jump to navigation

Apa Setelah Puasa? September 17, 2008

Posted by merenung in Umum.
Tags: , , , ,
trackback

Terima kasih Ya ALLAH, engkau telah sampaikan aku ke dalam bulan yang penuh dengan kemurahan nikmat dari-Mu. Berikan aku kekuatan dan kemudahan dalam menggenapkan bilangan ibadah puasaku.

Jika mengambil pengalaman puasa tahun lalu, ternyata memang selama ini aku agak keliru memahami ibadah istimewa yang satu ini. Menahan hawa nafsu, dari makan-minum, hubungan suami-istri dan seterusnya yang digolongkan kepada perbuatan yang membatalkan ibadah puasa. Menjaga perilaku lahir dan bathin yang mengurangi nilai ibadah puasa. Merapikan ibadah wajib yang dilipat gandakan ganjaran pahalanya. Memperbanyak amal-amal ibadah sunnah, mumpung dihitung bagai ibadah wajib. Dan seterusnya, dan seterusnya. Sebagaimana yang hampir selalu kita dengar dari tausyiah para ustadz / ustadzah dalam acara buka bersama. Juga sama di tahun ini.

Buka puasa bersama minggu lalu, ustadz jebolan Lirboyo yang didaulat untuk memberikan tausyiah justru menekankan pada makna Syawal. Kata yang artinya “peningkatan” ini sedikit menyentak dan menyadarkan perlunya perbaikan pemaknaan amal puasa yang sudah aku lakukan bertahun-tahun. Apalah artinya “pelatihan di dalam bulan Ramadhan” jika setelah memasuki Syawal tidak terdapat peningkatan. Begitu inti tausyiah beberapa menit itu.

Merenung sendiri mengingat tausyiah pak ustadz itu, ternyata memang benar bahwa aku agak keliru memaknai ibadah puasa Ramadhan. Pelajaran utamanya adalah mengendalikan dan membatasi kebutuhan yang halal. Mengendalikan dan membatasi makan-minum (dari makanan dan minuman yang halal dan didapat dari yang halal), mengendalikan dan membatasi syahwat (dari pasangan yang halal dan dinikah dengan cara yang halal), dan seterusnya. Setelah masuk Syawal, bak naik kelas kita harus semakin bisa mengendalikan dan membatasi kebutuhan kita dari yang halal-halal ini, selama sebelas bulan sampai ditemukan kembali oleh ALLAH dengan bulan Ramadhan berikutnya.

Alih-alih meningkat (naik kelas), kadang malah lupa mengendalikan dan membatasi kebutuhan dan justru mengumbar keinginan duniawi. Untung tidak terfikirkan untuk mencari dari yang haram. Alhasil setiap habis ulangan umum (puasa Ramadhan) dan ketemu dengan Syawal (peningkatan / naik kelas), tingkah laku sebelas bulan berikutnya tetap kembali seperti di kelas semula. Pantas kalau sampai sekarang aku masih terus ulangan kelas satu.

Semoga selesai ulangan (puasa Ramadhan) tahun ini aku bisa berlaku selayaknya anak kelas dua. Malu juga rasanya jadi anak tinggal kelas bertahun-tahun seperti ini.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: