jump to navigation

Busway March 12, 2008

Posted by merenung in Serba-serbi.
trackback

Sejak minggu lalu pemerintah daerah bertekad men-steril-kan jalur khusus Busway. Konsekuensinya para aparat harus berjaga-jaga di tiap-tiap persimpangan, mulut jalur khusus Busway.

Berniat pulang ke rumah, sekitar jam 19:30 tadi, aku mengendarai mobilku di Jalan Warung Buncit Raya. Jalan yang konon jalur khusus Busway -nya sering dilanggar oleh kendaraan pribadi, termasuk beberapa kali aku ikut menikmatinya. Pemda waktu itu memang membolehkan jalur khusus Busway dipakai jika jalan arteri macet. Bermacet-macet ria sambil sedikit kecewa karena ternyata beberapa kendaraan pribadi, terutama motor (entah kenapa) melaju dengan leluasa di jalur khusus Busway. Aku pikir tentu aparat lelah menjaga terus menerus jalur ini, sambil tetap mengendarai mobilku mepet kanan menempel jalur khusus Busway.

Setelah sekian lama bermacet-macet ria dan berdesak-desakan dengan kendaraan umum dan pribadi di jalur arteri, sampai juga akhirnya di depan Pom Bensin Pertamina sebelum lampu merah perempatan Republika. Tampak dari kejauhan beberapa orang Polisi berjaga-jaga di U-turn dan mengeluarkan kendaraan pribadi yang ngebut di jalur khusus Busway ke jalur arteri. Enak banget, pikirku. Ternyata sedari tadi macet itu karena terpotong kendaraan pribadi yang dikeluarkan oleh Polisi dari jalur khusus Busway.

Sedikit demi sedikit akhirnya sampai juga di lampu merah perempatan Republika. Saat lampu hijau semua kendaraan bergerak maju dengan liar, terutama motor-motor yang beberapa diantaranya masuk legi ke jalur khusus Busway. Perlahan-lahan kendaraan berhenti lagi, karena jalan didepan sudah penuh tak bisa menampung. Masih di perempatan, pak Polisi (yang baik hati) mengayunkan senter merahnya memanggil kendaraan untuk masuk ke jalur khusus Busway. Tanpa pikir panjang. ikut-ikutan mobil pribadi dan taksi di depan, aku tergiur untuk masuk. Lancar dengan kecepatan 50 km/jam melaju di jalur khusus Busway sambil menengok ke kiri, semua kendaraan berhenti. Sambil melaju aku berguman (bersuara) “Not fair….., not fair……..”. Aku merasa sangat bersalah dan sangat tidak pantas melaju di jalur khusus Busway, sementara yang lain berhenti di jalur arteri. Ah……, kenapa tadi ikut masuk. Kalau tidak, masih di perempatan mungkin.

Tidak begitu lama melaju, berhentilah di lampu merah perempatan “mangga” (karena ada patung buah mangga). Polisi menghampiri mobil pribadi paling depan dan memerintahkan untuk berbalik arah. Lampu masih merah dan mobil itu bergerak maju memutar balik ke arah Warung Buncit lagi. Taksi sedikit demi sedikit maju. Mungkin menunggu kesempatan lampu hijau. Polisi akhirnya menghampiri taksi dan bersitegang dengan sopir taksi. Aku menunggu dan menjaga jarak sambil berfikir, apa yang akan aku katakan ke Polisi itu kalau disuruh memutar balik. Lampu berubah hijau, pak Polisi itu berdiri di depan taksi sambil mengayunkan senter merahnya memerintahkan berbalik arah. Taksi tetap diam tidak bergerak (pinter juga ini supir), jalur khusus Busway berhenti tidak bergerak, sementara arteri maju dengan lancar. Akhirnya Polisi mengalah, berjalan ke samping supir taksi, berkata-kata sejenak dan memerintahkan untuk maju lurus ke depan. Taksi bergerak maju lurus, aku maju sambil membuka kaca. Polisi itu berteriak kearahku “Lain kali jangan diulangi lagi ya pak!”. Aku tidak senang dan berhenti, sambil berteriak balik “Saya sudah berjalan di jalur kiri disuruh masuk ke jalur ini sama Polisi yang di perempatan!”. Gara-gara aku berhenti, berhenti lagi jalur khusus Busway. “Ya sudah pak, jalan….jalan….!”, teriak pak Polisi membalas. Dia khawatir akan bertambah macet jika perdebatan diteruskan.

Memang sangat tidak pantas kalau kita melaju di jalur khusus Busway, sementara kendaraan lain bermacet-macet ria di jalur arteri. Anehnya, ada juga Polisi yang “baik hati” memerintahkan untuk melanggar aturan dan menyuruh masuk ke jalur khusus Busway (iseng kali…). Lebih aneh, teman sesama Polisi lainnya justru marah-marah melarang dan memerintahkan kendaraan untuk memutar balik (kurang koordinasi…..). Mudah-mudahan carut marut jalur khusus Busway ini tidak berlangsung lama. Kasihan pak Polisi.

Comments»

1. Frans Sebastian - April 5, 2008

Andaikan ada lebih banyak orang seperti Anda: merasa terganggu karena memotong rasa keadilan. Dan andaikan kita bisa mengatur diri lebih tertib dan disiplin. Andaikan inisiatif dan kreativitas kita terjadi bukan karena ikut-ikutan atau disuruh-suruh orang lain. Andaikan, ya?

Thanks untuk artikel pengingatnya ini.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: