jump to navigation

Alif Lâm Mîm March 16, 2008

Posted by merenung in Umum.
trackback

Sabtu siang, saat istriku diberi tahu kalau ibuku ingin nonton film Ayat-ayat Cinta, dia jadi ingin nonton lagi. Sore harinya, sepulang dari resepsi pernikahan putra kawanku, istriku mulai buka pembicaraan dengan pertanyaan. “Film Ayat-ayat Cinta -nya masih di putar di bioskop ya? Ibu sama bapak pengen nonton tuh”. Dia juga ingin mengajak anakku paling kecil ikut nonton. Didorong rasa ingin menyenangkan orang tua, istri dan anak, aku langsung inisiatif untuk minta tolong dibelikan tiket nonton Ayat-ayat Cinta.

Nonton yang kedua membuat aku jadi banyak memperhatikan hal detail dan membandingkannya dengan pengertian dan pengetahuanku atau membandingkannya dengan novelnya. Beberapa hal menjadi catatan yang mungkin aku akan coba tulis satu persatu. Untuk kali ini, judul diatas yang sedikit terlintas di dalam film Ayat-ayat Cinta, saat kilas balik Fahri dalam usahanya menyadarkan Maria, mengenang percakapan mereka di dalam metro (trem / kereta listrik).  Cerita ini justru ditulis di paling awal novel, pada bab 1,  Gadis Mesir Itu Bernama Maria, di halaman 25 – 26 (cetakan XXVI, September 2007). Berikut petikan yang ditulis di halaman 26;

Maria berkata kepadaku, “Fahri, aku geli sekali mendengar perkataan doktor dari Sorbonne itu. Dia itu orang Arab, juga muslim, tapi bagaimana bisa mengatakan hal yang stupid begitu. Aku saja yang Koptik bisa merasakan betapa indahnya Al-Qur’an dengan alif laam miim-nya. Kurasa rangkaian huruf-huruf seperti alif laam miim, alif laam ra, haa miim, yaa siin, nuun, kaf ha ya ‘ain shaad adalah rumus-rumus Tuhan yang dahsyat maknanya. Susah diungkapkan maknanya, tetapi keagungannya bisa ditangkap oleh mereka yang memiliki cita rasa bahasa Arab yang tinggi. Jika susunan itu dianggap sebagai suatu yang ketidak beresan, orang-orang kafir Quraisy yang sangat tidak suka pada Al-Qur’an dan memusuhinya sejak dahulu tentu akan mengambil kesempatan adanya ketidak beresan itu untuk menghancurkan Al-Qur’an. Dan tentu mereka sudah mencela bahasa Al-Qur’an habis-habisan sepanjang sejarah. Namun kenyataannya justru sebaliknya. Mereka mengakui keindahan bahasanya yang luar biasa. Mereka menganggap bahasa Al-Qur’an bukan  manusia biasa tapi bahasa yang datang dari langit. Jadi kukira doktor itu benar-benar stupid. Tidak semestinya seorang doktor sekelas dia mengatakan hal seperti itu.”

Banyak pendapat tentang makna Huruf-huruf di awal Surat itu, tetapi salah satu pendapat (pendapat ke enam) yang ditulis pada buku Lautan Al-Fatihah, karangan Khalid al-Jundi, Bab III halaman 73; menerangkan bahwa apabila semua huruf-huruf yang berulang dihilangkan, sehingga setelah dikumpulkan hanya terdapat 14 (empat belas) huruf saja, maka apabila dirangkai menjadi satu kalimat berbunyi, “Nashshun hakîmun qâti’un lahu sirrun”. Rangkaian kalimat itu mengandung arti; “Ayat-ayat Al-Qur’an mengandung hikmah dan hukum yang jelas, serta memiliki rahasia”. Pada susunan kalimat itu sudah tidak terdapat lagi huruf-huruf yang berulang.

Tidak ada yang sia-sia dari ciptaan ALLAH SWT. Tidak satu huruf pun sia-sia.

Hanya ALLAH Yang Maha Mengetahui.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: