsi keluar dari sekolah. Gampang sekali memang menjalankan sangsi yang sudah tertulis. Bagaimana anak-anak lainnya yang juga ikut tawuran? Kembali, mungkin tidak ada bukti cukup, sehingga tidak ada tindakan konkret. Budaya itu akan terus berlanjut. Entah siapa yang akan menjadi korban dan entah sampai kapan. Entahlah.
Biadab zionis israel ! January 18, 2009
Posted by merenung in Kehidupan, Umum.Tags: biadab, israel, palestina, zionis
add a comment

Membaca berita hari ini, walau hati masih geram telah tersirat sedikit rasa lega. Kebiadaban zionis israel (semoga ALLAH melaknat mereka) berhenti sementara dengan diumumkannya gencatan senjata sejak pukul 2 dini hari waktu setempat.
Pernyataan perdana menteri israel ehud olmert seperti dikutip cnn, mengatakan
“Hamas has been dealt a very serious blow,” olmert said. “We can say that the conditions have been brought about that enable us to say that the aims that we laid down for the operation have been completely achieved.”
Tidakkah dapat dibaca apa yang sebenarnya mereka inginkan? Mahluk zionis haus darah ini hanya menginginkan pembunuhan dan penghancuran. Sementara sedikit-demi-sedikit mereka menggerogoti tanah-tanah warisan Bangsa Palestina untuk mereka jajah. Mereka inilah teroris yang sebenar-benarnya.

Apa yang terjadi di Gaza – Palestina saat ini, sudah pasti membawa dampak keburukan bagi Bangsa Palestina turun-temurun. Tetapi apakah tidak akan berdampak buruk bagi orang lain seperti Bangsa Indonesia yang kebetulan terletak berjauhan?
Di negara yang penduduknya mengaku mayoritas Muslim ini mempunyai pendapat yang beragam. Walaupun semua (mungkin) bersimpati terhadap penderitaan masyarakat Palestina, masyarakat Gaza pada umumnya, tetapi beberapa orang berpendapat berbeda. Secara terang-terangan di sebuah stasiun TV gus dur menyalahkan “gangguan Hamas” terhadap israel dengan tembakan-tembakan roket sebagai penyebab zionis laknat ini membantai lebih dari 1.000 manusia tanpa kesalahan, sebagian dari mereka adalah wanita dan anak-anak. Membuat cacat seumur hidup lebih dari 5.000 orang lainnya. Menghancurkan ribuan rumah, tempat tinggal dan masjid serta sarana pendukung lainnya. Dan yang pasti mereka menghancurkan hati lebih dari semilyar masyarakat Muslim dunia. Entah apakah tindakan zionis israel itu sepadan dengan alasan “gangguan Hamas” sebagai Bangsa Palestina pewaris tanah itu, hingga gus dur dengan gaya “gitu aja kok repot-nya” menyalahkan Hamas.

Bagi nyawa yang terenggut oleh perilaku laknat zionis israel, insya ALLAH, semoga syahid. Mereka akan menghuni syurga. Tempat persinggahan terakhir yang diidam-idamkan mahluk ciptaan ALLAH.
Al Baqarah: 154
“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.”
Ali Imran: 169
“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki.”
Ali Imran: 195
“Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman), “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik.”
Apa yang terjadi dengan kita yang masih hidup ini?
Apakah semua yang terjadi pada saudara-saudara Muslim Palestina ini tidak ada akibatnya pada kita. Apakah ALLAH tidak akan bertanya apa yang kita perbuat atas perbuatan biadab zionis israel itu?
Bukankah telah nyata apa yang dilakukan oleh zionis biadab selama ini. Dan kita semua diam atas semua itu.
A;-’Ankabuut: 64
“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.”



