jump to navigation

Belajar Dari Genset March 26, 2008

Posted by merenung in Serba-serbi.
Tags:
trackback

Ada cerita lucu pagi tadi yang lumayan juga untuk aku tulis disini.

Kebetulan kantor beli genset brand new 150 KVA. Rencananya untuk supply kantor yang agak susah menyesuaikan dengan jadwal mati lampunya PLN. Kalau cuma setengah jam, mungkin UPS masih kuat. Tapi lebih dari itu, genset menjadi pilihan terbaik.

Dari sejak genset diantar tiga minggu lalu, aku dipertemukan dengan para teknisi genset yang sudah 20 tahun malang-melintang di dunia genset dengan daerah operasi seluruh negeri ini. Terutama, tentunya di daerah-daerah tanpa listrik. Tentu pembicaraanku dengan para pakar sangat tidak seimbang. Dengan pengalaman terbatas, pelajaran di bangku kuliah fakultas teknik tidak ada artinya dibanding mereka.

Bayangkan salah satu dari perbincangan, saat aku dan kawan-kawan agak kurang siap menerima kiriman genset, karena landasan belum dibuat. Membayangkan genset sebesar ukuran microbus, membuat aku sangat berhati-hati dengan pembuatan landasan. Tapi kekhawatiranku dengan landasan beton ini musnah dengan kalimat sang pakar, “Ah, saya udah biasa pak. Saya udah pasang di hutan, diganjel balok kayu, udah tiga taon gak apa-apa”. Banyak percakapan lain yang aku simpulkan dengan sederhana, “pengalaman panjang”.

Pagi tadi aku ketemu dengan mereka kembali. Karena tujuannya mau load test dengan enteng aku tanya;

“Gimana kita ngetesnya?”. Jawabnya lebih enteng, “Terserah bapak. Tergantung kebutuhan bapak”.

“Maksudnya, step-stepnya, apa yang di cek, berapa lama”, aku sedikit menjelaskan pertanyaanku.

“Kita tinggal nyalakan, change over saja per lantai, nanti kita monitor. Mungkin setengah atau satu jam cukup”, jawabnya.

Agak kesal, aku tinggalkan dan kembali ke ruanganku. Aku minta dua rekanku untuk membuat check list step by step sebelum mereka boleh load test. Maksudku, semacam user acceptance test sederhana atau apalah namanya. Wong beli mobil aja kita biasanya di brief dan diterangkan oleh teknisinya. Ini genset segede gajah untuk backup listrik kantor.

Beberapa saat kemudian aku menyusul keluar, ke tempat genset, untuk lihat progressnya. Ada selembar kertas dengan deretan check list berdasarkan pengumpulan informasi dari para pakar. Rekan-rekanku masih terlihat kebingungan. Agak tidak sabar aku langsung tanya; “Gini deh, kalau mau menyalakan genset ini, apa yang harus kita cek terlebih dahulu?”. “Solar, air radiator dan oli”, jawab pakar kita. Malas memastikan dengan masuk kedalam box genset untuk memeriksa air radiator dan oli, aku lanjutkan; “Kalau udah di cek semua, ya udah nyalain aja”. Dengan sigap para pakar kita memeriksa sana-sini dan salah seorangnya mulai memutar kunci starter. “Brrrooooommmm……!”, mesin menderu macam mobil diesel biasa. Cakep……., wong mesin baru.

Belum dua menit menyala, saat para pakar sudah mengalihkan perhatiannya ke panel listrik untuk change over, tiba-tiba “brub….brub……”, mesin mati. Genset baru dengan merek yang terkenal itu mati sendiri. Solar penuh, oli penuh dan airpun penuh. Lalu apa yang salah?

Satu jam aku tinggal, rekan kerja datang minta uang untuk beli oli. Dengan bingung aku bertanya; “Memangnya olinya dibuang?”. “Tidak pak. Kata mereka kurang sedikit”. Malas bertanya, aku sodorkan uang untuk beli oli. Dua jam aku tinggal, dia kembali dan lapor kalau ada part yang rusak. Wong baru kok rusak.

Memang pengalaman pun tidak ada artinya jika kita terlalu congkak dan bergantung kepadanya. Bahkan pengalaman mereka memeriksa oli saja tidak membuat mereka “memeriksa oli”. Punya mata tidak otomatis bisa melihat. Punya telinga bukan otomatis bisa mendengar. Punya  mulut bukan otomatis bisa bicara. Punya otak tidak otomatis bisa berfikir. Dan tentu punya pengalaman seberapapun tidak otomatis “bisa”. Yang berpengalamanpun bahkan tidak menjalankan step pertama, periksa oli. Karena apa?

Comments»

1. Frans Sebastian - March 31, 2008

Pagi Pak,

Well versed, Pak.

Saya juga sering harus mengingatkan diri tiap berhadapan dengan orang bahwa mawas diri nggak pernah ada salahnya. Sudah banyak makan garam, banyak baca buku, banyak menyimak pengalaman sering membuat saya tidak lepas untuk jadi “saya sudah tahu . . . saya ngerti . . . I’ve been there”.

Well . . . tulisan Bapak mengingatkan hal itu dengan baik, pas sasaran dan menarik. Thanks.

Akan berkeliaran di sini sebentar; akan berkunjung lagi next time.

Terima kasih atas komentarnya.

2. rendy - November 15, 2010

pak,saya butuh belajar tentang perhitungan genset mulai dari panel distribusi menengah dan distribusi rendah.apa ada referensi pak?

========
mohon ma’af, mungkin bisa searching pelatihan instalasi, operasi dan pemeliharaan genset.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: