jump to navigation

Menipu Diri Sendiri? February 21, 2008

Posted by merenung in Kehidupan.
trackback

Aneh nian judul tulisan ini. Tapi ini benar-benar sering terjadi. Bahkan pada diri kita sendiri. Cobalah merenungkannya.

Ada cerita lucu yang bisa menggambarkan judul itu:

Beberapa waktu lalu, seorang apoteker bingung bertanya kepadaku sambil menunjukkan dua lembar kertas. Yang satu Faktur pembelian obat, seharga dua ratus tujuh puluh ribu. Lembar yang satu lagi, Nota Debet sebesar seratus tiga puluh ribu. Apa artinya dua lembar Faktur dan Nota Debet ini. Apakah harus membayar empat ratus ribu (270.000 + 130.000) atau hanya membayar dua ratus tujuh puluh ribu, setelah mendapat diskon seratus tiga puluh ribu. Tak mungkin mendapat jawaban memuaskan dariku, apoteker pun menelpon teman-temannya di apotek lain.

Jawaban teman-temannya sama, mereka juga mendapat model tagihan yang sama dari semua “perusahaan negara”. Dan harus membayar jumlah keduanya (Faktur _ Nota Debet). Aneh. Kenapa tidak ditulis langsung totalnya, seperti perusahaan swasta lainnya, dalam satu Faktur.

Belum puas, apotekerpun menelpon si “perusahaan negara” yang menerbitkan Faktur dan Nota Debet itu untuk menanyakan, kenapa tidak ditulis dalam satu Faktur. Jawaban yang lucu dari si “perusahaan negara” adalah; “Kita tidak boleh menuliskan empat ratus ribu, oleh pemerintah. Tapi kalau kita jual dua ratus tujuh puluh ribu, kita rugi. Jadi kita terbitkan Nota Debet untuk menagihkan kekurangannya. Sehingga total yang kita terima empat ratus ribu”. Seolah ingin mengeluh kalau pemerintah tidak mau mendengar “obat mahal”.

Jadi pemerintah selalu dilapori bahwa harga obat murah, sementara para “perusahaan negara” itu tetap saja tidak dapat menjualnya dengan murah. Yang akhirnya, sasaran harga murah hanyalah ilusi semata. Bukankah model menerbitkan Nota Debet kepada apotek itu adalah bentuk penipuan kepada diri sendiri.

Atau, ………… siapa sebenarnya yang tertipu?

Sayup terdengar nyanyian Chrisye:

……………….

Berkata tangan kita, Tentang apa yang dilakukannya,

Berkata kaki kita, Kemana saja dia melangkahnya

Tidak tahu kita, Bila harinya, Tanggung jawab, tiba…

Rabbana
Tangan kami
Kaki kami ……………………………………

Comments»

1. realylife - February 22, 2008

ya , damai banget mas . saya jadi merenungi diri saya , apa ya yang sebenarnya sudah saya lakukan
silahkan mampir di tulisan ini
makasih
http://realylife.wordpress.com/2008/02/21/ilmu-hati/


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: