jump to navigation

Haruskah Kita Malu? March 31, 2008

Posted by merenung in Serba-serbi.
Tags: , , ,
trackback

“Nguping” orang lain bicara mungkin ada juga baiknya. Suatu kali, sambil nonton TV, Fulan dan Fulana saling bersahutan membicarakan acara yang ditayangkan. Seperti biasa, umumnya menjelang Lebaran stasiun TV berlomba-lomba mencari berita sekitar persiapan menyambut hari yang disambut meriah oleh masyarakat muslim negeri ini. Salah satunya adalah berita orang kaya membagi-bagikan zakat bagi masyarakat miskin. Sulit diceritakan bagaimana perasaanku melihat masyarakat miskin mengantri dan berebutan mengambil “jatah tahunan” mereka. Baiknya aku ceritakan percakapan Fulan dan Fulana saja;

Dengan nada terlihat kurang senang, Fulana berkata: “Kenapa sih orang kaya banyak yang pamer seperti ini. Kasihan orang-orang miskin dieksploitasi sama stasiun TV gara-gara orang kaya seperti punya tradisi tahunan bagi-bagi duit. Harusnya mereka malu”.

Fulan jadi gatel: “Siapa yang harus malu? Orang kayanya?”

Fulana menyahut: “Ya, orang kayanya yang harus malu. Punya kebiasaan buruk seperti ini”.

Fulan mencoba bijak: “Jangan buruk sangka dong. Apalagi sesama muslim. Belum tentu dia riya’. Mungkin saja niatnya untuk mengajak yang lain berbuat serupa untuk orang miskin”.

Fulana menyahut: “Tidak bisa dong. Tetap saja dia harus malu. Zakat itu kan bagi orang kaya semacam kotoran yang harus dia keluarkan. Harus dibuang. Macam membuang kotoran. Kalau tidak dibuang bisa jadi penyakit. Masak orang buang kotoran bilang-bilang dan pamer. Bukannya harusnya dia malu? Lagi pula, biarin aja orang lain gak usah diajak-ajak. Kalo nggak mau keluarin zakat kan sakit sendiri”.

Mendengar Fulana agak nyolot, si Fulan jadi ingin membalas: “Memangnya dia bagi-bagi zakat? Wong dia bagi-bagi sedekah kok. Jadi bukan buang kotoran dong. Bagi-bagi sedekah dan mengajak orang lain untuk ikut bagi-bagi sedekah seperti dia. Dia banyak rejeki dan pengen diberi rejeki lebih banyak lagi. Bukan riya’. Jangan buruk sangka dulu dong”. Sambil nyengir merasa menang.

Ternyata Fulana belum menyerah: “Apalagi bagi-bagi sedekah, harusnya dia lebih malu lagi”.

Fulan terperangah; “Lho, kok lebih malu? Kenapa?”

Dengan tenang Fulana menjawab; “Memangnya berapa banyak rejeki yang ALLAH telah berikan kepada dia? Berapa banyak nikmat yang ALLAH telah limpahkan kepada dia? Berapa yang sudah dihabiskannya untuk menuruti hawa nafsunya? Barapa banyak yang mubazir tanpa bisa dinikmati oleh dia sendiri, bahkan tidak juga bisa dinikmati oleh orang lain? Koleksi rumahnya, mobilnya, depositonya apa bisa dinikmati oleh dia atau orang lain? Lalu, berapa banyak yang dia sedekahkan sekarang ini, sampai-sampai harus membuat sengsara orang miskin. Diliput TV lagi. Apakah seluruh hartanya? Setengah hartanya? Atau seperempat dari hartanya? Bukankah seharusnya dia malu?”

Fulan terdiam. Haruskah kita malu?

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: