jump to navigation

Bank dan Asuransi Syariah May 19, 2008

Posted by merenung in Umum.
Tags: , , , , , , ,
trackback

Minggu lalu kawan lamaku mampir ke kantor. Sudah lama tidak berkesempatan ngobrol agak serius, kawanku mampir karena kebetulan ingin ke kantor iparnya yang lokasinya ada di daerah kantorku.

Dia cerita kalau sekarang sedang menekuni profesi sebagai agen asuransi. Sambil membawa iklan di sebuah koran oplah besar, dua halaman penuh dengan foto-foto para pelaku asuransi yang sedang mendapat bonus jalan-jalan ke Moscow. Kawanku bercerita tentang uang yang diterima oleh para agent berprestasi di setiap bulannya. Puluhan, ratusan juta, bahkan milyar rupiah jumlahnya. Terasa sekali nuansa ngiler bak bercerita tentang nikmatnya wisata kulinernya “mak nyus”, seperti umumnya para agen, para penjual mempergunakan caranya untuk memikat. Kawanku ini (mungkin) sama sekali tidak dalam rangka merayu agar aku membeli produknya, melainkan sekedar menjelaskan apa dan mengapa dia bersemangat menekuni bidang barunya. Ada kalimat yang membuat aku memikirkannya berhari-hari tanpa jawaban;

“Lu liat aja iklannya di iklan koran. Mereka jalan-jalan nih. Masa’ mereka yang menjual produk syariah dan menikmati hasilnya. Mending kita-kita dong yang jualan”

Maksudnya, foto-foto yang terpampang memang langsung dapat ditebak bahwa kebanyakan mereka bukanlah muslim-muslimah. Kawan ini mungkin tidak rela atau iri (secara positif) untuk dapat menyaingi prestasi mereka-mereka dalam mendapatkan keuntungan dari penjualan produk asuransi syariah. Sesuatu yang mungkin wajar-wajar saja, walaupun aku tidak terlalu tertarik menanggapinya.

Beberapa hari kemudian di acara TVRI, Adiwarman Karim juga menjelaskan, bahwa banyak praktisi perbankan dan asuransi syariah dari kalangan non-muslim.Pernyataan ini yang membuat aku jadi tertarik untuk sedikit merenungi masalah ini.

Kalau tidak keliru, syariah ini maksudnya hukum (mungkin beda-beda dikit dengan fiqih). Jadi mengikuti syariah Islam itu menurut pengertianku adalah mengikuti hukum yang ditetapkan di dalam Islam. Jual beli dibenarkan secara syariah selama sesuai dengan hukum Islam. Jual beli barang haram walaupun sama-sama ikhlas tidak bisa dibilang sesuai syariah. Transaksi perbankan dan asuransi sepertinya bukan transaksi jual beli, bagaimana akad dilakukan oleh pelaku-pelaku non-muslim yang tidak mempercayai syariah (hukum) Islam dapat dikatakan sesuai syariah? Saya terbayang pernikahan yang dikatakan sesuai syariah (hukum) Islam dilakukan oleh seorang penghulu yang non-muslim. Atau wali nikah yang non-muslim atau pengantin yang non-muslim. Bagaimana dapat disebut sesuai syariah Islam?

Jadi pengen tanya sama yang lebih mengerti soal syariah, pasalnya sudah seminggu lebih nggak ketemu jawaban yang logis untuk bisa menerangkan pertanyaan itu.

Comments»

1. suud - May 22, 2008

pak, bagaimana hukumnya kalau ada non muslim yang jual sajadah? Udah gitu kualitasnya jauh lebih tinggi dan harga jauh lebih murah dari yang dijual sama orang muslim?

Sebelumnya mohon ma’af, saya belum cukup ilmu untuk memberikan jawaban yang berdasar. Tetapi kalau menurut perenungan pribadi saya, membeli alat sholat yang dibuat dan dijual oleh non muslim tidak bermasalah. Dan faktanya, di Makkah (Pasar Seng) saya sempat membeli jam merk Al Fajr yang dilengkapi alarm waktu sholat dan daftar nama surah-surah, ternyata buatan China. Kain ihrom yang tebal dan hangat juga buatan China, jam azan juga dan seterusnya. Ini memang jual beli, sedangkan bank dan asuransi adalah “akad untuk pengelolaan”, mungkin berbeda kasusnya. Kebenaran hanya milik ALLAH

2. muqorrobin - October 14, 2010

gak ngaruh sepertinya antara pengelolaan dan jual beli. selama syarat dan rukunya terpenuhi ya gak masalah, alias syar’i.

lain halnya dg akad nikah. penghulu itu g masuk rukun/syarat, jd g ada penghulu pun ga papa. sedangkan wali nikah itu masuk syarat, jadi ada ketentuannya, di antaranya harus muslim. sdangkan dagang, investasi, dan semisalnya tdk disebutkan ttg syarat itu, sehingga kembali ke hukum asal, yaitu boleh.

fyi, nabi saw juga pernah menggadaikan baju perangnya ke seorang yahudi.

=====================
terima kasih, sudah sudi mampir dan memberi komentar


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: