jump to navigation

Seperti Anjing May 22, 2008

Posted by merenung in Kehidupan.
Tags: , , ,
trackback

Judulnya sengaja agak mencolok karena kawanku menyimpulkan cerita ini  dengan lucu.

Siang menjelang waktu sholat Dhuhr, dimulai dengan basa-basi tanya kabar dan seterusnya, kawanku bertanya dengan nada perlahan dan serius.

“Bagaimana kita harus menyikapi situasi ini?”

Pertanyaan ini menyangkut situasi yang semakin sulit, harga-harga yang melambung tinggi, rencana pemerintah untuk (mbudeg) menaikkan harga BBM dan seterusnya. Sementara sumber pendapatan untuk menanggung segala kebutuhan juga semakin berkurang dan bertambah sulit menambahnya. Ini asal muasal pertanyaan kawanku tadi.

Aku menjawab dengan perumpamaan: “Bayangkan jika saat ini kita berada di Palestina atau Afghanistan, bagaimana dengan sikap kita?”.

“Ikut perang !”, jawabnya mantap tidak perlu berfikir panjang.

Dengan seperti itu (maksudku dengan tidak perlu berfikir panjang) kita harus mensikapinya dengan; “Bersyukur !”.

Banyak saudara-saudara kita yang lebih sengsara dibandingkan dengan keadaan kita saat ini dan mereka juga tetap bersyukur. Aku melanjutkan dengan cerita yang pernah aku baca di satu media (aku lupa) yang isinya sangat menyentuh, kira-kira seperti ini:

Suatu saat dua orang pemimpin kaum bertemu dan saling bertanya tentang keadaan masing-masing.

Pemimpin yang satu bertanya: “Bagaimana kaum-mu menghadapi kondisi yang kadang berkecukupan dan kadang kala kekurangan?”

Pemimpin yang lain menjawab: “Kaum-ku bersyukur saat berkecukupan dan bersabar saat kekurangan”

Pemimpin pertama berkata: “Kaum-mu seperti anjing kaum-ku”

Pempimpin yang merasa terhina dengan muka merah padam bertanya: “Lalu bagaimana kaum-mu menyikapi kondisi itu?”, dengan nada tinggi setengah berteriak.

“Kaum-ku bersabar dan berbagi saat berkecukupan sementara mereka bersyukur saat kekurangan”, dengan perlahan dan tetap tenang.

Pemimpin yang tadinya sangat marahpun menjadi tertunduk malu: “Seharusnya seperti itulah kami”.

Kawanku yang lain menaggapi cerita itu dengan tertawa.

“Kalau ada kaum yang saat kekurangan mereka  bersabar sementara kalau sedang berkecukupan barulah mereka bersyukur, seperti anjing dong….he…he…he…”, katanya sambil tertawa lepas.

Kalau direnungkan, memang demikian seharusnya sikap kita. Saat kekurangan, bagaimana kita bisa bersabar? Karena faktanya memang sedang kurang atau bahkan tidak punya. Justru saat kita berkecukupan dan punya atau mampu, saat itulah kita dapat (atau tidak dapat) bersabar dan menahan diri dari pemenuhan keinginan-keinginan. Bak orang berpuasa, ada makanan didepan mata, halal sementara perut lapar. Bersabar menunggu waktu berbuka atau melampiaskan keinginan perut adalah pilihannya. Tetapi kalau perut lapar, tidak sedang berpuasa tetapi tidak ada uang untuk membeli makanan, maka bersyukur sambil berikhtiar adalah pilihannya.

Comments»

1. Frans Sebastian - June 5, 2008

Pak, posting yang menggugah, sungguh!

Seandainya hal itu dipraktekkan semua orang: yang sekarang berkelebihan (tidak semua orang jadi kekurangan dalam situasi sekarang kan?) berhenti dengan prinsip “meraup semua yang aku bisa dapat” dan menjadi sabar dengan “mencukupkan dengan yang aku butuh saja” dan kemudian berbagi dengan sesama sehingga membantu yang berkekurangan makin bersyukur . . . .

Rumusan belaka dan teoritis? Mungkin . . . , tapi masih bisa dilakukan.

Pemikiran di atas muncul dipicu tulisan Bapak. Masih mentah dan perlu dijabarkan. Coba aku lihat nanti, kalau sudah ada langkah kongkritnya, aku bagi cerita lagi.

Salam!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: