jump to navigation

Aku Punya Apa? February 17, 2008

Posted by merenung in Kehidupan.
trackback

Merenung, mengingat peristiwa beberapa tahun lalu, ada pelajaran yang sangat berharga.

Malam itu (aku lupa hari dan tanggal tepatnya) sekitar jam sembilan malam. Aku duduk di tepi tempat tidur sambil menonton acara TV. Tiba-tiba, lampu kamar meredup beberapa saat, lalu mati. Gelap. Karena memang sudah terbiasa kelebihan beban, saat pompa air menyala otomatis, kontan MCB meteran PLN langsung off. Memang agak aneh, kali ini melalui phase meredup beberapa detik. Istriku perlahan-lahan langsung keluar kamar, berjalan perlahan menuju pintu depan, sambil memberikan waktu MCB agar dingin.

Sambil membuka pintu depan, karena sepi, terdengar istriku berguman “Kok bau kabel terbakar ya?”. Aku menyusul keluar, karena sudah satu menit masih juga belum dinyalakan. Tiba-tiba, istriku berteriak, “Terbakar pa……, meteran-nya terbakar…..!”. Spontan aku lari keluar sambil berfikir mencari barang untuk memadamkan api tersebut. Anehnya, (memang sedang panik), aku sadar bahwa yang kuambil saat itu adalah tutup drum plastik yang ada di tepi kolam ikan samping rumah. Bulat besar ceper agak cembung, mirip “tampah” pengayak beras.

Sambil tetap berfikir, “Kenapa aku bawa benda ini?”, aku meraup air dari kolam ikan, membawa dan menyiramkannya ke meteran yang sedang terbakar itu. Apinya mulai menjulang ke plafon luar yang terbuat dari triplex dan sudah mulai hitam karena asap kabel. “Wah…., bisa nyetrum nih….!”, pikirku sambil terus meraup air dari kolam dan menyiramkannya ke meteran tersebut, berulang tiga empat kalim mungkin juga lebih. Karena bolak-balik dengan tampah plastik penuh air, tentu seluruh teras menjadi basah dan beberapa kali hampir saja membuat aku terpeleset. Beberapa saat kemudian istriku keluar sambil membawa tabung pemadam warna merah. Seakan tersadar, aku langsung meraihnya, mencabut pin dan menyemprotkannya . Dalam hitungan detik apipun padam, tapi semprotan tidak bisa dihentikan. Jadilah car-port menjadi sasaran bubuk putih pemadam api, menyebar kemana-mana.

Aku duduk termenung di atas bak pompa air di halaman, sambil memandang meteran dan kabel yang terbakar. Ada perasaan lucu di dalam hati. Beberapa saat kemudian aku masuk kedalam rumah dan menelpon PLN dan salah seorang kawan main, adik kelas ku semasa SMA. Pernah kuliah bareng aku dan sempat lama kuliah di Jerman. Memang kerjanya saat ini di bidang listrik-listrik ini (mechanical & electrical).

Karena rumahnya tidak terlalu jauh, kawanku datang terlebih dahulu sebelum petugas PLN tiba. Sambil terbengong-bengong, setelah lihat sana-sini dia bertanya; “Ini air apa ya?”. Aku menjawab; “Tadi waktu panik, gue siram dengan air. Jadi tumpah-tumpah”. Dia spontan tanya; “Dulu elu sekolah dimana ya?”. Pertanyaan ngeledek yang sangat lucu, karena sebelum berangkat ke Jerman dia sempat kuliah bareng aku, walau beda fakultas. Jadi dia persis mengetahui kalau aku lulus elektro. “Udah jangan ngeledek. Namanya juga gue panik”, sahutku. “Panik tapi kira-kira dong. Kalau kesetrum kan elu mati”, dia menjawab sekenanya sambil terus senyam-senyum. Beberapa saat petugas PLN datang dan semuapun menjadi beres.

Pelajaran yang sangat berharga. Mengingat, beberapa hari sebelum kejadian itu, aku sempat berbincang dengan beberapa kawan mengenai kantornya yang mulai meresahkan. Saat itu memang banyak sekali kantor yang rasionalisasi dan menghentikan kegiatannya. Beberapa kawan yang mengelola kantor sendiripun banyak yang berhenti beroperasi atau beralih bidang. Semrawut dan stress. Lucunya, sekumpulan kawan yang sedang mengalami goncangan dan stress itu malah jadi sering sekali kongkow di Citos sambil berpindah-pindah cafe sekedar melihat orang lalu-lalang, sampai malam. Beberapa kali ikut kongkow, walau enak juga  tapi lucu rasanya. Sementara sulit uang, tapi tetap kongkow di tempat yang harga kopi saja lebih dari 50 ribu perak.

Dalam cakap-cakap santai, saya selalu saja yakinkan kawan-kawan, bahwa kalau kita punya skill dan pengalaman sepertinya kita tidak perlu takut tidak punya kerja. Uang bisa habis, jabatan bisa hilang, tapi ilmu, skill dan pengalaman pasti melekat dan bisa digunakan untuk mencari pekerjaan di tempat lain. Malam saat kebakaran itulah aku baru sadar bahwa ternyata tidak juga ilmu atau skill, bahkan pengalaman sekalipun tidak ada yang dapat kita kuasai.

Anak, istri, harta, jabatan, tubuh bahkan otak kita bukanlah milik kita. Bukan juga pengetahuan kita, skill dan pengalaman kita, bukan juga milik kita. Nyatanya, pada saat panik menyiram meteran listrik yang terbakar, sebenarnya aku terus berkomunikasi dengan otakku. Artinya aku berfikir dengan segala latar belakang ilmu dan pengalamanku (tentu sudah dari sejak kecil aku beberapa kali kesetrum). Ternyata itu semua tidak cukup mengendalikan tindakan yang aku lakukan. Sangat bodoh dan awam pada situasi seperti itu.

Jika aku renungi, ternyata memang aku tidak mempunyai apa-apa. Hidup di dunia ini aku memang 100% tergantung pada ALLAH SWT, Yang Maha Mengatur dan Mengendalikan segala sesuatunya. Kondisi yang ALLAH tetapkan itulah sebenarnya yang memberikan aku kesempatan, sehingga apa-apa yang dititipkan ALLAH kepadaku dapat aku manfaatkan untuk berusaha mengisi pundi-pundi amalku. Hanya amal itulah milikku yang akan menemani aku kelak. Bukan tubuhku, bukan pengetahuanku, bukan jabatanku, bukan pengalamanku dan pasti bukan hartaku. Aku memang tidak punya apa-apa.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: