jump to navigation

Selalu Sepasang October 7, 2008

Posted by merenung in Kehidupan.
Tags: , , ,
trackback

ALLAH Sang Maha Pencipta menurutku memang menciptakan semuanya berpasangan. Diciptakan siang ada malamnya, diciptakan baik ada buruknya, diciptakan senang ada susahnya, diciptakan sulit ada mudahnya. Dan karena itulah ALLAH menjadi Yang Maha Tunggal (tidak berpasangan). Bagiku menjadi jelas tidak ada Kuasa ALLAH (berupa kebaikan) yang sebanding / bersanding (perpasangan) dengan kuasa iblis atau setan berupa keburukan. Karena Ketetapan ALLAH hanyalah berupa kebaikan, walau dapat dipandang sebagai keburukan sebagaimana dapat dipandang sebagai kebaikan. Itu hanyalah karena kebodohan manusia yang memandangnya.

Jika semua ditetapkan sepasang, maka setiap kebaikan selalu saja ada sisi keburukannya (dari sisi pandang manusia). Jika kita mendapatkan maka kita juga akan kehilangan. Jika kita menerima kebaikan niscaya kita akan menerima keburukan (sekali lagi, dari sisi pandang kita). Dia bagai mata uang yang memiliki dua sisi yang tidak dapat kita pisahkan atau kita bedakan nilainya (lagi-lagi, dari sisi pandang kita). Jika kita menerima keberutungan senilai 100 rupiah, maka siap-siaplah untuk juga kehilangan yang 100 rupiah itu. Hukum ini menurutku telah ditetapkan oleh ALLAH, sebagaimana kita menerima kehidupan dengan segala isinya di dunia ini bukan menjadi milik melainkan hanya menjadi titipan belaka. A’a Gym (walau sedari awal bukanlah yang menjadi referensiku), kali ini menggambarkan dengan cukup baik kehidupan kita bak tukang parkir mobil. Tukang parkir (sebagaimana kita hidup) tidak pernah merasa memiliki kendaraan yang dititipkan kepadanya. Tukang parkir tidak bisa menyombongkan mobil mewah yang dititipkan kepadanya, tidak menikmati kecuali memandanginya dan bahkan akan merasa terbebani manakala titipan menjadi banyak dan tidak terawasi. Pada saatnya lapangan parkir itu akan kembali kosong, dimana semua kendaraan titipan sudah diambil kembali oleh yang punya dan tukang parkir itu kembali sendiri tanpa kendaraan titipan. Tetapi manusia hidup justru mencari titipan sebanyak-banyaknya.

Beberapa pandangan hidup, mungkin terinspirasi dengan ciptaan yang berpasangan dan titipan yang hanya akan membebani, mengambil jalan menolak itu semua. Menolak untuk menerima materi, menolak untuk menerima pasangan (berkawin), menolak untuk menerima anak keturunan dan seterusnya, apalagi mencarinya. Mencari materi, mencari pasangan (kawin), berusaha mendapatkan anak (dari perkawinan) dan seterusnya. Kita bisa melihat disekeliling kita orang-orang yang memilih untuk menolak itu semua, mungkin karena mengetahui mereka hanya akan terbebani dan akhirnya kehilangan semuanya.

Indahnya agama yang dibawakan oleh Nabi ALLAH Muhammad SAW menunjukkan sikap yang berbeda da;am menyikapi ketetapan ini. Jika semua orientasi perjalanan dunia hanya untuk persiapan akhirat, maka justru kita harus mengusahakan semua urusan dunia semampu kapasitas kita. Kita mencari semua urusan dunia untuk bekal akhirat, tanpa kecuali.

Semua materi yang kita cari dan dita dapat, kita maknai sebagai titipan dimana kita harus mengeluarkan zakat darinya, memanfaatkan untuk membiayai kebutuhan untuk memelihara amanah, seperti makan untuk tubuh, tempat tinggal, sekolah anak-anak dan seterusnya, yang insya ALLAH akan mendatangkan pahala berlipat kala kita menjalankannya. Bukankah amal kita sangat tergantung dari niat kita? Sisa materi yang ada setelah pemenuhan kewajiban utama kita, kita belanjakan untuk tabungan masa depan kita. utamanya tabungan akhirat kita.

Kita mencari pasangan (istri atau suami) untuk mengumpulkan pahala atas perkawinan itu. Membina dan mempertahankan rumah tangga semata karena ALLAH menjadi dasar semua ganjaran pahala atas saling menghormati, saling pengertian, kesabaran dan cinta kasih diantara pasangan. Demikian pula halnya upaya kita mendapatkan keturunan yang sebaik-baiknya.

Dengan cara seperti itu, rasanya kita tidak perlu menghindari dunia melainkan justru memanfaatkannya untuk tabungan akhirat kita. Yang rugi tentu saja orang-orang yang mengejar dunia untuk kenikmatan dunia semata. Alih-alih mendapatkan kenikmatan dunia mereka justru akan kehilangan seluruh apa yang didapatkannya di dunia dan kecewa karena ternyata di akhirat mereka banyak hutang. Hutang untuk kenikmatan dunia yang belum sempat mereka cicil pengembaliannya (walau sudah diberi diskon dan tanpa bayar bunga he…he…he…..).

Sehungguhnya hanya ALLAH Yang Maha Mengtahui.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: