jump to navigation

Ekonomi Syariah Menguntungkan? March 1, 2008

Posted by merenung in Umum.
trackback
Sudah sejak lama kita mendengar berita tentang ekonomi syariah, terutama perbankan syariah. Berbagai pihak tidak henti-hentinya berusaha mensosialisasikan, betapa menguntungkannya perekonomian syariah, khususnya perbankan syariah. Hari ini, masih kita dengar keluhan-keluhan beragam, seperti terlalu besarnya fee yang dikenakan, fasilitasnya kurang dan merepotkan, sampai kecilnya manfaat bagi hasil yang diterima dan seterusnya. Semua keluhan tersebut rata-rata mengacu dan membandingkan perbankan syariah dengan perbankan konvensional. Yang halal dibandingkan dengan yang haram. Benarkah cara berfikir seperti ini?
Menjalankan sesuatu secara syariah bak melaju diatas rel, sementara tanpa syariah akan terasa lebih bebas, leluasa, suka hati, fleksibel dan seterusnya. Semua tergantung bagaimana dan kemana para pelaku (utama / besar)-nya ingin membawa.
Syariah, relnya sudah ditetapkan. Ingin cepat, pakai lokomotif dengan mesin yang baik. Ingin nyaman, siapkan fasilitas-fasilitas yang membuat gerbong kita nyaman. Ingin besar, buat struktur gerbong yang kokoh dalam jumlah banyak dan kuat saling mengkait. Tapi jangan bermimpi membuat gerbong selebar kapal pesiar (angkut besar / pintas / cepat) yang dijalankan diatas rel standar, dengan bantalan dan tanah yang tidak kokoh. Terguling, celaka. Maka syariah, arah dan tujuannya jelas, keselamatan.
Konvensional, semua bisa diatur oleh pelaku-pelaku utama dan pemain-pemain besarnya. Bukankah bunga overnight kita pernah diatas 2 digit? Atau, kasus keuangan lainnya (di dunia). Pengikut-pengikut kecil-kecil, tinggal mengekor dibelakang dan memanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Arahnya, tergantung arah angin. Tujuannya, kembali kepada para pelaku-pelaku utama dan pemain-pemain besarnya. Entah mau kemana.
Jika yang disanding dan dibandingkan adalah halal dan haram, selamat dan tidak selamat, lalu mengapa selalu saja kita terseret untuk memahami bahwa syariah lebih murah, mudah dan untung besar? Apakah cara berfikir seperti ini yang Islam ajarkan? Ataukah bak membayangkan pergi dari Jakarta ke Surabaya, yang satu naik kereta api (ma’af jangan membayangkan kereta api kita tapi bayangkan Shinkansen / Japanese Bullet Train) sementara yang lain naik mobil balap Formula-1 lewat jalan tol (boleh mampir-mampir untuk beli oleh-oleh kok). Pilih Shinkansen, lebih nyaman dan aman. Pilih Formula-1 juga boleh (ps: yang kenceng ya, gas terus…..).
Salut untuk para pejuang ekonomi syariah yang tidak henti-henti mengkampanyekan agar umat memilih naik kereta api dibanding naik Formula-1. Sayangnya, kereta api yang dibayangkan oleh masyarakat saat ini sebagai mana membayangkan kereta api kelas ekonomi di negara kita tercinta. Murah, pengap, susah duduk, repot, banyak asongan dan seterusnya. Belum lagi kalau kecopetan. Mudah-mudahan para pejuang ekonomi syariah diberi kekuatan untuk memikirkan dan mengupayakan membangun Shinkansen daripada memeras otak mencari cara dan mempromosikan karcis kereta api Jakarta – Surabaya.

Comments»

1. gogot - March 5, 2008

Artikel di blog ini sangat bagus dan berguna bagi para pembaca. Agar lebih populer, Anda bisa mempromosikan artikel Anda di infoGue.com yang akan berguna bagi semua pembaca di seluruh Indonesia. Nantikan segera plugin / widget kirim artikel & vote yang ter-integrasi untuk Blogspot dan WordPress dengan instalasi mudah & singkat. Salam Blogger!

Terima kasih atas sarannya. Salam Blogger Kembali !


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: