jump to navigation

Kupas Tuntas – Ahmadiyah April 25, 2008

Posted by merenung in Umum.
Tags: , , , , , , ,
trackback

Sedikit bengong menyaksikan acara Kupas Tuntas di stasiun Trans7 tadi malam. Bukan karena topik yang dibicarakan memang sedang hangat atau seringnya acara Kupas Tuntas ini tidak berhasil menggiring pemirsa (minimal aku pribadi) menarik suatu kesimpulan selain karena waktu yang sangat sempit atau pembawa acara yang kurang bisa memancing malah banyak ngomong atau hal-hal lainnya. Tapi karena salah seorang yang diundang sebagai pembicara adalah seorang professor yang juga seorang rektor salah satu Universitas Islam. Yang lain adalah Ketua MUI dan yang satu lagi Juru Bicara JAI.

Mendengarkan argumentasi Juru Bicara JAI yang menunjuk fatwa MUI tentang Ahmadiyah sebagai biang keladi semua kekisruhan ini memang sangat tidak bermutu. Sementara jawaban-jawaban yang disampaikan oleh Ketua MUI ini seperti biasa dengan cukup tenang dan straight to the point. Mungkin acara ini memang kurang berbobot untuk didengarkan, mengingat waktu juga sangat sempit.

Tetapi, seperti biasa si pembawa acara beberapa kali melemparkan kepada si professor yang mungkin diharapkannya akan bisa berperan sebagai penengah. Apa yang terjadi bagiku sangat mengherankan. Semua lontaran pertanyaan, permintaan tanggapan dari pembawa acara dijawab dengan; (kira-kira seperti ini) Saya ini kan seorang akademisi, jadi saya inginnya semua perbedaan ini dituliskan dalam buku. Agar semua orang bisa membaca dan mengetahui. Sekarang ini kebanyakan orang hanya ikut-ikutan. Di kesempatan lain, kembali si professor menjawab dengan sebaiknya ini ditulis didalam buku, saya juga tertarik untuk menulis ini. Begitu terus menerus si professor menjawab pertanyaan si pembawa acara dengan “tulislah semua itu di dalam buku”. Sebenarnya aku pengen punya rekaman acara itu, untuk mengambil pelajaran, bagaimana seorang professor yang rektor dan sering muncul di TV, bahkan punya acara TV sendiri hanya bisa menjawab persoalan / pertanyaan (dari sudut pandang akademisi), dengan jawaban “tulis didalam buku”.

Rasanya buku-buku tentang Ahmadiyah begitu banyak, referensi dan catatan-catatan dialog dan sebagainya sepertinya sangat mudah didapatkan oleh seorang akademisi yang professor itu. Rasanya masa kuliahku dua puluh tahun yang lalupun sudah ada tulisan-tulisan tentang Ahmadiyah ini. Bagaimana mungkin seorang cendekiawan yang professor dan rektor bisa kekurangan bacaan tentang Ahmadiyah dan menjawab dengan permintaan untuk menulis buku?

Entah apa yang ada di dalam pikiran si professor saat itu. Tetapi jawaban-jawaban lucu itu membuat Juru Bicara JAI tersenyum-senyum (bisa dikatakan tertawa-tawa), sementara Ketua MUI dengan wajah yang datar mungkin heran dengan jawaban si professor itu. Akademis ???????

Membandingkan jawaban professor itu dengan artikel yang ditulis di halaman Opini Republika Jum’at 25 April 2008, dengan Judul Kriminalitas Aliran Ahmadiyah oleh Arif Munandar Riswanto, Alumnus Universitas Al-Azhar Mesir dan Aktivis Muda PERSIS. Menganalogikan Ahmadiyah sebagai warga negara yang bertindak makar. Membuat negara didalam negara.

Atau dengan cuplikan berita di koran yang sama, di halaman muka, dengan judul Gencarkan Dakwah kepada Warga Ahmadiyah, dimana “Pengamat sosial politik Fachry Ali, mengatakan Ahmadiyah adalah plagiator. Ahmadiyah menjiplak Islam-seperti mengambil ritualnya, kitab sucinya dan rukun-rukunnya- tapi kemudian mengganti Nabi Muhammad dengan Mirza Ghulam Ahmad. “Di dunia akademis saja, yang namanya plagiator itu masuk neraka. Coba saja disertasinya Adnan Buyung Nasution (anggota Dewan Pertimbangan Presiden yang membela Ahmadiyah-Red) diambil lalu namanya diganti dengan nama lain, pasti Bang Buyung mencak-mencak” sindirnya.

Jawaban dan pendapat yang sangat sederhana, menjiplak tulisan (plagiator), menjiplak design logo celana, menjiplak aransemen lagu, menjiplak uang kertas, semuanya salah dan dihukum oleh negara. Bagaimana bisa penjiplak agama dan pengklaim agama yang sama oleh professor tidak bisa dilihat secara sederhana, bahkan harus ditulis (lagi) dalam buku? Buku apa lagi, professor?

Apa yang terjadi, sehingga seorang professor pun buntu pikirannya?

Comments»

1. Nayna - April 27, 2008

di tulis dlm buku????
ehmmmmmmmm sayang yh sy gk smpt nntn acara kupas tuntas itu.Tp klo seandainya saya nnton mungkin saya jg bakalan ikut tersenyum2 spt yg d lakukan jubir dr phk JAI.Begitu banyak buku yg beredar tentang ahmadiyah yang menerangkan tentang ideologi yg mereka yakini,tapi mengapa seorang profesor msh berkata spt itu,bahkan saya pikir kalau utk seorang profesor dia juga bisa mengakses semua data tentang “AHMADIYAH” melalui situs resmi jema’at international maupun national.
Kita bisa mengaksesnya di : http://www.ahmadiyya.or.id(situs resmi JAI)
“Hargailah perbedaan, karena perbedaan akan membuat hidup penuh warna , kita bisa saling mengisi satu sama lain”
wass

2. rony - April 29, 2008

watawasaubil haq watawasaubissobri
“Saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran”

Itulah petikan salah satu ayat dalam Al Quran.
Dalam ayat ini bukan hanya menekankan pada kesabaran, tapi juga pada kebenaran.
Menasehati supaya kembali kepada yang benar.
Dan menasehati supaya bersabar terhadap mencari kebenaran maupun membela kebenaran.
Dalam ayat ini kita lihat melibatkan 3 pihak, yaitu Allah ( pemberi perintah ), penasehat ( yang menerima perintah untuk menasehati ) dan penerima nasehat.
Secara logika, ayat ini dapat berlaku pada 2 hal menyangkut penerima nasehat :
1. Jika penerima nasehat adalah orang yang benar dan taat ( kepada Allah dan Rasul-Nya ), maka nasehat ini bermakna pembenaran dan peneguhan, agar si penerima nasehat senantiasa bersabar dalam memegang teguh kebenaran ( haq ).
2. Jika si penerima nasehat adalah orang yang kurang benar atau kurang sabar, maka dengan nasehat ini, supaya kembali ke kebenaran dan kesabaran.

Adapun jika si penerima tidak mau menerima nasehat, itu urusan dia dengan Allah, sedangkan penasehat, telah menjalankan perintah Allah.
Seperti dalam kaidah amar ma ruf dan nahi munkar. Kewajiban masyarakat, ulama / dai, pemerintah berbeda sesuai kewenangan ( yang juga disebutkan dalam Al Quran ).

Jadi dalam hal ini, MUI sudah bertindak sesuai Al Quran ( ayat diatas ), dengan menasehati JAI supaya kembali ke pada yang haq ( Al Quran, Hadits / Assunah ). Adapun jika si penerima / pihak lain mengatakan “janganlah mengklaim dirinya sendiri yang benar dan manganggap yang lain salah”, sesuai dengan ayat berikut :
“Kemudian jika mereka mendebat kamu ( tentang kebenaran Islam ), maka katakanlah ” Aku berserah diri kepada Allah dan ( demikian pula ) orang-orang yang mengikutiku”. Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al Kitab dan kepada mereka yang ummi : ” Apakah kamu ( mau ) masuk Islam”. Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan ( ayat-ayat Allah ). Dan Allah Maha melihat akan hamba-hamba-Nya. QS Ali Imran : 20.

Adapun jika MUI tidak memberi nasehat, maka ada hukuman dari Allah yang berat, yaitu hukuman karena membiarkan kesesatan dan kemungkaran merajalela. Karena dalam hal ini, sudah masuk kepada bidang akidah, yaitu keyakinan yang membedakan antara seorang muslim dengan yang bukan muslim. Dan perbedaan ini jelas bagi seorang ulama / dai.

Adapun perkataan “hargailah perbedaan, karena perbedaan akan membuat hidup penuh warna, kita bisa saling mengisi satu sama lain”. Bisa ditinjau dari 2 sudut pandang :
1. Menurut pandangan kaidah masyarakat global / modern. Perkataan ini benar, karena setiap perbedaan, pendapat, sikap adalah hak asasi manusia.
2. Menurut pandangan Al Quran. Perkataan ini perlu dijabarkan dan di kaji lebih dalam. Karena jika termasuk membiarkan kemungkaran, kesesatan terjadi khususnya bagi orang yang masih mengaku muslim, maka silahkan tunggu azab Allah di dunia dan di akhirat. Adapun jika pendapat / perilaku masih dalam koridor yang diperintahkan Allah, maka sah-sah saja.

Karena azab Allah di bumi dapat mengenai orang yang beriman, maupun yang ingkar ( disebutkan dalam Al Quran juga ). Contohnya bencana tsunami, tidak membedakan yang beriman dan yang ingkar karena bersifat umum, adapun jika masih ada yg selamat, maka itu takdir Allah.

Adapun jika maling teriak maling, atau maling berkata ‘hargailah aku karena inilah jalan hidupku, karena ini yang ku anggap benar’. Kita juga bisa berkata ” Allah menciptakan surga dan neraka, karena pasti ada yang akan menghuni keduanya. Kalo neraka diciptakan tetapi tidak ada orang jahat maka sia-sialah Allah membuat. Sehingga akan rugi, merana, menderita orang yang dizalimi / diperlakukan tidak adil oleh orang lain di dunia. Dan surga hanya untuk orang-orang yang pasrah kepada Allah. ”

Sengaja tidak saya sampaikan sejarah, pemahaman, penyimpangan, dll tentang Ahmadiyah, karena sudah cukup banyak yang menjelaskan. Saya hanya memberikan 2 pilihan cara pandang, yang semoga dapat bermanfaat bagi kita semua.

wassalam.

3. reni - June 14, 2008

Kenabian Mirza Ghulam Ahmad yang dimaksud oleh kaum Ahmadiyah adalah kenabian yang telah diisyaratkan oleh nabi Muhammad SAW sebagai Isa akhir jaman dan Imam Mahdi (laa mahdiyya illa Isa), jadi bukan kenabian yang berdiri sendiri, atau dalam istilahnya Gus Dur; rasulli fii rasulillah atau rasulnya rasul.
Gak perlulah kita menganggap mereka sesat, ingat pesan Allah SWT didalam Al-Qur’an berikut: ” Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, melaksanakan shalat, dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. – Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih had. (QS. al Baqarah: 277).

Paham kenabian pasca Muhammad saw, yang dianut oleh Ahmadiyah, boleh saja diperdebatkan atau tidak disetujui. Tetapi perdebatan itu terlalu jauh dari yang utama, karena yang paling mendasar dalam keberimanan adalah pengakuan tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad sebagai Rasulullah. Ahmadiyah bukan saja tidak lari dari prinsip tersebut, tetapi banyak beramal untuk membina ketauhidan itu.

Amal shaleh Ahmadiyah telah terbukti banyak memperluas pengaruh Islam di daratan Eropa. Sehingga suara adzan telah menembus masyarakat yang terkenal sekuler dan modern. Tidak terhitung berapa banyak orang-orang yang berkehidupan sekuler dan modern di barat yang terpanggil masuk Islam. Masjid-masjid didirikan di sejumlah kota, dan buku-buku tuntunan Islam pun disebar dalam berbagai bahasa. Dan mereka yang masuk Islam berkat dakwah Ahmadiyah bukanlah Muslim yang bersaksi Mirza sebagai rasulullah menggantikan Muhammad, melainkan mereka yang bersaksi bahwa Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad sebagai Rasulullah. Bukankah itu suatu amal shaleh yang memang melekat dengan keberimanannya?

Marilah kita jujur dalam menilai Ahmadiyah. Terhadap sesuatu yang berbeda atau menganggap “sesat” sekalipun sejauh disertai dengan alasan yang bisa dipertanggungjawabkan di hadapan Allah, silahkan. Namun tidak tepat, kalau ketidaksukaan atau ketidaksesuai paham, kemudian menutup kebaikan yang telah dilakukan oleh Ahmadiyah. Tuhan mengingatkan: Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. ( Al Maidah: 8).

Klaim kenabian atas Mirza Ghulam Ahmad boleh diperdebatkan. tetapi bisakah dijelaskan bahwa Mirza terbukti hendak menggelincirkan iman para pengikutnya, atau membelokkan persaksian atas diri Muhammad sebagai Rasul, atau membelokkan pengikutnya untuk lari dari al Qur’an?.

wassalam

Saya tidak mengetahui apakah anda seorang penganut Ahmadiyah atau bukan. Tetapi saya sebagai seorang yang pernah memeluk agama Nasrani (kebetulan orang tua masih ada yang Nasrani) dan berkesempatan sedikit belajar beberapa agama lain bahkan kepercayaan yang diaku oleh pemeluknya bukan suatu agama, saya memang tidak mempercayai bahwa ada rasulnya rasul. Apalagi menurut anda istilah itu dari Gus Dur, karena saya bukan pendengar, pengutip pernyataan atau pengikut Gus Dur. Kutipan ayat-ayat Al Qur’an yang anda sampaikan (sepotong-sepotong) juga tidak membuat saya berubah logika. Saya memang tidak sependapat dengan anda.
Amal seseorang (mahluk ALLAH, binatang, tumbuh-tumbuhan dan alam semesta ini), yang mungkin sebagai trigger dan menjadikan orang lain mendapat hidayah dari ALLAH, tidak serta merta dapat saya kategorikan “amal shaleh yang memang melekat dengan keberimanannya?” (seperti komentar anda). Sebagaimana saya tidak mengerti, bagaimana perbuatan jahat, nista dan maksiat seseorang dapat menyadarkan orang lain yang melihatnya dan menjadikan orang itu berubah keyakinan menjadi seorang muslim yang taat. Juga tidak bisa dibuktikan bahwa orang-orang Eropa (seperti komentar anda) justru tertarik masuk Islam dan membangun masjid-masjid lantaran Ahmadiyah. Bukankah banyak sebab lain yang juga mungkin menginspirasi mereka, seperti perburuan Usama dan Al Qaeda-nya di Afghanistan, kekejaman Israel di Palestina, 9/11, kebohongan Bush tentang senjata pemusnah massal di Iraq dan seterusnya-dan seterusnya. Saya yakin hidayah memang hak mutlak ALLAH termasuk apa yang menjadi sarana inspirasinya. Mengklaim amal Ahmadiyah yang menjadi inspirasi mereka, saya tidak sependapat.
Komentar terakhir anda

Klaim kenabian atas Mirza Ghulam Ahmad boleh diperdebatkan. tetapi bisakah dijelaskan bahwa Mirza terbukti hendak menggelincirkan iman para pengikutnya, atau membelokkan persaksian atas diri Muhammad sebagai Rasul, atau membelokkan pengikutnya untuk lari dari al Qur’an?.

Bagaimana jika dibalik, “Apa buktinya Mirza tidak hendak menggelincirkan dan membelokkan?”
Wa alaikum

4. putra purnama - June 15, 2008

Secara teologis, saya menolak 200 persen pendapat yang mengatakan bahwa ada nabi pasca-Muhammad, sekalipun katanya tidak membawa syariat. Jika memang begitu, mengapa harus dihadirkan nabi baru? Di sinilah saya gagal memahami kehadiran aliran Ahmadiyah. Mengapa tidak kembali saja kepada ajaran Islam semula. Adapun jika Ghulam Ahmad dipercayai sebagai pembaru, mungkin masalahnya tidak menjadi ruwet, sekalipun sebagian besar umat Islam tidak mengakuinya.

Sepanjang sejarah Islam selama sekian abad, umat yang percaya kepada kemunculan pembaru bukan barang baru, tetapi hanya sebagian tokoh yang memercayainya. Dengan pernyataan ini, posisi saya tentang Ahmadiyah sudah sangat gamblang. Memang dalam beberapa hadis dikatakan tentang akan turunnya nabi Isa sebelum kiamat. Dan katanya, Ghulam Ahmadlah orangnya.

Saya sungguh berharap agar hadis-hadis serupa ini diteliti kembali, sebab implikasinya sangat dahsyat. Maksud saya, jika Isa masih harus turun kembali, berarti misi Muhammad gagal. Saya tidak percaya bahwa nabi Isa masih hidup, karena dia adalah manusia biasa yang atas dirinya berlaku sepenuhnya hukum alam: lahir, dewasa, tua, dan mati. Tetapi, Alquran membantah bahwa kematian nabi Isa karena disalib. Masalah ini biarlah tidak diperdebatkan panjang-panjang, sebab saudara-saudara Kristen kita memercayai bahwa Isa mati di kayu salib. Kita tidak perlu memasuki teologi mereka.

Jika dikaitkan kepada masalah kekerasan atas nama agama. Saya akan membela sepenuhnya posisi Ahmadiyah jika mereka dizalimi, hak milik mereka dirampok, dan keluarga mereka diusir. Ini perbuatan biadab karena pengikut Ahmadiyah itu punya hak yang sama dengan warga negara Indonesia yang lain menurut konstitusi Indonesia. Jika mereka dizalimi, aparat dan kita semua wajib melindungi mereka. Bahkan, seorang warga negara Indonesia penganut ateisme, tetapi patuh kepada UUD, tidak ada hak kita untuk membinasakan mereka. Kita bisa bergaul dengan mereka dalam masalah-masalah keduniaan. Mereka juga punya hak hidup dengan ateismenya.

Di sinilah pentingnya kita memahami secara jujur diktum Alquran dalam Albaqarah ayat 256, “Tidak ada paksaan dalam agama.” Jika Tuhan tidak mau memaksa hambanya untuk memeluk atau tidak memeluk agama, mengapa kita manusia mau main paksa atas nama Tuhan? Sikap semacam inilah yang bikin kacau masyarakat. Oleh karena itu, Alquran jangan dibawa-bawa untuk menindas orang lain. Kekerasan atas nama agama adalah pengkhianatan yang nyata terhadap hakikat agama itu sendiri.

Wallahu A’lam.
>>Kunjungi:
http://www.putrapurnama.wordpress.com
n jgn lupa tinggalkan comment’nya.
^_^


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: