jump to navigation

Bukan Standar Ganda February 24, 2008

Posted by merenung in Serba-serbi.
trackback

Judul berita koran Republika halaman B3, Ahad, 24 Februari 2008, menarik perhatian. “HTI Kutuk Standar Ganda Kartun Nabi”. Didalamnya diberitakan adanya ratusan massa HTI dari Surabaya, Gresik dan Sidoarjo yang menggelar demo pada hari Sabtu (23/2) ke Konsulat Denmark-Swedia dan Belanda di Surabaya. Salah satu wawancara berbunyi;

“Mereka menganggap kartun Nabi sebagai doktrin demokrasi, hak asasi manusia (HAM), dan kebebasan berpendapat. Tapi, mereka melakukan standar ganda, karena kebebasan menggunakan jilbab di Prancis justru dilarang,” ujar Ketua HTI Surabaya, Fikri A Zuhdiar, di sela-sela aksi demo itu.

Apresiasi dan salut atas dilakukannya demo protes tersebut dan semoga niat amalnya diganjar pahala berlipat oleh ALLAH SWT. Amin.

Ada yang salah dari pendapat Ketua HTI Surabaya yang kemudian (mungkin) menjadi inspirasi judul berita itu. Mudah-mudahan judul tersebut tidak dibuat untuk menjebak, karena ada suatu pendapat yang riskan salah, disalahkan atau dipelesetkan.

Pertama;

Sejak semula, menggambarkan gambaran fisik Nabi Muhammad SAW, Rasullullah, tidak dibenarkan atau dilarang. Artinya, tidak boleh dalam bentuk apapun, baik lukisan, skets, patung, maupun kartun, yang semuanya hanya merupakan imajinasi manusia. Ini sangat berbeda dengan penganut keyakinan lain yang membolehkan penggambaran segala imajinasi keyakinannya dalam bentuk nyata, berupa lukisan, skets, patung, kartun dan bahkan dalam bentuk manusia yang dianggap mewakili imajinasi mereka (dalam film, theater dsb). Jadi tidak ada standar untuk melukis Nabi Muhammad SAW dan larangan itu sendiri bukan merupakan standar.

Ke-dua;

Memakai jilbab (menutup aurat), bagi wanita muslimah merupakan kewajiban. Terserah, apakah para wanita muslimah mau memakainya atau tidak, tidak akan menjadikan menutup aurat menjadi sunnah. Dan juga tidak menjadikan aurat wanita itu berbeda-beda atau tergantung lokasi, musim, acara dst. Melarang wanita muslimah memakai jilbab, jelas sama dengan melarang untuk melakukan kewajiban. Misalnya, melarang shalat, melarang berdo’a dan larangan lain yang terkait dengan keyakinan. Sayangnya mereka yang melarang itu tidak mengerti apa itu aurat. Sebagaimana mungkin sulit membedakan antara pusar (perut) dan wajah. Buktinya, banyak diantara mereka yang berpakaian dengan memperlihatkan pusar (perut) sebagaimana mereka mempertontonkan wajah mereka. Mungkin, kalau mereka mengetahui apa yang dinamakan aurat, maka mereka akan membuat larangan berpakaian (menutup aurat), sebagaimana mereka melarang berjilbab. Nudis, lebih konsisten.

Yang pertama, larangan melukis dan yang lain larangan menutup aurat, tidak bisa disandingkan. Apa yang terjadi kemudian jika mereka membolehkan wanita muslimah menutup auratnya? Atau bahkan, mewajibkan wanita muslimah menutup auratnya? Diperjelas, wajib menggunakan jilbab? Apakah kemudian mereka serta merta boleh melukis wajah Rasulullah SAW? Agar tidak ada standar ganda?

Mereka tidak punya standar. Mendefinisikan sesuatu tanpa standar. Mereka hanya merasa-rasa dan menetapkan berdasarkan perasaan (sentimen) belaka. Hingga membuat kartun itupun mereka anggap lelucon biasa. Kita yang mudah tertipu.

Jangan terjebak dengan musik yang mereka mainkan. Niscaya mereka akan menarik kita, sedikit demi sedikit, hingga kita lupa apa warna musik kita.

ALLAH SWT jualah yang Maha Mengetahui.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: