jump to navigation

Tawaf Para “Binatang” (ada anjing) July 2, 2008

Posted by merenung in Kehidupan.
Tags: , , , , , , , ,
trackback

Mengingat-ingat beberapa tahun lalu, saat mengikuti tausiah yang disampaikan ustadz Othman Shihab, kisah yang disampaikan masih melekat di ingatanku. Saat itu pak ustadz dengan sangat indah mengisahkan peristiwa yang terjadi di Masjidil Haram di masa al khulafa al rasyidin Umar ibn Khaththab r.a.

Dikisahkan, saat itu Amirul Mukminin bersama rombongan ziarah ke Masjidil Haram. Berada di depan Ka’bah, Amirul Mukminin melakukan sholat dua raka’at. Sementara itu, disekitar Ka’bah orang-orang berkeliling melaksanakan tawaf. Selesai melaksanakan sholat, sang Amir mengangkat tangan seraya berdo’a sambil menangis. Dengan suara yang terdengar lirih oleh rombongannya, sang Amir memohon: “Ya ALLAH, ampunilah mereka. Sungguh mereka tidak mengetahui apa yang telah mereka lakukan”.

Tentu saja rombongan yang duduk paling dekat dengan Amirul Mukminin pun terheran-heran. Salah seorang diantaranya bertanya dengan penuh rasa penasaran: “Wahai Amirul Mukminin. Mengapa engkau memohonkan ampun atas mereka, seakan mereka melakukan perbuatan dosa? Bukankah mereka adalah tamu-tamu ALLAH yang sedang beribadah kepada ALLAH?”.

Amirul Mukminin, Umar ibn Khaththab r.a. pun menjawab: “Sholatlah engkau dua raka’at lalu mintalah ALLAH membukakan penglihatanmu”.

Maka sholatlah dia yang bertanya itu sebanyak dua raka’at lalu mengangkat tangannya memohon kepada ALLAH untuk dibukakan pengelihatannya. Sontak setelah membuka matanya, iapun tersungkur dan berucap istighfar berulang-ulang sambil menangis.

Rombonganpun lalu berkumpul sambil terus bertanya kebingungan: “Apa yang engkau lihat, hingga engkau menangis tersungkur dan meminta ampun? “.

“Wahai Amirul Mukminin, aku melihat diantara orang-orang yang sedang bertawaf itu kebanyakan adalah anjing, babi, tikus dan keledai. Apa gerangan yang hendak ALLAH perlihatkan kepadaku?”, tanyanya kepada Umar ibn Khaththab r.a.

Amirul Mukminin menjawab: “Sesungguhnya, kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang penurut terhadap perintah atasannya, menjilat-jilat untuk menyenangkan majikannya, tetapi berkata kasar dan menghardik kepada orang lain dan yang lemah (seperti anjing). Diantara mereka kebanyakan memakan kotoran / haram, tidak menjaga pasangannya dan bertingkah tidak senonoh (seperti babi). Yang lain sibuk mencuri-curi harta dan mengumpulkan materi dan kekayaan (seperti tikus). Dan terakhir, adalah kebanyakan orang yang dungu dan tidak berpendirian / berprinsip seperti keledai yang diam saja ditempatkan di tempat yang panas maupun dingin”.

Demikian kalau tidak salah mengingat, inti cerita pak ustadz Othman Shihab yang masih melekat.

Semoga ALLAH selalu menjaga dan memberi petunjuk kepada kita, agar kita tidak merendahkan diri kita seperti perilaku binatang atau lebih rendah lagi dari binatang.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: