jump to navigation

Mengapa Harus Beda October 8, 2008

Posted by merenung in Umum.
Tags: , , , , ,
trackback

Kembali, pada Ramadhan tahun ini kita harus berbeda. Sementara saudara kita di Makkah mendapati Ramadhan sebanyak 29 hari, kita di Indonesia mengenapkan dengan 30 hari. Pertanyaan orang awam seperti aku yang tanpa ilmu ini sangat sederhana. Apakah memang kita diperintahkan untuk berbeda?

Pemerintah dengan sangat serius didukung oleh berbagai kalangan berilmu tinggi menyebar sepanjang bentangan teritorial negara Indonesia untuk melihat datangnya bulan baru. Dari Timur sampai ke Barat berkelompok-kelompok manusia penuh ilmu menunggu datangnya bulan baru. Rentang waktu 2 jam dari ujung Timur sampai unjung Barat seolah disatukan dengan tekad yang sama dalam menentukan datangnya tanggal 1 Syawal. Faktanya sidang memutuskan untuk menggenapkannya menjadi 30 hari. Makkah (beda waktu 4 jam), tempat dimana Ka’bah sebagai Kiblat kaum yang mengaku Muslim justru menetapkan Ramadhan tahun ini hanya 29 hari. Yang artinya, pagi berikutnya mereka harus berbuka dan melaksanakan shalat Ied.

Kembali orang awam seperti aku bertanya-tanya. Seandainya negara ini membentang luas sampai meliputi Ka’bah, dimana disana ada saudara-saudara dengan keilmuannya telah melihat bulan baru, apakah kita disini akan mengikuti mereka? Jika saat itu saudara-saudara di Papua telah melihat bulan baru, sementara yang ada di Aceh belum melihatnya (atau sebaliknya), hanya karena sama-sama Indonesia kemudian semua harus sepakat mengakhiri Ramadhan?

Mengapa kita memilih untuk menyesuaikan (menyusul) penetapan 1 Syawal dengan menunggu selama 20 jam dari saudara-saudara kita di Makkah dibandingkan menyesuaikan 4 jam mendahului 1 Syawal, sehingga kita semua sama-sama menghitung Ramadhan sebanyak 29 hari. Bukankah 4 jam lebih sedikit dibandingkan 20 jam. Apakah hanya karena beda negara kita tidak bisa mempergunakan hasil perhitungan saudara kita di tempat yang berjarak 4 jam dan sama-sama sedang waktu malam? Apakah menggenapkan bilangan menjadi 30 lebih “aman” dibandingkan mengikuti perhitungan saudara-saudara kita di Makkah?

Suatu subuh jika tidak keliru pak Quraish Shihab pernah berbicara di TV yang sempat aku catat sebagai berikut:

“Dimanapun daerah yang telah terlihat bulan, maka umat muslim yang saat itu masih dalam keadaan malam, keesokan harinya harus ikut berpuasa atau berlebaran (mungkin maksudnya masuk Ramadhan atau sudah Syawal). Jadi jika Arab Saudi yang hanya beda 4 jam atau Mesir yang beda 5 jam sudah melihat bulan, maka kita ikut berpuasa atau berlebaran. Itu kalau pemerintah mau. Kalau pemerintah tidak mau, ya….repot”.

Memang agak mengherankan. Sementara kita diberikan tuntunan untuk saling terikat, kompak, bersatu, dukung-mendukung, percaya layaknya bersaudara, untuk hal yang sederhana seperti ini saja kita harus berbeda. Hanya karena masing-masing merasa diberi ilmu dan kewenangan kita harus mempertahankan kebenaran sendiri.

Sebenarnya, umat ini bersaudara karena sama-sama muslim atau hanya karena satu negara? Lalu, apakah kita boleh berpuasa pada 1 Syawal?

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: