jump to navigation

Tidak Lebih Baik Dari Anjing July 3, 2008

Posted by merenung in Jum'at.
Tags: , ,
trackback

Semasa aku kecil dan ikut tinggal bersama kakek-nenek di Yogya, aku punya sahabat yang selalu mendampingi yaitu seekor anjing delmatian. Tinggi, gagah dengan postur anjing greyhound. Saat SMA dan tinggal di rumah orang tua, kami selalu memiliki anjing peliharaan dari berbagai jenis. Itu membuat aku sedikit banyak mengenal sifat binatang yang satu ini.

Sifat utama yang paling menonjol adalah “pengabdian dan kesetiaan”. Anjing memang ada yang cerdas dan bodo. Atau lucu / kocak dan serius. Kemaruk makan atau yang diet makan. Tetapi kepada manusia yang selalu memberinya makan dan di-“identifikasi” sebagai majikan, sikap “pengabdian dan kesetiaan” menjadi sangat menonjol. Sebagai ilustrasi, keponakanku memelihara anjing yang dirawatnya sejak dari sangat kecil (bayi). Ponakanku tentu sering memberinya makan, bahkan makan pun berdua (habis dia gigit gantian anjingnya menggigit lalu dia kembali menggigit – jorok banget). Tetapi lucunya, setelah anjing ini tumbuh menjadi besar, dia berani marah dan menggigit ponakanku ini. Aku menganggap anjing ini tidak “mengidentifikasi” ponakanku sebagai majikannya.

Dari banyak anjing peliharaan, ada tiga anjing yang dekat dengan aku. Melko (si delmatian), Samino dan Blanki (dua-duanya seluruh bulunya berwarna hitam tapi aku gak jelas ras-nya). Masa memelihara Melko, aku masih kecil dan kurang menghayati perilakunya.  Yang aku rasakan adalah aku sayang kepada dia. Melko punya cara membangunkan aku pagi hari, yaitu dengan  menjilati mukaku (he…he…he…., najis). Aku mulai mengamati perilaku anjing adalah saat memelihara Samino (semasa aku SMP) dan Blanki (semasa aku SMA).

Walau Samino dan Blanki adalah anjing dari ras yang berbeda, tetapi perilakunya mirip-mirip. Samino agak periang dan suka bercanda, sementara Blanki agak lebih serius (mungkin juga karena agak gemuk). Mendengar suaraku dari jauh saja mereka sudah akan segera menyaut dengan gonggongan ringan dan kibasan ekor, sambil mendekat dengan pandangan menyelidik apakah aku sedang senang atau sedang marah. Kalaupun suatu saat aku marah dan memukul (cenderung menyakiti), mereka (dengan sangat mengherankan) menunjukan sikap takut, minta dikasihani (terlihat dari matanya) dan justru merunduk-runduk terus mendekat (sambil melipat buntutnya). Kadang juga terlihat matanya ber-air, menangis sambil mengerang-erang dengan khas anjing. Sikap itu juga yang aku trenyuh dan menghentikan pukulan. Bayangkan erangan “kaing..!” setiap kali aku pukul dan dia tetap merunduk menghampiri aku lagi. Menurut seorang kawan, cerita tentang anjingku tidaklah seberapa dibandingkan dengan anjing pincangnya. Anjing pincangnya tetap patuh dan setia, walau kawan ini sendirilah yang memukulkan balok ke kaki anjingnya hingga retak (patah) dan pincang. Mungkin masih banyak cerita dan sulit untuk dilukiskan dalam kata-kata, bagaimana “pengabdian dan kesetiaan” binatang yang satu ini.

Sementara aku yang sudah jelas lebih cerdas dari anjing. Paham dan mengerti (bukan hanya mengidentifikasi dengan naluri) serta mengakui bahwa majikanku adalah ALLAH Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Dan dengan segala ke-Agung-an NYA tidak pernah putus memberikan anugerah segala keistimewaan kepadaku. Memberikan petunjuk, peringatan dan pelajaran kepadaku. Sementara, aku membayangkan saat ALLAH memanggilku untuk bersujud (sholat), apakah aku bisa seperti anjing-anjingku yang langsung berlari menghampiri? Apakah aku bisa seperti anjing-anjingku yang setia tetap menghampiri manakala dipukul dan disakiti, sementara aku yakin bahwa ALLAH tidak pernah “memukul dan menyakiti” aku? Apakah aku bisa lebih baik dari pada anjing-anjingku yang hanya mendengar suaraku dari jauhpun mereka sudah menunjukkan sikap kegembiraan?

Bukankan sikapku selama ini tidak lebih baik dari anjing?

“Apakah engkau mengetahui orang yang menjadikan hawa-nafsunya sebagai tuhannya? Maka apakah engkau sebagai pemelihara atasnya, atau apakah engkau mengira bahwa kebanyakan mereka mendengar atau memahami(apa-apa yang engkau sampaikan)? Mereka tidak lain adalah seperti hewan bahkan lebih tersesat jalannya”. Surah ke-25 Al Furqaan (Pembeda): 43-44.

Me Melko Doggy

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: