jump to navigation

Problem, Challenge or Opportunity July 25, 2008

Posted by merenung in Umum.
Tags: , , , , , , ,
trackback

Cukup lama aku tak sempat meluangkan waktu untuk mengisi blog. Banyak peristiwa yang terlewatkan tanpa dapat dicatat agar tak menguap dan terlupakan. Tetapi ada intisari dari segala peristiwa yang dapat ditarik sebagai pelajaran yang perlu aku tulis.

Sesungguhnya aku pahami bahwa seluruh ketetapan hidupku telah ditulis sebelum penciptaan. Artinya, aku menjalani hidup ini hanya dengan memilih ketetapan-ketetapan yang sudah tertulis. Menjalaninya sebagai nasib dengan menjemput takdir demi takdir. Demikian banyaknya opsi ketetapan (belum menjadi takdir) yang dapat aku pilih dan keterkaitannya opsiku dengan opsi seluruh mahluk dan jagad raya ini, mengakibatkan (sepertinya) opsi itu menjadi tidak terbatas. Itulah mengapa ALLAH tidak merubah nasib ku, kecuali aku berusaha merubahnya sendiri.

Pemahaman itu tidak berdiri sendiri dan tidak bisa lepas dari pemahamanku lainnya tentang Kekuasaan ALLAH yang Mutlak. Jika pemahaman tentang ketetapan itu final, maka seolah-olah menempatkan ALLAH pada posisi hanya mengawasi berjalannya seluruh ketetapan-ketetapan itu. Sesungguhnya ALLAH Maha Menguasai, sehingga tidak ada satu ketetapanpun yang lepas dari penguasaan ALLAH. Aku memang tidak sedang membayangkan dimensi manusia, dimana setelah ketetapan dibuat, maka berikutnya hanya pilihan untuk dijalankan atau tidak. Ketetapan pada dimensi spiritual inilah yang menyebabkan (orang beriman) mutlak selalu harus menyertai semua upayanya dengan do’a (permintaan) pertolongan hanya kepada ALLAH.

Seluruh ketetapan ALLAH (yang dimata kita sebagai suatu kejadian), apapun itu, dapat dilihat dari tiga sudut. Sebagai suatu masalah, sebagai suatu tantangan atau sebagai suatu peluang / kesempatan (problem, challenge or opportunity). Kalaupun orang memandang suatu ketetapan itu sebagai hadiah, berkah, musibah, petaka dan seterusnya, akhirnyapun kita harus memilih semua itu sebagai masalah, tantangan atau kesempatan.

Untungnya kita diperintahkan untuk selalu bersangka baik kepada ALLAH. Ini memudahkan kita untuk mengambil sudut pandang. Jika kita melihat ketetapan itu sebagai masalah (problem), maka artinya kita menganggap ALLAH menetapkan masalah (problem) bagi kita. Menurut anggapanku, itu seolah-olah kita bersangka buruk (tidak baik) kepada ALLAH. Akibatnya kita hanya punya satu dari dua pilihan yang harus dipilih berurutan. Melihatnya sebagai tantangan, layaknya kita diberikan soal ujian kenaikan tingkat oleh ALLAH dan harus menyelesaikannya dengan baik. Jika gagal, kita akan diganjar pahala (selama kita sabar, ikhlas dan selalu bersyukur). Tetapi jika berhasil, maka selain ganjaran pahala, kita akan mendapatkan soal ujian yang baru untuk tingkatan yang lebih tinggi lagi (tantangan baru). Dan itulah kesempatan (opportunity).

Memang tinggal aku sendiri yang memilih. Melewati kehidupan ini dari masalah yang satu ke masalah lain yang baru, atau menjalani nasib ini dari tantangan yang satu ke tantangan lain yang baru dan kesempatan mendapat ridho ALLAH Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Sesungguhnya ALLAH selalu memberikan Petunjuk bagi kita semua (hanya saja kita sering kali abai dan lalai dengan Petunjuk itu).

ALLAH mengistimewakan hari Jum’at.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: