jump to navigation

Mau Seperti Anjing (?) June 16, 2008

Posted by merenung in Kehidupan, Umum.
Tags: ,
trackback

Lagi-lagi ini soal anjing. Gara-gara ingat tulisanku, kawan ruang sebelah memberi oleh-oleh cerita, perolehannya malam mingguan di mushola kecil sekitar Pancoran (dekat kompleks BI). Masih juga tentang binatang yang tergolong paling setia pada majikannya. Kawan ini berpesan agar aku menulisnya dan berharap semoga berguna bagi yang membacanya. Ceritanya kira-kira seperti ini.

Dikisahkan pada masa itu hidup seorang Raja yang bijaksana. Sang Raja mempunyai seorang Perdana Menteri yang sehari-hari menjalankan pemerintaan sesuai perintah Sang Raja. Suatu hari, Raja memanggil Perdana Menteri dengan maksud hendak menguji. Sesaat setelah Perdana Menteri menghadap dan mengucapkan salam, Sang Raja mengutarakan maksudnya:

“Wahai Perdana Menteriku. Aku hendak mengujimu agar aku mengetahui apakah selama ini kamu bertindak bijaksana. Apabila engkau tidak bisa melewatinya, maka aku memutuskan untuk memecatmu dari jabatanmu sebagai Perdana Menteri”.

“Ada tiga pertanyaan yang harus engkau cari jawabannya. Pertama, apakah gerangan yang paling berharga bagimu? Kedua, apakah yang pasti benar bagimu? Dan yang ketiga, apakah yang selalu membohongimu?”

Setelah diberikan batas waktu Perdana Menteripun beranjak pergi. Diuji dengan tiga pertanyaan aneh membuat Perdana Menteri memutar otak dan berusaha mencari jawaban dari para pemikir di negeri itu. Lelah bertanya berhari-hari tanpa mendapat jawaban yang meyakinkan, akhirnya Perdana Menteri itu menjadi putus asa. Hari terakhir dari tengat waktu yang diberikan Sang Raja, Perdana Menteri justru lebih banyak berbaring memikirkan masa depannya. Selepas senja, saat itu Pendana Menteri berbaring di padang rumput luas dengan pandangan kosong menatap indahnya perjalanan menuju malam. Malam yang cerah dengan benda-benda langit bertaburan tidak dapat menghibur kegelisahan Perdana Menteri.

“Kalau memang harus berhenti menjadi seorang petinggi negeri, entah apa yang harus aku kerjakan sehari-hari”, begitu pikir Perdana Menteri sambil menerawang mencari jawaban dari langit.

Tidak beberapa lama, lewat seorang anak gembala dengan menggiring beberapa ekor kambing dan ditemani oleh sahabatnya, seekor anjing. Sambil mengamati dari kejauhan, anak gembala inipun berhenti dan menambatkan tali induk-induk kambingnya di bebatuan agak dekat dengan tempat Perdana Menteri itu berbaring. Anak gembala itupun bertanya kepada Perdana Menteri yang sedang gelisah itu.

“Saya melihat bapak sedari tadi berbaring tetapi tidak tidur. Menatap langit sambil berbicara sendiri. Sedangkan saya tidak melihat apa-apa di lagit yang bapak tatap itu. Bolehkah saya mengetahui apa yang bapak lihat di langit sana?”, anak gembala itu mencoba membuka percakapan.

“Ah…, anak kecil. Aku sedang kesusahan. Sudah sana. Kamu bawa kambing-kambingmu pulang agar tidak kemalaman”,  ucap Perdana Menteri itu dengan nada datar.

“Kalau bapak sedang kesusahan, apakah boleh saya membantu bapak?”, lanjut anak gembala itu.

“Seluruh orang pintar di negeri ini sudah tidak bisa menolongku. Lalu bagaimana kamu yang seorang anak gembala ingin menolongku? Baru kali ini aku sebagai Perdana Menteri mengalami persoalan yang sedemikian pelik tanpa bisa aku pecahkan. Sudah sana….., jangan ganggu aku lagi”, sahut Perdana Menteri.

Anak gembala inipun menjadi mengerti, bahwa dia berhadapan dengan seorang Perdana Menteri. “Apakah saya boleh mencoba membantu memecahkan persoalan yang bapak hadapi?”, tanya anak gambala itu sedikit mendesak.

Perdana Menteri menjadi agak kesal dan mulai membentak, “Sudah aku katakan kalau semua orang di negeri ini tidak bisa memecahkan persoalanku. Mengapa kamu masih terus menggangguku?”.

“Pergi kamu…., dan jangan ganggu aku lagi !”. lanjut Perdana Menteri dengan sedikit menghardik.

“Kalau memang semua orang di negeri ini sudah bapak tanya dan tidak bisa menjawab, apa ruginya kalau bapak menceritakan kepada saya. Jika saya tidak bisa menjawab, maka bapak tidak kehilangan apa-apa, tetapi jika saya bisa menjawab, mungkin akan dapat menolong bapak”, anak gembala itu menutup pembicaraan dan beranjak pergi menghampiri ternaknya.

Sambil duduk di samping anjing kesayangannya, anak gembala ini membuka bekal rotinya untuk diberikannya kepada anjingnya. Tiba-tiba Perdana Menteri itu berteriak memanggil; “Hei anak gembala, coba kesini kamu. Aku ingin berbicara kepadamu”. Perdana Menteri itu berubah pikiran, “Tinggal sisa satu orang ini saja, lalu biarlah esok aku berhenti menjadi Perdana Menteri”.

Sambil meninggalkan bungkusan bekal rotinya untuk dimakan oleh anjing kesayangannya, anak gembala itu menghampiri Perdana Menteri. Dan setelah mendengarkan cerita dari Perdana Menteri itu dengan seksama, anak gembala itu berkata dengan sedikit jenaka “Saya bisa menjawab ketiga pertanyaan itu”.

“Coba beritahu aku”, sergah Perdana Menteri tidak sabar.

“Tapi ada satu syaratnya”, sahut anak gembala itu.

“Kurang ajar ! Kamu berbicara dengan siapa ?”, Perdana Menteri itu sedikit berteriak.

“Terserah bapak. Saya tidak memaksa, jika bapak keberatan”, jawab anak gembala itu santai sambil beranjak pergi.

“Sebentar…., baiklah. Katakan persyaratanmu. Aku akan penuhi”, Perdana Menteri itu sedikit putus asa.

“Kalau demikian, sekarang bapak merangkak dari tempat ini ke arah anjing saya disana itu. Sesampainya disana, bapak makanlah roti bersama dengan anjing itu”, dengan tenang anak gembala itu menerangkan persyaratannya.

“Kamu gila……!”, Perdana Menteri itu sudah hampir melayangkan tamparannya ke arah muka anak gembala itu. Sesaat Perdana Menteri itu mulai melayangkan pandangannya kekanan dan kekiri. Merasa tidak ada yang mengawasi, Perdana Menteri itupun menyerah dan mulai mengambil posisi merangkak. Sambil melangkahkan tangan dan kaki merangkak ke arah anjing kesayangan gembala itu makan, Perdana Menteri itu berucap geram, “Kamu akan merasakan akibatnya, jika kamu membohongi aku”.

Anak gembala itu berjalan mengiringi disamping Perdana Menteri yang merangkak sampai ditempat anjing itu makan. Sesaat Perdana Menteri menjulurkan wajahnya mendekati bungkus roti yang sudah mulai kosong sisa makan anjing, anak gembala itu mencegahnya dan berkata “Sudahlah pak. Bapak tidak perlu makan sisa-sisa makanan anjing saya”.

Perdana Menteri itu sontak berdiri dan berkata, “Sekarang katakan kepadaku jawabannya !”.

“Jawaban yang pertama, bapak sudah mengetahuinya. Jabatan Perdana Menteri adalah yang paling berharga sehingga bapak mau merendahkan diri bapak seperti anjing”, jawab anak gembala itu dengan tenang. Perdana Menteri itu tertunduk dalam tidak menyangka akhirnya dia menemukan jawabannya.

“Yang kedua adalah kematian. Hanya kematian yang pasti benar terjadi bagi semua mahluk hidup”, lanjut anak gembala itu. Perdana Menteri mulai terduduk lemas memperoleh jawaban pertanyaan yang kedua.

“Dan yang selalu membohongi bapak dan semua manusia adalah dunia. Kita selalu saja tertipu dengan bujuk rayu dunia tanpa kita sadari”. Perdana Menteri itupun mulai menitikkan air mata. Larut didalam malam yang sangat panjang dan melelahkan.

Keesokan harinya, Perdana Menteri datang menghadap Sang Raja dengan pakaian yang dipakainya sejak kemarin. Raja terkejut melihat mata kuyu Perdana Menteri, lalu bertanya; “Wahai Perdana Menteriku yang bijaksana. Mengapa engkau seperti orang yang tidak tidur? Apakah engkau sudah menemukan jawaban tiga pertanyaanku?”

Perdana Menteri itupun menceritakan apa yang telah dialaminya semalam. Setelah selesai menceritakan seluruh kejadian, Perdana Menteri itupun mengutarakan permintaannya untuk berhenti menjadi Perdana Menteri. Jabatan yang membuat dia tidak pernah bisa menemukan jawaban atas pertanyaan bijak dari Sang Raja.

Akhirnya, pesan untuk diriku sendiri; “Apakah aku pantas merendahkan diriku seperti anjing?” (yang artinya gila jabatan, lupa mati dan memburu dunia). Semoga cerita ini dapat mengingatkan.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: