jump to navigation

Kaya atau Miskin ? April 24, 2008

Posted by merenung in Kehidupan.
Tags: , ,
trackback

Suatu kali aku bersama dengan istri dan anak-anakku duduk mengelilingi meja, baru saja menyelesaikan santap malam bersama. Alhamdulillahi robbil alamin.Seperti biasa, sambil menghabiskan minum dan “menurunkan” nasi, kamipun bercakap-cakap. Malam itu, entah kenapa, topik sampai memperbincangkan si kaya dan si miskin.

“Seandainya kita jadi orang miskin dan punya uang di tangan ada seribu rupiah, waktu sholat di masjid, biasanya ada kotak amal, berapa yang akan kita masukkan kedalam kotak tersebut jika kita ingin beramal?”, kataku memancing pendapat.

“Seribu”, jawab anak sulungku cepat. Anak bungsuku mengangguk tanda setuju. Aku menengok ke arah anak keduaku dan diapun menjawab; “Ya…., seribu lah…., kan uangnya cuma seribu”.

“Kalau kita punya uang sepuluh milyar, kemudian datang rombongan pengurus masjid lingkungan kita dan menyodorkan proposal pembangunan atau perbaikan masjid. Seandainya kita ingin beramal, berapa yang akan kita sumbangkan kepada mereka?”, lanjutku bertanya.

Agak lama mereka berfikir dan akhirnya anak sulungku menjawab, “Ya…., lima puluh juta lah”. Anak bungsuku agak terperanjat, “Wah …., banyak banget”, ujarnya spontan. Aku kembali menengok ke arah anak ke duaku. Tidak ada jawaban. “Paling kita nyumbang dua ratus atau tiga ratus juta. Itu rasanya sudah banyak banget kan?”, sambungku menekankan.

“Coba perhatikan. Tidak sampai sepuluh persen yang terlintas dalam pikiran untuk kita berikan sebagai tabungan amal jariah, seandainya kita jadi orang kaya. Sementara, seandainya kita jadi orang miskin yang punya seribu rupiah, sepertinya kita bahkan akan dengan ikhlas memberikan 100% uang kita sebagai tabungan amal jariah, infaq kita. Ini kecenderungan yang hampir pasti, bahwa semakin kaya seseorang maka dia akan semakin pelit dan semakin sulit beramal shaleh. Kalaupun ada orang-orang kaya yang dermawan, sepertinya dia tidak akan semudah orang miskin menyerahkan semua atau sebagian besar hartanya untuk tabungan amalnya”, aku menyampaikan pendapatku.

“Jadi sebaiknya kita jadi orang kaya atau jadi orang miskin?”, tanya anakku yang nomor dua.

“Jadilah orang kaya yang dermawan, yang memperlakukan hartanya sebagaimana orang miskin dalam beramal shaleh. Jangan kamu nikmati hartamu di dunia ini, tapi belanjakan sebagai tabungan amal shaleh untuk kamu nikmati di hari nanti. Konon pada hari perhitungan nanti, orang miskin yang rajin beribadah dan beramal shaleh akan dihisab terlebih dahulu dibanding orang kaya yang dermawan, rajin beribadan dan beramal shaleh. Kalau si miskin dihisab pagi hari, maka si kaya dihisab pada sore hari. Ukuran pagi ke sore di sana nanti, ibarat berapa puluh tahun lama di dunia”, sahutku menjelaskan.

“Jadilah orang kaya yang dermawan yang memperlakukan hartanya sebagaimana orang miskin memperlakukan hartanya dalam beramal shaleh. Tetaplah menjadi seperti orang miskin, walaupun sebenarnya kamu kaya”, aku menekankan dan menutup acara di meja makan itu.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: