jump to navigation

(Tidak) Seperti Anjing (lanjutan) June 5, 2008

Posted by merenung in Umum.
Tags: , ,
trackback

Tulisanku terdahulu dengan judul “Seperti Anjing” mendapat tanggapan dari kawan yang kerap mampir dan berkomentar di blog ini. Agar lebih jelas, aku sedikit ingin menambahkan sebagai lanjutan.

Sebenarnya dari banyak percakapan dengan orang-orang di sekelilingku, aku memang selalu memberikan penutup, bahwa cerita tentang percakapan kedua pemimpin umat itu kurang tepat. Karena sesungguhnya agamaku tidak mengajari aku membedakan sikap dasar dalam menghadapi suatu kondisi. Sikap dasar selalu saja harus sama dalam setiap kondisi apapun. Yang berbeda adalah amal perbuatan yang mengikuti sikap dan akan sangat tergantung kepada kondisi yang berbeda-beda.

Sikap dasar itu ada tiga dan tidak bisa dipisah-pisahkan satu dengan yang lainnya, yaitu ikhlas, sabar dan bersyukur.

Dalam keadaan longgar dan berkecukupan, kita harus ikhlas (melawan kerakusan), sabar (tidak mengumbar dan mengikuti hawa nafsu / keinginan) dan bersyukur (dengan peduli dan berbagi). Adalah sangat penting mewujudkan rasa syukur dengan melakukan perbuatan, karena belumlah dapat dikatakan bersyukur apabila sikap itu hanya ada di dalam hati tanpa diamalkan. Peduli dan berbagi adalah merupakan bentuk amal rasa syukur itu.

Dalam keadaan sempit dan kekurangan, kita harus ikhlas (menerima ketetapan yang merupakan bagian dari iman), sabar (menjalani dengan penuh rasa harap kepada Yang Maha Pemurah ALLAH SWT) serta tentu saja harus tetap bersyukur (dengan tetap terus berikhtiar / berusaha keras untuk merubah keadaan). Ikhtiar untuk merubah keadaan menjadi lebih baik adalah suatu wujud syukur karena masih diberikan kesempatan untuk dapat memiliki “amal shaleh” dengan ganjaran pahala yang berlipat. Bukankan banyak juga manusia lain yang tidak lagi (mau) memiliki kesempatan itu?

Menjalankan sholat harus ikhlas, sabar dan bersyukur. Berusaha untuk khusuk dengan menjaga amal sholat didalam kehidupan di luar sholatnya. Bukankah secara ilmiah sudah dibuktikan, bahwa air dan nasi pun ber-reaksi terhadap kalimat-kalimat baik dan indah yang diucapkan kepada mereka, sementara kalimat-kalimat buruk akan membuat mereka bereaksi menjadi buruk pula. Bukankah tubuh kita juga mengandung air dan unsur-unsur lain yang juga ada pada nasi? Tidakkan semua itu juga akan bereaksi apabila digunakan untuk melaksanakan sholat (fisik) maupun mendengarkan bacaan-bacaan sholat yang kita ucapkan paling sedikit lima kali dalam sehari tanpa hari libur. Bukankan air dan nasi mengerti dan bereaksi walau tidak pernah belajar bahasa Jepang, Inggris ataupun Arab.

Membaca Al Qur’an juga harus ikhlas, sabar dan bersyukur (dengan membacanya perlahan-lahan / tidak buru-buru dan benar). Bukankah setiap huruf mendatangkan ganjaran 7 (tujuh) pahala jika kita membacanya. Menghadapi musibah kehilangan juga kita harus ikhlas, sabar dan bersyukur. Bukankah itu semua hanya titipan dan bukan milik kita? Bukankah mengembalikan kepada yang memiliki akan meringankan beban kita? Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun.

Cerita percakapan kedua pemimpin umat itu memang bukan kisah, melainkan rekayasa yang (sedikit) melucu (joke). Sesungguhnya, ikhlas, sabar dan bersyukur selalu tetap harus menjadi satu kesatuan sikap tanpa bisa dipisah-pisahkan. Dalam kondisi dan situasi apapun.

ALLAH SWT sajalah Yang Maha Mengetahui.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: