jump to navigation

At-Takaatsur August 9, 2008

Posted by merenung in Kehidupan, Sampaikan, Umum.
Tags: , , , , ,
trackback

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
﴿١﴾ أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ
﴿٢﴾ حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ
﴿٣﴾ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ
﴿٤﴾ ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ
﴿٥﴾ كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ
﴿٦﴾ لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ
﴿٧﴾ ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ
﴿٨﴾ ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

1. Bermegah-megahan telah melalaikan kamu,
2. sampai kamu masuk ke dalam kubur.
3. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu),
4. dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui.
5. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin,
6. niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim,
7. dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan `ainul yaqin,
8. kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).

Sambil bincang-bincang di tempat langganan makan siang ba’da sholat Jum’at, salah satu kawan memulai da’wahnya hasil kajian minggu lalu.
Kali ini dia menggambarkan, betapa kita jauh dari menahan diri untuk ber-megah-megah. Karena ,  bahkan makan tiga kali dalam seharipun pada jaman Rasulullah SAW sudah dapat digolongkan ber-megah-megah.  (tentu harus dilihat konteksnya pada masa itu) Ataupun memiliki baju lebih dari 3 stel, juga sudah dapat dikatakan bermegah-megah. Bagaimana dengan kita-kita yang selalu menjaga perut tetap kenyang ini?

Mungkin hal yang dalam bahasa sederhana dikenal dengan “pola hidup sederhana” ini memang sudah banyak dilupakan. Orang kaya (banyak uang) berdalih memanfaatkan (menikmati) kekayaannya sebagai wujud syukur atas pemberian ALLAH kepada mereka. Sementara orang miskin (kekurangan uang) cenderung memakai dalih sabar untuk ketidak mampuannya menikmati dunia (dengan kata lain, seandainya mereka kaya mungkin akan cenderung bermegah-megahan juga).

Padahal ayat-ayat diatas mutlak kebenarannya. Bahwa penafsiran-nya bisa berbeda, kita tinggal menunggu pembuktiannya “nanti”.

Kembali ke bangku sekolah saat kita diajari ilmu pasti, maka akan mudah menerima logika contoh sederhana ini.

Jika kita punya satu stel baju, maka satu stel baju itu akan kita pakai sepanjang hari (hidup). Yang artinya termanfaatkan 100%.
Kalau kita punya dua stel baju, pasti rata-rata pemanfaatannya akan menjadi hanya 50%. Dan itu pasti rata-rata hanya 50%.
Kalau kita punya satu stel baju kerja dan satu stel baju tidur, hampir pasti rata-rata pemanfaatannya 100% untuk masing-masing kebutuhan.

Jika wujud syukur itu adalah memanfaatkan amanah dengan optimal (untuk tujuan, dengan cara dan waktu) yang sesuai dengan perintah ALLAH, maka menjadi mudah menghitung (dengan ilmu pasti) mengapa kita dianjurkan membatasi kebutuhan kita.

Berguman dengan pandangan menerawang, kawan meneruskan : “Wah…., kalo gue masih jauh banget dari situ…….”. Bukan hanya kawan ini sebenarnya yang jauh dari bersyukur, tetapi aku dan mungkin masih banyak yang lain. Bagaimana tidak, kita dianjurkan membatasi “kebutuhan” kita, sedangkan aku sendiri lebih sering memikirkan “keinginan” (hawa nafsu).

Seorang kawan mengirimkan foto-foto (mungkin diambil dari internet) yang membandingkan dua orang pemimpin negara muslim. Betapa kontras dan sangat menggambarkan penyikapan ayat-ayat diatas. Semoga menjadi peringatan bagi kita semua, yang bukan siapa-siapa dibandingkan kedua presiden ini.

Iran Pakistan
Iran – Pakistan

Bandingkan juga ibukota kedua negara yang dipimpinnya:

http://en.wikipedia.org/wiki/Tehran

http://en.wikipedia.org/wiki/Islamabad

Akhirnya, semua berpulang kepada kita masing-masing. Kepastian seperti apa yang kita akan hadapi dan pertaruhkan untuk semua ketidak-pastian dunia ini.

Comments»

1. erisman s - August 11, 2008

Blognya bagus. Catatan tentang kehidupan yang sarat dengan suasana hati yang kental dengan penghayatan religi. Semoga terus berkarya. wass,

2. Ming - September 1, 2008

Saya selalu sedih bila melihat cara kita makan di pesta nikah, misalnya. Ngambilnya sebanyak-banyaknya, makannya sekenanya, mbuangnya semena-mena.

Sering yang saya lakukan adalah “karena saya bisa” dan bukan “karena saya butuh”. Saya tukar-tukar mobil karena saya bisa beli bukan karena saya butuh.

Mungkinkah global warming dengan segala bencana yang menandainya merupakan peringatan tentang betapa sudah jauhnya kita dari sikap ugahari?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: