jump to navigation

Ternyata Anakku Tetap Pengen Masuk PL February 15, 2008

Posted by merenung in Umum.
trackback

Menyambung cerita hampir sebulan yang lalu, yang aku tulis di blog :

https://merenung.wordpress.com/2008/01/23/sekedar-tanda-tangan/ ,

ternyata anakku belum menyerah. Mungkin ada sedikit pengaruh teman kanan kirinya. Beberapa kali dia berusaha menjelaskan keinginan dan perasaannya kepada aku. Aku menekankan bahwa aku sangat mengerti suasana hatinya, semangat pantang menyerah dan kekecewaannya. Dan dengan terus menerus pula, setiap dia berusaha berargumentasi, aku tetap menjelaskan kembali titik pijakku.

Aku memang tidak berhenti berusaha untuk membahas masalah anakku ini dengan beberapa orang teman-teman dan tentu keluarga sendiri. Ada momen secara khusus sebelum rapat alumni dua minggu lalu, aku dan teman-teman membahas masalah ini. Dari belasan orang yang hadir, hanya satu orang yang berpendapat tidak masalah kalau aku tanda tangani formulir itu dan anakku masuk PL (padahal belum tentu juga lulus test dan diterima, emang gampang masuk PL……..). Wajar juga kalau teman-teman lamaku itu menentang keinginan anakku. Mungkin juga salah satu sebabnya karena mereka semua muslim. Itu pikirku.

Yang agak menyentak dan lebih menguatkan posisiku justru terjadi Kamis siang ini. Aku pergi makan siang dengan teman-teman kantor di food-court hypermarket dekat kantor. Kami pergi ber-lima. Empat muslim dan teman yang satu orang seberang, non muslim. Saking alim-nya untuk ukuran ku (aku dahulu seorang Protestan dan orang tuaku sampai sekarang ada yang masih Protestan), kita biasa panggil pak pendeta. Mungkin kalo muslim biasa kita panggil pak ustadz, gitu lah. Aku samarkan panggilan temanku non-muslim ini dengan nama Lothar (karena dia senang sama Lothar Matheus).

Aku ingin sedikit mengingatkan bahwa waktu makan siang tidak lama dan cerita ku ini berjalan sangat singkat. Aku menceritakan bahwa anakku ingin masuk SMA PL dan aku tidak mengijinkan. Hal ini baru bagi teman-teman kantorku, terutama temanku Lothar. Sedikit penasaran, sambil makan Lothar tanya, “Kenapa kau larang?” (bukan karena dia tidak tau PL). Aku hanya menjelaskan satu dari banyak sebab aku melarang, yaitu perkara harus menanda tangani persetujuan diatas materai itu. Sontak setelah selesai aku membaca poin yang ke tiga, Lothar memotong dengan nada tinggi “Ach…., kalau aku gak mau tanda tangani formulir itu. Gak suka aku cara seperti itu. Nanti, nggak ada deh anakku yang masuk ke sekolah itu“. Kaget kan? Jangankan muslim macam aku, kawanku yang Protestan saja tidak mengijinkan anaknya masuk ke situ (tentu kalau sudah besar nanti, karena anaknya masih kecil-kecil).

Ajaibnya, pulang kantor Kamis malam itu, di meja makan, anakku mengungkit kembali keinginannya.

Anakku bertanya, “Papa mau gak bicara dengan mama-nya si…….(dia sebut nama temannya, anak kelas 2 SMA PL, dan seorang muslim)”.

Sedikit menawar aku menyahut, “Kenapa bukan papa-nya?”.

Anakku menjawab; “Mama-nya yang pengen ngomong”.

Enteng saja aku jawab: “Boleh. Dan sebaiknya mama-nya itu diminta baca blog-nya papa, biar dia punya gambaran posisinya papa”.

Saat di kamar, anakku masuk membawa wireless telepon dan bilang, “Ini pa, tante …… mau bicara”. Aku tanya, “Udah disuruh baca blog-nya papa?”. Dia jawab, “Belum, gak apa-apa kok, dia mau bicara”. Aku sambar wireless telepon itu dengan semangat dan mendengar dari ujung suara wanita mengucap salam “Assalamu ‘alaikum”. Aku menjawab “Wa alaikum salam, wa rahmah wa barakah”. Dan seterusnya basa basi memperkenalkan diri. Ternyata ibu ini anggota POMG SMA PL dan menawarkan diri untuk menjelaskan apabila ada hal yang membuat aku tidak mengijinkan anakku masuk ke PL.

Aku mencoba menjelaskan latar belakang dan titik berdiriku agar ibu ini tidak terlalu berharap. Bahwa, aku sangat apresiasi terhadap kesediaan ibu ini membantu menjelaskan, berterima kasih atas perhatian dan mau direpotkan oleh anakku dan latar belakang bahwa aku dahulu seorang Protestan dst. Juga aku tekankan bahwa “Saya tidak akan pernah mengijinkan anak saya masuk ke PL dan saya sudah katakan kepada anak saya sejak awal“. Anakku ikut mendengarkan perkataanku ini, karena dia duduk di tepi tempat tidurku.

Didalam satu jam lebih percakapan, ternyata, tidak satupun pertanyaanku yang bisa dijawab. Aku tidak mengharapkan jawaban yang memuaskanku, melainkan jawaban yang berdasar. Bukan jawaban asal-asalan.

1. Aku tanya soal “materai”, sama seperti anakku, katanya ini formalitas. Waktu aku tanya apakah materai itu bisa diabaikan, dia menjawab seolah-olah untuk kasus ini bisa diabaikan. Karena pada kenyataannya sekolah memang mengabaikan pernyataan diatas materai itu. Waktu aku tanya, seandainya sekolah itu meminta kita menanda tangani kesediaan kita untuk membayar uang masuk sekolah diatas materai, kemudian kita tidak memenuhi-nya, apakah sekolah itu tidak menuntut kita untuk memenuhinya? “Untuk kasus ini, maksud materai itu lain, itu warisan jaman Belanda“, katanya tanpa dasar yang jelas. Aku tidak bisa menerim, karena menurutku semua materai sama dimanapun didepan hukum (Indonesia).

2. Aku tanya soal bagaimana kita membukakan jalan yang dapat menggelincirkan kita ke luar akidah. Ibu itu menjawab, bahwa anaknya justru bertambah tekun beribadah setelah di sekolah itu. Anehnya, kenapa dia tidak berfikir, seandainya anaknya saat ini tidak bersekolah di PL tetapi di sekolah Islam, jangan-jangan ketetapan ALLAH justru mentakdirkan anaknya menjadi jauh lebih tekun, jauh lebih alim dan jauh lebih berprestasi, dst. Dan yang pasti, barokah. Dengan niat yang insya ALLAH diganjar pahala yang berlipat ganda. Apa yang diharapkan kalau bukan barokah. Sukses tanpa barokah? Pintar tanpa barokah? Kaya tanpa barokah?

3. Waktu aku berikan contoh kerabat (sepupu) ibuku yang keluarga muslim (suami istri dan anak-anaknya), kemudian berpindah ke agama lain, kebetulan Katolik, (seluruh keluarganya) justru pada saat kepala keluarga menjadi perwira tinggi (jendral), mapan, stabil dst. Ibu itu menjawab, “Bukankan itu menjadi tanggung jawab bapak itu sendiri pak, bukankan mereka sudah dewasa? Bagaimana orang tuanya dapat ikut bertanggung jawab”. Saya menjawab, walau lupa ayatnya apa, “Kalau tidak keliru di Al Qur’an justru menekankan, bahwa orang tua lah yang menjadikan anaknya seorang Yahudi, Majusi atau Nasrani”. “Mungkin tafsir kita berbeda, bu“, seraya menutup topik bahasan itu.

Banyak sekali percakapanku yang hampir satu jam itu dan anehnya tidak ada satupun pertanyaanku yang dijawab dengan dasar pijakan yang kuat. Satu contoh pertanyaan dan jawabanku mudah-mudahan menggambarkan bagaimana tidak bersambutnya pertanyaanku.

Ibu itu bertanya: “Saya ingin tanya pak. Seandainya anak bapak nantinya bersekolah di sekolah yang bukan pilihannya dan hanya karena terpaksa (sedikit menekankan nadanya), apakah bapak yakin anak bapak akan berprestasi?“. Pertanyaan sedikit konyol dan lucu ini, aku jawab dengan santai dan sangat spontan. “Sama dengan tidak yakinnya saya apabila anak saya masuk PL. Apakah ibu bisa menjamin masa depan anak ibu? Menurut saya, tidak ada satupun mahluk di dunia yang dapat menjamin masa depan kita dan anak kita. Bagaimana kita bisa yakin?“. Oleh karenanya kita selalu tidak putus berdo’a agar kita selalu diberi petunjuk dan dikuatkan. Seraya saya mendo’akan “Semoga anak-anak ibu dapat istiqomah sampai akhir hanyatnya sebagai muslim dan muslimat”. Amin. Siapa yang bisa menjamin? Kalau tergelincir, bagaiman cara tobatnya? Tidak ada jawaban.

Panjang sekali diskusi malam itu.

Malam itu badan anakku panas. Mungkin stress juga, tidak bisa mempengaruhi orang tuanya. Aku bersyukur, karena anakku gigih dan tidak cepat putus asa. Hanya saja, aku perlu mengarahkan kepada keinginan-keinginan yang baik dan barokah. Bukan asal-asalan dan judi yang berbahaya seperti ini.

Semoga ALLAH SWT memberikan hidayah dari kejadian yang dapat diambil pelajaran oleh anakku ini. Aku yakin, kejadian ini akan menjadi bekal bagi anakku pada saat dia beranjak dewasa kelak.

Sesungguhnya aku dan kita semua orang yang lemah. ALLAH sajalah yang menguatkan dan melemahkan hati kita. Semoga kejadian ini juga menjadi pelajaran bagi yang lain. (mungkin bersambung……)

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: