jump to navigation

Ibadah Haji Hanya Satu Kali April 12, 2008

Posted by merenung in Kehidupan, Umum.
Tags: , , , , , , ,
trackback

Membaca koran Republika terbitan Jum’at kemarin, judul tulisan Thobib Al Asyhar di halaman Opini menjadi perhatian pertamaku untuk membaca setelah menyapu semua judul berita. Judul “Haji Sekali Seumur Hidup dan Resolusi Sosial”, menarik perhatian dan membuat sedikit penasaran, karena ibadah yang satu ini banyak menyimpan nikmat di dalam kepalaku.

Tulisan ini meresponse revisi Undang-undangNo. 17 tahun 1999, tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji yang disahkan oleh DPR pada 1 April 2008 lalu (tentu bukan dalam rangka April Mob). Salah satu ketentuan terobosannya adalah ketentuan pembatasan haji sekali seumur hidup. (semoga amal shaleh para anggota DPR dalam menggodok revisi ini mendapat balasan berlipat ganda). Aku kutip satu paragraf tulisan di koran itu, sebagai berikut:

Prinsip kemaslahatan inilah yang oleh Ibrahim al-Nakha’i dijadikan sebagai asas untuk istimbath al-ahkam (pengambilan hukum) sehingga ia berkesimpulan, haji berulang itu hukumnya makruh, Bahkan penulis menilai dalam kondisi tertentu, seperti kondisi lingkungan sosial yang miskin dan serba kekurangan, pada titik tertentu, haji berulang justru pada posisi haram.

Ibadah yang satu ini bagiku memang paling menarik. Saat belum melaksanakannya, rasa rindu untuk pergi tak dapat terlukiskan. Saat stasiun TV swasta menyiarkan Shalat Tarawih di Masjidil Haram, tak terasa badan panas dingin dan air mata tak terbendung menetes di pipi. “Berikan aku kesempatan untuk merasakan semua kenikmatan ini di sana ya ALLAH. Di tempat semua saudara Muslimku selalu ingin berkumpul”. Ah…., bahkan saat kita meminta kepada ALLAH pun kita sudah merasakan nikmatnya. Nikmatnya suatu kerinduan.

Tentu lebih sulit lagi menceritakan saat aku diberikan kesempatan untuk datang ke tempat yang aku rindukan itu. Diberi nikmat oleh ALLAH, bersama istri ditraktir orang lain untuk pergi Umrah Plus Cairo tanpa bayar (aneh ya ?). Lebih aneh lagi, karena terbang dengan Garuda Boing 747 Big Top, duduk di level atas di kursi kulit yang lebar itu. Tinggal di hotel bintang 4 berdua dengan istri di Madinah, Makkah, Jeddah dan Cairo. Jalan-jalan di tempat-tempat bersejarah dari Masjid Dua Kiblat, Bukit Uhud dan seterusnya, masjid-masjid Mesir dimana ada makam para Imam didalamnya, pyramid sampai musium dimana para Firaun dan ratu-ratu-nya diawetkan atau makan di atas sungai Nil. Kalau bayar saja sudah nikmat, bagaimana pula rasanya kalau gratis? Semoga ALLAH memberikan balasan kenikmatan yang berlipat ganda bagi orang yang men-traktir-ku itu. Saudara bukan teman juga bukan, sebelumnya pernah berhubungan juga tidak, sekarang malah sudah mukim di Mesir dan tidak pernah ketemu lagi.

Selepas Umroh dan Haji, ternyata bukan hilang rindu itu, bahkan semakin menjadi-jadi. Tempat yang seumur hidup suasana itu hanya dialami sekali yaitu Mina dan Arafah menjadi tempat yang luar biasa. Bermalam-malam tidur di tenda berdesak-desakan dengan alas busa tipis yang lebih pendek dari tinggi badanku ternyata lebih nikmat dari tempat manapun yang aku rasakan selama ini. Tempat merenung mana yang lebih indah dari suasana ba’da Asr di Arafah dengan awan yang bergerak perlahan sangat rendah. Bagaimana pula orang tak mau rindu untuk kembali pergi Haji?

Tapi memang ibadah Haji memang hanya untuk satu kali. Manusia yang paling mulia, Baginda Rasulullah SAW, yang kupercayai tidak ada sedetikpun dari kehadiran dan kepergiannya di dunia ini lepas dari rencana ALLAH SWT yang sempurna, hanya beribadah Haji satu kali. Ucapan beliau untuk datang lagi ber-Haji, bagiku tidak lebih dari isyarat beliau agar kita selalu memelihara kerinduan dan perilaku kita sebagai syukur atas nikmat yang ALLAH berikan saat kita menjalankan ibadah Haji. Bukan untuk berkali-kali Haji untuk alasan sunnah. Karena Rasulullah-pun telah ditetapka ALLAH untuk tidak menjalankan ibadah itu dua kali.

Aku bertanya-tanya, ibadah wajib apa yang jika telah ditunaikan maka melakukan berikutnya berubah hukumnya menjadi sunnah? Terus terang aku tidak mengerti mengapa orang mau pergi haji lebih dari satu kali. Lebih dari panutan kita Rasulullah SAW.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: