jump to navigation

Menghitung Pahala April 13, 2008

Posted by merenung in Kehidupan.
Tags: , , , ,
trackback

Banyak contoh yang diberikan oleh ALLAH SWT dan Baginda Rasulullah SAW dalam urusan hitung menghitung. Dari bilangan hitungan penciptaan alam semesta, sampai bilangan hitungan pahala suatu amal manusia. Memang kita disuruh mencermati dan menghitung-hitung sendiri sebelum nanti diperhitungkan pada hari pembalasan. Tapi cerita yang aku dengar dari almarhum kakak sepupuku ini agak sedikit membuat kita harus memilih dalam menghitung.

Kala almarhum masih hidup, saat menjalankan ibadah Haji, seperti biasa ada saja penyelenggara mengkoordinir tour di seputaran kota Makkah. Banyak tempat bersejarah yang pasti menarik bagi kaum Muslim untuk dikunjungi. Di suatu  perjalanan dengan mempergunakan bis melewati padang pasir yang terbentang menuju ke penginapan di Makkah, diperkirakan saat itu sholat Asr sudah tiba. Pemimpin rombongan mengumumkan bahwa mereka akan berhenti di masjid terdekat yang akan dilewati untuk melaksanakan shalat Asr berjamaah.

Tidak sampai setengah jam kemudian bus berhenti di depan satu masjid yang konon tidak terlalu jauh dari penginapan. Dan para penumpangpun segera berdiri bersiap-siap turun. Entah apa yang ada dalam pikiran almarhum saat itu, tapi dia tenang-tenang saja dan tidak bergegas. Seorang bapak tua asal Madura satu rombongan mengamati lalu bertanya dalam bahasa Jawa dengan halus;

“Mboten sholat tho pak?”, dengan nada sedikit penasaran. (tidak sholat tho pak?)

“Mangke mawon dateng Masjidil Haram, kersanipun luwih katah pahalanipun”, jawab almarhum lebih halus. (nanti saja, di Masjidil Haram, biar lebih banyak pahalanya)

“Wong Gusti Alloh maringi rezeki sampeyan mboten etang-etang kok sampeyan ibadah etang-etang”, sergah orang tua asal Madura itu sambil ngeloyor turun dari bis. (ALLAH memberi rejeki kepada kamu tidak dihitung-hitung kenapa kamu beribadah dihitung-hitung?)

Almarhum terperangah lalu ikut turun dan shalat Asr berjamaah bersama-sama rombongan lainnya. Menurut penuturannya, saat itu hati malu sekali karena salah dalam menghitung.

Comments»

1. Frans Sebastian - April 14, 2008

Saya memang dari keyakinan lain tapi cerita sepupu di atas menanamkan lebih dalam butir kebijaksanaan dalam hati saya; semoga berbuah kebajikan selalu.

Menyimak kisah di atas saya makin yakin hitungan Tuhan memang jauh lebih dermawan ketimbangan hitungan kita yang paling adil sekali pun.

Terima kasih atas bagi kisah di atas.

2. faisol - September 2, 2008

terima kasih sharing info/ilmunya…
saya membuat tulisan tentang “Mengapa Pahala Tidak Berbentuk Harta Saja, Ya?”
silakan berkunjung ke:

http://achmadfaisol.blogspot.com/2008/08/mengapa-pahala-tidak-berbentuk-harta.html

salam,
achmad faisol
http://achmadfaisol.blogspot.com/


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: