jump to navigation

Dimana Nikmatnya Berzakat ? September 16, 2008

Posted by merenung in Serba-serbi, Umum.
Tags: , , , , ,
trackback

Entah mengapa, bagai kemarin sore aku menulis di blog tentang aktifitas yang satu ini. Kewajiban zakat yang melekat bagi umat yang mengaku beriman.

Apakah kita masih punya malu?

Mambaca berita dari Pasuruan tentang korban meninggal sebanyak 21 orang saat mengantri pembagian uang zakat. Uang zakat yang HANYA DUA SETENGAH PERSEN DARI HARTA YANG SUDAH MEMENUHI SYARAT memakan korban jiwa sedemikian banyak. Betapa sangat tidak sepadan.

Ber-andai-andai, niat si pembagi zakat (yang hanya 2.5% itu) adalah untuk memastikan bahwa uang zakatnya diterima langsung, sekaligus untuk menyambung tali silaturahmi, entah apa yang ada di dalam benaknya saat ini. Dimana nikmatnya berzakat? Jika harus membawa korban seperti ini. Apalagi ini bukan yang pertama kali. Tidakkah kita mengambil pelajaran dari yang lalu-lalu?

Sejauh pengetahuan yang sangat sedikit ini, sepertinya tuntunan yang ada menyuruh kita menyalurkannya melalui lembaga yang sudah ada. Pemerintah bertanggung jawab untuk membentuk badan amanah ini dan mengelolanya dengan sungguh-sungguh. Lagi pula, badan-badan swasta pun sudah banyak yang memiliki fasilitas penyaluran zakat (yang hanya 2.5 % ini).

Ketidak percayaan memang sepertinya menjadi alasan utama mengapa orang cenderung menyalurkan zakat dengan cara sendiri-sendiri, langsung maupun tidak langsung. Itu memang menjadi cerminan moral elit di mata rakyatnya. Mungkin alasan ini pula yang melatar belakangi orang kaya Pasuruan tersebut untuk menyalurkannya secara langsung. Semoga ALLAH Yang Maha Pemurah memberi penghiburan bagi keluarga para korban dan orang kaya Pasuruan ini, seraya berharap jangan ada lagi orang kaya manapun yang bagi-bagi uang dengan cara memanggil dan mengumpulkan orang miskin di satu tempat / lokasi seperti ini. Tidak untuk beramal sholeh apalagi pamrih dukungan penerima zakat untuk maju caleg atau pilkada.

Seandainya, yang dibagikan oleh orang kaya Pasuruan ini adalah infaq / sodaqoh, kalau aku tidak keliru, apabila memaksa ingin memberikan secara langsung, orang kaya Pasuruan ini seharusnya mendatangi calon penerima infaq tersebut. Satu per satu. Bukan memanggil dan mengumpulkannya, apalagi meng-eksploitasi untuk menjadi bahan pemberitaan kedermawanannya. Anjuran untuk menyerahkan langsung dengan mendatangi calon penerima, menghindarkan mereka dari rasa malu dan direndahkan karena seolah meminta-minta. Bukankah orang kaya Pasuruan itulah yang memerlukan orang miskin untuk penyaluran amal sholehnya?

Andai masih juga beralasan kalau mereka harus didatangi satu per satu maka akan terlalu sedikit yang dapat terjangkau, jika niat orang kaya itu ingin menumpuk amal di bulan puasa. Tentu ALLAH Maha Mengetahui niat mereka. Bukankah amal puasa itu seharusnya tercermin pada bulan-bulan lainnya? Tidakkah di bulan-bulan lain (yang ada sebelas itu) kita membatasi, mengurangi atau menghilangkan amal sholeh kita (yang kebetulan berupa infaq)?

Kalau sudah ALLAH tetapkan seperti ini, kembali kepada manusia itu sendiri. Apakah mau mengambil hikmah berupa pelajaran dan berusaha untuk memperbaikinya. Karena sesal memang sudah tidak ada artinya.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: