jump to navigation

Surga Dunia di New York February 12, 2008

Posted by merenung in Kehidupan.
Tags: , ,
trackback

Dunia sudah pasti bukan surga. Bahkan nikmat dunia tidak seberapa jika dibandingkan dengan nikmat surga. Mungkin itu sebabnya orang sering mengutamakan nikmat dunia dan lupa dengan nikmat surga. Sebagian lain tidak percaya dengan adanya surga hingga menganggap nikmat hanya ada di dunia selama masih hidup. Mati adalah kehilangan dan musnah begitu saja. Bagaimanapun surga tidak tergantung dengan anggapan mahluk hidup yang namanya manusia. Entah seperti apa nikmat surga itu, sulit membayangkannya saat kita ada di dunia seperti ini.

Aku diberi kesempatan ALLAH untuk berkunjung di beberapa tempat di muka bumi ini. Banyak sekali tempat yang indah menawan menyejukkan hati, sebanyak tempat lainnya yang sudah dirusak oleh manusia dengan segala tingkah polahnya. Dari pemandangan alami berwarna warni, struktur dan arsitektur Sang Maha Pencipta, bangunan megah kuno maupun modern sampai hutan gundul dan pemukiman kumuh karya manusia. Tetapi tidak ada tempat yang indah menawan dan menyejukkan, seindah dan seajaib lingkungan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

Mencoba merenungi suasana kedua tempat itu selalu tidak habis-habisnya rasa rindu. Aku bahkan sempat berfikir, di tempat inilah aku rasakan surga di dunia. Bagaimana tidak. Hanya di kedua tempat inilah rasanya seluruh kehidupan menjadi sangat ideal. Belum pernah rasanya saat aku bercermin, lalu dalam pandangan semua yang aku lihat di cermin itu sudah sempurna. Biasanya kalau bercermin di rumah, entah rambut yang sudah botak ini kurang rapi, muka banyak minyak dan seterusnya, yang memerlukan perhatian dan kadang cenderung mengusik mata hingga kurang bersyukur. Anehnya, setiap kali bercermin sebelum berangkat ke Masjidil Haram maupun Masjid Nabawi, pantulan cermin selalu mengatakan sudah tidak ada yang kurang.

Umumnya, saat berjalan-jalan dengan maksud belanja atau cicip-cicip makanan di restoran, perhatian kita terpusat pada kepuasan mata dan lidah kita. Di kedua tempat yang dikelilingi dengan pusat perbelanjaan itu, anehnya hati ini, perhatian selalu ke penunjuk waktu mengukur waktu panggilan sholat. Buru-buru ingin pulang ke hotel merapikan diri untuk menunggu azan. Rasanya, hidup selalu terikat dan diingatkan untuk ibadah, baik hati maupun ritual kita. Nikmatnya surga dunia.

Di Jakarta yang hiruk pikuk ini, rasanya sulit sekali mengalami situasi bak surga dunia seperti di sana. Walau katanya “rumahku surgaku” atau “istriku bidadariku” dan kata-kata indah lainnya, belumlah dapat membawaku ke suasana surgawi seperti itu. Belum lagi kesibukan pekerjaan yang seolah-olah tidak pernah selesai dan berhenti mengejar. Tuntutan biaya hidup yang tidak pernah turun, kebutuhan hidup yang seakan tak bisa ditunda, belum lagi keinginan-keinginan hawa nafsu yang selalu merengek meminta diikuti. Rasanya waktu berlalu begitu cepat dan hidup menjadi lelah. Telah panjang merenungi, rasanya tidak akan ditemukan surga dunia kecuali di kedua tempat yang indah itu.

Film Discovery Channel dengan judul Islam in America membuat renungan yang begitu lama buyar begitu saja. Seperti biasa, VCD aku beli untuk koleksi yang sewaktu-waktu bisa ditonton dan mungkin berguna itu, ternyata sangat menggugah. Adegan wawancara seorang warga negara Mesir yang berkelana merantau mencari kehidupan di Amerika. Tidak tanggung-tanggung, dia memilih New York sebagai tempat tinggalnya. Bukan kota kecil dan tidak juga bisa dibandingkan dengan Jabotabek, tempat dimana aku tinggal sekarang ini.

Cuplikan script yang penting aku tulis dibawah ini (mudah-mudahan kupingku benar menangkap kata-katanya):

(where Nabil’s came from, everything stops for prayer)
Di tempat asal Nabil, bila tiba saatnya, semua harus berhenti untuk sholat.

Sangatlah jarang aku menunggu waktu sholat, bahkan sering kali aku enggan menghentikan kegiatan saat mendengar panggilan azan.

(pitch in work around prayer is a top priority)
Bekerja di antara sholat merupakan prioritas utama.

Bukankah selama ini aku hanya sibuk bekerja mengejar dunia dan menjalankan sholat yang memakan waktu sedikit itu hanya menjadi istirahat di sela-sela waktu luang bekerja.

(If you can’t deliver your job, looking for another job)
Jika pekerjaanmu tak sesuai, carilah pekerjaan lain.

Belum pernah rasanya aku mendapatkan pekerjaan yang tidak sesuai dengan waktu sholat. Hanya saja aku belum pernah sengaja menghentikan rapat (misalnya) saat azan terdengar, untuk melaksanakan sholat.

(But you have to go to pray)
Tapi kau harus sholat.

Kalau harus sholat sih, aku agak lumayan lah…….

dan seterusnya, sampai dengan:

(Driving a taxi was the perfect solution)
Membawa taxi adalah solusi yang sempurna.

Bagiku, imigran ini amat mengagumkan. Sampai menganggap membawa taksi menjadi solusi sempurna kehidupannya.

Ternyata supir taksi di New York pun dapat mengalami situasi dimana kehidupannya begitu terikat, dekat dan selalu ingat akan maksud kehidupannya di dunia ini. Begitu mudah dia menyampaikan secara tersirat bahwa hanya ibadah-lah tujuan kita saat mampir hidup di dunia fana ini. Bekerja hanyalah untuk memenuhi dan menyambung kebutuhan hidup yang utama yaitu agar dapat beribadah. Hidup dunianya adalah ibadah dalam arti sebenarnya. Itulah surga dunia. Dan supir taksi itu menemukan surga dunia di kota New York. Untuk menyongsong surga yang sebenarnya, insya ALLAH.

Sementara aku masih mencari surga duniaku di sini, dimana kehidupanku aku jalani.

Comments»

1. rumahide - February 21, 2008

wah keren filmnya…. beli di mana tuh vcd nya mas…jadi pingin

2. merenung - February 21, 2008

Memang keren.

Seperti biasa di Disc Tara. Tadinya ada dua, yang satu saya titipkan ke supir taksi di Jakarta, mudah-mudahan bisa menyampaikan ke teman-teman supir taksinya, biar gak mau kalah dengan supir taksi di New York sana.

Sudah cukup lama, mudah-mudahan masih ada di Disc Tara.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: