jump to navigation

Berzakat Lewat Mana? October 16, 2008

Posted by merenung in Jum'at, Umum.
Tags: , , ,
trackback

Sesungguhnya yang diperintahkan untuk menyalurkan zakat itu adalah melalui lembaga amil zakat. Telah banyak lembaga serupa didirikan dan berkiprah demikian baiknya di tanah air ini. Pemerintah juga mendorong dengan memberikan aturan khusus untuk pembayar zakat yang menyaurkannya lewat lembaga yang diakui oleh pemerintah. Hal ini disampaikan oleh seorang ulama Bogor yang sangat mengerti hukum zakat saat wawancara dengan media menanggapi musibah Pasuruan. Musibah dimana untuk kesekian kalinya begitu banyak korban berjatuhan (tewas) hanya untuk mengantri (berebut?) uang zakat sebesar Rp.30.000,- yang dibagikan oleh orang kaya daerah itu. Ulama Bogor tersebut merasa perlu mengulang-ulang (mesosialisasikan) hal penyaluran zakat tersebut, mengingat hingga saat ini masyarakat belum merespons perintah tersebut dengan optimal. Bahkan cenderung banyak yang menyalurkannyas dengan cara yang kurang baik dan berakibat fatal, seperti yang terjadi di Pasuruan itu. Salah satu alasannya adalah ketidak percayaan terhadap lembaga amil zakat yang ada saat ini. Mungkin masih ada alasan lain, tetapi aku mencoba fokus pada masalah ketidak percayaan ini. Hal yang paling sulit dicari di negeri (dunia) ini.

Aku kurang mengerti bagaimana orang menjadi tidak percaya, tetapi aku mengalami proses itu sedikit demi sedikit. Semula aku memang menyalurkan sebagian lewat lembaga yang ada. Sangat praktis. Sambil kerja di kantor, buka browser, klik-klik-klik selesai sudah. Zakat tersalurkan lewat lembaga amanah yang dikelola orang yang sangat mengerti penyalurannya. InsyaALLAH kewajiban terpenuhi dengan ganjaran yang setimpal.

Belakangan aku memilih untuk menyalurkan lewat tempat lain. Yayasan kecil, panti asuhan kecil, masjid bahkan langsung diantarkan ke tempat penerima dan tentu bercampur dengan infaq. Hal yang paling membuat aku tidak sreg dengan lembaga amil zakat besar mungkin terdengar agak aneh. Tetapi mungkin juga bukan aku sendiri yang berfikir seperti ini. Aku berlangganan koran pagi untuk di rumah, tentu juga koran lainnya untuk di kantor (selain internet) sehingga banyak media yang dapat dijadikan referensi. Belanja para pengelola zakat untuk media menurut pendapatku cukup tinggi. Aku kurang mengerti seberapa besar tapi untuk satu halaman koran nasional dengan oplah besar kita tentu dapat membayangkan biayanya yang tidak sedikit. Apakah koran ini memberikan space gratis satu halaman? Rasanya tidak mungkin. Agak sedikit aneh bagiku, foto (pas foto) petinggi pengelola zakat dipajang ikut dilembar media itu bagai caleg-caleg yang sekarang berlomba-lomba memajang foto mereka di media, baik TV, koran, majalah, spanduk, umbul-umbul dan seterusnya.

Kemarin sore aku lewat suatu jalan yang kanan-kirinya penuh dengan deretan umbul-umbul suatu pengumpul zakat. Umbul-umbul itu memang info tentang zakat. Foto ustadz yang cukup dikenal terpajang besar di umbul-umbul itu (dan banyak spanduk di jalan-jalan lainnya). Anehnya, saat itu aku sedang mengendarai mobil berdua dengan putriku yang berusia 10 tahun, tanpa ada percakapan pembuka sebelumnya, putriku ini bertanya dan berikut percakapan singkat itu:
“Foto orang itu buat apa ya pa?”, dia memulai pertanyaan.
“Itu informasi zakat. Papa kenal sama ustadz itu”, aku coba sedikit menjelaskan.
“Dia dibayar ya pa?”, dia melanjutkan bertanya.
“Ya tidak. Kan itu untuk zakat”, aku berusaha sok tau walau mungkin kurang tepat.
“Jadi foto dia itu karena dia pengen aja ya?”, dia belum selesai bertanya.
“Hm……, iya”, aku mencoba mengakhiri percakapan karena bingung mencari jawabannya.

Anak umur 10 tahun saja sudah menghubungkan foto yang ada di umbul-umbul dengan bayaran (uang). Bagaimana dengan iklan satu halaman dengan pas foto pengelola pengumpul zakat itu? Pasti hubungannya dengan bayaran (uang). Lalu uang siapa yang dipakai untuk membayar koran itu? Apakah uang zakat dapat dipergunakan untuk membayar koran, spanduk, umbul-umbul, flyer dan seterusnya yang ada foto pengelolanya (macam caleg atau balon bupati, walikota atau gubernur). Apakah mereka-mereka ini berencana mensosialisasikan tampangnya untuk investasi tahun mendatang saat ada kesempatan jadi caleg, bupati, walikota atau gubernur.

Kalau tidak keliru, hak amil zakat sebesar 12.5 % adalah intepretasi dari ayat Al Qur’an yang menyebutkan 8 golongan yang berhak untuk menerima zakat. Salah satunya adalah amil zakat. Logika yang dipakai adalah 100% dibagi 8 sama dengan 12.5%, sederhana. Jadi kalau amil zakat mengambil Rp. 100.000,- dari muzaki, maka amil zakat berhak mengambil Rp. 12.500,- dari uang itu. Kalau amil zakat mengambil Rp. 100.000.000.000,- (seratus milyar) apakah kemudian amil zakat berhak mengambil Rp. 12.500.000.000,- (dua belas setengah milyar) dari uang itu? Apakah amil zakat bebas mempergunakan bagian yang merupakan haknya itu untuk apa saja? Kalau amil zakat tidak mengambil/memungut (mengeluarkan effort) untuk mengambil dari muzaki, melainkan tinggal tunggu muzaki datang atau malah menerima transferan di rekening, apakah muzaki tetap berhak mengambil 12.5% itu? Dan mungkin masih banyak pertanyaan lainnya. Pertanyaan itu belum mempertanyakan penyalurannya.

Munurut pendapatku pribadi, lembaga amil zakat seharusnya menyalurkan seluruh zakat (100%) kepada muzaki (minus amil, konglomerat yang asetnya lebih sedikit dari hutangnya karena sahamnya jatuh dan musafir kaya). Pengelola zakat dibayar oleh negara dngan gaji yang standar. Negara juga mempergunakan perangkatnya untuk mensosialisasikan zakat tanpa mengambil dari uang zakat yang terkumpul. Profesional (dalam hal pengelolaan zakat) tidak harus dibayar dengan gaji mahal, berjas dasi dan memajang foto di media-media macam caleg minta dipilih di Pemilu.

Paling tidak itu yang membuat aku kembali memilih menyalurkan langsung atau lewat amil zakat kecil-kecil saja. Walaupun katanya penyaluran zakat dari amil zakat kecil-kecil tidak dapat mensejahterakan sebagaimana pemanfaatan zakat untuk dana usaha bergulir yang bisa memberdayakan. Apakah sulit bagi ALLAH untuk untuk membuat seluruh manusia sejahtera (kaya) dan muzaki kebingungan menyalurkan zakatnya?

Kalau aku salah karena bersangka buruk terhadap para pengelola zakat yang besar-besar itu (walau aku tidak menyengaja bersangka buruk), semoga ALLAH mengampuni.

Comments»

1. roby - October 19, 2008

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Kadang kita perlu belajar dan mengikuti kembali logika anak kecil, kita yang sudah merasa dewasa merasa benar & yakin 100% untuk semua hal yang kita lakukan.
Bukanlah hal keliru jika kita segera meyelesaikan kewajiban berzakat dengan sarana kemudahan tsb. Hanya memang kita akan mendapat nilai & nuansa lain jika kita langsung mendistribusikannya sendiri terlebih menjumpai anak-anak yatim atau yang kurang beruntung, memang perlu juga pengorbanan untuk mencari dan menemui lokasi penampungan baik yang sudah terorganisir maunpun yang masih ditangani langsung oleh orang-orang kaya hati.
Teruslah berzakat dan berinfaq kawan … , sesekali ikuti kata hati atau keinginan anak sambil mencontohkan mereka untuk berbagi.

salam,

wa alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh,
Sebenarnya arah tulisan itu adalah aku tidak menggunakan lembaga amil zakat besar karena alasan penggunaannya yang kurang jelas, apalagi dipergunakan untuk sengaja memajang pas foto besar di koran nasional macam promosi pilkada. Bukan karena merasa benar, malah justru takut salah. Kalau mau praktis dan tinggal klik…klik…klik di web site ya….., pake yang besar-besar itu.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: