jump to navigation

Sekedar Tanda Tangan ? January 23, 2008

Posted by merenung in Umum.
Tags: , ,
trackback

Minggu lalu, anak lelakiku yang saat ini duduk di kelas 3 SMP minta uang untuk beli formulir pendaftaran masuk SMA. Agak sedikit berbeda dari sekedar meminta uang, anakku sedikit segan mengungkapkan permintaannya. Karena dia ingin membeli formulir pendaftaran di SMA Pangudi Luhur.

Sudah sejak beberapa bulan yang lalu, aku dan anakku (dan kadang istriku juga anak perempuanku) berdiskusi tentang rencana anakku ini. Diskusi sangat panjang (lebar), berlarut-larut dan penuh dengan emosi (bukan marah). Kami ber-empat (aku, istriku, kedua anak perempuanku) tidak ada satupun yang rela anak lelakiku ini mendaftar di SMA tersebut. Bahkan kedua anak perempuanku sering bertanya kepadaku, apa alasan saudara lelakinya itu sehingga dia memilih SMA tersebut. Tentu aku tidak bisa menjawabnya.

Kami keluarga muslim. Walau masa kecilku pernah menjadi seorang penganut agama Kristen, ikut sekolah minggu dan sesekali bermain organ di gereja atau kebaktian umat di rumah-rumah. Dan kebetulan, walau orang tuaku ada yang beragama Kristen sampai sekarang, bukan berarti kami ber-empat bisa mengerti mengapa anakku ini ingin masuk ke SMA tersebut.

Sekolah ini memang terkenal. Itu sejak dulu. Lucunya, waktu aku tanyakan kepada anakku, “Coba sebutkan satu saja alasan, kenapa kamu ingin masuk sekolah itu?”. Jawaban spontan-nya, “Keren, pa….”. Kasihan juga kalau aku renungkan, ternyata hanya untuk “keren-keren-an” anakku pilih sekolah. Agak terpaksa, aku luluskan permintaannya untuk membeli formulir, sambil berpesan (dengan nada sedikit menekan), “Papa akan cari guru ngaji untuk kamu, biar ngajimu bagus. Paham tentang agama dan taat menjalankan kewajiban”. Apa jawabnya? “Wah, kalau itu sih aku jamin pa…., aku bisa”, dengan sumringah tersenyum. Ada sedikit rasa senang bercampur khawatir di dalam hati, sembari berfikir “Kalaupun dilarang, bagaimana caranya?”.

Dua hari lalu, di atas meja makan, aku melihat map biru muda dengan tulisan “Formulir Pendaftaran”. Akhirnya dia mendapatkan formulir pendaftaran SMA dambaannya. Sebelum aku buka map, seperti biasa aku coba menebak hal penting untuk “sekolah hebat” seperti SMA yang satu ini. Entah berapa kali sampai ditelingaku, cerita tentang “sekolah atau perguruan tinggi hebat” lain yang juga Kristen atau Katolik, punya persyaratan khusus yang sulit untuk dipenuhi. Bukan saja oleh pemeluknya sendiri (demikian yang aku dengar), apalagi oleh kami yang bukan pengikutnya.

Aku buka map biru muda itu dan langsung mencari lembar yang menjadi tebakanku. F – 3; lembar Surat Pernyataan. Dimana kami diminta mengisi data orang tua murid dan menanda tanganinya diatas materai Rp. 6.000,- Dan itu harus ditanda tangani oleh ayah dan ibu. Isinya ada tiga butir dan yang paling penting tentu butir yang pertama saja yang akan ditulis disini.

(butir pertama) Dengan ini menyatakan tidak keberatan, bahwa:

– Putra kami mendapatkan pendidikan dengan sistem tatacara Katolik

– Putra kami disekolah hanya diajarkan satu pendidikan agama, yaitu pendidikan Agama Katolik

– Putra kami selama di sekolah berada dalam suasana Katolik serta berdoa dalam tatacara Katolik baik secara individual dan / atau bersama-sama.

Tentu aku tersenyum, karena tebakan-ku tepat. Selama ini memang aku tidak pernah melihat dengan mata kepala sendiri suatu persyaratan masuk sekolah atau perguruan tinggi yang memerlukan Surat Pernyataan yang mencantumkan butir seperti diatas. Ini memang kali pertama. Maklum, aku lulusan sekolah-sekolah negri biasa.

“Yang ini papa tidak berani tanda tangan”. Setelah aku bacakan, istriku ikut-ikutan “Mama juga tidak mau tanda tangan”. “Papa tidak berani mengorbankan keyakinan untuk apapun, apalagi hanya untuk keren-kerenan”. “Tapi ini hanya untuk formalitas, pa….”, rengek anakku. Aku menjawabnya dengan tegas, “Tanda tangan diatas materai itu tidak bisa hanya sekedar formalitas. (coba saja search di google kata arti materai). Masih banyak yang aku ucapkan kepada anakku dengan maksud dia mengerti mengapa aku bersikukuh dengan sikapku. Air mata mengalir di kedua pipinya, menunjukkan begitu ingin-nya anakku untuk bisa sekolah disana. Aku hanya bisa berharap dan berdo’a, semoga ALLAH SWT memberikan hidayah agar anakku mengerti dengan sikapku.

Tadi pagi, anakku berangkat ke sekolah dengan muka masam. Istriku sempat berbincang dan menanyakan, apakah dia mengerti penjelasanku malam itu. Anakku sempat berdalih, bahwa dia hanya ingin ikut test dan mencoba kemampuannya. Istriku bilang, “Coba saja kumpulkan formulir pendaftaran tanpa Surat Pernyataan itu. Bilang saja nanti menyusul”.

Aku yakin anakku mengerti apa alasanku. Aku juga yakin bahwa dia mengerti mengapa dia tidak perlu memaksakan diri masuk ke sekolah itu. Tapi memang godaan untuk menjadi “keren” sulit kita hapus begitu saja. Jangankan oleh anak yang bau kencur seperti anakku, kadang orang tua seperti aku saja sulit untuk menghindarinya.

Aku merenung, mengapa kita sering kali ingin dipandang “keren” oleh orang lain. Lalu kita sibuk mencari jalan untuk mencapainya. Akupun bertanya, “Memang kalau dilihat orang lain keren, kita jadi banyak tabungan pahalanya?”. Jangan-jangan justru hanya akan menjerumuskan kita.

Akankah kita tukar kehidupan akhirat kita dengan keren-nya dunia?

Comments»

1. Ram-Ram Muhammad - January 24, 2008

Assalaamu ‘alaikum warahmatullah.
Asyik pengalamannya, semoga menjadi hikmah dan cermin buat saya dan yang lainnya.

Dalam bahasa Sunda ada istilah, Nyaah Dulang. Artinya kurang lebih bentuk kasih sayang yang berlebihan, sehingga tanpa disadari cara kita mengekspresikan rasa sayang kepada orang yang kita sayangi malah menyebabkan sesuatu yang tidak baik terhadapnya. Kurang lebihnya seperti orangtua yang selalu memenuhi semua keinginan anaknya, atas nama cinta dan sayang.

Salut buat mas dan istrinya yang dengan sangat matang mempertimbangkan baik-buruknya pilihan anak, kemudian memutuskan untuk tidak mengabulkannya. Saya kira, itu bentuk kasih sayang yang sangat luar biasa besarnya, karena berhubungan dengan masa depan akidah puteranya.

Saya sendiri kebetulan diamanati mengelola pesantren dan sekolah Islam formal, saat ini baru TK, SD dan PDTK/SD. Beberapa siswa kami juga non-muslim, namun kami memberikan keleluasaan untuk hal-hal yang bersifat keyakinan. siswa non muslim tentu tidak diwajibkan mengikuti kegiatan keagamaan islam seperti salat berjamaah, puasa sunnat senin kamis, salat dhuha termasuk berdoa dalam tata cara Islam. Hal ini tidak lain merupakan bentuk toleransi terhadap perbedaan agama dan kepercayaan.

Salam kenal dari saya, dan salam untuk keluarga mas semua.

2. merenung - January 24, 2008

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh,
Alhamdulillahi robbi.
Terima kasih atas perhatian dan tanggapannya.
Semoga kita selalu dikuatkan dalam meniti kehidupan ini.
Salam kembali dari kami sekeluarga.
Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

3. dreamerexpress - January 24, 2008

Assalamu’alaikum. Pa~
Finally you put this on the blog huh? Hehe.. Hopefully he’ll understand what You’ve told him. Well actually i think he does~

Yer The Best dad Ever!❤

With love
I Cut

4. galuhsp - February 5, 2008

Assalamualaikum wr,wb.
Now is my turn with the same problem…. minggu lalu anak lelakiku yang masih duduk di bangku kelas 3 smp juga minta dibelikan formulir sma pl. Sebetulnya hal ini sudah menjadi pembicaraan lama sebelumnya dimana saya sendiri tidak bisa berkilah lagi. Karena masa sma saya masuk ke sekolah putri ursula yang berbasis katolik dan saya sendiri seorang muslim yang alhamdulilah sudah sbg Hj, dan pernah anak2 saya ajak untuk berumroh bersama. Dengan semua pemahaman si anak membuat contoh mamanya sendiri sma di ursula dan ayahnya juga pernah di sma de britto jogya (kls 2 keluar), hanya pada waktu itu saya dengan keyakinan saya tidak akan bergoyah sbg seorang muslim meskipun sekolah di katolik. Tapi pada saat anak saya sendiri meminta untuk coba daftar di sma pl dgn alasan yg sama adalah keren, boleh gondrong, enggak susah2 bilang sekolah dimana ? dengan menyebut nama sekolah semua orang sdh tahu. Jadi saya sekarang diliputi dengan kebimbangan di formulir tanda tangan ortu, hanya lembar itu yg blm diisi padahal test gel 1 tgl 17 feb’08. Tidak lain masih mempertimbangan situasi, bisa kah anak ini seperti yg saya lakukan jaman saya sma dulu, meskipun saat ini pemahaman agamanya sebagai muslim bisa sedang2 saja. Saya pun mengamati banyak anak2 teman yang muslim bersekolah disana, mereka tidak menemui kesulitan yg mendasar. Kesulitan terbesar justru ada pada tuntutan nilai pelajaran yg harus tinggi mis ipa/ips, semakin anak tsb gondrong artinya nilainya bagus, tapi yg rada2 cepak/pendek artinya pasti ada nilai yg masih jeblok. Dan sekolah itupun tetap ada toleransi bagi muslim mis. tetap diperbolehkan untuk keluar sholat jumat. Hanya saja formulir F4 itu tetap harus di tanda-tangan……….. Bagaimana kah ini ? Tapi dalam hati kecil saya berdoa semoga saja tidak diterima, tapi rasanya doa orang tua kok gitu ya…… biarkan anak ikut seperti uji nyali test di PL. Tapi yang lucu adalah saat ini saya punya rasa kebanggaan tersendiri lulusan dari sma ursula…

Wassalamualaikum wr,wb,

5. merenung - February 7, 2008

Wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh,

Jika dibaca kembali tulisan itu, ketidak beranianku untuk menanda tangani formulir itu bukan karena takut akan goyahnya akidah anakku atau bahkan terpengaruh dan berpindah keyakinan. Karena sesungguhnya kita tidak perlu takut dengan masa depan yang tidak kita ketahui (ghaib). Bagaimana kita bisa memastikan terpengaruh atau tidaknya anak kita nanti? Karenanya kita selalu berdo’a yang artinya “Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau gelincirkan hati kami setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami dan anugerahkanlah kami dari sisi-Mu kasih sayang, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi” (Rabbanaa laa tudzigh quluu banaa ba’da idzha dai tanaa wa hablana milladunka rahmatan innaka antal wahhaab). Ini menunjukkan kelemahan kita dan meminta kepada ALLAH agar selalu memberi perlindungan kepada kita.
Persoalannya justru apabila aku menandatangani (diatas materai) formulir itu, artinya secara legal diakui oleh negara aku menyetujui isi formulir itu. Bahwa menurut anakku itu hanya formalitas dan (katanya) di lingkungan itu bahkan anak-anak dapat melaksanakan sholat justru menjadi lucu bagiku. Bagaimana tidak lucu, lembaga pendidikan tersohor memberikan contoh sejak dini ketidak konsistenan, pengabaian dan seterusnya suatu ketetapan perjanjian. Pernyataan yang ditanda tangani diatas materai yang sama dengan materai yang digunakan untuk kontrak perjanjian triliunan rupiah. Saya rasa lembaga pendidikan seperti itu tidak akan memberikan contoh “ketidak konsistenan”, “pengabaian” atau “main-main” dengan tanda tangan diatas materai. Bagaimana nanti para lulusannya diharapkan dapat konsisten, peduli dan bersungguh-sungguh dengan komitmennya kalau dari muda sudah diajarkan untuk tidak peduli dan abai terharap ketetapan-ketetapan hukum.
Kalau anak-anak muslim tidak mengalami kesulitan bersekolah disana tentu sangat wajar, karena disana tidak diajarkan ilmu agama Islam. Tidak diajarkan fikih, syariah bahkan tidak juga ibadah agama Islam, apa sulitnya menjadi muslim? Tentu kesulitan mereka adalah mata pelajaran umum. Baik muslim maupun non-muslim akan menghadapi masalah yang sama, yaitu mata pelajaran mereka.
Anakku mengerti bahwa dia tidak bisa menjamin / memastikan kehidupannya dimasa depan. Anakku juga mengerti bahwa kita harus selalu berdo’a dan meminta kepada ALLAH SWT agar selalu dikuatkan keyakinan kita. Jadi dia tidak bisa menjawab waktu aku bertanya, “kalau kamu nanti berumur tiga puluh lima tahun dan waktu itu kamu ternyata berpindah keyakinan lantaran alur pendidikanmu di sekolah ini, bagaimana papamu bisa bertobat?”. Dia mengerti bahwa saat itu menyesal sudah tidak ada gunanya. Memutar jarum jam kembali juga suatu yang mustahil. Bagaimana kita bisa tobat, yang artinya menghentikan, menyesali dan tidak mengulanginya? Mengapa kita harus mempertaruhkan masa depan akhirat kita untuk masalah yang sesederhana ini?
Mengenai kebanggaan almamater memang sangat wajar, biasa dan tidak ada salahnya. Yang perlu ditanyakan kepada diri kita adalah akhir dari tulisan itu : “Akankah kita tukar kehidupan akhirat kita dengan keren-nya dunia?”. Bukankah banyak sekali di dalam Al Qur’an kita diingatkan dengan kata-kata yang satu ini, “berbangga-bangga”.
Mohon ma’af apabila ada yang menyinggung perasaan. Sungguhlah bukan maksud hati untuk melakukannya, melainkan kefakiranku membuat salah memilih kata.
ALLAH SWT Yang Maha Benar dan Mengetahui.
Semoga kita selalu diberi petunjuk jalan yang lurus.

Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

6. Teedee - October 20, 2008

Saya juga menghadapi permasalahan yang sama, pada saat kelas 3 smp anak saya selalu bermasalah dengan pihak sekolah hanya 1 yaitu rambut. Pernah beberapa kali kami sebagai orang tua dipanggil gara-gara rambut.
Suatu sore anak saya tersebut mengungkapkan keinginannya untuk masuk sekolah Gonzaga saya tanya itu kan sekolah dengan latar belakang agama yang berbeda dengan kita, saya mencoba menjelaskan. Dia berkilah bahwa teman2nya yang muslim juga banyak yang masuk sana. Singkat cerita pendaftaran untuk Gonzaga kelewat alias sudah tutup.
Hari lain dia diskusi lagi bahwa dia ingin masuk ke PL, saya tanya kenapa tidak ke SMAN yang bagus-bagus saja (krn smp dia ada di wilayah jkt barat maka saya sebutkan beberapa sekolah) seperti SMAN 78, SMAN 47 (deket rumah) dll dia tetap pengen masuk PL.
Waktu berlalu saya bimbang lalu teringat beberapa kenalan yang katanya alumnus PL dan saya tahu sekali dia muslim yang taat, saya tanya bagaimana kegiatan ibadah disana, menurut dia tidak apa2 dia masih bisa solat 5 waktu (artinya dzuhur, asar bahkan maghrib mungkin), apalagi jum’atan gak masalah.
Singkat cerita belilah anak saya formulir kami orangtua mengantarkan sambil tanya2 sama senior atau satpam dll tentang kelancaran ibadah tsb, dan respon mereka tidak apa2 pak ijin saja sama guru piket, masak orang mau ibadah kok dihalangi jawab pak satpam.
Dalam pikiran saya, setahu saya masuk PL itu sulit, ah paling anak saya gak diterima karena saya tahu waktu di smp pikirannya masih main aja. Pada saat pendaftaran, tidak disangka tidak dinyana anak saya ketemu ex teman2nya waktu SD yang pada saat smp nya pisah (masuk SMP ALPUS, ANNISAA dll) yang berlatar belakang Islam, kemudian yang lucunya banyak sekali ibu2nya yang memakai jilbab, sampai-2 ada yang nyeletuk ini majelis taklim atau apa…grrr lah yang hadir disitu.
Wah anak saya makin semangat, tibalah waktu pengumuman, saya selalu berdo’a “Ya Alloh berilah anak2 kami tempat pendidikan yang baik, yang lancar ibadahnya, yang aman, selamat, yang manfaat dan barokah”…eehh ternyata anak saya pulang melihat pengumuman terlihat dari raut mukanya cerah ceria, saya pikir “wah diterima nih” antara senang, gundah, bersyukur..berkecamuk dalam pikiran saya.
Sebelum wawancara dan bayar membayar, saya konfirmasi sekali lagi kepada beberapa kenalan yang alumnus PL, jawaban sama.
Saya katakan kepada anak saya apabila di kemudian hari saya dengar atau perhatikan kefahaman agamanya mundur maka saat itu juga saya keluarkan dari sekolah tsb…dan itu deal kami.
Alhamdulillah sampai saat ini saya perhatikan ibadahnya solatnya puasanya lancar…demikian juga dengan jum’atan.
Setiap hari saya selalu tanya kepada anak saya bagaimana solat kamu, apakah sudah solat..? dll
Sekali waktu saya minta seseorang untuk berada di masjid terdekat dari SMA PL tersebut pada waktu2 solat, apakah benar ibadah solatnya lancar..?

Terima kasih komentarnya. Jadi bapak menandatangani formulir diatas materai itu?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: