jump to navigation

Yang Baik Belum Tentu Benar (Dan Sebaliknya) October 9, 2008

Posted by merenung in Umum.
Tags: , , ,
trackback

Entah kali keberapa Amerika mengalami krisis keuangan parah seperti sekarang ini. Entah apa pula yang menyebabkan godaan kemajuan yang dicapai oleh negara ini seolah telah menghapus cerita-cerita keterpurukan mereka karena ulah mereka sendiri di masa lalu. Pengelolaan ekonomi riba seakan menjadi alat yang paling ampuh untuk menggapai cita-cita kekayaan. Sebagaimana keyakinan bahwa demokrasi ala Amerika adalah alat ampuh untuk memperoleh keadilan yang berujung pada kemakmuran. Entah sampai kapan masyarakat dunia silau dengan cara hidup Amerika (sebagai masyarakat, bangsa maupun negara).

Tentang godaan terhadap fatamorgana kebaikan, aku jadi ingat cerita kawan sebelum waktu berbuka puasa Ramadhan lalu, saat aku mampir ke kantornya. Konon katanya, dia membaca cerita ini di internet.

Diceritakan suatu sore seorang ahli ibadah tertidur pulas di sebuah mushala kecil yang sudah reot dengan atap yang sudah mau runtuh. Saat itu waktu Asr sudah hampir berlalu, sementara shalat wajib belum sempat dijalankan. Gelisah syaitan melihatnya tidak juga terjaga. Maka syaitan menghampiri dan membangunkannya perlahan “Bangunlah kawan, waktu Asr hampir berlalu, sementara kau belum shalat”. Dia terperanjat bangun dan berlari keluar mushala untuk berwudhu. Sesaat berlalu atap mushala runtuh menghantam lantai tempat dimana tubuh tadi tertidur pulas.

Karena ALLAH ijinkan, dia dapat mengenali siapa yang membangunkan dan mengingatkan shalat yang hampir ditinggalkannya. “Bagaimana setan bisa begitu baik menyelamatkan aku dari musibah yang akan menimpaku?”, pikirnya. Dengan sangka baik, lalu dihampiri syaitan bermaksud untuk berterima kasih atas kebaikan yang telah diterimanya. “Aku mengetahui engkau siapa dan aku berterima kasih atas pertolongan yang telah engkau berikan sampai aku terhindar dari musibah yang mungkin akan merenggut nyawaku. Tetapi bolehkan aku bertanya, mengapa engkau menolongku? Bukankah itu perbuatan baik yang justru engkau benci saat manusia melakukannya?”, dia bertanya dengan penuh rasa penasaran.

“Sesungguhnya aku telah mengetahui apabila engkau mati karena tertimpa atap mushala itu, maka ALLAH telah menetapkan syurga bagimu. Aku membangunkanmu agar masih ada waktu bagiku untuk menyesatkanmu selama engkau masih hidup”, jawaban syaitan mengejutkan.

Aku tersenyum mendengar cerita kawanku itu. Banyak memang rayuan syaitan yang sulit untuk dimengerti dengan mudah. Peringatan ALLAH atas riba adalah salah satu contohnya. Banyak sekali penjelasan yang logis dan masuk akal atas riba. Itulah mengapa sampai sekarang  ekonomi riba tetap dijalankan oleh masyarakat yang pandai dan berilmu (kalau tidak logis dan masuk akal, mengapa mereka yang pandai dan berilmu tetap melakukannya?). Tetapi apapun yang menjadi alasan kebaikan yang dihasilkan dari riba sesungguhnya hanyalah kesesatan.

Syaitan memang akan selalu menyesatkan kita, betapapun menarik, baik, manis, menguntungkan, adil dan seterusnya, itu bagi kita. Sesungguhnya biangnya syaitan telah bersumpah untuk menyesatkan manusia. Masih kagum dengan Amerika? Mari kita renungkan.

Comments»

1. heri juhaeri - September 18, 2010

terima kasih ya…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: