jump to navigation

Kejar Dunia, Kejar Akhirat October 31, 2008

Posted by merenung in Kehidupan, Simple.
Tags: , ,
trackback

Rasanya sudah sering aku mendengar kalimat ini.

“Kejarlah dunia seakan-akan kamu akan mati seribu tahun lagi. Kejarlah akhirat seakan-akan kamu akan mati esok”

Umumnya ini dipergunakan untuk pembenaran aktifitas gigih mencari uang, menumpuk, membelanjakan dan tentu menikmatinya. Karena “mengejar dunia” umumnya selalu diartikan harta, materi, kekayaan, kenikmatan, pangkat, jabatan, kedudukan, status dan seterusnya. Dan “mengejar akhirat” selalu diartikan ritual ibadah, zikir, wirid, infaq/ sedekah, waqaf dan seterusnya. Sehingga aplikasinya adalah menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang, menumpuknya, membelanjakannya untuk kenikmatan (baik kenikmatan fisik, otak, jiwa, dan seterusnya). Lalu memohon ampun dengan ritual-ritual ibadah, agar penghalalan tersebut diampuni. Intinya memisahkan dunia dengan akhirat.

Yang menarik umumnya selalu diutarakan kepadaku saat bincang-bincang santai, seperti Selasa siang kemarin di kantor, dengan rantai kalimat: “Bukankah ada hadist yang mengatakan kejarlah dunia seakan-akan kamu akan mati seribu tahun lagi dan kejarlah akhirat seakan-akan kamu akan mati esok?”
Selalu saja aku balas dengan bertanya, “Hadist apa, siapa, mana rujukannya?”. Seperti biasa, karena sama-sama awam, kata yang paling tepat untuk menjawab pertanyaanku adalah “Katanya…”. Katanya hadist. Katanya hadist.

Bagiku ada cara yang paling mudah yang selalu saja aku pergunakan untuk menerima atau menolak hadist (untuk sementara, saat berbincang-bincang), tentu akhirnya harus merujuk kepada rujukan yang kuat. Aku meyakini bahwa yang dimuliakan oleh ALLAH, Rasulullah Muhammad SAW, adalah manusia yang seluruh hidup dan matinya dijaga oleh ALLAH SWT. Seluruh kehidupan dan kematiannya sebagai manusia direncanakan sempurna, dari sebelum lahirnya, antara lahir dan kematiannya dan tentu sesudah matinya. Kebenarannya, kesalahannya, kesenangannya, marahnya, keinginannya dan seterusnya, seluruhnya dijaga oleh ALLAH SWT. Berbeda dengan kesempurnaan manusia lainnya. Itulah mengapa Beliau menurut keyakinanku dilepaskan dari “hukuman” kesalahan. Kesalahan yang juga bagian rencana ALLAH SWT dengan maksud yang mulia. Berbeda dengan kesalahan yang dilakukan manusia lainnya. Karena keyakinan itulah, jika ada hadist (seperti yang disebutkan tadi) yang “katanya” dari Rasulullah SAW, aku langsung saja melihat riwayat kehidupan Beliau. Adakah Beliau hidup dengan menumpuk harta? Adakah Beliau mengejar dunia? Adakah Beliau menikmati dunia? Jika Rasulullah SAW berucap tentulah Beliau akan melaksanakan ucapannya. Kalaupun ada keinginan Beliau yang sempat Beliau ucapkan tetapi Beliau tidak laksanakan (atas kehendak / rencana ALLAH), menurutku keinginan itu bukanlah suatu yang perlu kita ikuti. Bukankah Beliau tidak melakukannya? Kenapa pula kita ingin lebih dari Beliau? Praktisnya, untuk sementara (sebelum check ‘n recheck) aku hanya menerima hadist yang Rasulullah SAW sendiri melakukannya.

Jika pertanyaannya, bukankah Rasulullah SAW mengejar akhirat seakan-akan Beliau akan mati esok? Sebagai salah satu contoh, adalah shalat malam beliau. Pertanyaan yang seakan ingin membenarkan potongan terakhir untaian kalimat tadi. Kalau tidak keliru, ada riwayat yang menceritakan kaki Beliau yang bengkak karena lama berdiri shalat malam. Saat diingatkan oleh Istri Beliau RA, mengapa Rasulullah SAW shalat sedemikian giatnya? jawaban Beliau tidaklah mencerminkan Beliau sedang mengejar akhirat. Melainkan Beliau melakukan sebagai rasa syukur dan terima kasih kepada ALLAH SWT yang telah memuliakan Beliau diantara manusia lainnya. Jadi jika kita ingin mengikuti Beliau dengan beribadah shalat malam (misalkan, salah satunya), maka lakukanlah untuk bersyukur dan berterima kasih kepada ALLAH SAW karena telah diberikan nikmat iman dan nikmat Islam (nikmat yang penting dari demikian banyak nikmat-nikmat lainnya).

Jadi menurutku, tidak ada satupun alasan pembenaran mencari kekayaan, pangkat, jabatan, status dan seterusnya dengan menghalalkan segala cara, seakan-akan kita mati 1000 tahun lagi. Dan kemudian seolah-olah membersihkannya dengan meminta ampun kepada ALLAH SWT dan beribadah sebanyak-banyaknya, seakan kita mati esok. Walau memang ALLAH SWT Maha Pengampun, Pengasih dan Penyayang.

Jika ternyata aku salah, itu karena kebodohanku dan aku meminta ampun kepada ALLAH SWT.
ALLAH jualah Yang Maha Mengetahui.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: